Posted in Uncategorized

Minor Feeling

Minor Feeling

Evina93/Oneshoot/PG-15

Romance, comedy.

Kim Jongdae & Son Seungwan
Langkah Seungwan semakin cepat ketika menemukan targetnya, jangan lupakan gerutuan sepanjang jalannya.

“Kim Jongdae!” panggilnya pada segerombolan pria yang sedang berkumpul.

Merasa ada yang memanggil Jongdae segera mengalihkan atensinya. Matanya berbinar senang ketika mengetahui sang pemanggil.

“Seungwan? Ada apa? Oh jgn bilang kau rindu padaku. Aku juga merindukanmu” ia berkata dengan penuh percaya diri.

“Dalam mimpimu!” ketus Seungwan.

“Aku memang selalu memimpikanmu” Senyum Jongdae.

“Jangan membuatku ingin muntah, kau! Kenapa kau yang menjadi pasangan duetku!” kesal Seungwan.

“Aku hanya dipinta oleh guru Shim, memang kenapa? Kau tak mau?” tanya Jongdae.

“Berdiri di dekatmu saja aku jengah apalagi satu stage denganmu” Jongdae hanya bisa tertunduk. “Baiklah, aku akan berkata pada guru Shim agar seseorang menggantikanku” ujarnya dengan mimik sendu.

“Baguslah jika kau tau” Seungwan berkata sombong.

“Hanya dalam mimpimu Son Seungwan haha” lanjut Jongdae.

“Yak!” 

“Aigo, kau marah. Sangat lucu sekali” Jongdae mencubit kedua pipi Seungwan.

“Leupeuskeaun Jounhdue!” gumam Seungwan aneh.

###

Hari ini Seungwan sangat senang, pasalnya ia baru saja diberi tahu jika ia lolos lomba menyanyi ke tahap selanjutnya.

Pluk

Sebuah lengan melingkar di pundaknya. “Wah, kau kelihatan sangay senang. Apa karena kau melihatku?” tanya pria di samping Seungwan. Mata Seungwan berkilat tajam. “Singkirkan tanganmu Kim Jongdae!” ujarnya rendah dengan penuh penekanan.

Jongdae menggeleng. “Yak!” Jongdae malah semakin erat memeluk lehernya membuat Seungwan menjadi lebih dekat dengannya.

“Aku membencimu!” ujar Seungwan.

“Sama-sama, aku juga menyukaimu” Ujar Jongdae.

“Telingamu bermasalah!” bentak Seungwan namun entah mengapa wajahnya sedikit memerah.

##

Jongdae belakangan ini selalu saja uring-uringan. Biasnya ia selalu mengerjai Seungwan dimanapun dan kapanmu, namun beberpa hari terakhir ini ia tak pernah melihat Seungwan, jika bertanya pada Seulgi maka jawaban yang ia dapat “Seungwan sedang sibuk berlatih”. Jongdae rasanya ingin berlari menuju ruang musik untuk menemui Seungwan. Tapi di sisi lain ia tak ingin mengganggu.

“Argggh, aku tak tahan lagi!!!!” ujarnya frustasi.

“Jika rindu padanya maka temuilah, bukannya berteriak di dekatku” ujar teman mata belonya. Jongdae hanya mencibir.

“Dae-ya tadi aku melihat Seungwan sedang bicara akrab sekali dengan pria tinggi di depan ruang musik” lapor salah satu temannya yang baru saja masuk dengan sekotak susu stowbery di gengamannya.

“Apa?!” Tanpa pikir panjang Jongdae segera berlari menuju ruang musik.

“Apa benar begitu Baek?” tanya Kyungsoo setelah Jongdae tak terlihat lagi. Bekhyun mendekati Kyungsoo sambil menyeruput minumannya.

“Sebenarnya ia hanya sedang berdiskusi dengan Chanyeol haha” Kyungsoo hanya menggeleng melihat kelakuan Baekhyun.

Jongdae memperlambat langkahnya ketika melihat Seungwan. “Baekhyun bilang Seungwan dengan pria tinggi, tapi itu kan Chanyeol. Apa Baek menipuku” gumamnya dengan dahi mengerenyit.

“Seungwan” panggilnya. Gadis dan pria tinggi yang ternyata Chanyeol itu menoleh.

“Ada apa kau kemari?” ujar Seungwan mengerenyit.

“Yo!” Sapa Chanyeol.

“Kalian sedang apa?” tanya Jongdae.

“Berdiskusi untuk tugas musikalisasi kami. Aku dan Chanyeol satu kelompok ah Baekhyun juga. Tunggu kenapa aku harus menjelaskan padamu” Seungwan berpikir sejenak.

“Tapi Baekhyun bilang . .” Jongdae meminta penjelasan pada Chanyeol.

“Ah, Sepertinya kau dikerjai. Lagi pula aku tak akan merebutnya” bisik Chanyeol di akhir kalimat pada Jongdae.

“Yak! BYUN!!!!” Lengkingan nada tinggi terdengar di sepanjang koridor. 

##

Setelah bermain basket dengan teman-temannya Jongdae merasa sangat kehausan. Ia berjalan menuju mesin penjual minuman otomatis. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang tersenyum pada seorang pria. senyum yang jarang malah tidak pernah ditunjukan untuknya. Tubuhnya seolah kaku, dadanya tetasa sesak, apalagi ketika pria itu mengelus surai kecoklatan sang gadis.

Ia berbalik, melangkah menjauh dengan hati yang penuh goresan.

“Kawan-kawan aku pulang duluan” pamitnya. 

“Loh sudah mau pulang?” tanya Chanyeol. Jongdae hanya memberi isarat lambaian tangan.

“Ada apa dengannya?” teman-temannya terheran.

Ketika akan melewati gerbang ia berpapasan dengan Seungwan. Tak seperti biasanya Jongdae hanya berjalan lurus dan mengabaikan Seungwan. Merasa ada yang aneh Seungwan berbalik melihat punggung Jongdae. Alisnya menyatu. “Kim Jongdae!” panggilnya. Tidak bebalik dan tak ada tanggapan. Jongdae terus saja berjalan tak peduli apapun.

Seungwan bergerak cepat ia menahan lengan Jongdae, membuatnya berpaling melihat Seungwan. Bukan tatapan seperti biasanya dan Seungwan sadar itu. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Bukan urusanmu” kata-katanya singkat namun terdengar sangat dingin dan tatapan itu Seungwan tak paham. Jongdae melepaskan genggaman Seungwan pada lengannya dan kembali melangkah.

##

Sudah beberapa hari ini Jongdae menghindari Seungwan, dan Seungwan sadar itu. Dan puncaknya tadi, Jongdae tak ingin satu stage dengannya. Harusnya Seungwan senang, tapi ini sangat mengejutkan seperti bukan Jongdae. Akhirnya Seungwan memutuskan untuk menemui Jongdae yang belakangan ini ia ketahui sering mengunjungi atap sekolah.

“Kim Jongdae!” panggilnya. Namun Jongdae hanya melirik malas. Seungwan kaget melihat reaksi Jongdae. “Yak! Kau ini kenapa huh?” tanya Seungwan. 

“Apa pedulimu” Ujar Jongdae dingin.

“Ya! Kau ini aneh sekali” amarah dalam diri Seungwan tersulut.

“Kau yang aneh, sudah memiliki kekasih untuk apa peduli padaku!” Ujarnya tanpa melihat Seungwan.

Seungwan mengerenyit “Aku tak mengerti maksudmu?”.

“Ya kau memang tak pernah mengerti, bahkan setelah sekian lama aku menunjukannya padamu kau tak pernah peduli!” ujarnya emosi.

“K kau menyukaiku? Sejak kapan?” tanya Seungwan, bahkan jantungnya bekerja lebih cepat.

“Setiap kali aku selalu mengatakannya padamu” Jongdae kali ini mentap Seungwan.

“Ku pikir itu hanya bercanda” gumam Seungwan.

“Jadi selama ini kau anggap aku bergurau?” ujar Jongdae.

“Kau tak pernah serius!” bela Seungwan.

“Ck, sudahlah. Lagi pula ini tak penting lagi” Jongdae berbalik meninggalkan Seungwan.

“Lalu bagaimana jika aku juga menyukaimu” suara Seungwan mengalun di telingnya. Tak percaya ia berbalik. “Jangan bercanda!” ujar Jongdae, ia tak percaya apa yang ia dengar tadi.

“Apa wajahku terlihat bercanda?” Jongdae menggeleng. Seungwan tersenyum. “Jadi apa kau masih menyukaiku?” tanya Seungwan. Jongdae mengangguk “Tapi kekasihmu”.

“Jika yang kau maksud pria dengan wajah campuran itu maka jawabanku adalah ia sepupuku. Lagi pula aku tak memiliki kekasih” Seungwan tersipu di akhir kalimatnya. Senyum Jongdae merekah.

“Son Seungwan aku menyukaimu!!” ujarnya dan memeluk Seungwan. Seungwan tersenyum dan membalas pelukannya.

##

“Jadi kau sudah lama menyukaiku?” Seungwan kembali bertanya. Mereka sedang duduk berdua di taman belakang.

“Ya” Jongdae memaikan rambutnya. Entahlah tapi sekilas smirk terlihat di wajah Seungwan.

“Kalau begitu pilih, aku atau bebek karetmu?” Seungwan menatapnya.

“Apa harus itu?” Seungwan mengangguk.

“Tentu saja kau” Senyum Jongdae.

“Kalau begitu buang semua bebek karetmu” Smirk Seungwan.

“APA???!!!” rasanya Jongdae baru tersambar petir di hari yang cerah.
Fin
#happychentongday

Advertisements
Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #7

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance, AU.

Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (APink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol (Exo)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Typo masih bertebaran, don’t plagiat, tinggalkan jejak setelah membaca, butuh keritik untuk perkembangan sang penulis.

Chapter 7
Chorong melambatkan laju motornya setelah merasa keadaan cukup aman, pegangan Suho pada pinggangnya masih kuat. Chorong menepi untuk memastikan sesuatu. Setelah motor berhenti di tepian ia memukul lengan Suho. 

“Ah ah, sakit!” teriak seseorang di belakangnya. Ya secara tidak sengaja ia memukul lengan Suho yang terkilir.

“Omo, maaf. Apa masih sakit?” ia melihat keadaan tangan Suho setelah turun dari motor, Suho sudah lebih dulu turun.

“Tentu saja! Tanganku ini terkilir nona. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah, jika kau ingin mati jangan mengajakku!” bentak Suho di depan wajah Chorong.

“Tak ada pilihan lain” Chorong mengedikan bahu. “Hey kau ini kan pria, masa segitu saja sudah takut. Apa lagi yang membawa motormu ini adalah seorang wanita. Dasar pengecut” ejeknya dengan ekspresi meremehkan.

“Si siapa bilang aku takut?” 

“wajahmu mengatakan semuanya tuan Kim, sudah jujur saja” Chorong menepuk – nepuk bahu Suho. 

“Cih” ketika akan menurunkan tangan Chorong ia melihat ada bekas darah. “Ya! Tanganmu kenapa huh?” ia menggenggam tangan Chorong dan menunjukkan lukanya. 

“Entahlah, kenapa bisa berdarah ya?” Chorong malah heran sendiri, ia tidak merasakan sakit.

“Dasar bodoh! Ini kan tubuhmu, kenapa tidak tau! Ayo ke klinik” Suho menarik tangan Chorong dengan tangannya yang tidak terluka.

“Hey, bagaimana dengan motormu?” Chorong menunjuk motor yang masih terparkir di pinggir jalan.

“Akan ku panggil seseorang untuk mengambilnya”.

*** 

“Maaf nona kami tidak berhasil melakukannya. Ia bersama tuan Suho tadi” lapor salah satu pria yang menyerang Suho dan Chorong tadi.

“Apa?! Bagaimana bisa? Kalian semua tidak berguna!” seorang wanita menatap nyalang pada setiap orang di hadapannya. 

“lalu bayarannya” tanya pria lainnya.

“Sudah gagal masih minta bayaran, dasar tak berguna!” ia melempar beberapa lembar puluh ribu won. Setelah itu ia meninggalkan tempat tersebut.

“Awas saja kau Park Chorong” ia mengepalkan tangannya dengan emosi yang meluap.

*** 

“Untung saja tanganmu tidak terkilir begitu parah, 1-2 minggu kemudian tanganmu bisa sembuh. Jangan terlalu banyak digunakan dulu” ujar dokter yang telah selesai memberi balutan pada tangan Suho. 

“Baik, terima kasih” sang dokter hanya menepuk pundak Suho. “Oh ya, pacarmu tidak terluka parah, ia hanya tergores, lukanya sudah di bersihkan dan di obati. Kalian harus lebih berhati-hati” dokter melihat Chorong yang berada di luar ruangan. 

“Ah, ya terima kasih lagi. Tapi kenapa dokter langsung menganggap dia pacar saya?” 

“Semua orang pasti akan tau, melihat bagaimana khawatirnya dirimu ketika masuk tadi, dia gadis hebat tambahan lainnya ia juga cantik” terang sang dokter.

“Ya dia sedikit berbeda” Suho melihat Chorong yang sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya.

“Kau sudah selesai?” Tanya Chorong ketika Suho keluar dari ruangan. 

“Ya, hanya tidak bisa digunakan untuk beberapa waktu. Apa lukamu sudah di obati?” ia melihat plester yang menempel pada salah satu lengan Chorong.

“Sudah, kau saja yang berlebihan. Ini tidak terlalu sakit kok” Chorong memperlihatkan tangannya sambil tersenyum.

“Ck, sudahlah. Ayo ku antar pulang” 

“Motormu?”

“Sudah ada yang mengambil”. Chorong hanya menjawab “Oh” dan mengikuti Suho.

*** 

“Joon Myeon sialan, kenapa juga harus aku yang mengambil motornya! Akh, padahal sedikit lagi aku menang dari Umin hyung!!” teriak Lay sambil mengendarai motor. Namun di pertengahan jalan tiba-tiba motornya sedikit bermasalah.

“Loh loh ini kenapa?” Lay menepi. “Astaga kenapa harus habis disaat seperti ini. kan jauh dari tempat pengisian bahan bakar!”. 

Dengan berat hati akhirnya Lay mendorong motornya, baru saja beberpa meter ia berhenti “Tunggu, ini dimana? Aku tak tahu daerah ini, astaga” ia melihat kanan kirinya. “Seseorang tolong, Iching tersesat!!!!”.

*** 

“Sudah sampai. Ini rumahku. Kau kembalilah naik taksi” titah Chorong.

“Apa kau tak akan menawariku untuk masuk?” Tanya Suho.

“Jangan bermimpi tuan, pulanglah” Chorong memberi gesture tangan seakan mengusir.

“Ish dasar”

“Loh hyung?” panggil seseorang, Suho menoleh. Itu Chanyeol yang memanggil. Chanyeol segera menghampiri mereka. 

“Apa yang terjadi pada tanganmu?” Chanyeol menunjuk lengan Suho yang terbalut perban.

“Ah, ini. panjang ceritanya haha” Suho menggaruk tengkuknya dengan tangan yang bebas.

“Yeol , Chorong-ah” mereka berdua menoleh.

“Ibu” ujar mereka. Nyonya Park menghampiri mereka. 

“Omo, apa kau seseorang yang dihajar Chorong? Astaga maafkan anakku. Yak! Kau kan wanita sudah ibu bilang jangan berkelahi!” nyonya Park memukuli tubuh Chorong.

“Ah, ibu sakit dengarkan dulu ah appo” Chorong berusaha menghindar bahkan ia bersembunyi di belakang Suho.

“Ah, bibi saya tidak dihajar oleh anak bibi” ujar Suho. “Ibu dengar bukan”. “Ya walau terkadang dia selalu memukuli saya sih” lanjut Suho. “Yak!”.

“Tuh kan ibu sudah menduganya, kemari kau anak nakal!” Nyonya Park berusaha meraih anaknya.  Bukannya menolong, Chanyeol malah tertawa melihat nasib sang kakak. 

“Ibu dengar” 

“Bibi ini salah paham saya mohon”

“Hahaha”

“Kemari anak nakal!”

“Ah, tanganku!” tidak sengaja nyonya Park mengenai tangan Suho yang sakit.

“Ya, kau baik-baik saja?” Chorong bertanya sedikit khawatir.

“Omo, maafkan bibi”

“Aku baik-baik saja taka apa” ia berkata taka apa tapi sedikit meringis.

“Sudahlah bu, pria itu pacar Nonna” ujar Chanyeol setelah berhasil menenangkan dirinya dari tawa.

“Oh . . APA?”

*** 

“Ini makanlah yang banyak” nyonya Park menyodorkan makannan pada Suho. 

“Ah, terima kasih, anda tidak perlu repot-repot” Ujar Suho.

“Tak masalah, kau harus makan baru kau bisa pulang. Makanlah”.

“Namamu siapa tadi?” kali ini yang bertanya adalah tuan Park.

“Kim Joon Myeon, paman” Suho sedikit gugup. Ayah Chorong sedari tadi menatapnya.

“Ayah jangan menatapnya terus ia tak nyaman!” protes Chorong pada ayahnya.

“Ayah hanya heran, ada juga yang mau denganmu ya” ujar sang ayah.

“Ayah!” 

“Hahahaha” tawa tuan dan nyonya Park serta Chanyeol menggelegar.

“Sudah ayo makan”.

Suho berusaha menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya tak bisa ia gunakan. Tapi setiap ingin menyuap ia selalu gagal. Chorong yang berada di sebelahnya menghela nafas. Ia memutar sedikit tubuhnya, mengambil sendok Suho . Tindakan Chorong selanjutnya membuat semua keluarganya tersenyum. 

“Buka mulutmu” ujar Chorong, ia berusaha menyuapi Suho.

“A aku bisa sendiri”

“Sudah makan saja dan jangan banyak bicara!” akhirnya Suho menerima suapan Chorong dengan wajah yang memerah. Ia malu karena 3 orang lainnya sedang memandanginya dengan tersenyum.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Chorong pada anggota keluarganya.

“Tidak ada” jawab mereka. ‘Dasar tidak peka’ gumam mereka dalam hati.

*** 

“Aku pulang!” teriak Suho.

“YA! Myeonnie kau kemana saja huh? Omo tanganmu kenapa?” Tanya Xiumin.

“Mengantar Chorong, hyung sepertinya ada yang ingin mencelakai Chorong” ujar Suho.

“Apa maksudmu?” 

“Tadi ketika aku ingin mengantar Chorong ada yang mengejar kami, itu bukan musuhku. Aku tau karena mereka tidak berusaha mencelakaiku melainkan mereka mengincar Chorong. Dan aku tau siapa pelaku utamanya” ujar Suho.

“Rion” jawab Xiumin.

“Kau benar, aku sedikit bersalah pada Chorong. Dia pasti akan menjadi bulan-bulanan Rion. Untung saja Chorong masih bisa mengatasinya”.

“Tapi kau juga tidak bisa sesantai itu Myeon, Rion bisa lebih berbahaya. Sekuat apapun Chorong ia tetaplah wanita. Aku tau didasar hatimu paling dalam kau sangat khawatir padanya, kau menyayanginya, kau menyukainya” jelas Xiumin.

“Aku menyukainya? Tidak-tidak, dia itu sangat waw, tidak ada wanita wanitanya” ujar Suho.

“Cih, masih saja tidak mengaku”.

“Hyung, apa Yixing sudah sampai membawa motorku?” Tanya Suho.

“Ia belum kembali” Xiumin mengerutkan dahinya. “Apa sesuatu terjadi padanya? Akan ku telephone ia” Xiumin segera menghubungi Lay.

“Hallo, HYUNG!”

“Xing, dimana kau?”

“Aku tersesat hyung” 

“Apa? Kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Aku lupa jika aku membawa handphone”

Xiumin menepuk dahinya, Suho menghela nafasnya. ‘kambuh lagi’ gumam mereka.

To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #6

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter /  PG 15

School life, comedy, romance, drama.

Kim Joon Myeon /  Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok /  Xiumin , Zhang Yixing / Lay , Park Chanyeol  (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red velvet)

Chapter 6
Bel  tanda usainya pelajaran selalu terdengar paling nyaring bagi para siswa, tak terkecuali bagi para siswa di kelas Chorong.

“Baiklah, sampai sini saja pelajaran kita hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian” Guru Choi masih membereskan buku-buku bawaannya.

“Nde~ terima kasih pak” koor anak-anak sekelas.

Guru Choi mengangguk sebagai jawaban dan menuju pintu, lalu meninggalkan kelas. Sebagian anak menghela nafas lega, sebagian membaringkan kepalanya pada meja. Disisi lain ujung kelas, Chorong sudah merapikan buku dan alat tulisnya. Selesai memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal ia mensleting ranselnya

Ia menepuk bahu Irene yang duduk dihadapannya. “Bae, aku duluan” ujarnya dengan menyelempangkan sebelah tali ranselnya pada bahu.

“Kau sungguh-sungguh akan les private dengan tuan Kim itu?” Irene kali ini sudah berbalik penuh pada Chorong.

Chorong mengedikan kedua bahunya “Entahlah, aku pun tak yakin, tapi jika guru Nam yang memberi saran, itu bisa aku pertimbangkan. Lagi pula tak ada salahnya mencoba, apalagi ini geratis” senyuman lima jari tercipta di wajahnya. Jika sudah senyum seperti ini ia benar-benar mirip dengan Chanyeol.

Irene hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Semoga kau berhasil”.

“Baiklah aku pergi dulu, bye” Chorong berlari menuju pintu kelas, oh bahkan tadi ia hampir terpeleset.

“Jangan membuat ulah macam-macam” teriak Irene dari dalam kelas. Samar-samar ia mendengar gerutuan Chorong. Irene terkikik akan kelakuan sahabatnya satu ini, ‘kasihan sekali Suho harus mengajari Chorong ‘ pikirnya. 

“Semoga kau mendapat kesabaran yang ekstra Kim Joon Myeon” doa Irene, setelah selesai membereskan barangnya Irene segera beranjak pulang.

*** 

“Suho-sii, pacarmu sudah menunggu diluar” ujar slah satu teman sekelas Suho yang duduk dekat pintu keluar.

“Pacar?” 

“Iya, Park Chorong. Itu dia” tunjuk temannya keluar kelas dari jendela. Suho melihat arah yang di tunjuk oleh temannya. “Astaga, dia sungguh-sungguh akan permintaannya!” gumam Suho.

“Baiklah aku duluan” pamit temannya. Suho hanya melambaikan salah satu tangannya sebagai jawaban. Otaknya berpikir keras. Bagaimana cara dia menghindar. 

“Uh, sial. Harusnya pelajaran tadi aku bolos saja” sesalnya.

Suho melihat keadaan sekita, jika diperhatikan tingkahnya seperti maling yang akan mencuri sesuatu. Berjalan dengan mengendap-endap.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang, ia berbalik dan menemukan Chorong disana dengan raut kebingungan.

‘Sial’ umpatnya dalam hati.

“Oh, hai Chorong. Aku duluan ya!” pamitnya dan berbalik.

“YAK!” belum melangkah, kerah belakang seragamnya sudah ditarik oleh Chorong. “Jangan mencoba untuk kabur, kau sudah berjanji, jadi tepatilah janjimu. Kau ini kan laki-laki” Chorong membawa Suho dengan menarik kerah belakang seragamnya.

“Uhuk lepaskan YAK!, UHUK. Kau ingin membunuhku ya?! Lagi pula kapan aku menyetujuinya! YAK LEPAS!” Suho berusaha melonggarkan bagian atas seragamnya, lehernya serasa tercekik.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku adalah ajari aku. Kau sudah berjanji jadi kabulkan!” protes Chorong yang masih menarik seragam Suho. Jika ini dalam film pembunuhan, Chorong terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menyeret paksa korbannya. Bahkan hal ini menjadi tontonan menarik bagi para siswa yang melihatnya.

“Baiklah-baiklah, akan ku turuti. Jadi lepaskan ini ok?” Suho berusaha bernegosiasi.

“Tak akan, aku tau akal busukmu. Nanti kau malah kabur!” Chorong semakin gencar menyeret Suho.

“YAK!”

Xiumin yang baru saja keluar dari kelas dibuat melongo akan pemandangan menakjubkan pada penglihatannya.

“Daebak, akhirnya kau mempunyai lawan yang sepadan Myeonnie” gumam Xiumin.

“Bukankah itu adikmu?” tanya salah satu teman Xiumin.

“Iya” jawabnya santai.

“Apa tak apa ia seperti itu?”

“Tak apa, sekali-kali ia harus terkena akibatnya, ayo” Xiumin tertawa senang, temannya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

*** 

Chorong dan Suho sedang berada di perpustakaan. Buku pelajaran menumpuk di sebelah kiri Chorong. Melihat wajahnya, sepertinya ia sangat frustasi. Apalagi Suho selalu mengejeknya bodoh.

“Ah, aku tak mengeri” ia mengacak rambutnya.

“Astaga Park Chorong, harus aku jelaskan berpa kali lagi agar kau mengerti!” geram Suho. “Bahkan anak tingkat awal pun tau mengerjakan ini”.

“Jelaskanlah secara ringkas agar aku paham” Chorong memainkan pensil di tangannya dengan cemberut.

“Aku bahkan sudah menjelaskannya dengan teramat sangat ringkas!” Suho menghela nafasnya. Tak ia sangka mengajari Chorong akan membuatnya sefrustasi ini.

“Pssst, jangan terlalu ribut” ujar penjaga perpustakaan.

Mereka menggangguk “Maafkan kami” ujar keduanya.

Suho mengatur emosinya dengan menghela nafas “Baiklah, kita mulai lagi. Jadi bagian mana yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?” tanya Suho.

“Semuanya” jawab Chorong polos.

“YAK! PARK!”

“KELUAR KALIAN SEKARANG JUGA!” usir sang penjaga.

*** 

“Ah jadi begitu, aku paham. Ternyata mudah” Chorong mencatat pada bukunya, ia tersenyum senang.

“Ini memang mudah, kau saja yang bodoh” Suho meminum jusnya.

Mereka sedang berada di salah satu café, lagi pula Chorong mengeluh ia lapar.

“Berhentilah mengataiku bodoh, aku tak bodoh. Aku ini special, jadi kau harus bersabar” Chorong menepuk-nepuk bahu Suho.

“Spesial apanya, bodoh tetaplah bodoh” ejek Suho.

“YAK!”

“Besok datang ke rumahku, kita belajar disana. Akan ku rangkum secara lebih rinci lagi” ujar Suho.

“Kenapa di rumahmu?” Chorong mengerenyit.

“Tidak mau, ya suadah” 

“Baiklah-baiklah, ngomong-ngomong makanan disini enak, apa boleh aku tambah lagi?” Chorong memberikan puppy eyesnya.

“Silahkan saja” 

“Asa” Chorong memakan sandwichya.

“Lagi pula kau yang traktir” lanjut Suho.

“Uhuk” Chorong tersedak makannya, Suho tertawa melihatnya. Ia segera menyerahkan minuman pada Chorong.

“Uangku tak cukup” melasanya.

“Hahaha aku hanya bercanda, makanlah yang banyak” Suho menepuk kepala Chorong. Chorong tersenyum senang dan kembali memakan sandwichnya. “Anak babi” lanjut Suho.

“Habislah kau Kim!” Chorong sudah dengan tatapan tajamnya.

*** 

Lay berjalan dengan riang menuju kelasnya. Sepertinya suasana hatinya sangat gembira hari ini.

Brak

Ia mebuka pintu kelasnya “Myeonnie, kawan-kawan apa kalian merindukanku???” teriaknya.

Wush

Hanya terdengar bunyi angin yang menggoyangkan ranting pohon di luar jendela.

Matanya mencari keberadaan teman-temannya “Kemana semua orang? Apa mereka sedang bermain petak umpet? Curang sekali tidak mengajakku” .

“Loh, nak. Ada perlu apa datang ke sekolah?” tanya penjaga yang sedang berkeliling.

“Tentu saja untuk sekolah, oh, apa bapak tau dimana yang lain? kenapa aku tidak melihat seorang pun” tanyanya melihat sekeliling.

“Mereka di rumah masing-masing” balas sang penjaga.

“Astaga malas sekali mereka, bukannya sekolah ckck” omel Lay.

“Mereka bukan malas, ini kan hari minggu, kegiatan belajar mengajar tentu saja diliburkan. Malah bapak yang heran kenapa kau berada disini. Apa kau ada kegiatan lain?” tanya penjaga.

“Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika hari minggu itu libur!” Lay segera merogoh handphonenya dan menekan kontak seseorang.

Sang penjaga hanya dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Ia kembali berkeliling.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sambungan terhubung.

“Hallo” terdengar suara khas seseorang baru bangun tidur.

“Myeon, kenapa tak beri tahu aku jika minggu itu libur!” bentak Lay.

“Memang dari dulu juga seperti itu!”

“Benarkah?”

“Yak! Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan kenapa minggu libur? Terkutuklah kau Zhang Yixing dengan sikap pikunmu itu!” sumpah serapah Suho terdengar dari sebrang sana. Bahkan Lay sedikit menjauhkan telinganya.

*** 

Pukul 10 pagi Chorong sudah berdiri di depan pagar megah rumah seseorang. Mulutnya masih menggumamkan kata-kata takjub. 

“Dia benar-benar kaya ck” Chorong menghampiri Intercome dekat gerbang dan menekannya. Selang beberapa detik terdengar suara seorang bibi. Mungkin itu salah satu pegawainya.

“Apa Suho ada? Ah maksud saya Kim Joon Myeon” ujar Chorong melalui intercome.

“Mohon tunggu sebentar” 

Chorong kembali melihat sekitar, tak sampai lima menit ia menunggu, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka sendiri.

“Daebak!” ia berjalan dan semakin dibuat kagum. Tapi beberapa detik kemudian ia menyumpah serapahi sang pemilik. Pasalnya dari gerbang utama menuju rumah jaraknya sama dengan rumahnya menuju halte terdekat. 

Pintu utama terbuka setelah Chorong sampai di depannya.  Ia segera masuk dan dipersilahkan duduk, tak berselang lama seseorang muncul dan menyapanya. 

“ Waw, angin apa yang membawamu kesini?” Chorong mengalihkan tatapannya pada sang penanya.

“Ah, Sunbae. Lain kali sediakanlah kendaraan dari gerbang utamamu, tak taukah kau betapa melelahkannya menuju rumahmu!” ceroscos Chorong.

“Ahaha, baiklah usul yang bagus. Akan ku pertimbangkan, ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

“Ah, itu . .”

“Kau sudah datang?” sapa Suho yang baru saja menuruni tangga, lihatlah pakaiannya. Masih terlihat seperti orang yang bangun tidur.

“Dia yang menyuruhku datang” tunjuk Chorong pada Suho.

Xiumin hanya terkekeh, jangan lupakan seseorang dibelakang Suho yang sedang melambaikan tangannya.

“Lay? Sedang apa kau disini?” Chorong mengerenyitkan dahi. 

“Hai, Chorong. Aku? Aku sedang . . . hyung kenapa aku kemari ya?” Tanya Lay pada Xiumin.

“Mana aku tahu, kau sendiri yang datang kemari menggunakan seragam” jelas Xiumin.

“Ah benar aku baru ingat, aku bosan dan salah masuk sekolah akhirnya ku putuskan untuk kemari” terang Lay.

“Dan mengganggu tidur nyenyakku” lanjut Suho. Lay hanya menyengir.

“Ayo ke lantai atas, tunggu aku disana. Aku mandi dulu”

“Pantas saja ada bau tak sedap” Chorong pura-pura menutup hidungnya.

“Yak! Aish. Sudahlah”  Suho berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh Chorong dan yang lainnya dengan tertawa.

Beberapa menit kemudian Suho keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih rapih. Tatapan matanya langsung tertuju pada Lay dan Chorong yang sedang berbincang, mereka terlihat sangat dekat. Sebenarnya disana ada Xiumin. Tapi entah mengapa focus mata Suho hanya pada mereka berdua. Ada perasaan panas di hatinya.

Ia berjalan dengan tergesa dan duduk diantara keduanya. “Apa yang kau lakukan?” Chorong yang tergeser mengajukan protes.

“Tentu saja duduk”

“Masih ada tempat lain” jawab Chorong.

“Aku ingin disini!” balas Suho. Xiumin hanya terkekeh.

“Ayo mulai belajarnya” Suho membuka buku dan Chorong mengeluarkan alat tulisnya dari tas. “Kau akan mengajari Chorong?! Kenapa kau tidak pernah mengajariku?” Tanya Lay.

“Kau ingin belajar juga? “ Tanya Suho.

“Tidak sih, aku akan bermain game dengan hyung saja. Ayo hyung!” Lay dan Xiumin masuk kedalam kamar. Meninggalkan Suho yang geram. “Lalu untuk apa kau bertanya!” teriak Suho.

*** 

Hari sudah mulai petang ketika Chorong selesai dengan les privatenya. “Akhirnya!!!” ia merenggangkan tubuhnya.

“Kau itu hanya perlu praktek tak bisa dijelaskan ckck, ternyata sudah jam 4” Suho melihat arlojinya.

“Nah, aku pulang dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini” Chorong berdiri dan membungkuk.

“Ku antar” mata Chorong melebar.

“Tak perlu aku bisa sendiri” tolak Chorong. “Sudahlah, aku tau rumahmu lumayan jauh dari sini” Suho beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dan mengambil jaketnya.

“Ayo, Hyung, Lay aku pergi dulu!”

“Sudah mau pulang?” Tanya Xiumin. Chorong hanya mengangguk. “Hati-hati” lanjut Xiumin.

“Kapan-kapan datang lagi kemari ya, bye Chorong”.

“Ini bukan rumahmu Zhang!” ujar Suho. Tapi Lay seperti tak peduli dan kembali bermain game.

Chorong yang melihat terkikik geli. ‘Jadi masih ada orang lain yang bisa mengabaikan Suho’ pikirnya.

*** 

Suho mengantar Chorong menggunakan motornya. Entah sengaja atau apa Suho menambahkan kecepatannya membuat Chorong memeluknya karena tidak ingin terjatuh. Dibalik helemnya ia tersenyum sedikit. Memanfaatkan keadaan huh?.

Di tengah perjalanan tiba-tiba motor mereka di apit oleh tiga motor dengan pengendara berhelem fullface. Salah satu dari ketiga motor itu menyenggol Suho dan membuatnya terjatuh.  Chorong hanya sedikit tergores namun salah satu pergelangan tangan Suho terkilir.

Tanpa menunggu lebih lama. Chorong membenarkan motor Suho yang terjatuh dan menaikinya “Cepat naik, mereka masih mengejar kita!” Ujar Chorong.

“Apa kau bisa mengendarainya?” Tanya Suho tak yakin.

“Jangan banyak omong, cepatlah naik!” Chorong sudah menstater motornya, bahkan jika ia melepaskan rem tanganya sudah pasti motor ini melaju dengan kecepatan tinggi.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Suho dibonceng oleh Chorong. Ia berdoa dalam hati agar ia selamat. Setelah Suho menaiki motor, Chorong melihat pada salah satu spion yang retak, ketiga motor itu masih mengejar. Dengan kecepatan tinggi ia membawa motor Suho. Kini giliran Suho yang memeluknya sangat erat. Bahkan kecepatannya melebihi Suho tadi.

“PARK CHORONG AKU INGIN SELAMAT~~~~” teraik Suho dibalik helemnya.

To be continue

Posted in Uncategorized

[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

EXO FanFiction Indonesia

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^

CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

View original post 1,435 more words

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #4

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^
CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga. 

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

*** 

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal. 

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur. 

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

*** 

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya. 

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi. 

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

*** 

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas. 

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga. 

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong. 

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras. 

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

*** 

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor. 

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah” 

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi. 

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.
To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #2


Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Rv)

Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Chapter 2 

“Let’s play!”



‘Suho memiliki kekasih’ itulah topik utama sekolah hari ini, masih ingatkah kalian bagaimana dengan entengnya Suho mengatakan bahwa Chorong kekasihnya? Bahkan detik itu juga Rion pingsan ditempat. Tanpa peduli pada Rion dan kehebohan lainnya Suho segera menarik Chorong menuju atap sekolah.

Dan disinilah mereka sekarang, “Apa kau gila?!” bentak Chorong. Sudah cukup masalah yang ia dapatkan dengan pria yang ada dihadapannya ini kemarin, kenapa hari ini masalahnya semakin bertambah?.

“Aku masih waras nona, dan jangan pernah mengataiku gila!” hardik Suho. “Jika kau tidak gila kenapa kau mengatakan hal yang tak masuk akal tadi huh?” tanya Chorong. “Aku tak ada pilihan lain” Suho mengedikan bahunya. “Mwo?” Chorong membulatkan matanya.

“Dengar ya Park Chorong, karena sudah terlanjur basah, ku perintahkan kau untuk menjadi kekasihku. Harusnya kau bahagia, banyak sekali yang menginginkanku” ujarnya penuh bangga.

“Heol, geratispun aku tak sudi” Chorong mencibir, Suho yang mendengarnya seakan kesombongannya terinjak-injak. “Yak! Kau tidak bisa menolak atau kau aku keluarkan!” ancamnya. “Silahkan saja, aku tak peduli. Lagi pula melihatmu nanti setiap hari membuatku stres. Kalau begitu aku pamit. Annyeong Suho-sii” Chorong membungkukan badannya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Suho yang sedang berkoar di sana.

*** 

“Dari mana saja kau?” tanya seseorang ketika Chorong baru saja mendudukan dirinya pada bangku. “Sedikit urusan” ujarnya. “Urusan apa?” tanya gadis itu lagi. “Kau ini cerewet sekali sih Bae” gerutu Chorong.

“Nonna!!!” teriak seseorang. Chorong dan Irene melihat ke arah asal suara. Chanyeol berlari menuju ke arahnya dengan nafas memburu.Chorong yang melihatnya mengerutkan dahi. “Kau kenapa?” tanya Chorong setelah Chanyeol sudah berada di samping mejanya dengan nafas tersengal sengal.

“Hah hah kau hah berhutang hah penjelasan hah padaku” ujarnya dengan nafas terputus-putus. “Apa maksudmu?” Chorong kebingungan. “Iya, apa yang kau bicarakan sih?” tanya Irene. “Tentang Kau dan Suho Sunbae” Chanyeol menunjuk Chorong. “Memangnya ada apa antara mereka?” Tanya Irene. “Kau tak tahu nonna?”Chanyeol berujar heboh, Irene hanya menggeleng. “Dia berpacaran dengan Suho Sunbae!” teriaknya heboh. ‘Tak’ satu jitakan sukses mendarat dikepalanya walau Chorong harus bersusah payah menaiki bangku dulu untuk menjitak adik tiangnya satu ini “Kecilkan suaramu bodoh!” Chanyeol yang meringis kesakitan melihat sekitar dan benar saja semua orang telah melihat kearahnya, ia hanya bisa tersenyum kikuk dan meminta maaf. 

“Ya! Park Chorong kau berhutang penjelasan pada kami!” Irene menuntutnya, Chanyeol mengagguk setuju dan Chorong hanya bisa menghela nafas. Sepertinya hal ini tidak akan cepat selesai pikirnya.

*** 

Diluar kelas ternyata Suho melihat kejadian tersebut, ia yang semula akan menuju kelasnya yang berjarak tiga ruangan dari sini menghentikan langkahnya. Seluruh siswa yang melewatinya berbisik – bisik tapi apa pedulinya. Hal yang ia pedulikan adalah seorang gadis di dalam sana yang sedang memarahi pria berpostur tinggi bak tiang.

“Siapa dia?” gumamnya.

Ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari kelas tersebut, tanpa babibu ia segera menariknya. “Ya apa yang  . . ah Suho-sii, maafkan aku ku mohon jangan keluarkan aku, aku tak bermaksud membentakmu” mohon seseorang yang baru saja ditarik paksa oleh Suho. “Kecilkan suaramu!” titah Suho dan pria itu hanya mengangguk.

“Siapa pria itu?” tunjuk Suho pada seorang pria tinggi bersama Chorong dan wanita lainnya didalam kelas.

“Ah itu Chanyeol” jawabnya. “Dia kekasih Chorong?” tanya Suho. “Hahaha masa kau tidak tahu, memang sih jika orang yang baru pertama kali melihatnya akan berpikir begitu” ocehnya namun ketika melihat tatapan yang diberikan Suho ia langsung bungkam “Maafkan aku, Chanyeol atau Park Chanyeol dia adik dari Park Chorong” Suho melihatnya lagi dan senyum iblis baru saja terukir di wajahnya.

“Kau boleh pergi” Suho melepaskan cengkramannya, pria tadi membungkuk terima kasih dan berlalu meninggalkannya.

“Kena kau Park Chorong” gumamnya.

*** 

Sampai dikelasnya dan duduk disamping Lay ia masih tertawa. Lay yang melihatnya terkekeh “Memang ya orang yang jatuh cinta itu terlihat gila” suho memalingkan wajahnya pada Lay “Siapa yang jatuh cinta?” tanya Suho.”Kau” tunjuk Lay. “Aku, tidak mungkin” Suho menunjuk dirinya kemudian menggeleng. “Jika tidak, apa maksudnya tadi ‘Dia kekasihku’” Lay memperagakan adegan pagi tadi dimana Suho mengakui Chorong sebagai kekasihnya. “Heol” umpat Suho. “Mengakulah?” Lay menggodanya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Dia bukan kekasihku” terang Suho.

“Jika bukan berarti akan” lanjut Lay.

“Gadis barbar seperti dia mana ada yang mau” ujarnya.

“Kau mau dengannya” 

“Aish, dia hanya alat bagiku untuk menjauhi Rion” bisiknya pelan. “Kawan dengar, tak perlu malu jika kau menyukainya dan membuat alasan yang mengada-ada, aku mendukungmu. Siapa tau dia bisa merubah sikapmu” nasihat Lay dengan menepuk-nepuk pundak Suho.

“Ya! Zhang Yixing ku bilang bukan ya bukan, kau ingin ku deportasi huh!”

*** 

Chorong sedang berada di kantin, ia menunggu pesanannya yang sedang diambil temannya.

“Hai, Chagi” sapa seseorang. Chorong mendongkan kepalanya yang semula berbaring di atas meja. Matanya membulat. 

“Menjauhlah dariku” usirnya.

“Astaga, kenapa kau mengusirku? Kau tidak merindukanku?” tanyanya percaya diri.

“Dalam mimpimu!” sang pria hanya mengangguk-angguk. “Baiklah, dengan kata lain kau menyuruhku memimpikanmu. Benar kan?” Suho sang pria pengganggu ketenangan menaik turunkan halisnya menggoda.

“Terserah kau, selera makanku hilang!” Chorong beranjak dari kantin dengan muka cemberut. Meninggalkan Suho yang tersenyum-senyum bodoh. Tanpa disadarinya Rion menatap kejadian itu dari kejauhan.

“Tak ada yang bisa memiliki Suho oppa selain diriku” gumamnya.

*** 

Xiumin sedang berjalan dikoridor ketika Chorong melewatinya dengan gerutuannya. “Permisi” sapanya. Chorong berbalik dan melihat sekeliling lalu menunjuk dirinya Xiumin hanya mengangguk. “Ada apa ya sunbae?” tanyanya. “Kau melihat adikku?” Chorong mengerenyit “Siapa?” tanyanya bingung. “Suho, kau kan pacarnya. Setidaknya kau tau dimana dia” Xiumin berkata dengan senyum ramah. 

“Maaf ya sunbae, aku bukan pacarnya! Dan jika kau mencari bocah menyebalkan itu, dia dikantin!” ujarnya emosi. 

“Tapi Joonmyeon bilang kau” “Yak! Bukan ya bukan! Aish!” tanpa peduli reaksi Xiumin ia pergi terserah jika sunbae satu ini menilainya apa.

“Waw, myeonie kau punya lawan sepadan” Xiumin malah tersenyum senang.

***

Hari ini Chorong berniat membolos. Ia sedang bosan dikejar-kejar terus oleh anak iblis itu. Sudah memantapkan diri untuk membolos niatnya terhalang ketika menemukan pria menyebalkan itu di dekat pagar belakang sekolah.

“Kau membolos ya?” tanyanya santai.

“Apa pedulimu” Chorong berniat menaiki pagar, “Ya apa yang kau lakukan?” kau memakai rok dasar gadis tak tau malu” Suho membulatkan matanya. “Diamlah, aku memakai Celana tambahan, kecuali jika kau berniat untuk mengintip” Chorong mengedipkan matanya.

“Aish, hey, bukannya itu guru kedisiplinan” ujar Suho. Chorong yang semula akan naik melihat sekeliling dan kembali turun. “Sial” gumamnya. 

“Pak huemmmp” Suho yang berniat memanggil guru segera dibekap oleh Chorong dan dibawa pergi menjauhi pagar belakang.

Suho terus meronta, walau Chorong wanita bekapnnya bukan main-main. “Hmphmp”.

Merasa keadaan sudah aman Chorong melepaskan Suho. “Hah, kau gila! Bagaimana jika aku mati, akan ku tuntut kau dan akan ku gentayangi!” omelnya sarkasme.

“Bisa diam tidak!, atau kau ku hajar disini” glek Suho mengatupkan bibirnya. 

“Sepertinya sudah aman, aku akan pergi. Jika kau masih ingin disini silahkan” Chorong menarik tas ranselnya dan bersiap membuka pintu gudang. 

“Tunggu, kita perlu bicara” tahan Suho dengan memegang lengan Chorong. “Ku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Permisi” Chorong melepaskan genggaman Suho.

Suho berdecak “Turuti perintahku atau Park Chanyeol aku keluarkan!” ancamnya. Chorong terdiam kaku dan seketika memandang suho tajam. Ia segera mendekati Suho dan mencengkaram kerah seragamnya. “Berani macam-macam dengan adikku tak akan ku biarkan kau tenang!” gertak Chorong, namun Suho hanya tersenyum mengejek. “Kalu begitu, turuti perintahku atau ia akan ku keluarkan”.

Chorong memandang Suho dengan penuh benci, tak mungkin ia mengorbankan sang adik, pasalnya sang adik sangat bermimpi bisa sekolah disini bahkan dia sangat senang ketika tahu ia diterima di sekolah tempat kakaknya berada. Ia tak akan melupakan itu. 

“Diam berarti setuju” ujar Suho final.

“Sejak kapan aku menyetujuinya huh” Chorong kembali mengeratkan cengkramannya. “Sejak saat ini, nah Chagi mulai besok kau harus turuti kata-kataku, ah satu lagi” 

Cup

Suho mencium pipi Chorong membuat sang gadis melebarkan matanya dan cengkramnnya mengendur. “Jangan membolos, kembalilah ke kelasmu, annyeong” Suho mengacak surai Chorong dan meninggalkannya.

Chorong yang baru sadar setelah terdengar suara debuman pintu tertutup segera melihat sekitar “YAK! KIM JOONMYEON AKAN KU BUNUH KAU!!”

Tbc

Posted in Uncategorized

MOTHER #1


Evina93 I Two shoot I PG 15

Family,

Byun Baekhyun, Kim Taehyung

“ karena kasih ibu tak terhingga sepanjang masa”

Keluarga harmonis. Ya itulah impian semua orang. Mempunyai istri atau suami yang menyayangi dan mencintaimu. Anak  yang bisa kau banggakan dan cintai. Orang tua yang menjadi panutan dan tempat kau berbagi keluh kesahmu. Kurang lebih seperti itulah gambaran keluarga harmonis.

Namun jika kau menanyakan hal itu pada seorang Byun Baekhyun maka jangan harap kau akan melihat kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Yang ada tatapan tajam dan aura gelap yang kau rasakan.

Mari kita mengenal seorang Byun Baekhyun, pria dengan mata sipit dan bibir tipis ini sebenarnya pria yang hangat dan penuh aura keceriaan, namun itu dulu sebelum kejadian yang menurut Baekhyun sangat menorehkan bekas luka yang mendalam di ingatan dan juga hatinya. Tapi tenang saja ia masih bisa tersenyum dan ceria, terutama dengan seseorang yang benar-benar tulus padanya.

Kehidupan dan takdir yang membuatnya seperti ini, menurut Baekhyun jika ia terpuruk terus maka ia tak akan bisa menjalani hidup.

*** 

“Sampai disini saja pertemuan kita kali ini, kalian jangan lupa mengerjakan tugas, mengerti?!” seorang pria tua baru saja memperingati para muridnya sebelum meninggalkan ruangan.

“Mengerti pak!!” jawab seluruh penghuni ruangan itu.

“Baiklah aku pergi” sang guru pun kelauar dari ruangan tersebut. Seketika semua penghuni kelas bernafas lega. Pelajaran guru Choi membuat otak mereka seakan bisa mengeluarkan asap.

“Astaga, jika kepalaku disiram sepertinya akan mengeluarkan asap” Koar Chanyeol. Teman sebangku Baekhyun.

“Kau saja yang bodoh” Komentar seseorang yang duduk di depan meja Baekhyun dan Chanyeol.

“Diam kau mata besar!” hardik Chanyeol. Tak lama menunggu pria dengan mata belo dan bibir hati itu pun berbalik. “Mataku tidak besar, dasar Tiang!” balasnya.

“Hey, aku bukan tiang kau saja yang terlalu pendek!” Balas Chanyeol.

“Baekhyun laukaknlah sesuatu” Pinta seorang pria yang duduk di samping pria dengan mata belo tersebut.

“Hh” Baekhyun menghela nafas. Ini sudah biasa terjadi. Bahkan dia sudah kebal dengan situasi ini.

“Park Chanyeol, Do kyungsoo. Jika kalian tidak berhenti sekarang juga kalian tau bukan akibatnya hm?” tanya Baekhyun dengan memandang Chanyeol dan Kyungsoo secara bergantian.

“Glek” Chanyeol dan Kyungsoo menelan ludah seketika. Mereka mengangguk dengan kompak dan tanpa banyak bicara segera duduk pada bangku masing-masing. Heol, siapa yang tidak akan takut jika diancam oleh Baekhyun. Pemegang sabuk hitam hapkido. Sebenarnya Baekhyun benci mengancam dan menggunakan kekuatan, tapi jika tidak begitu maka kedua anak ini tidak akan berhenti untuk saling mencela. 

Dulu kedua orang tersebut sangat sulit untuk dihentikan hingga membuat Baekhyun yang kala itu sedang pusing mengeluarkan kekuatan material artsnya yang tidak sampai 10% itu dengan menendang kedua bokong dua manusia dengan tinggi berbeda itu. Hasilnya mereka mengaduh kesakitan bahkan Chanyeol bercerita jika sakitnya hilang setelah 2 hari. Semenjak kejadian itu mereka berdua tidak berani lagi membuat Baekhyun kesal.

Mari kita perkenalkan para teman-teman Baekhyun ini, Chanyeol atau Park Chanyeol pria yang tingginya melebihi batas ini adalah teman Baekhyun semanjak SMP. Karena mereka mempunyai kegilaan yang sama dalam membuat onar entah kapan mereka menjadi dekat. Do Kyungsoo pria dengan tinggi dibawah Chanyeol dan yang lain ini pria dengan watak serius dan minim ekspresi. teman Baekhyun semenjak orok. Jika kalian bertanya apa Kyungsoo tau masa kepedihan Baekhyun maka jawabnnya adalah YA. Tapi karena permintaan Baekhyun ia menutup rapat-rapat dan tidak ingin mengungkit hal itu kembali. Ah dan couple tom and jery dari Park Chanyeol. Satu lagi, pria dengan suara yang menurut semua orang indah ketika bernyanyi namun sebenranya berkelakuan aneh ialah Kim Jongdae. Teman suka duka Baekhyun ketika mengikuti ospek Senior High School.

Jongdae memberi jempol kepada Baekhyun. “Ah, aku lapar. Ayo ke kantin”ajak Jongdae. “Aku tak bisa” Jawab Baekhyun. “Ah Wae?!” inilah kebiasaan Jongdae. “Uangku sudah habis, ah, gajiku di mini market tidak cukup untuk semua” keluh Baekhyun dengan memendamkan wajahnya. “Aku butuh pekrjaan lain” gumamnya.

“Apa kau sudah gila?! Berapa banyak pekerjaan lagi yang kau akan ambil huh? Kau itu bukan robot bodoh” inilah Kyungsoo yang lain. jika sudah menyangkut masalah Baekhyun maka sifat keibuannya akan segera mengambil alih. Chanyeol dan Jongdae pun kali ini setuju dengan pendapat Kyungsoo. 

Mereka bertiga tahu kehidupan Baekhyun. Baekhyun itu bekerja mati-matian untuk memenuhi hidupnya. “Jangan Bilang jika ayahmu mengambil uangmu lagi?” Tanya Jongdae. Dan Baekhyun hanya menggerkan sedikit kepalanya pertanda benar.

Merke bertiga menghela nafas kasar. Chanyeol, Jongdae serta Kyungsoo tau benar sifat ayah Baekhyun. Ya merkea tau hanya saja Chanyeol dan Jongdae tidak berani menanyakan soal ibu Baekhyun karena Kyungsoo sangat melarangnya dan mereka paham itu.

“Ah” Raut wajah Chanyeol seakan mendapat sebuah pencerahan. “Baek apa kau mau bekerja di restoran milik ibuku? Spertinya ibuku sedang membutuhkan pegawai” 

Dalam hitungan detik Baekhyun langsung mengangkat kepalnya. “Aku mau” Ujarnya riang. Kyungsoo hanya bisa menghela nafas.

“Kruyuk”

“Ah, maaf” Baekhyun menggaruk tengkuknya. “Ck, Kali ini aku traktir” Kyungsoo berdiri dari bangkunya. “Kami juga?” Tanya Chanyeol dan Jongdae dengan wajah berbinar. “Kalian Bayar sendiri” 

“EY!”

*** 

“Taehyung, turun dan cepat makan” perintah sang ibu. “Baiklah-baiklah aku turun” sahut sang anak.

“Apa dia masih saja bermain PS?” Tanya sang suami. “Kau seperti tidak tau dia saja”. “Kapan dia akan dewasa” harap sang ayah.

“Yeobo, sepertinya aku ada panggilan dadakan, terjadi kasus lagi. Jangan tunggu aku pulang” izin sang suami.

“Baiklah cepat pergi. Itu sudah tugasmu Detective Kim” balas sang wanita. “Baiklah aku pergi” pamitnya dan mencium kening sang istri.

“Astaga kenapa aku turun saat ada adegan romance” keluh Taehyung. Tuan dan nyonya kim menengok kepada anak mereka. Ada semburtat merah pada pipi nyonya Kim. “Kau iri, mangkannya cari pacar” ejek sang ayah. “Appa!”

“Hahaha Baiklah aku pergi”

“Cepatlah pergi” ujar Taehyung.

“Astaga anak ini, kau mengusirku huh?!”

*** 

 Nyonya Kim sedang terduduk di balkon kamarnya, tatapannya terlihat sangat sendu dengan memandangi sebuah foto usang yang memperlihatkan seorang balita berusia sekitar 3 tahun itu. dengan penuh sayang ia mengelus dan terus bergumam maaf.

“Eomma kau didalam?” tanya Taehyung.

Nyonya Kim segera menghapus air matanya. Dan menyimpan kembali foto itu. “Nde, masuklah” Taehyung pun masuk dengan tersenyum sepeti biasanya. Nyonya Kim pun tidak bisa tidak tersenyum melihat putranya itu. Ah, apa senyumnya sama seperti Taehyung sekarang? Pikir nyonya Kim.

Taehyung yang sadar ada sedikit air mata pada sudut mata ibunya itu terlihat sedikit khawatir. Ia bergegas menghampiri ibunya itu. “Eomma, apa kau baik-baik saja?” Tanya Taehyung. “Apa maksudmu?” Tanya nyonya Kim. “Kau terlihat baru saja menangis” terang Taehyung. “Ah ini, aku kelilipan” dusta nyonya Kim. “Jangan berbohong padaku, karena aku tau itu” Anaknya ini terkadang peka disaat tidak tepat.

“Ah, apa itu?” Tanya Taehyung menunjuk sebuah kertas yang terjatuh. Nyonya kim terbelalak ketika Taehyung mengambilnya. Kenapa bisa jatuh disaat sepeti ini pikir nyonya Kim. “Ah ini sangat menggemaskan, tapi sudah terlihat lama. Apa ini aku? Bukan-bukan ini sedikit berbeda” Taehyung semakin mengamati. Keringat dingin sudah mengalir pada tubuh nyonya Kim. Apa ini saatnya pikir nyonya Kim. 

“Eomma ini siapa?” Tanya Taehyung. 

Sepertinya ini sudah waktunya, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, lagipula Taehyung sudah besar. “Dia Hyungmu” ujar nyonya Kim.

“Sudah kuduga” Jawaban yang sangat tak terduga keluar dari bibir anaknya ini membuat nyonya Kim mengalihkan atensinya yang semula melihat pemandangan luar menjadi focus kepada anaknya ini.

“Apa ayah tau?” lanjutnya. 

“Ya” gumam nyonya Kim.

“Ceritakan soal hyung padaku, siapa nama dan seperti apa dia” pinta Taehyung dengan senyum lebarnya. Nyonya Kim terkadang bersyukur dengan sifat anaknya ini. ia pikir Taehyung akan marah besar karena ia menyembunyikan suatu hal besar namun nyatanya ia melihat pandangan penuh antusias dari anaknya ini. “Baiklah” Senyum nyonya Kim.

*** 

Baekhyun baru saja selesai dari tugas part timenya. Hari sudah sangat larut ketika ia kembali ke rumahnya.

Keadaan didalam sangat gelap ketika ia membuka pintu rumah kecilnya itu. Ia sedikit menghela nafas lega ketika tidak mendapati seseorang di dalamnya. Tidur itulah yang Baekhyun inginkan saat ini.

*** 

Baru saja Baekhyun selesai dari acara membersihkan badannya untuk bergegas pergi ke sekolah ketika ia akan kembali masuk kedalam kamarnya ia mendapati sang ayah sedang mengobrak abrik kamarnya. 

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Baekhyun.

“Kau punya uang bukan? Dimana kau menyimpannya? Serahkan padaku!” tuan Byun masih saja mengobrak abrik kamar Baekhyun. “HENTIKAN! AKU TIDAK PUNYA” ya beginilah keseharian Baekhyun.

Tuan Byun mengambil tas Baekhyun dan ia mendapatkan ampop coklat didalamnya. “Kembalikan itu milikku!” Baekhyun akan mengambil barang miliknya itu namun naas tuan Byun sudah lebih dulu mengambilnya.

“Kau berbohong padaku huh?!” Tuan Byun mengambil seluruh uang di dalamnya dan memukul Baekhyun dengan keras. “Itu milikku dan kau tak berhak mengambilnya!” Baekhyun meringis karena perih disudut bibirnya bekas pukulan sang ayah. “Kembalikan! Itu milikku! Kau hanya akan menggunakannya untuk berjudi. Itu uangku bukan uangmu!”

“Diam kau bocah!” plak. Tamparan kembali mendarat di wajah Baekhyun. 

“Cih, semakin ku lihat kau semakin mirip dengan ibumu”

“Jangan sebut wanita itu dihadpanku” suara Baekhyun  terdengar berat meredam emosi. 

“Kenapa aku tidak boleh, ah apa karena dia mencampakanmu” ujar sang ayah.

“KUBILANG BERHENTI BICARA!” Baekhyun sudah meledak. Tuan Byun melotot marah. “Kau berani membentakku huh!” PLAK. Tamparan keras kembali bersarang diwajah Baekhyun. Kali ini lebih keras membuat Baekhyun terjatuh. Ia tidak melawan, hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya. “Cih membuat waktuku terbuang saja, pergilah sekolah dan bekerjalah dengan keras hasilkan lebih banyak uang” Tuan Byun keluar dari rumahnya menyisakan Baekhyun yang terduduk dilantai dengan setetes air mata yang mengalir dari mata indahnya “ARGGGG”

*** 

Setelah mendengar cerita dari sang ibu Taehyung secara sembunyi-sembunyi mulai meneliti tentang kakanya itu. sebenarnya kemampuan penyelidikan Taehyung itu bisa dibilang diatas rata-rata. Hanya saja terkadang tertutupi oleh sifat konyolnya. Ia pernah memecahkan kasus yang sedang ayahnya selidiki bertahun tahun dalam waktu 1 minggu. Mungkin darah seorang penyidik sudah ada dalam dirinya. Tapi seperti yang ku bilang tadi, hal itu tertutupi oleh sifat konyolnya. 

Seperti kali ini setelah mendapatkan data penuh tentang kakaknya ia segera menyelidikinya dengan topi hitam, hodie hitam dan masker hitam ia membuntuti Baekhyun.

Ya ia tau kakaknya itu Baekhyun. Setelah sang ibu bercerita penuh kerinduan pada sang kakak, ia mulai mencari data diri sang kakak. Ia bertekad mempertemukan mereka. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui seperti apa kakaknya dan kehidupannya itu. jaringan Taehyung itu dimana-mana.

Baekhyun bukan tidak peka hanya saja ia sedang malas membuat masalah, sudah cukup tadi pagi ia berkelahi dengan sang ayah ia tidak ingin menambah bebannya. Tapi karena ia sudah jengah akhirnya ia memijat keningnya dan berbalik.

“Keluarlah aku tau kau mengikutiku” ujar Baekhyun. 

“Ah, ketahuan ya” ujar sang pria berhodie hitam itu.

“Apa maumu? Siapa kau?” hardik Baekhyun. 

“Tenanglah kawan, aku baru disini dan aku tersesat, aku mengikutimu karena tidak tahu jalan disini. Melihat seragam yang kau pakai sama denganku itu artinya kau satu sekolah denganku bukan. Jadi aku mengikutimu” terangnya.

“Hh . . kau bisa bertanya baik-baik dan apa-apaan penampilanmu itu? Kau pikir kau idol huh?” Tanya Baekhyun.

“Ah ini, untuk menutupi wajah tampanku dari para gadis-gadis yang mengejarku” terangnya.

“Kau membuatku mual, sebenarnya Kau ini siapa?” Baekhyun membuat gerakan ingin muntah, dan kembali menatap sinis pria dihadapannya ini.

“Aku” sang pria berhodie hitam itu melepas topi dan maskernya “Kim Taehyung” ia tersenyum lebar pada Baekhyun.

TBC
Yang kangen aku angkat kakinya mana???!!!! (Gak ada tuh) L

Arrgg, ini ff sebenernya buat ultah Baek, cuman karena kemalesan ku ini untuk menulis ya beginilah, Happy Brithday uri annoying idol Byun Baekhyun (Tiup terompet bareng V). telat babo (Digeplak Baekhyun).

Review juseo.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo #13

picsart_01-31-06-08-51

Evina93 l Chapter l PG 15

Romance, Comedy, Family

Shin Mingi (Oc), Do Kyung Soo (EXO), Bang Minah (G.DAY), Kim SeokJin (BTS)

Chapter 13

 

Mingi masih betah berbaring diatas tempat tidurnya, namun jam sudah menunjukan pukul 08.00 sekitar 30 menit lagi Mingi ada kelas. Alarm bahkan suara gaduh diluar sana masih belum bisa membangunkan gadis ini.

Sampai akhirnya seorang Do Kyungsoo memasuki kamar Mingi. Ia menghela nafas sejenak. Ini kali ke tiga ia membangunkan mingi dalam kurun waktu 2 jam.

Kyungsoo berjalan menuju tempat Mingi. Ia sedikit membungkuk ‘dia Cantik terutama saat diam’ pikir kyungsoo. Tangan kanannya ia gerakan menuju kepala Mingi. Sedikit mengusap surai kecoklatan milik wanitanya. Ia menyelipkan sedikit anak rambut ke belakang telinga sang wanita, wajahnya sedikit mendekat sampai bibir berbentuk hatinya 1 cm lagi mengenai daun telinga Mingi. Ia sedikit menyeringai. Tidak ada cara lain , pikirnya.

Ia menarik nafas kemudian “DO MINGI BANGUN ATAU AKU CIUM KAU!!” Teriak kyungsoo di depan telinga Mingi.

BRUG BRUG

Mingi yang kaget terjungkal dari atas tempat tidurnya. Ia mengusap kepalanya yang tadi membentur lantai kemudian melihat sang pelaku utama yang membuat mimpi indahnya terganggu.

“YA! DO KYUNGSOO. TIDAK BISAKAH KAU MEMBANGUNKANKU SECARA HALUS!!” bentak Mingi.

“Apa? Secara halus? Kau pikir sudah berpa kali aku membangunkanmu huh? Astaga kau itu wanita tapi tidurmu itu seperti kerbau. Susah sekali untuk dibangunkan” gerutu Kyungsoo.

“Aish, sudahlah. Ada perlu apa kau membangunkanku?” Tanya Mingi sebal.

“Kau tidak ingat 30 menit lagi kau ada jam kuliah? Ah tidak lebih tepatnya 20 Menit lagi” ujar Kyungsoo mengingatkan, ia melihat jam tangannya.

Mata Mingi melebar sempurna “Omo, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi, asih” Mingi beranjak dari acara ‘duduk dilantainya’ kemudian berlari menuju kamar mandi.

“Kau tidak ingat tadi aku bilang apa? Aku sudah membangunkanmu dari tadi. Kau sendiri yang susah dibangunkan” omel kyungsoo.

“Terserah apa katamu, aku mau mandi. Keluar sana!” usir Mingi, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi.

“Bagaimana jika aku memandikanmu?” tawar kyungsoo dengan smirk di wajahnya.

“YA! BYUNTAE! KELAUR KAU!” bentak Mingi.

“Hahaha”

 

****

 

Kyungsoo sedang mengoleskan selai kacang pada roti. Sampai suara gerasak gerusuk mengalihkannya.

“Kau mencari apa?” Tanya Kyungsoo. “Hukumanku, astaga bahkan aku belum selesai mengerjakannya. Matilah aku” Mingi masih mencari laptopnya.

“Oh, Maksudmu tugas ini” Kyungsoo memperlihatkan sebundal makalah ditangannya.

Mata Mingi melebar. “Itu yang aku cari!” Ujarnya. Ia segera menghampiri Kyungsoo dan mengambil makalahnya.

“Tunggu, aku belum menyelesaikannya. Tapi kenapa sudah di print?” gumamnya bingung.

“Aku yang menyelesaikannya, lagi pula aku tidak tega melihatmu tertidur sambil mengerjakan tugas” terang Kyungsoo.

Mingi terperangah, baru kali ini ia melihat sifat baik Do Kyungsoo selain sifat menyebalkan pria itu.

“Tidak biasnya kau seperti ini ada ap . .”belum selesai Mingi menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah disumpal oleh sepotong roti.

“Sudahlah jangan banyak bicara, 10 menit lagi kau harusnya sudah masuk kelas. Aku akan mengantarmu” ujar Kyungsoo.

Glup

“Tapi . .” setelah berhasil menelan rotinya akhirnya ia bisa membuka suara namun sedetik kemudian “Tidak ada penolakan” perintah Kyungsoo.

Jika sudah begini apa boleh buat. Pikir Mingi lagi pula ia juga akan telat jika tidak diantar Kyungsoo.

 

****

 

Kyungsoo memarkirkan motornya. Mingi segera turun dan membuka helemnya. “Terima kasih sudah mengantarku” ujarnya. Ia menyerahkan helemnya pada kyungsoo kemudian berlari menuju kelasnya. Namun ditengah – tengah ia berhenti dan berbalik pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang memperhatikannya sedikit bingung. ‘apa ada yang tertinggal?’ pikirnya. Namun detik berikutnya ia dibuat kaget sekaligus berbunga-bunga oleh ucapan Mingi.

“Oppa , hati-hati dijalan” setelah berucap demikian Mingi segera berlari kencang menuju kelasnya dengan wajah memerah.

Sedangkan Kyungsoo tidak bisa menghilangkan senyuman indah dari wajahnya.

Dilain tempat dua anak adam sedang terkikik geli melihat pemandangan didepannya, bahkan mereka sampai lupa jika beberpa second lagi kelas mereka dimulai.

.

.

Mingi sudah duduk dikelas sedang mempersiapkan diri untuk memulai kelasnya sambil menunggu dosen masuk ruangan. Namun matanya menangkap gerak gerik aneh dua anak lelaki berbeda warna kulit itu sedang cekikikan melihat ke arahnya. Mingi mengerutkan keningnya bingung.

Dua anak itu yaitu Sehun dan Jongin yang sudah berada didekat Mingi segera memulai aksinya. Sehun sedikit berdehem “Oppa hati-hati dijalan” uajar Sehun dengan menirukan suara wanita. Migi yang sadar apa yang dikatakan sehun tadi sedikit memrah namun “Oh Sehun, kau ingin mati huh?” bentak Mingi sedangkan Jongin sedang tertawa terpingkal-pingkal dibangku samping Mingi sampai pukulan tangan Mingi menghentikan suara tawanya dan digantikan oleh suara tawa Sehun “ hahaha”.

 

****

Luhan yang memperhatikan sedari tadi dibuat tertarik dengan ekspresi Kyungsoo saat ini. Pasalnya Kyungsoo sedang bekerja dengan penuh semangat serta senyum bahagia tidak lepas dari wajahnya. Seolah keadaan disekitarnya sedang musim semi.

“Kyung apa terjadi sesuatu?” Tanya Luhan stelah Kyungsoo berada didekatnya.

“Eum, tidak ada aku hanya sedang senang saja” Kyungsoo tersenyum cerah.

“Apa yang membuatmu senang?” selidik Luhan.

“Kau tau hyung? Mingi memanggilku Oppa” Kyungsoo sangat antusias menceritakannya. Berbanding terbalik dengan luhan yang dibuat biasa saja. “hanya karena itu?” Tanya Luhan. Dan Kyungsoo hanya mengangguk. “Apa istimewanya dipanggil ‘oppa’?” ujar Luhan. “Sangat berbeda Hyung jika Mingi yang mengucapkannya” terang Kyungsoo. “Terserah kau saja” Luhan memutar bola matanya. Namun Kyungsoo masih saja tersenyum.

Sura dentingan bel dipintu mengalihkan perhatian keduanya. “Selamat da . . . tang” dan seketika suasana musim semi Kyungsoo tergantikan oleh badai.

 

****

 

“Ish, kenapa aku harus satu kelompok dengan kalian?” geram Mingi dengan menatap tajam kedua orang anak adam yang sedang tersenyum bodoh di hadapannya.

“Ey, harusnya kau bersyukur satu kelompok dengan kami. Banyak yang ingin satu kelompok loh dengan kami. Anggap saja ini keberuntunganmu” Narsis Jongin, dan Sehun hanya mengangguk mengiakan.

“Yang ada aku tertimpa sial” Gerutu Mingi. “Apa?” Tanya mereka berdua.

“Sudahlah lupakan, kita akan mengerjakan dimana?” Tanya Mingi. “Bagaimana jika di apartemenmu?” tanya sehun. “Kau ingin dihajar Kyungsoo huh?, Baekhyun oppa saja dekat denganku dia tidak berhenti mengomel apalagi kalian berdua yang datang” tutur Mingi.

“Ey, kita kan sudah saudara sista” Jongin merangkul Mingi. “Jong lepaskan tanganmu atau kupatahkan” ancam Mingi. “O..Ok” Jongin dengan berat hati melepaskan rangkulannya. ‘Astaga ancamnnya membawa aura mutlak seperti Kyungsoo hyung’ pikir Jongin. Sehun hanya tertawa.

“Kita mengerjakan di Café Lu –Ge saja” Saran Mingi.

“Siapa itu Lu-Ge?” selidik Jongin.

“Kau selingkuh?!” ujar Sehun dan berakhir mendapat hadiah pukulan dikepala oleh Mingi.

“Jaga ucapanmu albino”

****

 

Luhan memperhatikan dengan seksama gerak gerik kyungsoo. Ia tau Kyungsoo sangat tidak ingin berhadapan dengan wanita yang sedang bersamanya sekarang ini. namun ini urusan Kyungsoo ia tidak bisa ikut campur. Walau dalam dirinya ia sangat ingin tahu siapa wanita itu.

.

.

“Ada perlu apa kau kemari?” Kyungsoo langsung to the point. “Seperti biasa, kau selalu pada intinya” senyum Minah. Ya wanita yang berhadapan dengan Kyungsoo sekarang ini adalah Minah.

‘menjijikan’ pikir Kyungsoo.

“Baiklah langsung saja, Kyungsoo kembalilah padaku” ujar Minah. “Cih, apa maksudmu. Setelah mencampakanku sekarang kau memintaku kembali? Apa kau lupa kalau aku ini sudah menikah” Kyungsoo memperlihatkan cincin pernikahannya.

“Aku tidak perduli, kau itu milikku. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku” Ujar Minah.

“Dasar wanita gila” Kyungsoo yang akan beranjak dari bangkunya segera ditahan Minah. Minah menarik tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo berbalik padanya dan dalam gerakan cepat ia mencium bibir Kyungsoo. Kyungsoo terbelalak kaget. Sedangkan Minah tersenyum dibalik ciumannya dengan menatap jendela kaca yang menampakan seorang wanita yang melihat Syok kearahnya dari luar dan dua orang pria yang sedang mengobrol dibelakangnya.

 

***

 

Mingi berbalik, ia berjalan menghampiri Jongin dan Sehun.

“Kita ketempat lain saja” ujarnya.

“Loh kenapa?” Tanya Sehun.

“Sudahlah, Biar aku yang traktir” Ujar Mingi meninggalkan Jongin dan Sehun yang kebingungan.

‘Apa dia bilang traktir tadi?’ pikir Jongin. Tak lama “Tunggu aku sista” Jongin mengejar Mingi.

Sehun yang merasa ada yang janggal melihat kedalam café melalui jendela. Matanya terbelalak. Ia berbalik kemudian mengetikkan sesuatu pada layar handphonenya.

Hyung jika kau sudah selesai, segera temui aku.

 

Tbc

Evina93

Posted in Uncategorized

I LIVE WITH SATAN SOO

picsart_1447739230208.jpg

Evina93 I Chapter I PG 15

Family, Romance, Comedy

Do Kyungsoo (EXO), Shin Mingi (OC), Bang Minah (G.DAY), Kim Seokjin (BTS)

Chapter 12

 

Baekhyun kembali memutar bola matanya jengah. Pasalnya semenjak kembali dari restoran teman disampingnya ini terus saja tersenyum seperti orang gila. Jika itu Chanyeol ia bisa memakluminya tapi ini DO KYUNGSOO. Ingat DO KYUNGSOO. Pria yang pelit akan ekspresi itu sedang tersenyum-senyum seperti orang gila. Ingatkan Baekhyun untuk membawa kyungsoo ke pisikiater sepulang kuliah.

Mereka sampai di kelas untuk mata kuliah selanjutnya. Baekhyun mendekati bangku Chanyeol dan jongdae.

Jongdae yang melihat kelakuan kyungsoo bergidik ngeri “Baek, apa yang terjadi pada kyung?” tanyanya.

Chanyeol yang semula perhatiannya tertuju pada handphone digenggamannya beralih mentap kyungsoo setelah jongdae bertanya seperti itu. Chanyeol melebarkan matanya. “Soo ya?” panggil Chanyeol.

“Nde~” jawab kyungsoo. Heol, Chanyeol pun dibuat bergidik ngeri. Kyungsoo tidak pernah menanggapi panggilan chanyeol secepat itu. Biasanya ia membutuhkan waktu berkali-kali agar bisa menarik perhatian kyungsoo agar bisa bicara dengannya. Oh dan apa telinga chanyeol tak salah dengar tadi? Nada kyungsoo astaga. Biasnya bocah itu selalu marah-marah jika Chanyeol memanggilnya. Ada yang salah dengan kyungsoo.

“Baek jelaskan pada kami apa yang terjadi pada kyungsoo???” tanya Chanyeol dan jongdae serempak.

“Dia sedang jatuh Cinta” terang Baekhyun.

“APA?!!!”

***

Mingi melihat jam tangannya, ini sudah lewat 15 menit dari jadwal ia masuk kelas. Namun orang yang berada dihadapannya ini masih belum mengucapkan sepatah katapun setelah tadi mengajaknya untuk bicara.

“hh~” mingi menghela nafas. “Oppa ini sudah lebih dari 15 menit. Jika kau masih belum ingin bicara lebih baik aku pergi saja” ujar mingi.

“Ah, maaf. Aku bingung untuk memulainya” jin menggaruk tengkuknya. Ya, orang yang mengajak minggi untuk bertemu dan bicara adalah jin.

Mingi menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?” tanya mingi.

Jin menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. “Apa kau menyukai Do Kyungsoo?” tanya jin.

“Aku bingung menjawabnya” jawab Mingi.

Jin kembali menghela nafas “Aku sudah tau kau menikah dengan dia. Namun aku sedikit janggal kenapa kau menikah dengannya”.

“Itu cerita yang sangat panjang” ujar mingi.

Jin memegang tangan mingi “Apa aku tidak ada kesempatan sedikitpun?” tanya jin. Mingi melepaskan genggaman tangan mereka. “Ah, begitu ya. Ternyata aku tidak ada kesempatan lagi” jin tersenyum masam.

“Maaf jika aku mengganggu waktumu, sampai kau membolos. Minggu depan aku akan pindah ke Jepang” ujar Jin sambil menatap langit.

“Apa? Tapi kenapa? Apa ini gara – gara aku?” tanya mingi.

“Bukan, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studyku disana. Awalnya aku ragu, tapi setelah mendapat jawaban darimu aku sedikit lega sekarang” Jin berusaha tersenyum dan menatap Mingi.

Jin meletakan tangannya dikepala mingi “Mingi – ya dengar, mungkin untuk kedepan kau akan menghadapi suatu masalah, turuti apa kata hatimu jika itu benar dan ingat kau tidak sendiri, arra?” mingi mengagguk walau dia sedikit bingung dengan ucapan jin. Jin tersenyum dan mengacak rambut Mingi.

“YA! LEPASKAN TANGANMU DARI ISTRIKU” teriak seseorang. Keduanya menoleh bersamaan. Disana, seorang Do kyungsoo memberi tatapan yang sangat tajam dan lihat apa yang dia lakukan sekarang dia memanjat jendela untuk keluar. Ya kelas kyungsoo berada di lantai 1. Tapi tuan do, bukankah ada pintu?

FLASHBACK

Baekhyun, Chanyeol dan jongdae masih membahas prihal kelakuan aneh kyungsoo. Sampai akhirnya, “Bukankah itu Mingi, dia dengan siapa?” tanya Jongdae sambil melihat keluar jendela.

“Oh, Bukankah itu Seokjin” Ujar Baekhyun.

“APA?” Kyungsoo segera berlari mendekati jendela.

“YA! LEPASKAN TANGANMU DARI ISTRIKU”

END OF FLASHBACK

Mingi masih dibuat ternganga oleh kelakuan kyungsoo, ia sampai tidak sadar kyungsoo sudah berada disampingnya dan memeluk pinggangnya secara overprotectiv dan menatap jin dengan tajam.

“Haha . . tenanglah aku tidak akan merebutnya” ujar Jin.

Mingi yang baru saja sadar dari situasi yang ada segera memandang kyungsoo. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” teriak mingi. Ia segera melepaskan pelukan kyungsoo.

“Kalian unik, baiklah aku pergi dulu, bye mingi-ya” sebelum pergi ia mengacak kembali rambut mingi membuat kyungsoo dalam mode evilnya dan aura gelap. Dan setelah itu ia beranjak mendekati kyungsoo dan berbisik padanya “Jaga dia baik-baik, jika kau melukainya maka akan ku rebut kembali” ujar jin.

“Tak akan ku biarkan” kyungsoo menatap jin dengan sungguh-sungguh.

Jin hanya tersenyum dan benar-benar pergi meninggalkan mereka.

“Kenapa kau bisa bersama dia? Bukankah kau ada mata kuliah?” selidik kyungsoo.

“Ini aku akan masuk, jangan mengganggu ku. Kau tau aku sudah sangat sangat telat. Minggir!” perintah mingi.

“Ya! Kau berhutang penjelasan padaku!. Ya ! mingi! Do Mingi!” teriak kyungsoo, namun apa peduli mingi.

……..

“Uri kyungsoo sudah dewasa” ujar Baekhyun.

“Dia sangat pencemburu” ujar jongdae

“Aku iri, kapan aku dapat pasangan” ujar Chanyeol. Seketika jongdae dan Baekhyun melirikinya “Nasib kita sama” ujar jongdae dan Baekhyun. Mereka berpelukan sambil meratapi nasib.

Poor beagle line

****

Mingi sedang mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Akibat kejdian tadi ia diberi hukuman oleh dosen jang karena telat masuk. Jika bisa ia ingin membanting siapa saja yang membuat ia telat dan bad mood tadi. Tambahkan daftar kekesalannya oleh jongin dan sehun. Dua anak berbeda warna kulit itu membuat ia bertambah bad mood karena mereka yang menyebabkan ia diberi hukuman lebih oleh dosen jang.

Kyungsoo terus saja memperhatikan gerak-gerik mingi. Mingi yang duduk di karpet dengan ditemani laptop dan juga kumpulan kertas tugasnya. Sedangkan kyungsoo duduk di atas sofa dengan memandang mingi menuntut penjelasan.

“Kau masih berhutang penjelasan padaku Do Mingi” suara berat kyungsoo membuka percakapan mereka. Mingi menghela nafas, “Apa lagi yang harus aku jelaskan? Kau tidak lihat aku sedang banyak tugas”.

“Soal Kau dan Jin jin tadi siang itu” lanjut kyungsoo. “Sudah aku katakana berapa kali, aku tidak ada apa-apa dengannya” Mingi sedikit meninggikan suaranya.

“Lalu kenapa kalian berduaan” Kyungsoo masih belum menyerah. “Karena dia ingin bicara denganku” geram Mingi.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya kyungsoo.

Mingi mengacak rambutnya “Demi tuhan Do kyungsoo kau ini sangat cerewet sekali. Dia bilang dia akan pergi ke jepang minggu depan. Kau puas?!” terang Mingi.

Kyungsoo melebarkan tatapannya “Dia apa?” Tanya kyungsoo. “Aku tidak mengulang kata-kataku”ketus Mingi.

“Aish” gerutu Kyungsoo, namun sedetik kemudian senyuman kembali terkembang diwajahnya.

Mingi kembali serius mengerjakan tugasnya. “Kau Ingin coklat hangat?” tawar kyungsoo.

Mingi hanya melihat kyungsoo sekilas kemudian kembali mengerjakan tugasnya “Jika itu tidak merepotkanmu” Lanjutnya, tanpa mengalihkan perhatiannya.

Kyungsoo segera beranjak menuju dapur untuk membuat coklat hangat untuk mereka.

.

.

“Ini” Kyungsoo menyerahkan secangkir coklat panas. “Terima kasih” Mingi menerimanya dan sedikit meminumnya, kemudian meletakkannya dimeja dan kembali mengerjakan tugasnya.

Kyungsoo hanya mengangguk dan duduk disamping mingi. “Kau mengerjakan tugas apa?” Tanya kyungsoo. “Lebih tepatnya hukuman” sambung mingi. “Maksudmu?” kyungsoo mengerutkan keningnya.

“Ini hukumanku dari dosen Jang karena telat masuk jam kuliahnya. Aku tidak ingin mengingatnya. Membuatku bad mood kembali” mingi sedikit mengerucutkan bibirnya.

‘Imut’ batin kyungsoo. ‘astaga-astaga apa yang aku pikirkan’ kyungsoo membuang pikirannya.

“Kau ingin aku bantu?” tawar kyungsoo.

“Apa aku tidak salah dengar?” Tanya mingi memastikan.

“Jika tidak mau ya sudah” kyungsoo yang akan beranjak dari tempatnya segera ditahan mingi.

“Aku mau” ujar mingi dengan puppy eyesnya.

‘Uh sial dia imut sekali’

***

“Mingi menurutku kau harus . .” kyungsoo menggantungkan ucapannya setelah melihat keadaan mingi. Mingi tertidur diatas meja. Bahkan dia masih memegang bolpoin di tangannya.

Kyungsoo ikut menidurkan kepalanya dimeja dengan posisi wajah menghadap Mingi.

“Kau pasti sangat lelah” kyungsoo merapikan helaian rambut yang menutupi wajah mingi.

“Maaf jika aku selalu membentakmu, ku mohon jangan tinggalkan aku”

.

.

.

TBC

 

 

AUTHOR’S NOTE

Maafkan aku yang terlalu lama hiatus (Bungkuk). Uum . . pendek? Anggap aja pemanasan hehe . .

Makasih yang sabar nungguin lanjutan FF yang masih pemula ini, mohon comentarnya, like dsb.

Kamsahamida .

Posted in Uncategorized

SEOUL MONSETA #2 (PERUBAHAN)

Evina93 II Chapter II PG 16
Fantasy, Angst, sad, romance
Byun Baekhyun (EXO) I Jung Hae Mi (Oc) I Park Chanyeol (EXO) I Kim Taeyeon (SNSD)

Chapter 2 : Perubahan

Jika orang lain yang tidak terlalu mengenal Byun Baekhyun mereka pasti berpikir tidak ada yang berubah pada diri pria itu, namun bagi Park Chanyeol sang sahabat sikap Baekhyun berubah sangat drastis. Terkadang ia melihat Baekhyun tiba-tiba melamun, tatapan kosong tanpa semangat hidup, dan yang paling parah adalah ketika ia memergoki Baekhyun memandang lapar pada seseorang. Chanyeol ingin bertanya namun masih ragu.

“Baekhyun, bagaimana jika pulang nanti kita pergi ke café?” ajak Chanyeol.

Glek, Baekhyun menelan liurnya. Pasalnya jangankan untuk makan, mencium bau makananpun ia merasa mual. “Eum, bagaimana ya . .” Baekhyun menggaruk tengkuknya.

“Ayolah baek, semenjak kau keluar dari rumah sakit kita belum pernah bersenang-senang lagi” Chanyeol memasang muka memelasnya.

“Ck, hentikan wajah memelasmu itu, aku mual melihatnya. Baikalah aku ikut, sepertinya aku juga butuh hiburan” ujar Baekhyun.

“ASA! Baiklah ayo!, aku jamin kau akan ketagihan di café ini. Tempatnya menarik dan makanan dan minumannya enak-enak” Chanyeol terus saja berceloteh sepanjang jalan menuju Café.

*** 

Baekhyun dan Chanyeol sudah berada di depan sebuah café. Tertera tulisan di depan ‘Healing Café’.

“Nah, ini dia tempatnya” Ujar Chanyeol dengan senyum andalannya oh jangan lupakan gayanya dengan melebarkan kedua tangannya ke samping seperti berkata ‘Tada’. Orang-orang yang melihat terkikik geli.

Baekhyun yang menyadari itu segera mengambil alih situasi. “Yeol, hentikan kelakuan bodohmu itu!” geram Baekhyun. “Kau mengataiku bodoh?!” marah Chanyeol. “Benar! Kau tidak lihat sekelilingmu sedang menertawakan sikapmu itu” jelas Baekhyun. Chanyeol melihat keadaan sekitar dan benar saja orang-orang yang melintas disekitar mereka sedang tertawa geli. Chanyeol menggaruk tengkuknya dan menjulurkan lidahnya sambil tertawa. “Hehe . . maafkan aku” ujarnya.

“Sudahlah, jadi tempat ini yang kau maksud?” tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk dengan antusias. “Tempat ini sudah sering aku kunjungi yeol” jujur Baekhyun. Chanyeol melebarkan kedua matanya. “Apa? Ya! Jika kau tau tempat ini kenapa kau tidak mengajakku dari dulu! Tunggu! Jika kau sering kesini, kau kesini dengan siapa?” tanya Chanyeol.

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun kembali memikirkan seseorang yang sangat ingin ia lupakan.

“Sendiri” Jawabnya. Nadanya berbeda dengan sebelumnya. “Ey tidak mungkin” Chanyeol menyipitkan matanya ingin menggali informasi lebih.

“Ku bilang sendiri ya Sendiri Yeol! Jika kau bertanya terus aku lebih baik pulang saja” ancam Baekhyun.

“Ya ya ya, baiklah aku akan diam (Chanyeol membuat gerakan seperti mengunci mulutnya) ayo kita masuk” ujarnya dengan riang.

“Um”

*** 

Bel berdenting dari arah pintu masuk, Chanyeol dan Baekhyun mencari salah satu tempat duduk. Chanyeol masih mengagumi keadaan di café ini. Padahal ini kali ke 2 dia datang kesini. Sedangkan Baekhyun sudah duduk disalah satu bangku. Itu tempat favoritnya. Bersebelahan dengan jendela yang menghadap langsung keluar. Chanyeol yang tau Baekhyun sudah mendapatkan tempat segera menyusulnya.

Seorang pelayan wanita menghampiri mereka, wajahnya tergolong manis namun aura tajam dan dingin terpancar pada dirinya benar-benar berbanding terbalik dengan wajah manisnya.

“Ada yang ingin kalian pesan?” tanyanya. Baekhyun menoleh ia tersenyum sekilas, setiap ia datang kemari selalu saja pelayan wanita ini yang melayaninya. Oh jangan tanyankan, walau baekhyun sering kemari dulu, ia masih belum mengenal wanita yang berada di hadapannya ini sekarang. Dulu sebelum ia tertarik dengan seseorang yang ingin dilupakannya ia selalu mencuri-curi pandang terhadan wanita ini sampai akhirnya seseorang mengalihkan perhatiannya.

“Cantik” gumam Chanyeol. Namun Baekhyun dan wanita tersebut masih bisa mendengarnya. Baekhyun sedikit sebal, berbanding terbalik dengan wanita tersebut yang sekarang wajahnya dihiasi semburat kemerah-merahan.

“Nona siapa namamu?” tanya Chanyeol senyuman memang tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Eh, Ju . . Jung Hae Mi” ujarnya. Mata Chanyeol berbinar, Baekhyun? Ia sedang menggerutu sekarang. Dengan mudahnya Chanyeol bertanya sedangkan dirinya yang sudah lama . .  ah sudah lupakan saja. Bagaimana pun akhirnya ia tau nama gadis itu.

“Woah, baek pantas saja dirimu sering kemari, ternyata ada wanita cantik ini disini” Goda Chanyeol.

“eh” ujar Baekhyun dan Hae mi bersamaan. “Bu Bukan begitu yeol” sanggahnya. “Tapi wajahmu memerah Baek” sial Chanyeol masih saja menggoda Baekhyun. “Astaga, sudahlah. Hae mi-ssi bisa aku pesan seperti biasa?” ujar Baekhyun. “Nde, kopi tanpa gula 1, lalu anda?” Hae mi beralih pada Chanyeol. “Panggil aku Chanyeol, atau oppa. Sepertinya kau lebih muda dariku” ujar Chanyeol dengan senyumnya. “EH, Baiklah, Chanyeol-ssi apa yang ingin kau pesan?” Baekhyun benar-benar jengkel sekarang. “Aku ingin 1 espresso dan sendwich” pesannya. “Baiklah, mohon tunggu pesanannya” Hae Mi pamit untuk memberikan daftar pesanan untuk dibuat namun beberapa langkah ia kembali dipanggil “Hae mi-ya” “Nde” Hae mi membalikkan tubuhnya, ternyata Chanyeol yang memanggilnya. “Tunggu sebentar”Chanyeol segera menghampiri Hae Mi dan berbisik padanya. “Kau tau pria yang bersamaku, Namanya Byun Bekhyun. Sepertinya ia tertarik padamu” bisiknya. “apa?!” kaget Hae Mi. Chanyeol hanya menepuk bahu Hae mi sambil tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya.

Baekhyun? Tentu saja ia sangat pensaran dengan apa yang mereka lakukan. Maka setelah kembalinya Chanyeol ia memutuskan untuk bertanya. “Apa yang kalian berdua bicarakan?” tanyanya. “Tidak ada, aku hanya bilang. Sepetinya kau sedikit tertarik padanya” senyum Chanyeol. “YA!” Baekhyun dengan refleks memukul kepala Chanyeol.

“Sakit Byun! Kau ingin tanggung jawab jika aku bodoh huh?” Chanyeol mengelus kepalanya.

“Kau memang sudah bodoh!” sindir Baekhyun.

“YA!!!”

*** 

“Maaf lama menunggu, ini pesanan kalian” Hae Mi menaruh pesanan Baekhyun dan Chanyeol di meja. “Selamat menikmati” Chanyeol dan Baekhyun tersenyum pada Hae mi. namun gadis itu tak membalas dan hanya berlalu.

Baekhyun mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya. Perasaan berbeda timbul pada dirinya. Entahlah kopi ini membuatnya tenang. Dan kopi ini benar-benar enak.

“Waoh, ini sangat enak, dan minumannya pun . . ah aku tidak bisa berkata-kata” ujar Chanyeol. Baekhyun tersenyum sekilas.

Bunyi lonceng kembali terdengar. Dua orang pengunjung memasuki café. Satu pria dan satu wanita. Sepertinya mereka pasangan. Chanyeol sedikit mengalihkan pandangannya.

“Oh, sunbae!” panggilnya. Pria yang datang tadi menoleh dan mendekati Chanyeol.

“Kau disini juga?” tanyanya. “Ya, aku bersama temanku. Sunbae kenalkan dia byun baekhyun temanku” ujar chanyeol. Baekhyun membungkuk “Hallo, aku Byun Baekhyun” ujarnya memperkenalkan diri. 

“oh, Kau juga di universitas yang sama?. Senang bertemu denganmu. Aku Haechul dan ia Hani” gadis disampingnya membungkuk.

“Baiklah kami tinggal dulu” ujar Haechul dan menarik hani ke salah satu meja.

“Nde”

*** 

Sudah beberpa hari setelah kejadian di café itu. Hari ini Baekhyun dan Chanyeol bisa pulang lebih awal mereka memutuskan untuk bermain di time zone. Namun saatmelewati salah satu bangunan mereka seperti mendengar teriakan meminta tolong.

“Yeol, kau dengar itu?” tanya Baekhyun. “Ya, aku mendengarnya. Ayo kita lihat”

Baekhyun dan Chanyeol mencari asal suara itu, sampai akhirnya mereka berada di salah satu besment. Mata keduanya melebar. Pasalnya dihadapan mereka kali ini seekor monster namun bertubuh manusia sedang mencabik-cabik tubuh seseorang. Tepat di lian tempat ada seorang wanita sedang menggendong seorang anak dengan ketakutan.

“Baek . . bukankah itu . .” Chanyeol gemetar. Jangan tanyakan baekhyun sebelah matanya terlihat merah insting berburu seketika muncul. Baekhyun menutup sebelah matanya dan sedikit menggerang.

“Baek kau kenapa?” tanya Chanyeol.

Monster tersebut menyadari kehadiran keduanya. Ia segera beralih mendekati Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol yang sadar segera menarik Baekhyun dan bersembunyi di suatu tempat. Chanyeol melihat situaasi dan keadaan Baekhyun. “Sial” umpatnya. 

Chanyeol melihat ibu dan anak tadi masih terpaku melihat mayat laki-laki tadi. Dan beralih lagi pada Baekhyun. “Aku harus mengalihkan perhatiannya” ujar Chanyeol. Baekhyun masih saja memegang kepalnya.

Chanyeol keluar dari persembunyiannya. “Hi monster jelek, kemari kau!” tantang Chanyeol.

Monster tersebut segera mendekati Chanyeol, kecepatannya tak terlihat ia sudah mencekik Chanyeol. “YEOL!!!” Teriak Baekhyun. “Baek lari uhuk, se lamat kan I bu dan an nak itu uhuk” ujar Chanyeol. Baekhyun beralih pada ibu dan anak tadi. Ia segera berlari dan membawa mereka keluar. 

Selamat sampai diluar Baekhyun menyuruh mereka pergi. merkapun pergi dengan berlinangan air mata.

Baekhyun kembali ke dalam, matanya melebar saat melihat Chanyeol terpelanting dan tak sadarkan diri. “CHANYEOL!!!” wajahnya mengeras, sebelah matanya memerah, taring muncul.

“Beraninya kau!” baekhyun menyerang monster itu. Tendangan, pukulan ia layangkan. Namun ini kali pertama ia bertarung dengan sosok lain ia masih belum mampu menandingi.

“Berengsek” geram Baekhyun. “Cih, jadi kau sama sepertiku” ujar monster tersebut. “Apa maksudmu huh?” tanya Baekhyun. “Kau tidak mengenaliku hah?!” kekeh monster tersebut.

Baekhyun sedikit berpikir, tidak lama matanya membola. “SIAL JADI KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA CHANYEOL HUH! AKAN KU HAJAR KAU!” baekhyun kembali menyerang. Namun karena emosi dan pola serangan yang asal ia kembali kalah. 

“Sepertinya akan lebih lejat jika aku memakanmu dibanding teman bodohmu itu” ujar sang monster.

Baekhyun kembali bangkit, darah keluar dari mulutnya “uhuk” sial pikirnya.

Belum sempat monster tersebut mendekati baekhyun, seseorang sudah menendangnya hingga tersungkur. 

“Siapa kau?!” geram sang monster. Matanya melebar, yang menendangnya adalah seorang gadis. “Cih, wanita. Akan ku hajar kau!” namun gadis tersebut kembali membanting monster tadi. “uhuk”

Baekhyun yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terdiam. Ia ditolong oleh seorang wanita, lebih parahnya ia mengenal wanita itu . . “Hae Mi” gumamnya.

See u next chap . . ^^

Hallo pertama aku mau minta maaf karena udah lama gak publish. Kedua kalo ada yang nanya ini kaya tokyo ghoul? Yup aku terinspirasi dari film itu namun saya tekankan. Saya tidak plagiat! Huh dipikir buat cerita gampang. Saya merasakan itu. Maaf curol . . hehe . . masih mau kelanjutannya please coment . . 

See ya . . (kiss & hug)