Posted in Uncategorized

[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

EXO FanFiction Indonesia

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^

CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

View original post 1,435 more words

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #4

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^
CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga. 

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

*** 

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal. 

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur. 

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

*** 

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya. 

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi. 

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

*** 

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas. 

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga. 

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong. 

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras. 

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

*** 

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor. 

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah” 

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi. 

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.
To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #2


Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Rv)

Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Chapter 2 

“Let’s play!”



‘Suho memiliki kekasih’ itulah topik utama sekolah hari ini, masih ingatkah kalian bagaimana dengan entengnya Suho mengatakan bahwa Chorong kekasihnya? Bahkan detik itu juga Rion pingsan ditempat. Tanpa peduli pada Rion dan kehebohan lainnya Suho segera menarik Chorong menuju atap sekolah.

Dan disinilah mereka sekarang, “Apa kau gila?!” bentak Chorong. Sudah cukup masalah yang ia dapatkan dengan pria yang ada dihadapannya ini kemarin, kenapa hari ini masalahnya semakin bertambah?.

“Aku masih waras nona, dan jangan pernah mengataiku gila!” hardik Suho. “Jika kau tidak gila kenapa kau mengatakan hal yang tak masuk akal tadi huh?” tanya Chorong. “Aku tak ada pilihan lain” Suho mengedikan bahunya. “Mwo?” Chorong membulatkan matanya.

“Dengar ya Park Chorong, karena sudah terlanjur basah, ku perintahkan kau untuk menjadi kekasihku. Harusnya kau bahagia, banyak sekali yang menginginkanku” ujarnya penuh bangga.

“Heol, geratispun aku tak sudi” Chorong mencibir, Suho yang mendengarnya seakan kesombongannya terinjak-injak. “Yak! Kau tidak bisa menolak atau kau aku keluarkan!” ancamnya. “Silahkan saja, aku tak peduli. Lagi pula melihatmu nanti setiap hari membuatku stres. Kalau begitu aku pamit. Annyeong Suho-sii” Chorong membungkukan badannya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Suho yang sedang berkoar di sana.

*** 

“Dari mana saja kau?” tanya seseorang ketika Chorong baru saja mendudukan dirinya pada bangku. “Sedikit urusan” ujarnya. “Urusan apa?” tanya gadis itu lagi. “Kau ini cerewet sekali sih Bae” gerutu Chorong.

“Nonna!!!” teriak seseorang. Chorong dan Irene melihat ke arah asal suara. Chanyeol berlari menuju ke arahnya dengan nafas memburu.Chorong yang melihatnya mengerutkan dahi. “Kau kenapa?” tanya Chorong setelah Chanyeol sudah berada di samping mejanya dengan nafas tersengal sengal.

“Hah hah kau hah berhutang hah penjelasan hah padaku” ujarnya dengan nafas terputus-putus. “Apa maksudmu?” Chorong kebingungan. “Iya, apa yang kau bicarakan sih?” tanya Irene. “Tentang Kau dan Suho Sunbae” Chanyeol menunjuk Chorong. “Memangnya ada apa antara mereka?” Tanya Irene. “Kau tak tahu nonna?”Chanyeol berujar heboh, Irene hanya menggeleng. “Dia berpacaran dengan Suho Sunbae!” teriaknya heboh. ‘Tak’ satu jitakan sukses mendarat dikepalanya walau Chorong harus bersusah payah menaiki bangku dulu untuk menjitak adik tiangnya satu ini “Kecilkan suaramu bodoh!” Chanyeol yang meringis kesakitan melihat sekitar dan benar saja semua orang telah melihat kearahnya, ia hanya bisa tersenyum kikuk dan meminta maaf. 

“Ya! Park Chorong kau berhutang penjelasan pada kami!” Irene menuntutnya, Chanyeol mengagguk setuju dan Chorong hanya bisa menghela nafas. Sepertinya hal ini tidak akan cepat selesai pikirnya.

*** 

Diluar kelas ternyata Suho melihat kejadian tersebut, ia yang semula akan menuju kelasnya yang berjarak tiga ruangan dari sini menghentikan langkahnya. Seluruh siswa yang melewatinya berbisik – bisik tapi apa pedulinya. Hal yang ia pedulikan adalah seorang gadis di dalam sana yang sedang memarahi pria berpostur tinggi bak tiang.

“Siapa dia?” gumamnya.

Ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari kelas tersebut, tanpa babibu ia segera menariknya. “Ya apa yang  . . ah Suho-sii, maafkan aku ku mohon jangan keluarkan aku, aku tak bermaksud membentakmu” mohon seseorang yang baru saja ditarik paksa oleh Suho. “Kecilkan suaramu!” titah Suho dan pria itu hanya mengangguk.

“Siapa pria itu?” tunjuk Suho pada seorang pria tinggi bersama Chorong dan wanita lainnya didalam kelas.

“Ah itu Chanyeol” jawabnya. “Dia kekasih Chorong?” tanya Suho. “Hahaha masa kau tidak tahu, memang sih jika orang yang baru pertama kali melihatnya akan berpikir begitu” ocehnya namun ketika melihat tatapan yang diberikan Suho ia langsung bungkam “Maafkan aku, Chanyeol atau Park Chanyeol dia adik dari Park Chorong” Suho melihatnya lagi dan senyum iblis baru saja terukir di wajahnya.

“Kau boleh pergi” Suho melepaskan cengkramannya, pria tadi membungkuk terima kasih dan berlalu meninggalkannya.

“Kena kau Park Chorong” gumamnya.

*** 

Sampai dikelasnya dan duduk disamping Lay ia masih tertawa. Lay yang melihatnya terkekeh “Memang ya orang yang jatuh cinta itu terlihat gila” suho memalingkan wajahnya pada Lay “Siapa yang jatuh cinta?” tanya Suho.”Kau” tunjuk Lay. “Aku, tidak mungkin” Suho menunjuk dirinya kemudian menggeleng. “Jika tidak, apa maksudnya tadi ‘Dia kekasihku’” Lay memperagakan adegan pagi tadi dimana Suho mengakui Chorong sebagai kekasihnya. “Heol” umpat Suho. “Mengakulah?” Lay menggodanya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Dia bukan kekasihku” terang Suho.

“Jika bukan berarti akan” lanjut Lay.

“Gadis barbar seperti dia mana ada yang mau” ujarnya.

“Kau mau dengannya” 

“Aish, dia hanya alat bagiku untuk menjauhi Rion” bisiknya pelan. “Kawan dengar, tak perlu malu jika kau menyukainya dan membuat alasan yang mengada-ada, aku mendukungmu. Siapa tau dia bisa merubah sikapmu” nasihat Lay dengan menepuk-nepuk pundak Suho.

“Ya! Zhang Yixing ku bilang bukan ya bukan, kau ingin ku deportasi huh!”

*** 

Chorong sedang berada di kantin, ia menunggu pesanannya yang sedang diambil temannya.

“Hai, Chagi” sapa seseorang. Chorong mendongkan kepalanya yang semula berbaring di atas meja. Matanya membulat. 

“Menjauhlah dariku” usirnya.

“Astaga, kenapa kau mengusirku? Kau tidak merindukanku?” tanyanya percaya diri.

“Dalam mimpimu!” sang pria hanya mengangguk-angguk. “Baiklah, dengan kata lain kau menyuruhku memimpikanmu. Benar kan?” Suho sang pria pengganggu ketenangan menaik turunkan halisnya menggoda.

“Terserah kau, selera makanku hilang!” Chorong beranjak dari kantin dengan muka cemberut. Meninggalkan Suho yang tersenyum-senyum bodoh. Tanpa disadarinya Rion menatap kejadian itu dari kejauhan.

“Tak ada yang bisa memiliki Suho oppa selain diriku” gumamnya.

*** 

Xiumin sedang berjalan dikoridor ketika Chorong melewatinya dengan gerutuannya. “Permisi” sapanya. Chorong berbalik dan melihat sekeliling lalu menunjuk dirinya Xiumin hanya mengangguk. “Ada apa ya sunbae?” tanyanya. “Kau melihat adikku?” Chorong mengerenyit “Siapa?” tanyanya bingung. “Suho, kau kan pacarnya. Setidaknya kau tau dimana dia” Xiumin berkata dengan senyum ramah. 

“Maaf ya sunbae, aku bukan pacarnya! Dan jika kau mencari bocah menyebalkan itu, dia dikantin!” ujarnya emosi. 

“Tapi Joonmyeon bilang kau” “Yak! Bukan ya bukan! Aish!” tanpa peduli reaksi Xiumin ia pergi terserah jika sunbae satu ini menilainya apa.

“Waw, myeonie kau punya lawan sepadan” Xiumin malah tersenyum senang.

***

Hari ini Chorong berniat membolos. Ia sedang bosan dikejar-kejar terus oleh anak iblis itu. Sudah memantapkan diri untuk membolos niatnya terhalang ketika menemukan pria menyebalkan itu di dekat pagar belakang sekolah.

“Kau membolos ya?” tanyanya santai.

“Apa pedulimu” Chorong berniat menaiki pagar, “Ya apa yang kau lakukan?” kau memakai rok dasar gadis tak tau malu” Suho membulatkan matanya. “Diamlah, aku memakai Celana tambahan, kecuali jika kau berniat untuk mengintip” Chorong mengedipkan matanya.

“Aish, hey, bukannya itu guru kedisiplinan” ujar Suho. Chorong yang semula akan naik melihat sekeliling dan kembali turun. “Sial” gumamnya. 

“Pak huemmmp” Suho yang berniat memanggil guru segera dibekap oleh Chorong dan dibawa pergi menjauhi pagar belakang.

Suho terus meronta, walau Chorong wanita bekapnnya bukan main-main. “Hmphmp”.

Merasa keadaan sudah aman Chorong melepaskan Suho. “Hah, kau gila! Bagaimana jika aku mati, akan ku tuntut kau dan akan ku gentayangi!” omelnya sarkasme.

“Bisa diam tidak!, atau kau ku hajar disini” glek Suho mengatupkan bibirnya. 

“Sepertinya sudah aman, aku akan pergi. Jika kau masih ingin disini silahkan” Chorong menarik tas ranselnya dan bersiap membuka pintu gudang. 

“Tunggu, kita perlu bicara” tahan Suho dengan memegang lengan Chorong. “Ku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Permisi” Chorong melepaskan genggaman Suho.

Suho berdecak “Turuti perintahku atau Park Chanyeol aku keluarkan!” ancamnya. Chorong terdiam kaku dan seketika memandang suho tajam. Ia segera mendekati Suho dan mencengkaram kerah seragamnya. “Berani macam-macam dengan adikku tak akan ku biarkan kau tenang!” gertak Chorong, namun Suho hanya tersenyum mengejek. “Kalu begitu, turuti perintahku atau ia akan ku keluarkan”.

Chorong memandang Suho dengan penuh benci, tak mungkin ia mengorbankan sang adik, pasalnya sang adik sangat bermimpi bisa sekolah disini bahkan dia sangat senang ketika tahu ia diterima di sekolah tempat kakaknya berada. Ia tak akan melupakan itu. 

“Diam berarti setuju” ujar Suho final.

“Sejak kapan aku menyetujuinya huh” Chorong kembali mengeratkan cengkramannya. “Sejak saat ini, nah Chagi mulai besok kau harus turuti kata-kataku, ah satu lagi” 

Cup

Suho mencium pipi Chorong membuat sang gadis melebarkan matanya dan cengkramnnya mengendur. “Jangan membolos, kembalilah ke kelasmu, annyeong” Suho mengacak surai Chorong dan meninggalkannya.

Chorong yang baru sadar setelah terdengar suara debuman pintu tertutup segera melihat sekitar “YAK! KIM JOONMYEON AKAN KU BUNUH KAU!!”

Tbc

Posted in Uncategorized

MOTHER #1


Evina93 I Two shoot I PG 15

Family,

Byun Baekhyun, Kim Taehyung

“ karena kasih ibu tak terhingga sepanjang masa”

Keluarga harmonis. Ya itulah impian semua orang. Mempunyai istri atau suami yang menyayangi dan mencintaimu. Anak  yang bisa kau banggakan dan cintai. Orang tua yang menjadi panutan dan tempat kau berbagi keluh kesahmu. Kurang lebih seperti itulah gambaran keluarga harmonis.

Namun jika kau menanyakan hal itu pada seorang Byun Baekhyun maka jangan harap kau akan melihat kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Yang ada tatapan tajam dan aura gelap yang kau rasakan.

Mari kita mengenal seorang Byun Baekhyun, pria dengan mata sipit dan bibir tipis ini sebenarnya pria yang hangat dan penuh aura keceriaan, namun itu dulu sebelum kejadian yang menurut Baekhyun sangat menorehkan bekas luka yang mendalam di ingatan dan juga hatinya. Tapi tenang saja ia masih bisa tersenyum dan ceria, terutama dengan seseorang yang benar-benar tulus padanya.

Kehidupan dan takdir yang membuatnya seperti ini, menurut Baekhyun jika ia terpuruk terus maka ia tak akan bisa menjalani hidup.

*** 

“Sampai disini saja pertemuan kita kali ini, kalian jangan lupa mengerjakan tugas, mengerti?!” seorang pria tua baru saja memperingati para muridnya sebelum meninggalkan ruangan.

“Mengerti pak!!” jawab seluruh penghuni ruangan itu.

“Baiklah aku pergi” sang guru pun kelauar dari ruangan tersebut. Seketika semua penghuni kelas bernafas lega. Pelajaran guru Choi membuat otak mereka seakan bisa mengeluarkan asap.

“Astaga, jika kepalaku disiram sepertinya akan mengeluarkan asap” Koar Chanyeol. Teman sebangku Baekhyun.

“Kau saja yang bodoh” Komentar seseorang yang duduk di depan meja Baekhyun dan Chanyeol.

“Diam kau mata besar!” hardik Chanyeol. Tak lama menunggu pria dengan mata belo dan bibir hati itu pun berbalik. “Mataku tidak besar, dasar Tiang!” balasnya.

“Hey, aku bukan tiang kau saja yang terlalu pendek!” Balas Chanyeol.

“Baekhyun laukaknlah sesuatu” Pinta seorang pria yang duduk di samping pria dengan mata belo tersebut.

“Hh” Baekhyun menghela nafas. Ini sudah biasa terjadi. Bahkan dia sudah kebal dengan situasi ini.

“Park Chanyeol, Do kyungsoo. Jika kalian tidak berhenti sekarang juga kalian tau bukan akibatnya hm?” tanya Baekhyun dengan memandang Chanyeol dan Kyungsoo secara bergantian.

“Glek” Chanyeol dan Kyungsoo menelan ludah seketika. Mereka mengangguk dengan kompak dan tanpa banyak bicara segera duduk pada bangku masing-masing. Heol, siapa yang tidak akan takut jika diancam oleh Baekhyun. Pemegang sabuk hitam hapkido. Sebenarnya Baekhyun benci mengancam dan menggunakan kekuatan, tapi jika tidak begitu maka kedua anak ini tidak akan berhenti untuk saling mencela. 

Dulu kedua orang tersebut sangat sulit untuk dihentikan hingga membuat Baekhyun yang kala itu sedang pusing mengeluarkan kekuatan material artsnya yang tidak sampai 10% itu dengan menendang kedua bokong dua manusia dengan tinggi berbeda itu. Hasilnya mereka mengaduh kesakitan bahkan Chanyeol bercerita jika sakitnya hilang setelah 2 hari. Semenjak kejadian itu mereka berdua tidak berani lagi membuat Baekhyun kesal.

Mari kita perkenalkan para teman-teman Baekhyun ini, Chanyeol atau Park Chanyeol pria yang tingginya melebihi batas ini adalah teman Baekhyun semanjak SMP. Karena mereka mempunyai kegilaan yang sama dalam membuat onar entah kapan mereka menjadi dekat. Do Kyungsoo pria dengan tinggi dibawah Chanyeol dan yang lain ini pria dengan watak serius dan minim ekspresi. teman Baekhyun semenjak orok. Jika kalian bertanya apa Kyungsoo tau masa kepedihan Baekhyun maka jawabnnya adalah YA. Tapi karena permintaan Baekhyun ia menutup rapat-rapat dan tidak ingin mengungkit hal itu kembali. Ah dan couple tom and jery dari Park Chanyeol. Satu lagi, pria dengan suara yang menurut semua orang indah ketika bernyanyi namun sebenranya berkelakuan aneh ialah Kim Jongdae. Teman suka duka Baekhyun ketika mengikuti ospek Senior High School.

Jongdae memberi jempol kepada Baekhyun. “Ah, aku lapar. Ayo ke kantin”ajak Jongdae. “Aku tak bisa” Jawab Baekhyun. “Ah Wae?!” inilah kebiasaan Jongdae. “Uangku sudah habis, ah, gajiku di mini market tidak cukup untuk semua” keluh Baekhyun dengan memendamkan wajahnya. “Aku butuh pekrjaan lain” gumamnya.

“Apa kau sudah gila?! Berapa banyak pekerjaan lagi yang kau akan ambil huh? Kau itu bukan robot bodoh” inilah Kyungsoo yang lain. jika sudah menyangkut masalah Baekhyun maka sifat keibuannya akan segera mengambil alih. Chanyeol dan Jongdae pun kali ini setuju dengan pendapat Kyungsoo. 

Mereka bertiga tahu kehidupan Baekhyun. Baekhyun itu bekerja mati-matian untuk memenuhi hidupnya. “Jangan Bilang jika ayahmu mengambil uangmu lagi?” Tanya Jongdae. Dan Baekhyun hanya menggerkan sedikit kepalanya pertanda benar.

Merke bertiga menghela nafas kasar. Chanyeol, Jongdae serta Kyungsoo tau benar sifat ayah Baekhyun. Ya merkea tau hanya saja Chanyeol dan Jongdae tidak berani menanyakan soal ibu Baekhyun karena Kyungsoo sangat melarangnya dan mereka paham itu.

“Ah” Raut wajah Chanyeol seakan mendapat sebuah pencerahan. “Baek apa kau mau bekerja di restoran milik ibuku? Spertinya ibuku sedang membutuhkan pegawai” 

Dalam hitungan detik Baekhyun langsung mengangkat kepalnya. “Aku mau” Ujarnya riang. Kyungsoo hanya bisa menghela nafas.

“Kruyuk”

“Ah, maaf” Baekhyun menggaruk tengkuknya. “Ck, Kali ini aku traktir” Kyungsoo berdiri dari bangkunya. “Kami juga?” Tanya Chanyeol dan Jongdae dengan wajah berbinar. “Kalian Bayar sendiri” 

“EY!”

*** 

“Taehyung, turun dan cepat makan” perintah sang ibu. “Baiklah-baiklah aku turun” sahut sang anak.

“Apa dia masih saja bermain PS?” Tanya sang suami. “Kau seperti tidak tau dia saja”. “Kapan dia akan dewasa” harap sang ayah.

“Yeobo, sepertinya aku ada panggilan dadakan, terjadi kasus lagi. Jangan tunggu aku pulang” izin sang suami.

“Baiklah cepat pergi. Itu sudah tugasmu Detective Kim” balas sang wanita. “Baiklah aku pergi” pamitnya dan mencium kening sang istri.

“Astaga kenapa aku turun saat ada adegan romance” keluh Taehyung. Tuan dan nyonya kim menengok kepada anak mereka. Ada semburtat merah pada pipi nyonya Kim. “Kau iri, mangkannya cari pacar” ejek sang ayah. “Appa!”

“Hahaha Baiklah aku pergi”

“Cepatlah pergi” ujar Taehyung.

“Astaga anak ini, kau mengusirku huh?!”

*** 

 Nyonya Kim sedang terduduk di balkon kamarnya, tatapannya terlihat sangat sendu dengan memandangi sebuah foto usang yang memperlihatkan seorang balita berusia sekitar 3 tahun itu. dengan penuh sayang ia mengelus dan terus bergumam maaf.

“Eomma kau didalam?” tanya Taehyung.

Nyonya Kim segera menghapus air matanya. Dan menyimpan kembali foto itu. “Nde, masuklah” Taehyung pun masuk dengan tersenyum sepeti biasanya. Nyonya Kim pun tidak bisa tidak tersenyum melihat putranya itu. Ah, apa senyumnya sama seperti Taehyung sekarang? Pikir nyonya Kim.

Taehyung yang sadar ada sedikit air mata pada sudut mata ibunya itu terlihat sedikit khawatir. Ia bergegas menghampiri ibunya itu. “Eomma, apa kau baik-baik saja?” Tanya Taehyung. “Apa maksudmu?” Tanya nyonya Kim. “Kau terlihat baru saja menangis” terang Taehyung. “Ah ini, aku kelilipan” dusta nyonya Kim. “Jangan berbohong padaku, karena aku tau itu” Anaknya ini terkadang peka disaat tidak tepat.

“Ah, apa itu?” Tanya Taehyung menunjuk sebuah kertas yang terjatuh. Nyonya kim terbelalak ketika Taehyung mengambilnya. Kenapa bisa jatuh disaat sepeti ini pikir nyonya Kim. “Ah ini sangat menggemaskan, tapi sudah terlihat lama. Apa ini aku? Bukan-bukan ini sedikit berbeda” Taehyung semakin mengamati. Keringat dingin sudah mengalir pada tubuh nyonya Kim. Apa ini saatnya pikir nyonya Kim. 

“Eomma ini siapa?” Tanya Taehyung. 

Sepertinya ini sudah waktunya, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, lagipula Taehyung sudah besar. “Dia Hyungmu” ujar nyonya Kim.

“Sudah kuduga” Jawaban yang sangat tak terduga keluar dari bibir anaknya ini membuat nyonya Kim mengalihkan atensinya yang semula melihat pemandangan luar menjadi focus kepada anaknya ini.

“Apa ayah tau?” lanjutnya. 

“Ya” gumam nyonya Kim.

“Ceritakan soal hyung padaku, siapa nama dan seperti apa dia” pinta Taehyung dengan senyum lebarnya. Nyonya Kim terkadang bersyukur dengan sifat anaknya ini. ia pikir Taehyung akan marah besar karena ia menyembunyikan suatu hal besar namun nyatanya ia melihat pandangan penuh antusias dari anaknya ini. “Baiklah” Senyum nyonya Kim.

*** 

Baekhyun baru saja selesai dari tugas part timenya. Hari sudah sangat larut ketika ia kembali ke rumahnya.

Keadaan didalam sangat gelap ketika ia membuka pintu rumah kecilnya itu. Ia sedikit menghela nafas lega ketika tidak mendapati seseorang di dalamnya. Tidur itulah yang Baekhyun inginkan saat ini.

*** 

Baru saja Baekhyun selesai dari acara membersihkan badannya untuk bergegas pergi ke sekolah ketika ia akan kembali masuk kedalam kamarnya ia mendapati sang ayah sedang mengobrak abrik kamarnya. 

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Baekhyun.

“Kau punya uang bukan? Dimana kau menyimpannya? Serahkan padaku!” tuan Byun masih saja mengobrak abrik kamar Baekhyun. “HENTIKAN! AKU TIDAK PUNYA” ya beginilah keseharian Baekhyun.

Tuan Byun mengambil tas Baekhyun dan ia mendapatkan ampop coklat didalamnya. “Kembalikan itu milikku!” Baekhyun akan mengambil barang miliknya itu namun naas tuan Byun sudah lebih dulu mengambilnya.

“Kau berbohong padaku huh?!” Tuan Byun mengambil seluruh uang di dalamnya dan memukul Baekhyun dengan keras. “Itu milikku dan kau tak berhak mengambilnya!” Baekhyun meringis karena perih disudut bibirnya bekas pukulan sang ayah. “Kembalikan! Itu milikku! Kau hanya akan menggunakannya untuk berjudi. Itu uangku bukan uangmu!”

“Diam kau bocah!” plak. Tamparan kembali mendarat di wajah Baekhyun. 

“Cih, semakin ku lihat kau semakin mirip dengan ibumu”

“Jangan sebut wanita itu dihadpanku” suara Baekhyun  terdengar berat meredam emosi. 

“Kenapa aku tidak boleh, ah apa karena dia mencampakanmu” ujar sang ayah.

“KUBILANG BERHENTI BICARA!” Baekhyun sudah meledak. Tuan Byun melotot marah. “Kau berani membentakku huh!” PLAK. Tamparan keras kembali bersarang diwajah Baekhyun. Kali ini lebih keras membuat Baekhyun terjatuh. Ia tidak melawan, hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya. “Cih membuat waktuku terbuang saja, pergilah sekolah dan bekerjalah dengan keras hasilkan lebih banyak uang” Tuan Byun keluar dari rumahnya menyisakan Baekhyun yang terduduk dilantai dengan setetes air mata yang mengalir dari mata indahnya “ARGGGG”

*** 

Setelah mendengar cerita dari sang ibu Taehyung secara sembunyi-sembunyi mulai meneliti tentang kakanya itu. sebenarnya kemampuan penyelidikan Taehyung itu bisa dibilang diatas rata-rata. Hanya saja terkadang tertutupi oleh sifat konyolnya. Ia pernah memecahkan kasus yang sedang ayahnya selidiki bertahun tahun dalam waktu 1 minggu. Mungkin darah seorang penyidik sudah ada dalam dirinya. Tapi seperti yang ku bilang tadi, hal itu tertutupi oleh sifat konyolnya. 

Seperti kali ini setelah mendapatkan data penuh tentang kakaknya ia segera menyelidikinya dengan topi hitam, hodie hitam dan masker hitam ia membuntuti Baekhyun.

Ya ia tau kakaknya itu Baekhyun. Setelah sang ibu bercerita penuh kerinduan pada sang kakak, ia mulai mencari data diri sang kakak. Ia bertekad mempertemukan mereka. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui seperti apa kakaknya dan kehidupannya itu. jaringan Taehyung itu dimana-mana.

Baekhyun bukan tidak peka hanya saja ia sedang malas membuat masalah, sudah cukup tadi pagi ia berkelahi dengan sang ayah ia tidak ingin menambah bebannya. Tapi karena ia sudah jengah akhirnya ia memijat keningnya dan berbalik.

“Keluarlah aku tau kau mengikutiku” ujar Baekhyun. 

“Ah, ketahuan ya” ujar sang pria berhodie hitam itu.

“Apa maumu? Siapa kau?” hardik Baekhyun. 

“Tenanglah kawan, aku baru disini dan aku tersesat, aku mengikutimu karena tidak tahu jalan disini. Melihat seragam yang kau pakai sama denganku itu artinya kau satu sekolah denganku bukan. Jadi aku mengikutimu” terangnya.

“Hh . . kau bisa bertanya baik-baik dan apa-apaan penampilanmu itu? Kau pikir kau idol huh?” Tanya Baekhyun.

“Ah ini, untuk menutupi wajah tampanku dari para gadis-gadis yang mengejarku” terangnya.

“Kau membuatku mual, sebenarnya Kau ini siapa?” Baekhyun membuat gerakan ingin muntah, dan kembali menatap sinis pria dihadapannya ini.

“Aku” sang pria berhodie hitam itu melepas topi dan maskernya “Kim Taehyung” ia tersenyum lebar pada Baekhyun.

TBC
Yang kangen aku angkat kakinya mana???!!!! (Gak ada tuh) L

Arrgg, ini ff sebenernya buat ultah Baek, cuman karena kemalesan ku ini untuk menulis ya beginilah, Happy Brithday uri annoying idol Byun Baekhyun (Tiup terompet bareng V). telat babo (Digeplak Baekhyun).

Review juseo.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo #13

picsart_01-31-06-08-51

Evina93 l Chapter l PG 15

Romance, Comedy, Family

Shin Mingi (Oc), Do Kyung Soo (EXO), Bang Minah (G.DAY), Kim SeokJin (BTS)

Chapter 13

 

Mingi masih betah berbaring diatas tempat tidurnya, namun jam sudah menunjukan pukul 08.00 sekitar 30 menit lagi Mingi ada kelas. Alarm bahkan suara gaduh diluar sana masih belum bisa membangunkan gadis ini.

Sampai akhirnya seorang Do Kyungsoo memasuki kamar Mingi. Ia menghela nafas sejenak. Ini kali ke tiga ia membangunkan mingi dalam kurun waktu 2 jam.

Kyungsoo berjalan menuju tempat Mingi. Ia sedikit membungkuk ‘dia Cantik terutama saat diam’ pikir kyungsoo. Tangan kanannya ia gerakan menuju kepala Mingi. Sedikit mengusap surai kecoklatan milik wanitanya. Ia menyelipkan sedikit anak rambut ke belakang telinga sang wanita, wajahnya sedikit mendekat sampai bibir berbentuk hatinya 1 cm lagi mengenai daun telinga Mingi. Ia sedikit menyeringai. Tidak ada cara lain , pikirnya.

Ia menarik nafas kemudian “DO MINGI BANGUN ATAU AKU CIUM KAU!!” Teriak kyungsoo di depan telinga Mingi.

BRUG BRUG

Mingi yang kaget terjungkal dari atas tempat tidurnya. Ia mengusap kepalanya yang tadi membentur lantai kemudian melihat sang pelaku utama yang membuat mimpi indahnya terganggu.

“YA! DO KYUNGSOO. TIDAK BISAKAH KAU MEMBANGUNKANKU SECARA HALUS!!” bentak Mingi.

“Apa? Secara halus? Kau pikir sudah berpa kali aku membangunkanmu huh? Astaga kau itu wanita tapi tidurmu itu seperti kerbau. Susah sekali untuk dibangunkan” gerutu Kyungsoo.

“Aish, sudahlah. Ada perlu apa kau membangunkanku?” Tanya Mingi sebal.

“Kau tidak ingat 30 menit lagi kau ada jam kuliah? Ah tidak lebih tepatnya 20 Menit lagi” ujar Kyungsoo mengingatkan, ia melihat jam tangannya.

Mata Mingi melebar sempurna “Omo, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi, asih” Mingi beranjak dari acara ‘duduk dilantainya’ kemudian berlari menuju kamar mandi.

“Kau tidak ingat tadi aku bilang apa? Aku sudah membangunkanmu dari tadi. Kau sendiri yang susah dibangunkan” omel kyungsoo.

“Terserah apa katamu, aku mau mandi. Keluar sana!” usir Mingi, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi.

“Bagaimana jika aku memandikanmu?” tawar kyungsoo dengan smirk di wajahnya.

“YA! BYUNTAE! KELAUR KAU!” bentak Mingi.

“Hahaha”

 

****

 

Kyungsoo sedang mengoleskan selai kacang pada roti. Sampai suara gerasak gerusuk mengalihkannya.

“Kau mencari apa?” Tanya Kyungsoo. “Hukumanku, astaga bahkan aku belum selesai mengerjakannya. Matilah aku” Mingi masih mencari laptopnya.

“Oh, Maksudmu tugas ini” Kyungsoo memperlihatkan sebundal makalah ditangannya.

Mata Mingi melebar. “Itu yang aku cari!” Ujarnya. Ia segera menghampiri Kyungsoo dan mengambil makalahnya.

“Tunggu, aku belum menyelesaikannya. Tapi kenapa sudah di print?” gumamnya bingung.

“Aku yang menyelesaikannya, lagi pula aku tidak tega melihatmu tertidur sambil mengerjakan tugas” terang Kyungsoo.

Mingi terperangah, baru kali ini ia melihat sifat baik Do Kyungsoo selain sifat menyebalkan pria itu.

“Tidak biasnya kau seperti ini ada ap . .”belum selesai Mingi menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah disumpal oleh sepotong roti.

“Sudahlah jangan banyak bicara, 10 menit lagi kau harusnya sudah masuk kelas. Aku akan mengantarmu” ujar Kyungsoo.

Glup

“Tapi . .” setelah berhasil menelan rotinya akhirnya ia bisa membuka suara namun sedetik kemudian “Tidak ada penolakan” perintah Kyungsoo.

Jika sudah begini apa boleh buat. Pikir Mingi lagi pula ia juga akan telat jika tidak diantar Kyungsoo.

 

****

 

Kyungsoo memarkirkan motornya. Mingi segera turun dan membuka helemnya. “Terima kasih sudah mengantarku” ujarnya. Ia menyerahkan helemnya pada kyungsoo kemudian berlari menuju kelasnya. Namun ditengah – tengah ia berhenti dan berbalik pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang memperhatikannya sedikit bingung. ‘apa ada yang tertinggal?’ pikirnya. Namun detik berikutnya ia dibuat kaget sekaligus berbunga-bunga oleh ucapan Mingi.

“Oppa , hati-hati dijalan” setelah berucap demikian Mingi segera berlari kencang menuju kelasnya dengan wajah memerah.

Sedangkan Kyungsoo tidak bisa menghilangkan senyuman indah dari wajahnya.

Dilain tempat dua anak adam sedang terkikik geli melihat pemandangan didepannya, bahkan mereka sampai lupa jika beberpa second lagi kelas mereka dimulai.

.

.

Mingi sudah duduk dikelas sedang mempersiapkan diri untuk memulai kelasnya sambil menunggu dosen masuk ruangan. Namun matanya menangkap gerak gerik aneh dua anak lelaki berbeda warna kulit itu sedang cekikikan melihat ke arahnya. Mingi mengerutkan keningnya bingung.

Dua anak itu yaitu Sehun dan Jongin yang sudah berada didekat Mingi segera memulai aksinya. Sehun sedikit berdehem “Oppa hati-hati dijalan” uajar Sehun dengan menirukan suara wanita. Migi yang sadar apa yang dikatakan sehun tadi sedikit memrah namun “Oh Sehun, kau ingin mati huh?” bentak Mingi sedangkan Jongin sedang tertawa terpingkal-pingkal dibangku samping Mingi sampai pukulan tangan Mingi menghentikan suara tawanya dan digantikan oleh suara tawa Sehun “ hahaha”.

 

****

Luhan yang memperhatikan sedari tadi dibuat tertarik dengan ekspresi Kyungsoo saat ini. Pasalnya Kyungsoo sedang bekerja dengan penuh semangat serta senyum bahagia tidak lepas dari wajahnya. Seolah keadaan disekitarnya sedang musim semi.

“Kyung apa terjadi sesuatu?” Tanya Luhan stelah Kyungsoo berada didekatnya.

“Eum, tidak ada aku hanya sedang senang saja” Kyungsoo tersenyum cerah.

“Apa yang membuatmu senang?” selidik Luhan.

“Kau tau hyung? Mingi memanggilku Oppa” Kyungsoo sangat antusias menceritakannya. Berbanding terbalik dengan luhan yang dibuat biasa saja. “hanya karena itu?” Tanya Luhan. Dan Kyungsoo hanya mengangguk. “Apa istimewanya dipanggil ‘oppa’?” ujar Luhan. “Sangat berbeda Hyung jika Mingi yang mengucapkannya” terang Kyungsoo. “Terserah kau saja” Luhan memutar bola matanya. Namun Kyungsoo masih saja tersenyum.

Sura dentingan bel dipintu mengalihkan perhatian keduanya. “Selamat da . . . tang” dan seketika suasana musim semi Kyungsoo tergantikan oleh badai.

 

****

 

“Ish, kenapa aku harus satu kelompok dengan kalian?” geram Mingi dengan menatap tajam kedua orang anak adam yang sedang tersenyum bodoh di hadapannya.

“Ey, harusnya kau bersyukur satu kelompok dengan kami. Banyak yang ingin satu kelompok loh dengan kami. Anggap saja ini keberuntunganmu” Narsis Jongin, dan Sehun hanya mengangguk mengiakan.

“Yang ada aku tertimpa sial” Gerutu Mingi. “Apa?” Tanya mereka berdua.

“Sudahlah lupakan, kita akan mengerjakan dimana?” Tanya Mingi. “Bagaimana jika di apartemenmu?” tanya sehun. “Kau ingin dihajar Kyungsoo huh?, Baekhyun oppa saja dekat denganku dia tidak berhenti mengomel apalagi kalian berdua yang datang” tutur Mingi.

“Ey, kita kan sudah saudara sista” Jongin merangkul Mingi. “Jong lepaskan tanganmu atau kupatahkan” ancam Mingi. “O..Ok” Jongin dengan berat hati melepaskan rangkulannya. ‘Astaga ancamnnya membawa aura mutlak seperti Kyungsoo hyung’ pikir Jongin. Sehun hanya tertawa.

“Kita mengerjakan di Café Lu –Ge saja” Saran Mingi.

“Siapa itu Lu-Ge?” selidik Jongin.

“Kau selingkuh?!” ujar Sehun dan berakhir mendapat hadiah pukulan dikepala oleh Mingi.

“Jaga ucapanmu albino”

****

 

Luhan memperhatikan dengan seksama gerak gerik kyungsoo. Ia tau Kyungsoo sangat tidak ingin berhadapan dengan wanita yang sedang bersamanya sekarang ini. namun ini urusan Kyungsoo ia tidak bisa ikut campur. Walau dalam dirinya ia sangat ingin tahu siapa wanita itu.

.

.

“Ada perlu apa kau kemari?” Kyungsoo langsung to the point. “Seperti biasa, kau selalu pada intinya” senyum Minah. Ya wanita yang berhadapan dengan Kyungsoo sekarang ini adalah Minah.

‘menjijikan’ pikir Kyungsoo.

“Baiklah langsung saja, Kyungsoo kembalilah padaku” ujar Minah. “Cih, apa maksudmu. Setelah mencampakanku sekarang kau memintaku kembali? Apa kau lupa kalau aku ini sudah menikah” Kyungsoo memperlihatkan cincin pernikahannya.

“Aku tidak perduli, kau itu milikku. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku” Ujar Minah.

“Dasar wanita gila” Kyungsoo yang akan beranjak dari bangkunya segera ditahan Minah. Minah menarik tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo berbalik padanya dan dalam gerakan cepat ia mencium bibir Kyungsoo. Kyungsoo terbelalak kaget. Sedangkan Minah tersenyum dibalik ciumannya dengan menatap jendela kaca yang menampakan seorang wanita yang melihat Syok kearahnya dari luar dan dua orang pria yang sedang mengobrol dibelakangnya.

 

***

 

Mingi berbalik, ia berjalan menghampiri Jongin dan Sehun.

“Kita ketempat lain saja” ujarnya.

“Loh kenapa?” Tanya Sehun.

“Sudahlah, Biar aku yang traktir” Ujar Mingi meninggalkan Jongin dan Sehun yang kebingungan.

‘Apa dia bilang traktir tadi?’ pikir Jongin. Tak lama “Tunggu aku sista” Jongin mengejar Mingi.

Sehun yang merasa ada yang janggal melihat kedalam café melalui jendela. Matanya terbelalak. Ia berbalik kemudian mengetikkan sesuatu pada layar handphonenya.

Hyung jika kau sudah selesai, segera temui aku.

 

Tbc

Evina93

Posted in Uncategorized

I LIVE WITH SATAN SOO

picsart_1447739230208.jpg

Evina93 I Chapter I PG 15

Family, Romance, Comedy

Do Kyungsoo (EXO), Shin Mingi (OC), Bang Minah (G.DAY), Kim Seokjin (BTS)

Chapter 12

 

Baekhyun kembali memutar bola matanya jengah. Pasalnya semenjak kembali dari restoran teman disampingnya ini terus saja tersenyum seperti orang gila. Jika itu Chanyeol ia bisa memakluminya tapi ini DO KYUNGSOO. Ingat DO KYUNGSOO. Pria yang pelit akan ekspresi itu sedang tersenyum-senyum seperti orang gila. Ingatkan Baekhyun untuk membawa kyungsoo ke pisikiater sepulang kuliah.

Mereka sampai di kelas untuk mata kuliah selanjutnya. Baekhyun mendekati bangku Chanyeol dan jongdae.

Jongdae yang melihat kelakuan kyungsoo bergidik ngeri “Baek, apa yang terjadi pada kyung?” tanyanya.

Chanyeol yang semula perhatiannya tertuju pada handphone digenggamannya beralih mentap kyungsoo setelah jongdae bertanya seperti itu. Chanyeol melebarkan matanya. “Soo ya?” panggil Chanyeol.

“Nde~” jawab kyungsoo. Heol, Chanyeol pun dibuat bergidik ngeri. Kyungsoo tidak pernah menanggapi panggilan chanyeol secepat itu. Biasanya ia membutuhkan waktu berkali-kali agar bisa menarik perhatian kyungsoo agar bisa bicara dengannya. Oh dan apa telinga chanyeol tak salah dengar tadi? Nada kyungsoo astaga. Biasnya bocah itu selalu marah-marah jika Chanyeol memanggilnya. Ada yang salah dengan kyungsoo.

“Baek jelaskan pada kami apa yang terjadi pada kyungsoo???” tanya Chanyeol dan jongdae serempak.

“Dia sedang jatuh Cinta” terang Baekhyun.

“APA?!!!”

***

Mingi melihat jam tangannya, ini sudah lewat 15 menit dari jadwal ia masuk kelas. Namun orang yang berada dihadapannya ini masih belum mengucapkan sepatah katapun setelah tadi mengajaknya untuk bicara.

“hh~” mingi menghela nafas. “Oppa ini sudah lebih dari 15 menit. Jika kau masih belum ingin bicara lebih baik aku pergi saja” ujar mingi.

“Ah, maaf. Aku bingung untuk memulainya” jin menggaruk tengkuknya. Ya, orang yang mengajak minggi untuk bertemu dan bicara adalah jin.

Mingi menaikkan sebelah alisnya. “Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?” tanya mingi.

Jin menarik nafas lalu menghembuskannya kembali. “Apa kau menyukai Do Kyungsoo?” tanya jin.

“Aku bingung menjawabnya” jawab Mingi.

Jin kembali menghela nafas “Aku sudah tau kau menikah dengan dia. Namun aku sedikit janggal kenapa kau menikah dengannya”.

“Itu cerita yang sangat panjang” ujar mingi.

Jin memegang tangan mingi “Apa aku tidak ada kesempatan sedikitpun?” tanya jin. Mingi melepaskan genggaman tangan mereka. “Ah, begitu ya. Ternyata aku tidak ada kesempatan lagi” jin tersenyum masam.

“Maaf jika aku mengganggu waktumu, sampai kau membolos. Minggu depan aku akan pindah ke Jepang” ujar Jin sambil menatap langit.

“Apa? Tapi kenapa? Apa ini gara – gara aku?” tanya mingi.

“Bukan, aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studyku disana. Awalnya aku ragu, tapi setelah mendapat jawaban darimu aku sedikit lega sekarang” Jin berusaha tersenyum dan menatap Mingi.

Jin meletakan tangannya dikepala mingi “Mingi – ya dengar, mungkin untuk kedepan kau akan menghadapi suatu masalah, turuti apa kata hatimu jika itu benar dan ingat kau tidak sendiri, arra?” mingi mengagguk walau dia sedikit bingung dengan ucapan jin. Jin tersenyum dan mengacak rambut Mingi.

“YA! LEPASKAN TANGANMU DARI ISTRIKU” teriak seseorang. Keduanya menoleh bersamaan. Disana, seorang Do kyungsoo memberi tatapan yang sangat tajam dan lihat apa yang dia lakukan sekarang dia memanjat jendela untuk keluar. Ya kelas kyungsoo berada di lantai 1. Tapi tuan do, bukankah ada pintu?

FLASHBACK

Baekhyun, Chanyeol dan jongdae masih membahas prihal kelakuan aneh kyungsoo. Sampai akhirnya, “Bukankah itu Mingi, dia dengan siapa?” tanya Jongdae sambil melihat keluar jendela.

“Oh, Bukankah itu Seokjin” Ujar Baekhyun.

“APA?” Kyungsoo segera berlari mendekati jendela.

“YA! LEPASKAN TANGANMU DARI ISTRIKU”

END OF FLASHBACK

Mingi masih dibuat ternganga oleh kelakuan kyungsoo, ia sampai tidak sadar kyungsoo sudah berada disampingnya dan memeluk pinggangnya secara overprotectiv dan menatap jin dengan tajam.

“Haha . . tenanglah aku tidak akan merebutnya” ujar Jin.

Mingi yang baru saja sadar dari situasi yang ada segera memandang kyungsoo. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” teriak mingi. Ia segera melepaskan pelukan kyungsoo.

“Kalian unik, baiklah aku pergi dulu, bye mingi-ya” sebelum pergi ia mengacak kembali rambut mingi membuat kyungsoo dalam mode evilnya dan aura gelap. Dan setelah itu ia beranjak mendekati kyungsoo dan berbisik padanya “Jaga dia baik-baik, jika kau melukainya maka akan ku rebut kembali” ujar jin.

“Tak akan ku biarkan” kyungsoo menatap jin dengan sungguh-sungguh.

Jin hanya tersenyum dan benar-benar pergi meninggalkan mereka.

“Kenapa kau bisa bersama dia? Bukankah kau ada mata kuliah?” selidik kyungsoo.

“Ini aku akan masuk, jangan mengganggu ku. Kau tau aku sudah sangat sangat telat. Minggir!” perintah mingi.

“Ya! Kau berhutang penjelasan padaku!. Ya ! mingi! Do Mingi!” teriak kyungsoo, namun apa peduli mingi.

……..

“Uri kyungsoo sudah dewasa” ujar Baekhyun.

“Dia sangat pencemburu” ujar jongdae

“Aku iri, kapan aku dapat pasangan” ujar Chanyeol. Seketika jongdae dan Baekhyun melirikinya “Nasib kita sama” ujar jongdae dan Baekhyun. Mereka berpelukan sambil meratapi nasib.

Poor beagle line

****

Mingi sedang mengerjakan tugasnya yang menumpuk. Akibat kejdian tadi ia diberi hukuman oleh dosen jang karena telat masuk. Jika bisa ia ingin membanting siapa saja yang membuat ia telat dan bad mood tadi. Tambahkan daftar kekesalannya oleh jongin dan sehun. Dua anak berbeda warna kulit itu membuat ia bertambah bad mood karena mereka yang menyebabkan ia diberi hukuman lebih oleh dosen jang.

Kyungsoo terus saja memperhatikan gerak-gerik mingi. Mingi yang duduk di karpet dengan ditemani laptop dan juga kumpulan kertas tugasnya. Sedangkan kyungsoo duduk di atas sofa dengan memandang mingi menuntut penjelasan.

“Kau masih berhutang penjelasan padaku Do Mingi” suara berat kyungsoo membuka percakapan mereka. Mingi menghela nafas, “Apa lagi yang harus aku jelaskan? Kau tidak lihat aku sedang banyak tugas”.

“Soal Kau dan Jin jin tadi siang itu” lanjut kyungsoo. “Sudah aku katakana berapa kali, aku tidak ada apa-apa dengannya” Mingi sedikit meninggikan suaranya.

“Lalu kenapa kalian berduaan” Kyungsoo masih belum menyerah. “Karena dia ingin bicara denganku” geram Mingi.

“Apa yang kalian bicarakan?” tanya kyungsoo.

Mingi mengacak rambutnya “Demi tuhan Do kyungsoo kau ini sangat cerewet sekali. Dia bilang dia akan pergi ke jepang minggu depan. Kau puas?!” terang Mingi.

Kyungsoo melebarkan tatapannya “Dia apa?” Tanya kyungsoo. “Aku tidak mengulang kata-kataku”ketus Mingi.

“Aish” gerutu Kyungsoo, namun sedetik kemudian senyuman kembali terkembang diwajahnya.

Mingi kembali serius mengerjakan tugasnya. “Kau Ingin coklat hangat?” tawar kyungsoo.

Mingi hanya melihat kyungsoo sekilas kemudian kembali mengerjakan tugasnya “Jika itu tidak merepotkanmu” Lanjutnya, tanpa mengalihkan perhatiannya.

Kyungsoo segera beranjak menuju dapur untuk membuat coklat hangat untuk mereka.

.

.

“Ini” Kyungsoo menyerahkan secangkir coklat panas. “Terima kasih” Mingi menerimanya dan sedikit meminumnya, kemudian meletakkannya dimeja dan kembali mengerjakan tugasnya.

Kyungsoo hanya mengangguk dan duduk disamping mingi. “Kau mengerjakan tugas apa?” Tanya kyungsoo. “Lebih tepatnya hukuman” sambung mingi. “Maksudmu?” kyungsoo mengerutkan keningnya.

“Ini hukumanku dari dosen Jang karena telat masuk jam kuliahnya. Aku tidak ingin mengingatnya. Membuatku bad mood kembali” mingi sedikit mengerucutkan bibirnya.

‘Imut’ batin kyungsoo. ‘astaga-astaga apa yang aku pikirkan’ kyungsoo membuang pikirannya.

“Kau ingin aku bantu?” tawar kyungsoo.

“Apa aku tidak salah dengar?” Tanya mingi memastikan.

“Jika tidak mau ya sudah” kyungsoo yang akan beranjak dari tempatnya segera ditahan mingi.

“Aku mau” ujar mingi dengan puppy eyesnya.

‘Uh sial dia imut sekali’

***

“Mingi menurutku kau harus . .” kyungsoo menggantungkan ucapannya setelah melihat keadaan mingi. Mingi tertidur diatas meja. Bahkan dia masih memegang bolpoin di tangannya.

Kyungsoo ikut menidurkan kepalanya dimeja dengan posisi wajah menghadap Mingi.

“Kau pasti sangat lelah” kyungsoo merapikan helaian rambut yang menutupi wajah mingi.

“Maaf jika aku selalu membentakmu, ku mohon jangan tinggalkan aku”

.

.

.

TBC

 

 

AUTHOR’S NOTE

Maafkan aku yang terlalu lama hiatus (Bungkuk). Uum . . pendek? Anggap aja pemanasan hehe . .

Makasih yang sabar nungguin lanjutan FF yang masih pemula ini, mohon comentarnya, like dsb.

Kamsahamida .

Posted in Uncategorized

SEOUL MONSETA #2 (PERUBAHAN)

Evina93 II Chapter II PG 16
Fantasy, Angst, sad, romance
Byun Baekhyun (EXO) I Jung Hae Mi (Oc) I Park Chanyeol (EXO) I Kim Taeyeon (SNSD)

Chapter 2 : Perubahan

Jika orang lain yang tidak terlalu mengenal Byun Baekhyun mereka pasti berpikir tidak ada yang berubah pada diri pria itu, namun bagi Park Chanyeol sang sahabat sikap Baekhyun berubah sangat drastis. Terkadang ia melihat Baekhyun tiba-tiba melamun, tatapan kosong tanpa semangat hidup, dan yang paling parah adalah ketika ia memergoki Baekhyun memandang lapar pada seseorang. Chanyeol ingin bertanya namun masih ragu.

“Baekhyun, bagaimana jika pulang nanti kita pergi ke café?” ajak Chanyeol.

Glek, Baekhyun menelan liurnya. Pasalnya jangankan untuk makan, mencium bau makananpun ia merasa mual. “Eum, bagaimana ya . .” Baekhyun menggaruk tengkuknya.

“Ayolah baek, semenjak kau keluar dari rumah sakit kita belum pernah bersenang-senang lagi” Chanyeol memasang muka memelasnya.

“Ck, hentikan wajah memelasmu itu, aku mual melihatnya. Baikalah aku ikut, sepertinya aku juga butuh hiburan” ujar Baekhyun.

“ASA! Baiklah ayo!, aku jamin kau akan ketagihan di café ini. Tempatnya menarik dan makanan dan minumannya enak-enak” Chanyeol terus saja berceloteh sepanjang jalan menuju Café.

*** 

Baekhyun dan Chanyeol sudah berada di depan sebuah café. Tertera tulisan di depan ‘Healing Café’.

“Nah, ini dia tempatnya” Ujar Chanyeol dengan senyum andalannya oh jangan lupakan gayanya dengan melebarkan kedua tangannya ke samping seperti berkata ‘Tada’. Orang-orang yang melihat terkikik geli.

Baekhyun yang menyadari itu segera mengambil alih situasi. “Yeol, hentikan kelakuan bodohmu itu!” geram Baekhyun. “Kau mengataiku bodoh?!” marah Chanyeol. “Benar! Kau tidak lihat sekelilingmu sedang menertawakan sikapmu itu” jelas Baekhyun. Chanyeol melihat keadaan sekitar dan benar saja orang-orang yang melintas disekitar mereka sedang tertawa geli. Chanyeol menggaruk tengkuknya dan menjulurkan lidahnya sambil tertawa. “Hehe . . maafkan aku” ujarnya.

“Sudahlah, jadi tempat ini yang kau maksud?” tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk dengan antusias. “Tempat ini sudah sering aku kunjungi yeol” jujur Baekhyun. Chanyeol melebarkan kedua matanya. “Apa? Ya! Jika kau tau tempat ini kenapa kau tidak mengajakku dari dulu! Tunggu! Jika kau sering kesini, kau kesini dengan siapa?” tanya Chanyeol.

Pertanyaan Chanyeol membuat Baekhyun kembali memikirkan seseorang yang sangat ingin ia lupakan.

“Sendiri” Jawabnya. Nadanya berbeda dengan sebelumnya. “Ey tidak mungkin” Chanyeol menyipitkan matanya ingin menggali informasi lebih.

“Ku bilang sendiri ya Sendiri Yeol! Jika kau bertanya terus aku lebih baik pulang saja” ancam Baekhyun.

“Ya ya ya, baiklah aku akan diam (Chanyeol membuat gerakan seperti mengunci mulutnya) ayo kita masuk” ujarnya dengan riang.

“Um”

*** 

Bel berdenting dari arah pintu masuk, Chanyeol dan Baekhyun mencari salah satu tempat duduk. Chanyeol masih mengagumi keadaan di café ini. Padahal ini kali ke 2 dia datang kesini. Sedangkan Baekhyun sudah duduk disalah satu bangku. Itu tempat favoritnya. Bersebelahan dengan jendela yang menghadap langsung keluar. Chanyeol yang tau Baekhyun sudah mendapatkan tempat segera menyusulnya.

Seorang pelayan wanita menghampiri mereka, wajahnya tergolong manis namun aura tajam dan dingin terpancar pada dirinya benar-benar berbanding terbalik dengan wajah manisnya.

“Ada yang ingin kalian pesan?” tanyanya. Baekhyun menoleh ia tersenyum sekilas, setiap ia datang kemari selalu saja pelayan wanita ini yang melayaninya. Oh jangan tanyankan, walau baekhyun sering kemari dulu, ia masih belum mengenal wanita yang berada di hadapannya ini sekarang. Dulu sebelum ia tertarik dengan seseorang yang ingin dilupakannya ia selalu mencuri-curi pandang terhadan wanita ini sampai akhirnya seseorang mengalihkan perhatiannya.

“Cantik” gumam Chanyeol. Namun Baekhyun dan wanita tersebut masih bisa mendengarnya. Baekhyun sedikit sebal, berbanding terbalik dengan wanita tersebut yang sekarang wajahnya dihiasi semburat kemerah-merahan.

“Nona siapa namamu?” tanya Chanyeol senyuman memang tidak pernah lepas dari wajahnya.

“Eh, Ju . . Jung Hae Mi” ujarnya. Mata Chanyeol berbinar, Baekhyun? Ia sedang menggerutu sekarang. Dengan mudahnya Chanyeol bertanya sedangkan dirinya yang sudah lama . .  ah sudah lupakan saja. Bagaimana pun akhirnya ia tau nama gadis itu.

“Woah, baek pantas saja dirimu sering kemari, ternyata ada wanita cantik ini disini” Goda Chanyeol.

“eh” ujar Baekhyun dan Hae mi bersamaan. “Bu Bukan begitu yeol” sanggahnya. “Tapi wajahmu memerah Baek” sial Chanyeol masih saja menggoda Baekhyun. “Astaga, sudahlah. Hae mi-ssi bisa aku pesan seperti biasa?” ujar Baekhyun. “Nde, kopi tanpa gula 1, lalu anda?” Hae mi beralih pada Chanyeol. “Panggil aku Chanyeol, atau oppa. Sepertinya kau lebih muda dariku” ujar Chanyeol dengan senyumnya. “EH, Baiklah, Chanyeol-ssi apa yang ingin kau pesan?” Baekhyun benar-benar jengkel sekarang. “Aku ingin 1 espresso dan sendwich” pesannya. “Baiklah, mohon tunggu pesanannya” Hae Mi pamit untuk memberikan daftar pesanan untuk dibuat namun beberapa langkah ia kembali dipanggil “Hae mi-ya” “Nde” Hae mi membalikkan tubuhnya, ternyata Chanyeol yang memanggilnya. “Tunggu sebentar”Chanyeol segera menghampiri Hae Mi dan berbisik padanya. “Kau tau pria yang bersamaku, Namanya Byun Bekhyun. Sepertinya ia tertarik padamu” bisiknya. “apa?!” kaget Hae Mi. Chanyeol hanya menepuk bahu Hae mi sambil tersenyum dan berjalan kembali ke kursinya.

Baekhyun? Tentu saja ia sangat pensaran dengan apa yang mereka lakukan. Maka setelah kembalinya Chanyeol ia memutuskan untuk bertanya. “Apa yang kalian berdua bicarakan?” tanyanya. “Tidak ada, aku hanya bilang. Sepetinya kau sedikit tertarik padanya” senyum Chanyeol. “YA!” Baekhyun dengan refleks memukul kepala Chanyeol.

“Sakit Byun! Kau ingin tanggung jawab jika aku bodoh huh?” Chanyeol mengelus kepalanya.

“Kau memang sudah bodoh!” sindir Baekhyun.

“YA!!!”

*** 

“Maaf lama menunggu, ini pesanan kalian” Hae Mi menaruh pesanan Baekhyun dan Chanyeol di meja. “Selamat menikmati” Chanyeol dan Baekhyun tersenyum pada Hae mi. namun gadis itu tak membalas dan hanya berlalu.

Baekhyun mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya. Perasaan berbeda timbul pada dirinya. Entahlah kopi ini membuatnya tenang. Dan kopi ini benar-benar enak.

“Waoh, ini sangat enak, dan minumannya pun . . ah aku tidak bisa berkata-kata” ujar Chanyeol. Baekhyun tersenyum sekilas.

Bunyi lonceng kembali terdengar. Dua orang pengunjung memasuki café. Satu pria dan satu wanita. Sepertinya mereka pasangan. Chanyeol sedikit mengalihkan pandangannya.

“Oh, sunbae!” panggilnya. Pria yang datang tadi menoleh dan mendekati Chanyeol.

“Kau disini juga?” tanyanya. “Ya, aku bersama temanku. Sunbae kenalkan dia byun baekhyun temanku” ujar chanyeol. Baekhyun membungkuk “Hallo, aku Byun Baekhyun” ujarnya memperkenalkan diri. 

“oh, Kau juga di universitas yang sama?. Senang bertemu denganmu. Aku Haechul dan ia Hani” gadis disampingnya membungkuk.

“Baiklah kami tinggal dulu” ujar Haechul dan menarik hani ke salah satu meja.

“Nde”

*** 

Sudah beberpa hari setelah kejadian di café itu. Hari ini Baekhyun dan Chanyeol bisa pulang lebih awal mereka memutuskan untuk bermain di time zone. Namun saatmelewati salah satu bangunan mereka seperti mendengar teriakan meminta tolong.

“Yeol, kau dengar itu?” tanya Baekhyun. “Ya, aku mendengarnya. Ayo kita lihat”

Baekhyun dan Chanyeol mencari asal suara itu, sampai akhirnya mereka berada di salah satu besment. Mata keduanya melebar. Pasalnya dihadapan mereka kali ini seekor monster namun bertubuh manusia sedang mencabik-cabik tubuh seseorang. Tepat di lian tempat ada seorang wanita sedang menggendong seorang anak dengan ketakutan.

“Baek . . bukankah itu . .” Chanyeol gemetar. Jangan tanyakan baekhyun sebelah matanya terlihat merah insting berburu seketika muncul. Baekhyun menutup sebelah matanya dan sedikit menggerang.

“Baek kau kenapa?” tanya Chanyeol.

Monster tersebut menyadari kehadiran keduanya. Ia segera beralih mendekati Chanyeol dan Baekhyun. Chanyeol yang sadar segera menarik Baekhyun dan bersembunyi di suatu tempat. Chanyeol melihat situaasi dan keadaan Baekhyun. “Sial” umpatnya. 

Chanyeol melihat ibu dan anak tadi masih terpaku melihat mayat laki-laki tadi. Dan beralih lagi pada Baekhyun. “Aku harus mengalihkan perhatiannya” ujar Chanyeol. Baekhyun masih saja memegang kepalnya.

Chanyeol keluar dari persembunyiannya. “Hi monster jelek, kemari kau!” tantang Chanyeol.

Monster tersebut segera mendekati Chanyeol, kecepatannya tak terlihat ia sudah mencekik Chanyeol. “YEOL!!!” Teriak Baekhyun. “Baek lari uhuk, se lamat kan I bu dan an nak itu uhuk” ujar Chanyeol. Baekhyun beralih pada ibu dan anak tadi. Ia segera berlari dan membawa mereka keluar. 

Selamat sampai diluar Baekhyun menyuruh mereka pergi. merkapun pergi dengan berlinangan air mata.

Baekhyun kembali ke dalam, matanya melebar saat melihat Chanyeol terpelanting dan tak sadarkan diri. “CHANYEOL!!!” wajahnya mengeras, sebelah matanya memerah, taring muncul.

“Beraninya kau!” baekhyun menyerang monster itu. Tendangan, pukulan ia layangkan. Namun ini kali pertama ia bertarung dengan sosok lain ia masih belum mampu menandingi.

“Berengsek” geram Baekhyun. “Cih, jadi kau sama sepertiku” ujar monster tersebut. “Apa maksudmu huh?” tanya Baekhyun. “Kau tidak mengenaliku hah?!” kekeh monster tersebut.

Baekhyun sedikit berpikir, tidak lama matanya membola. “SIAL JADI KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA CHANYEOL HUH! AKAN KU HAJAR KAU!” baekhyun kembali menyerang. Namun karena emosi dan pola serangan yang asal ia kembali kalah. 

“Sepertinya akan lebih lejat jika aku memakanmu dibanding teman bodohmu itu” ujar sang monster.

Baekhyun kembali bangkit, darah keluar dari mulutnya “uhuk” sial pikirnya.

Belum sempat monster tersebut mendekati baekhyun, seseorang sudah menendangnya hingga tersungkur. 

“Siapa kau?!” geram sang monster. Matanya melebar, yang menendangnya adalah seorang gadis. “Cih, wanita. Akan ku hajar kau!” namun gadis tersebut kembali membanting monster tadi. “uhuk”

Baekhyun yang melihat kejadian tersebut hanya bisa terdiam. Ia ditolong oleh seorang wanita, lebih parahnya ia mengenal wanita itu . . “Hae Mi” gumamnya.

See u next chap . . ^^

Hallo pertama aku mau minta maaf karena udah lama gak publish. Kedua kalo ada yang nanya ini kaya tokyo ghoul? Yup aku terinspirasi dari film itu namun saya tekankan. Saya tidak plagiat! Huh dipikir buat cerita gampang. Saya merasakan itu. Maaf curol . . hehe . . masih mau kelanjutannya please coment . . 

See ya . . (kiss & hug)

Posted in Uncategorized

Seoul Monseta #1


Tittle : Seoul Monseta

Author : Evina93

Length : Chapter

Rate : 15

Genre : Fantasy, sad, romance

Cast : Byun Baekhyun (EXO), Jung Hae mi (OC), Park Chanyeol (EXO),  Kim Taeyon (SNSD)

Other cast : EXO member

Author’s note : Ff pertama aku soal fantasy semoga kalian suka . . 
Chapter 1 : Yang tidak diharapkan

“Bawa mereka ke ruang UGD!” perintah sang dokter. “Baik” para perawat segera membawa pasien masuk kedalam ruangan. Lampu ruangan UGD menyala pertanda oprasi akan segera dimulai.

Seseorang berbaju oprasi masuk kedalam ruangan. Ia membersihkan tangan memakai masker dan atribut lainnya. Pintu ruang oprasi terbuka, ia segera masuk kedalam. “Oprasi dimulai! Pisau!” titahnya.

Setelah 1 jam ruang oprasi tidak terbuka sedikitpun akhirnya terrbuka memperlihatkan seseorang keluar. Sang dokter menghembuskan nafasnya. Masker yang ia gunakan ia lepas memperlihatkan seringainya. Ia segera meninggalkan rumah sakit.

***

Seorang dokter masuk kedalam ruang oprasi  “Mari kita mulai oprasinya!” ujarnya.

“Apa anda bercanda dok? Anda sudah memulai oprasinya sejak satu jam yang lalu bahkan sudah selesai” ujar salah satu perawat.

“Apa yang kau katakan! Aku baru saja datang, satu jam lalu aku baru saja melakukan oprasi di tempat lain!” terang sang dokter.

“Apa! Lalu tadi itu dokter siapa?!” tanya perawat lainnya.

“Jadi ada yang melakukan oprasi tadi? Ck, kau cari info mengenai dokter tadi!” perintah sang dokter pada perawat laki-laki. “Nde” sang perawat segera bergegas keluar.

“Dan kau, laporkan perkembangan pasien!” perintahnya sekali  lagi pada peraawat wanita.

“Nde, Pasien ini mengalami kecelakaan, satu pasien perempuan sebelah sana nyawanya tidak tertolong. Pasien yang berada di hadapan kita ini masih sempat kita tangani namun sebelah matanya mengalami gangguan. Dokter tadi mengambil tindakan cepat dengan mencangkok sebelah mata pasien pria ini dengan mata pasien wanita. Untungnya mata mereka cocok “ jelas sang perawat.

“Apa? Walaupun ia seorang dokter ia tidak bisa mengambil tindakan seperti itu! ia butuh persetujuan terlebih dahulu pada keluarga mereka!” geram sang dokter.

“Soal itu dok, dokter tadi setelah melihat berkas pasien ia segera melakukan tindakannya” jelas sang perawat.

“Apa maksudmu dengan profil pasien?” tanya sang dokter.

“Begini, pasien wanita bernama Kim Taeyon. Tidak ada data jelas mengenai dirinya. Tidak ada kerabat dan lainnya. Ia meninggal setelah mengalami kecelakan bersama pria ini.  Lalu pria ini, namanya Byun baekhyun, 20 tahun. Orang tuanya sudah meninggal. Ia anak tunggal. Kerabat ada namun ketika dihubungi semuanya tidak menjawab” jelas perawat.

“Astaga, baiklah sekarang tolong pindahkan pasien Byun ini ke ruangan. Jika ia sadar tolong kabari saya” titah sang dokter.

“Baik dok” para perawat segera memindahkan Byun Baekhyun pada ruangan lain.

*** 

Park Chanyeol, pria dengan tubuh tinggi seperti tiang itu berlari dengan tergesa-gesa menuju meja resepsionis. Nafasnya masih memburu. “Ada yang bisa kami bantu?” tanya salah seorang perawat dengan ramah.

“Byun Baekhyun, dimana pasien yang bernama Byun Baekhyun yang mengalami kecelakaan?” tanya Chanyeol dengan tersengal-sengal. 

Sang perawat memeriksa data pasien di komputer. “Ruangan no 365” ujar perawat.

“Terima kasih” Chanyeol segera berlari menuju ruangan 365. Yang ada di otaknya saat ini hanyala temannya Byun Baekhyun. Anak bodoh itu tadi sore terlihat sangat bahagia akan berkencan dengan Taeyon nonna tapi apa sekarang!.

Chanyeol berhasil menemukan ruangan 365. Ia segera membuka pintu ruangan, tampak dihadapannya seseorang yang berbaring lemah dengan alat medis di tubuhnya. Perban disalah satu matanya, dan banyak luka goresan di sekujur tubuhnya.

Chanyeol duduk disamping ranjang Baekhyun, “Sebenarnya apa yang terjadi padamu Baek?” gumam Chanyeol.

*** 

Salah satu mata Baekhyun berkontraksi pada cahaya yang masuk pada jendela ruangan. Perlahan ia membuka salah satu matanya.

“Omo! Baek kau sudah sadar? Tunggu sebentar. Dokter!!” panggil Chanyeol.

.

.

“Dia sudah lebih baik. Nah tuan Byun perban disebelah matamu pun bisa dibuka sekarang. Tunggu sebentar aku akan membukanya.

Chanyeol yang berada di hadapan Baekhyun sedikit terlihat cemas.

Dengan perlahan dan hati-hati sang dokter membuka perban di sebelah mata Baekhyun. Setelah terlepas, Baekhyun mencoba menyesuaikan keadaan matanya. Awalnya terlihat buram. Namun lama-lama terlihat jelas. Tapi ia merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.

“Apa anda bisa melihat dengan jelas sekarang?” tanya sang dokter. Baekhyun mengangguk. “Syukurlah, jika terjadi apa-apa segera panggil saya. Saya permisi dulu” pamit sang dokter dan suster.

Chanyeol membungkuk terima kasih.”

“Chanyeol” panggil Baekhyun.

Chanyeol segera menoleh dan mendekati Baekhyun “Nde, kau ingin sesuatu?” tanya Chanyeol.

“Dimana Taeyon nonna?” tanya Baekhyun. “Eum itu . . dia meninggal” ujar Chanyeol. Awalnya Baekhyun terlihat kaget tapi akhirnya ia terlihat lega. Entahlah Chanyeol juga tidak mengerti apa yang ada di pikiran Baekhyun dan apa yang temannya itu rasakan.

“Begitu ya, eum, aku ingin istirahat” Baekhyun membaringkan tubuhnya dan menghadap kearah lain. “Baek, kau baik-baik saja?” Tanya Chanyeol. “Aku baik-baik saja Yeol. Hanya ingin beristirahat” ujar Baekhyun.

“Baiklah, kalo begitu aku pulang dulu” setelah mendengar gumaman Baekhyun dengan sedikit ragu Chanyeol meninggalkan ruangan.

*** 

Sudah 2 hari Baekhyun tersadar namun ia sama sekali tidak bernafsu untuk makan. Setiap sajian yang ada dihadapnnya ia seperti tidak tertarik sama sekali. Pernah sekali ia memakan satu sendok bubur setelah itu rasa mual menjalar pada perutnya alhasi ia kembali memuntahkannya di kamar mandi.

“Kali ini pun kau tidak terlalu banyak makan ya Baek” ujar Chanyeol.

“Entahlah aku tidak bernafsu” 

Chanyeol hanya bisa mengghela nafas. Sejak kejadian kecelakaan itu Baekhyun lebih sering terdiam.

“Besok kau akan keluar dari rumah sakit Baek. Cepatlah pulih dan kita buat onar lagi dikampus. Arra?!” titah Chanyeol.

“Ck, baiklah”

*** 

Hari ini Baekhyun keluar dari rumah sakit. Chanyeol tidak menjemputnya karena ia ada kelas, alhasil Baekhyun pulang sendiri. Sejak kejadian kecelakaan itu ia merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Ia tidak merasa lapar, ketika ia akan makan ia langsung merasa mual. Namun tubuhnya tidak merasa lemas sama sekali. Dan entah kenapa ia merasa dalam tubuhnya terdapat suatu kekuatan yang tersembunyi. Entah itu menakutkan atau tidak.

Baekhyun berhenti di persimpangan jalan untuk menyebrang. Salah satu layar monitor menampikan suatu berita. Ia melihat sekilas berita itu. Tentang penyerangan lagi yang dilakukan oleh suatu monster. Atau mereka bisa menyebutnya Ghoul. Baekhyun tidak peduli itu, ia kembali focus pada lampu penyebrangan jalan. 

Brug

Seseorang sedikit menyenggol tubuhnya. 

“Ah maaf, ujar sang penabrak. Namun entah kenapa Baekhyun tidak membalasnya melainkan menatapnya dengan penuh keinginan dan minat. Bukan, bukan minat karena suka atau perasaan lainnya melainka ia merasa seseorang yang menabraknya tadi mempunyai darah yang cukup manis dan seolah dlam dirinya ia ingin meminum darah itu dan mencabik-cabik tubuhnya.

Seseorang yang menabraknya tadi terlihat sedikit takut dengan tatapan Baekhyun , ia segera pergi dari Baekhyun.

Baekhyun tersadar kembali, ia bingun dengan apa yang ia rasakan. Jelas-jelas makanan manusia seperti biasanya yang disuguhkan lebih enak dari pada darah dan tubuh manusia. Tapi entah kenpa nafsu makan baekhyun lebih tinggi pada pernyataan terakhir.

“Apa yang terjadi padaku?” gumamnya.

“Ghoul atau lebih disebut monster itu mempunyai cirri-ciri seperti apa tuan?” Tanya sang presenter pada seseorang didalam layar berita itu.

“’Ghoul memiliki Ciri-ciri fisik sama seperti manusia jadi jika dilihat sekilas kita tidak bisa membedakannya. Namun mereka lebih tertarik dengan tubuh dan darah manusia dibanding dengan makannan kita, jiwa liarnya akan bangkit jika bertemu dengan mangsa yang pas. Rasa berburu seketika muncul dalam dirinya. Bahkan sesama monster ada yang saling memakan monster lain atau biasa kita sebut dengan kanibalisme. Untuk saat ini itu yang bisa kami beritahu” ujar seseorang didalam layar sana.

Baekhyun yang mendengarkan penjelasan tadi sedikit tercengan, pasalnya salah satu cirri monster yang disebutkan tadi sedang ia rasakan saat ini. “aku kenapa?” gumamnya. Lalu ia segera berlari tanpa peduli menabrak siapapun.

Ia berlari menuju apartemennya dan segera mengunci pintunya. Tubuhnya seketika lemas. Air mata berlinang di sudut matanya siap menumpahkan cairan kristalnya.

Ia mengabaikan panggilan yang tertera di handphonenya dari Chanyeol. Ia berjalan dengan penuh keraguan menuju lemari es. Mengambil beberapa makanan dan memakannya. Namun yang ia rasakan adalah rasa mual yang teramat sangat. Ia segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkannya kembali namun beberapa waktu kemudian ia kembali memakan makanan dan kembali ke kamar mandi. Kejadian itu terus berulang beberpa kali, sampai akhirnya baekhyun teduduk lemas di dapur dengan berlinangan air mata ‘apa yang terjadi pada dirinya?’ ‘kenapa tubuhnya bisa menjadi seperti ini?” banyak pertanyaan yang muncul di pikirannya. Ia terlihat sangat frustasi.

“AAAARGGGGGHHHHH!!!!” teriak Baekhyun.
TBC

Bwo, haha gimana, gimana? Masih mau lanjut? Penasaran? Koment juseo.

Apa? I Live With Satan Soo? Tenang bakal aku lanjut juga kok. ^^b

Don’t be sailent readers chingu. .

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo #10

picsart_1447739230208.jpg

Author : Evina93

Length : Chapter

Rate : 15

Genre : Family, romance, comedy

Cast : Do Kyungsoo (EXO), Shin Mingi (OC), Bang Minah (G-day), Kim Seokjin (BTS)

Other cast : Member EXO, Lu han, Han Shin young (OC)

Author notes : Maaf membuat para readers yang setia nunggu kelanjutan ff saya yang masih abal ini. Akhirnya saya kembali dari hibernasi yang panjang.

Chapter 10

Kyungsoo segera membawa Mingi masuk kedalam kamar dan menidurkannya. Keringat dingin masih terus keluar dari tubuh mingi. “Bagaimana ini?” gumam kyungsoo panik. Mingi tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan ketika udara dingin diluar sana ia jarang terkena flu, tapi apa sekarang?

Kyungsoo mengambil ponselnya dan menekan beberapa digit angka kemudian meletakan handphone tersebut ketelinganya “Ibu bagaimana ini? Mingi . .” ia menelpon nyonya do.

“Ya, baiklah aku akan memberitahu dokter park, eum, ibu cepatlah kemari” ujar kyungsoo, ia mematikan telponnya. Ia segera menelpon dokter Park untuk datang.

“Mingi bersabarlah sebentar lagi dokter akan datang” kyungsoo mengelus kepala mingi.

Mingi meraih tangan kyungsoo dan menggenggamnya erat. “Ibu, ayah jangan tinggalkan aku. Kumohon” racunya. Matanya masih terpejam namun kerutan nampak begitu jelas di dahinya. Jelas terlihat dalam tidurnya mingi sangat ketakutan. Namun kyungsoo masih belum tahu apa yang menyebabkan mingi setakut itu. Apalagi ketika mingi memanggil kedua orang tuanya.

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya kyungsoo.

“Ibu” racu mingi

“Tenanglah aku disini” kyungsoo balas menggenggam tangan mingi. Entah ini sihir atau bukan, mingi sedikit terlihat tenang dibanding sebelumnya.

***

Jin sedang duduk disuatu kedai, ia kembali menegak beberapa gelas soju. Mukanya sudah memerah pertanda ia mabuk.

“Dia istriku!!!” kata-kata itu terus saja terngiang di telinga Jin. Apa

ia kalah? Ia tidak mengira Mingi akan secepat itu meninggalkannya. Sudah berpa lama mereka menikah? Apa mereka benar-benar saling mencintai? Berbagai macam pertanyaan keluar di dalam pikiran jin.

“Arrrggg, ahjuma aku minta satu botol lagi!!” teriak jin.

Seorang ahjuma pemilik kedai mendekati jin dan menyerahkan satu botol soju di mejanya. “Aigo, anak jaman sekarang, masalah cinta sedikit saja mabuk-mabukan” sang ahjuma menggelengkan kepalanya kemudian meninggalkan jin.

Jin kembali menuangkan sojunya namun ia seperti melihat siluet seseorang dihadapannya. Ia menegakan kepanya dan menyipitkan matanya. “kau?” tanya jin.

Orang tersebut duduk dihadapan jin. “Aku minah, Bang Minah. Sepertinya kau juga baru tau masalah tadi sampai mabuk seperti ini” ujar minah dengan menyunggingkan smirknya.

“To the poin saja. Ada perlu apa kau menemuiku?” tanya jin.

“Bagaimana kalu kita bekerja sama?” tawar minah

“Apa maksudmu?”

***

“Bagaimana keadaannya dok?” tanya kyungsoo.

“Apa ia tadi ia berada di suatu tempat yang tinggi?” tanya dokter.

Kyungsoo mengerutkan keningnya sedikit berpikir “Ia naik bianglala tadi” jawab kyungsoo.

Dokter Park mendesah “Begini, ia mengalami taruma terhadap ketinggian. Mungkin traumanya kambuh tadi. Maka dari itu ia jadi seperti ini” Jelas dokter park.

Nyonya do yang berada disampingnya mendesah “Tidak akan terjadi apa-apa kan dok?” tanya nyonya do.

“Biarkan saja ia istirahat. Kalau begitu saya permisi dulu” pamit sang dokter.

“Mari saya antar” nyonya do mengatar sang dokter keluar.

Kyungsoo mendekati mingi dan kembali menggenggam tangannya “Kenapa kau tidak pernah bilang jika kau memiliki trauma. Apa kau tidak menganggapku? Ku mohon cepatlah sadar” kyungsoo mengecup tangan mingi.

“Kyung bisa bicara sebentar?” tanya nyonya do.

“Ada apa eomma?” “Ikut ibu” nyonya do dan kyungsoo berjalan menuju ruang tengah. Mereka duduk saling berhadapan.

“Ku pikir sudah saatnya aku menceritakan ini padamu” ujar nyonya do.

“Apa maksudmu?” tanya kyungsoo tidak mengerti.

“Pertama aku ingin bertanya, apa kau tidak heran jika aku langsung menyuruhmu menikah dengan mingi?” tanya nyonya do.

“Tentu saja aku heran, dulu ketika aku mengenalkan minah padaku kau terilaht biasa saja seperti tidak tertarik tapi ketika mingi muncul ibu dan ayah langsung menyukainya” jelas kyungsoo panjang lebar.

“Rubah sialan itu” ujar nyonya do.

“Ibuu . .”

“Apa? Kau masih menyukainya?” tanya nyonya do.

“Itu, entahlah” jawab kyungsoo.

“Dengarkan aku baik-baik do kyungsoo. Aku tidak akan merestuimu dengannya sampai kapanpun” ancam nyonya do.

“Terserah, lagi pula aku . .”

“Kau menyukai mingi” potong nyonya do. Semburat merah tiba-tiba muncul di pipi kyungsoo.

“Aigo, jadi sudah ya. Ternyata usahaku dan luhan berhasil haha”

“Ibu mengenal luhan?” tanya kyungsoo.

“Ups, apa aku berkata luhan tadi?”

“Ibuuu”

“Haha baiklah. Aku dan luhan mempunyai rencana untuk mendekatkan kalian. Dan kau pikir ibu langsung menyuruhmu menikah tanpa melihat latar belakang mingi? Kau salah. Ibu mencari tahu semua, dan ketika ibu mencari tahu ibu dikejutkan dengan sebuah fakta. Shin mingi adalah anak dari teman lama ibu. Dan kau tau, kami berniat menjodohkan kalian dulu haha” nyonya do mengingat masalalu.

“Aish, memangnya ini masih jaman juseon” kyungsoo menggerutu.

“Jangan menggerutu, buktinya kau menyukainya sekarang” skak wajah kyungsoo kembali memerah.

“Aigoo, anak eomma lucu sekali. Belum pernah aku melihatmu seperti ini” goda nyonya do.

“Diamlah! Ibu cerewet sekali. Lalu apa yang terjadi pada orang tua mingi?” tanya kyungsoo.

“Itu dia, hal ini ada sangkut pautnya dengan trauma yang ia alami. Keluarga mingi mengalami kecelakaan pesawat ketika ia berumur 15 tahun. Mereka akan melakukan perjalanan bisnis, namun naas pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Kedua orang tua mingi meninggal dan hanya ia yang selamat. Sejak saat itu ia takut sekali pada ketinggian” jelas nyonya do.

Kyungsoo terdiam sejenak “Aku bodoh, menantangnya naik bianglala tanpa tau trauma yang ia alami ini pasti berat baginya” kyungsoo melirik kedalam kamar mingi. Tampak mingi yang masih tertidur disana.

“Sudahlah itu bukan salahmu, lagipula kau tidak tau bukan? Sekarang istirahatlah biar eomma yang menjangga mingi” nyonya do mengelus sayang punggung anaknya.

“Tidak eomma biar aku sa . .”

Braggg

Terdengar suara pintu seperti terbanting.

“ANAKKU!!!” seseorang masuk kedalam rumah kyungsoo dengan berteriak.

“Appa apa yang kau lakukan?” tanya kyungsoo.

“Ya! Do kyungsoo harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kaulakukan pada anak kesayanganku huh?!” tuan do menunjuk kyungsoo.

“Ya, aku anakmu dia itu menantumu! Lagipula aku tidak melakukan apapun” ujar kyungsoo.

“Dasar anak nakal! Kemari kau” tuan do menghampiri kyungsoo dan memukul-mukul anaknya.

“YA, Appo, ibu tolong aku, ya, appa ini sakit ya ya” teriak kyungsoo.

“enguh” terdengar lenguhan dari dalam kamar.

“Apa kau akan membangunkan mingi jika kau memukulku terus” ujar kyungsoo.

“Kali ini kau aku lepaskan, anakku kau tidak apa-apa?” tuan do akan menghampiri mingi namun ditahan kyungsoo.

“Biar aku yang menjaganya, appa dan eomma kembalilah pulang” ujar kyungsoo.

“Kau mengusirku?!” tanya tuan do.

“Aish bukan itu maksudku” kyungsoo sedikit frustasi menghadapi ayahnya ini.

“yeobo, ayo kita pulang saja. Soo ingin berduaan dengan istrinya” senyum nakal nyonya do. Tuan do membulatkan matanya. “oh, arra. Ayo kita pulang” ujar tuan do dan segera menggandeng istrinya.

“astaga eomma, bukan itu maksudku aish” kyungsoo mengacak rambutnya. Kenapa ia mempunya orang tua seperti mereka.

“Kyungsoo jaga mingi baik-baik jika tidak” tuan do memberi sarat memenggal lehernya.

Glek

Kyungsoo menelan air liurnya, “A. . arra” ujar kyungsoo.

“Kalau begitu kami pergi dulu” pamit keduanya.

“Hh . . merepotkan saja” ujar kyungsoo. Ia berbalik menuju tempat tidur mingi.

Mingi membalikan posisinya menjadi menyamping. Sepertinya dia sudah baikaan.

“Mingi apa kau tertidur?” tanya kyungsoo.

Namuan hanya dibalas oleh dengkuran halus mingi. Kyungsoo tersenyum.

Ia segera menidurkan dirinya disamping mingi. Ia memandang begitu lama wajah mingi. Kemudian salah satu tangannya menyentuh pipi mingi. “Aku tidak akan membiarkanmu kesakitan lagi” ujar kyungsoo dengan senyumnya kemudian ia menarik mingi kedalam pelukannya.

Entah kyungsoo tau atau tidak, di dekapan kyungsoo mingi tersenyum namun masih terpejam. Bahkan ia membalas pelukan kyungsoo. Kyungsoo yang awalnya kaget kemudian menjadi senang. Entahlah seperti banyak kupu-kupu berterbangan didalm perutnya.

***

Matahari pagi sudah meuncul di permukaan langit. Sinarnya bahakan sudah menembus di sela-sela gorden kamar mingi.

Mingi sedikit menggeliat, entahlah tidurnya terasa nyaman semalam. Ia sedikit membuka matanya, pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah tertidur kyungsoo. Ia mengerjepkan matanya beberapa kali untuk memastikan. Benar itu kyungsoo, kenapa ia tidur disini? Pikir mingi. Namun ketika melihat posisi mereka mingi sedikit kaget. Apa yang terjadi? Pikir mingi. Namun entah sihir dari mana ketika melihat wajah terlelep kyungoo ia menjadi menikmatinya, sadar atau tidak ia tersenyum.

“Apa aku setampan itu sampai membuatmu terpesona?” tanya kyungsoo masih dengan mata terpejam.

Mingi yang kaget berusaha lepas dari kyungoo namun sayang kyungsoo menarik kembali tubuh mingi sampai berada dipelukannya. Kemudian ia membuka mata, “Apa kau sudah baikkan? Tapi kenapa wajahmu merah? Apa kau demam?” kyungsoo menempelkan tangannya didahi mingi dan dahinya. “Tidak demam ujarnya”.

“Kyung lepaskan aku” mingi berusaha lepas dari pelukan kyungsoo namun kyungsoo malah menarik tubuh mingi sehingga bibir mereka bersentuhan dan membuat mingi membelalakan kedua matanya kaget.

tbc

Posted in Uncategorized

Coffe Prince

image

Tittle : Coffe Prince
Author : evina93
Length : oneshoot
Genre : Romance
Rating : 15
Main cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Park Sena ( Oc / you)
Author’s note : Present for xiu brithday. Don’t be plagiat. Do’t be sailent readers and please leave a coment or review. Kamsahamida ^^

****
Tugas yang begitu menumpuk menjadi pekerjaan Sena akhir-akhir ini. Ia pikir masuk jurusan seni tidak akan terlalu banyak tugas, kenyataan yang ada sebaliknya.
Buku partitur ada di hadapannya, pikirannya menerawang. Pensil yang menjadi alat menulis malah menjadia mainannya, ia putar terus seperti stick drum.
“Astaga kenapa membuat aransement saja sesusah ini” ia melempar pensilnya dan mengacak rambutnya frustasi.
“aku heran kenapa chanyeol sangat senang berkutat berjam jam dengan gitar dan yang lainnya. Astaga kemana inspirasiku pergi!!!” ia semakin mengacak rambutnya.
“Kau kenapa?” tanya seseorang.
sena mendongakan pandangannya “Diamlah dobi, kau tidak lihat aku sedang apa?” ujar sena.
“Tugasmu masih belum selesai ckck” Chanyeol mengejek kembarannya.
“Jangan banyak bicara, lebih baik kau membantuku!” bentak sena.
“Ania, ini tugas individu. Kau harus mengerjakannya sendiri. Aku tau kau pasti bisa hanya saja kau ini terlalu malas berpikir” nasehat Chanyeol.
“Ya! Jika ingin mengejekku lebih baik keluar saja sana!” sena mendorong chanyeol keluar kamarnya, namun karena tenaga chanyeol lebih kuat ia tidak berkutik sedikitpun.
“astaga!” geram sena. Chanyeol tersenyum menampakan seluruh barisan giginya.
Sena menyambar jaketnya kemudian pergi keluar kamarnya. “Eodiga?” tanya chanyeol.
“Mencari inspirasi” ujar sena kemudian ‘Blam’ pintu kamar tertutup dengan kencang.
“ckck, apa dia itu seorang wanita?” tanya chanyeol pada dirinya sendiri.
****
“Chanyeol babo!, bukannya membantuku mengerjakan tugas. Jika saja dia bukan saudaraku sudah ku patahkan hidungnya!” gerutu sena.
Tanpa sena sadari ia sudah berada di depan sebuah caffe. “apa tempat ini baru? Aku belum pernah melihatnya. Sepertinya tempatnya nyaman. Wah mungkin aku bisa dapat inspirasi disana” sena terlihat lebih semangat.
Kring
Lonceng pintu caffe berbunyi.
Sena segera menghampiri meja counter. “permisi” ujar sena. Seseorang yang semula membelakanginya berbalik. Detik itu juga mata sena tidak berkedip, jantungnya bekerja diatas normal, mungkin ini khayalannya sena merasa bunga sakura berguguran dibelakang lelaki tersebut menambah background keindahan salah satu ciptaan tuhan ini.
“ada yang bisa saya bantu?” tanya lelaki tersebut dengan senyum ramahnya.
sena masih belum kembali pada kesadarannya ‘apa aku sudah gila, kenapa ia terlihat sangat manis dan tampan disaat yang bersamaan’ pikirnya.
“hm, nona maaf. Ada yang bisa saya bantu?” kali ini pria tersebut melambaikan tangannya didepan wajah sena membuat sena kembali pada alam nyatanya.
“ah maaf, aku pesan 1 americano dan 1 latte” pesannya.
“baiklah mohon tunggu sebentar” pria tersebut segera mempersiapkan pesanan sena.
Sena melihat dengan teliti pergeran sang pria yang mulai sekarang ia tetapkan sebagai pujaannya.
‘oh lihat, menuangkan coffe saja dia terlihat sangat menawan’ pikir sena. Mungkin dalam dirinya ia ingin berteriak seperti seorang fangirl yang bertemu secara langsung dengan idolanya. Namun otak sena masih bisa berpikir jernih untuk tidak melakukan hal itu. Apa kabar imejnya nanti.
“ini pesanan anda silahkan” barista tadi menyajikan pesanan sena.
“a ah nde, berapa semuanya?” tanya sena.
” semuanya menjadi ₩15.000″ ujar sang barista.
“ini, eum terima kasih . .” sena melihat name tag pada baju sang barista “minseok sii” lanjutnya.
Dan secepat kilat sena meninggalkan tempat itu.
Awalnya barista yang diketahui bernama minseok itu terkejut. Namun detik berikutnya ia tersenyum “Gadis yang unik”.
****
“aku pulang” sena segera mencopot sepatunya dan masuk kedalam.
“Ya! Kau dari mana saja?” tanya chanyeol.
“Oppa!” panggil sena. Seketika Chanyeol merinding.
“Wa wae?” tanya chanyeol.
“Ini untukmu, aku ke kamar dulu. Aku sudah mendapatkan inspirasi” Sena memberikan coffe pada tangan chanyeol.
“Anak itu kerasukan apa?” malas untuk berpikir lebih jauh chanyeol lebih memilih coffe pemberian adiknya.
****
Caffe menjadi salah satu tempat wajib yang didatangi sena selesai kuliah. Hanya sekedar untuk bersantai, mencari inspirasi, menikmati coffe atau menikmati pahatan tampan wajah seseorang yang sedang membuat coffe sekarang ini.
“ini pesananmu” minseok menyuguhkan 1 cup latte untuk sena.
“Gomangwo” sena mengambil pesanannya dan duduk di salah satu bangku cafe. Sena mengeluarkan tugasnya. Yupz sena akan mengerjakan tugasnya disini. Selain tempatnya nyaman ia bisa mendapat inspirasi disini atau jika ia sudah jenuh ia akan memandang minseok dan moodnya kembali baik.
“Kau masuk jurusan seni?” tanya seseorang. Sena menatap orang yang bertanya padanya tadi.
“u . Um begitulah” sena sedikit tersenyum memperlihatkan gigi putihnya (bayangkan yeollie ver wanita).
“woah daebak! Apa kau bisa bernyanyi? Main alat musik? Membuat lagu?” tanya xiumin secara beruntun. Sena mengedipkan matanya beberapa kali. Tidak disangka pria yang ia sukai ternyata bisa banyak bicara juga.
“eum . . Itu” ujar sena sambil menggaruk kepalanya.
“ah maaf, aku terlalu antusias. Boleh aku duduk disini?” tanya minseok. Sena dengan cepat mengangguk. Minseok duduk di hadapan sena.
” kita belum berkenalan. Namaku . . ”
“kim minseok itu namamu” ujar sena. “bagaimana kau tau?” tanya minseok. Sena menunjuk nametag di dada kiri minseok.
“ahaha benar juga, lalu namamu?” tanya minseok.
“sena . . Park sena” ujar sena dengan tersenyum.
****
sena menjadi lebih akrab dengan minseok, hampir setiap waktu luang ia selalu pergi bertemu minseok.
Sampai pada suatu ketika . .
Seseorang masuk kedalam caffe, ia seperti mencari-cari seseorang sampai akhirnya pandangannya berhenti pada seseorang.
“Oppa!” panggilnya .
Minseok yang hafal suara itu segera berbalik. “ji-ya” minseok segera menghampiri wanita tersebut dan memeluknya “bogoshipoyo” ujarnya.
“nado” balas sang wanita.
Sena terdiam melihat kejadian itu, ‘sakit, kenapa rasanya sakit sekali disini’ sena memegang dadanya. Ia merasa sebentar lagi akan ada cairan bening yang keluar dari matanya. Sebelum hal itu terjadi lebih baik ia meninggalkan tempat ini. Ia segera mengambil tasnya dan membereskan barang-barangnya.
“maaf mengganggu kalian, minseok-sii aku pergi dulu, masih ada yang harus aku kerjakan” pamit sena.
“apa? Kau sudah mau pergi” tanya minseok, ada sedikit nada tidak rela dalam ucapannya. “baiklah, hati-hati” sambungnya.
“kalo begitu aku permisi, annyeong” sena membungkuk dan keluar.
Sampai diluar ia melihat lewat kaca apa yang sedang mereka lakukan. Minseok nampak sangat bahagia dengan wanita itu.
Tes
Tanpa disadarinya butiran kristal bening telah meluncur bebas dari matanya. Ia segera menghapus dengan tangannya dan pergi dari caffe itu sebelum hatinya terluka lebih dalam.
****
Sena masuk kedalam rumah tanpa berkata apapun bahkan wajahnya ia tekut terus.
Bruk
“Ya! Apa kau tidak melihat huh?!” bentak chanyeol.
“mian” tanpa banyak berkata sena segera menjauh dari chanyeol.
Chanyeol yang sadar akan sifat aneh kembarannya segera menahannya.
“apa yang terjadi katakanlah” ujara chanyeol.
Sena mendongak, chanyeol benar-benar dibuat kaget. Sena menangis dan hal itu jarang sekali terjadi. “yeol ah hiks” isaknya. Chanyeol segera memeluk sena. “uljima” chanyeol menenangkannya.
****
“bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?” tuntut chanyeol.
“disini. Rasanya sakit sekali” ujar sena dengan memegang dada kirinya.
“apa kau terkena serangan jantung!” ujar chanyeol cepat.
Tak
Sena menjitak kepala chanyeol. “aku sehat. Jaga ucapanmu!” bentak sena.
“ahaha mian” chanyeol mengelus hasil jitakan sena.”lalu, jika kau tidak terkena serangan jantung kenapa sakit?”
“entahlah, ketika aku melihat dia dengan wanita lain rasanya sakit” jelas sena.
Chanyeol membulatkan pandangannya “kau, patah hati? Daebak! Aku kira kau tidak akan bisa jatuh cinta” chanyeol bertepuk tangan kecil.
“ya! Park chanyeol. Kau minta aku tendang huh?!” ancam sena.
“habisnya tidak ku kira kau bisa jatuh cinta, nugu?” chanyeol memasang mode penasarannya.
“kau tidak perlu tau” ujar sena.
“apa dia tampan, ah tp tidak mungkin setampan diriku. Dia tinggi? Dia pintar? Ya katakanlah” ujar chanyeol.
“kau ini berisik sekali. Aku tidak ingin membahas dia lagi!” bentak sena.
“adikku yang manis, katakanlah siapa orangnya. Kau ingin membuat oppamu yang tampan ini mati penasaran huh” ujar chanyeol disertai aegyo.
“hentikan aegyo konyolmu itu. Aku merinding melihatnya” bukannya berhenti chanyeol malah semakin menjadi.
****
Sudah lebih dari satu minggu sena tidak berkunjung ke caffe minseok. Minseok sedikit cemas. Apa sena sakit? Itulah dalam pikirannya. Ia tidak tau no telpon sena bahkan alamat rumahnya. Ingin bertanyapun pada siapa.
“oppa, kau lebih memilih yang mana, ini atau ini” minji menyodorkan dua buah undangan pada minseok.
“ini lebih bagus” tunjuk minseok pada salah satu kartu undangan.
“hoah kau memang yang terbaik oppa!” minji memeluk minseoj erat.
****
“sena ya lebih cepat sedikit jalannya” ujar yora.
“ya unni! Kau tidak lihat aku membawa barang belanjaanmu banyak sekali. Lagipula kau ingin belanja untuk satu tahun penuh. Kenapa banyak sekali sih” gerutu sena.
Tak
“ya! Appo!” ujar sena.
“kau ini wanita yang terlalu banyak mengeluh dan terlalu banyak mengomel. Ck, apa nanti akan ada yang mau denganmu?” ujar yora.
“EONNI!!” geram sena.
“haha arra, aku hanya bercanda. Kau tunggu saja disini. Aku ada perlu dulu ketempat itu”
“um” sena duduk di salah satu bangku. “aigo, rasanya tangan dan kakiku mau patah” sena memijat kaki dan tangannya.
“Sena-sii” ujar seseorang. Sena berbalik betapa terkejutnya ia. Yang memanggilnya adalah minseok dan jangan lupakan wanita yang sedang bergelayut manja pada minseok.
“oh, annyeong minseok-sii” ujar sena kaku. ‘cobaan apalagi ini’ pikirnya.
“kau sedang apa disini?” tanya minseok antusias.
“aku, um, aku menemani kakakku belanja” ujarnya.
“oppa, nuguya?” tanya wanita disamping minseok.
“ah, aku lupa. Minji ini sena. Sena ini minji” minseok memperkenalkan.
“hallo” ujar minji. “Senang berkenalan denganmu. Oppa banyak bercerita tentangmu” ujar minji.
“ah, itu tidak seperti yang kau pikirkan” sena tidak ingin membuat kesalah pahaman. “ah maaf sepertinya kakakku menunggu. Aku permisi dulu. Bye” pamit sena.
Minseok terdiam. Ia merasa sena menjauhinya namun entah atas alasan apa.
“chankam” cegat minji. Sena berhenti melangkah. “ada apa?” tanya sena.
Minji menghampirinya sambil merogoh sesuatu di dalam tasnya.
“igo” minji menyerahkan selembar undangan. Sena menerimanya walau dalam keadaan kaget. “kuharap kau akan datang” ujar minji.
‘ya tuhan cobaan apalagi ini. Apa ini sudah akhir dari semuanya’ pikir sena.
****
“ya! Kenapa wajahmu semakin hari lebih mirip sadako!” ejek chanyeol.
“aku tidak ada tenaga untuk melawanmu dobi” balas sena. Ia menggeser bangku dan duduk disana.
“apa kau tidak enak badan?” tanya mama park.
“annio emma, aku hanya butuh istirahat” ujar sena.
“benarkah?” tanya mama park.
“biarkan saja ma, dia sedang patah hati” ujar yora yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya dan menyomot sepotong roti.
“darimana kau tau?” tanya sena cepat.
“chanyeol yang menceritakannya” ujar yora. Sena secepat kilat menatap chanyeol dengab pandangan seperti macan yang akan berburu. “dasar ember bocor” gerutu sena. “hehe” chanyeol hanya tersenyum bodoh.
“ahahaha . . Anak eomma sudah besar ternyata. Mungkin dia belum jodohmu. Masih banyak lelaki diluar sana” ujar mama park.
“lagipula. Jangan mendagului eonnimu. Kau tau kan ia belum mempunyai hihi ” bisik mama park.
“mom!” rengek yora.
“haha arra eomma, lagipula aku harus lulus dulu” ujar sena.
“itu baru saudaraku!” chanyeol mengacungkan jempolnya.
“diam kau!” bentak sena.
mama park dan yora pun tertawa melihat kelakuan sena dan chanyeol.
****
Sena memegang kartu undangan di tangannya. “apa aku harus datang?” gumamnya.
“datanglah, aku akan menemanimu” ujar chanyeol.
“Kamjakia! Sejak kapan kau ada dikamarku? Tanya sena.
“sejak kau memandang sendu undangan itu” ujar chanyeol.
“apa aku harus datang?” tanya sena.
“datanglah, aku akan menemanimu. Jika terjadi sesuatu padamu aku ada disana. Lagipula kapan lagi ada makanan geratis” ujar chanyeol.
“ya! Ku kira kau peduli padaku!” marah sena.
“hanya 40%, sisanya karena makanan” senyum chanyeol.
“aish, kenapa aku bisa mempunyai saudara kembar seperti dia”
****
“eonni, apa ini cocok denganku?” tanya sena yang sedang berada di hadapan sebuah cermin.
” itu sangat cocok denganmu” ujar yora.
“tapi aku merasa aneh” balas sena.
“itu karena kau belum terbiasa. Ok, saatnya aku memberimu make up” ujar yora.
“hah, apa perlu?”
“tentu saja” yora membawa adiknya duduk di hadapan meja riasnya dan mulai memoles wajah adiknya.
.
.
“sena apa kau sudah siap?” tanya chanyeol yang masuk kedalam kamar yora dengan tampilan formalnya.
“aku siap” ujar sena.
“woah, apa benar kau ini sena? Kau terlihat seperti wanita sesungguhnya” komentar chanyeol.
“ya! Kau ingin aku pukul huh?!” ancam sena.
” ternyata benar itu kau haha”
“cepat kalian berangkat” titah yora.
“ayay, aku berangkat dulu nonna” pamit chanyeol.
“bye unni”
****
“chanyeol jalannya pelan-pelan” ujar sena.
“aku sudah pelan, kau saja yang lebih lamban” ujar chanyeol.
“itu karena sepatu hak ini, aish kenapa aku harus memakain ini” gerutu sena.
“hei, aku melihat makanan enak. Aku pergi dulu” chanyeol seketika meninggalkan sena.
“ya! Dobi babo!”
“sena” panggil seseorang.
Sena berbalik. “ah minseok-sii” ujar sena. “selamat ya” ujar sena. ” terima kasih” balas minseok.
“kau terlihat sangat cantik” puji minseok.
“um, terima kasih. Minji pasti juga terlihat sangat cantik” ujar sena.
“begitulah” ujar minseok tanpa melepaskan pandangannya.
“para hadirin, acara akan dimula. Para mempelai di persilahkan memasuki ruangan” ujar sang mc
“sena aku tinggal sebentar” ujar minseok. Sena mengangguk, ia melihat punggung minseok. “Selamat tinggal minseok” gumamnya.
Sena menyaksikan jalannya acara. Mulai dari minseok yang menggandeng minji sampai altar dan pada akhirnya ia menyerahkan minji pada seseorang.
Tunggu seseorang, sena menajamkan pandangannya. Minseok mundur perlahan.
“kim joon myun apa kau bersedia bla bla bla”
“ya, aku bersedia” ujar sang pria.
“kim minji apa kau bla bla bla”
“ya aku bersedia” ujar minji.
“dengan ini aku nyatakan kaliah sah menjadi suami istri”
Semua undangan bertepuk tangan kecuali sena. Sistem otaknya seperti berhenti.
“apa aku tidak salah dengar, kim joon myun. Bukan kim minseok?” gumam sena.
“kau tidak salah dengar sena” ujar seseorang.
“huh?” ujar sena.
“jadi selama ini kau kira aku akan menikah dengan minji?” tanya minseok.
Sena mengangguk.
“haha, kau ini lucu sekali. Dia adalah sepupuku, ayah dan ibunya sudah meninggal dan ia sangat dekat denganku” jelas minseok.
“eoh” otak sena masih dalam keadaan blank.
“lagipula, aku sudah menyukai seseorang” ujar minseok.
“si siapa?” tanya sena.
“seseorang yang berada di hadapanku” ujar minseok.
“huh” sena menengok kanan dan kiri mencari seseorang.
Minseok maju mendekati. Ia memegang wajah sena dan menatapnya.
“kau, kaulah orangnya park sena” ujar minseok.
“aku?” sena tidak percaya ini. Apa ini mimpi? Dia tidak bertepuk sebelah tangan.
“aku juga menyukaimu, minseok-sii” ujar sena dan langsung menghambur ke pelukan minseok.
Epilog
Chanyeol mengambil beberapa makanan. “sena pergi kemana?” gumamnya.
“ah, terserah lah yang penting ada banyak makanan haha” ujarnya namun ketika akan berbalik ia menabrak seseorang. Makanan yang ia bawa jatuh bahkan sebagian nodanya mengenai gaun yang dipakai oleh seseorang.
“maafkan aku” ujar chanyeol.
“ya! Apa kau tidak tau baju ini sangat mahal” ujar seseorang.
“mwo? Aku sudah minta maaf dan kau membentakku!” ujar chanyeol.
“aku minta ganti rugi” ujar sang wanita.
“apa?!”
END