Posted in action, au, comedy, exo, fanfiction, Uncategorized

New Life #4

PicsArt_05-08-09.03.20

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action, comedy.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 4

Dewi fortuna memang tak berpihak padanya hari ini, dengan wajah datarnya dan gerutuan dalam hati ia berjalan melewati beberapa siswa, tak jarang banyak siswa yang memandangnya. Kyungsoo tak peduli dengan isi kepala mereka yang melihatnya. Ia sudah penat dan tujuan utamanya saat ini adalah ruang kosong yang luas. Karena ini hari pertamanya jadi ia masih mencari dimana keinginannya itu akan terkabul.

Setelah melewati lorong dan beberapa anak tangga, akhirnya ia menemukan sebuah pintu besi. Suara decitan besi tua yang berkarat terdengar di telinganya ketika tangan itu mendorongnya . ia mengangkat tangannya menutupi penglihatan ketika cahaya yang sangat terang terlihat olehnya.

“Waw, apa yang membawamu kemari?” tiba-tiba indra pendengarnya merasakan suara yang sangat asing di telinganya.

Setelah membiasakan dengan cahaya ia menurunkan lengannya dan berbalik pada asal suara, seketika helaan nafas keluar dari bibirnya. Sedangkan seseorang yang bertanya tadi hanya menampilkan senyum tanpa matanya itu. Bahkan matanya terlihat hanya segaris. Bertolak belakang dengan pria lain disampingnya yang sedang menyeruput minuman dan memandangnya dengan bola mata melebar.

“Yak! Oh Sehun lain kali kau yang beli makananmu sendiri!” teriak seorang pria yang tiba-tiba saja datang dari arah tempatnya tadi.

“Wah, wah. Lihat siapa yang datang. Bintang kita hari ini berkunjung” ujar pria bertelinga lebar itu dengan heboh.

“Ck, aku bukan bintang” Kyungsoo berdecak dan melihat dengan tatapan malas pada pria tinggi dengan telinga lebar itu yang enatah tak ia ketahui namanya.

“Ya ya, kau bukan bintang tapi kau membuat heboh seisi kelas di hari pertamamu anak baru” akhirnya Jongin membuka suara setelah ia menandaskan minumannya.

Seketika tatapan tajam Kyungsoo mengarah padanya.

Gelek

“Hun-ah, kenapa dia menatapku seperti itu?” tanya Jongin pelan setelah ia mencolek bahun teman di sampingnya.

“Mungkin karena kau hitam” jawab Sehun santai.

Tak

Satu jitakan berhasil Jongin layangkan pada teman sialnya ini.

“Kenapa kau memukulku?!” Teriak Sehun  tak terima.

“Kau mengataiku. Aku tidak hitam, aku ini Tan!” balas Jongin tak mau kalah.

“Ck, apa mereka selalu seperti itu?” Kyungsoo bertanya pada pria tinggi disebelahnya sambil menunjuk kedua orang yang sedang beradu mulut itu.

“Kau akan terbiasa dengan itu nanti, dan apa yang membawamu kemari tuan Do?” tanya pria tinggi itu yang ternyata Chanyeol.

“Aku hanya ingin mencari udar segar, maaf sudah mengganggu kalian, aku akan pergi” ujarnya dan berbalik.

“Kenapa tak bergabung saja dengan kami?” tawar ketiga peria itu serempak, Kyungsoo berbalik dan menaikan sebelah alisnya.

***

Disinilah Kyungsoo dan ketiga orang itu sekarang. Atap sekolah.

Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk bergabung, kakinya sudah lelah untuk berkeliling.

“Nah Kyungsoo, mari kita memperkenalkan diri kembali” Itu Chanyeol yang berujar, ia kelihatan sangat antusias.

“Namaku Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol” jangan lupakan senyum lima jarinya.

“Atau kau bisa memanggilnya Park Dobi” ini Sehun yang berkomentar tanpa wajah bersalah.

“Yak!” Akhirnya Suara bass Chanyeol menggema. Kyungsoo menutup telinganya.

“Abaikan saja mereka, Namaku Kim Jongin. Kau bisa memanggilku Jongin atau Kai terserah padamu” Akhirnya Jongin memperkenalkan diri.

“Atau kau bisa memanggilnya Hitam” Ujar Chanyeol dan Sehun serempak. Sepertinya mereka lupa akan pertengkaran mereka tadi.

“Yak! Sudah ku katakan aku ini tidak hitam!” ujarnya tak terima. Tapi tak ada yang peduli.

“Nah, giliranku. Namaku Oh Sehun. Kau bisa memanggilku si tampan Oh atau Sehun” ujaranya bangga penuh percaya diri.

“Tampan tapi cadel” ujar Jongin dan Chanyeol.

“Aish”

“Baiklah, mohon bantuannya Chanyeol, Jongin dan Sehun” ujar Kyungsoo dengan formal.

“Kyungsoo tak perlu seformal itu” ujar Sehun.

“Santai saja ok?” Chanyeol memberikan beberepa snacknya.

“Ngomong-ngomong Kyung, kenapa kau bisa berurusan dengan Baekhyun, guru Min dan Nari?” tanya Jongin.

“Soal itu, entahlah. Aku juga tak begitu ingat. Hanya saja sepertinya aku membuat kesalahan” Kyungsoo menggaruk tengkuknya kemudian membenarkan kembali letak kaca matanya.

“ Aku tau” ujar Chanyeol.

“Kau cenayang?” tanya Sehun.

“Bukan begitu, aish. Hanya saja. Aku juga berada di tempat kejadian” terang Chanyeol.

“Lalu ?” tanya Kyungsoo.

“Kau mengambil longboard milik Nari, mencopot wig guru Min, dan menumpahkan minuman pada seragam Baekhyun” Chanyeol menjelaskan dengan tenang.

“Apa? Jadi itu yang membuat mereka marah padaku?! Itu kan tak sengaja. Mana aku tau itu longboard miliknya, dan mana aku tau jika guru Min itu memakai Wig, dan untuk urusan Baek siapa lah itu. Aku tak sengaja!”.

“Itu bisa dipahami, tenanglah” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo.

“Tunggu! Kau bilang guru Min memakai Wig?! Jadi selama ini beliau botak?! Haha” Sehun tertawa terpingkal.

“Oh Sehun, pelankan suaramu, kau ingin mati huh?” gumam Jongin.

“Maaf hanya saja, aku tak sanggup membayangkannya” Sehun menyeka air matanya. Sepertinya ia sangat senang.

“Ck, dasar bocah ini. Lalu untuk Baekhyun. Kami sarankan, kau jangan lagi berurusan dengannya” ujar Chanyeol.

“Kenapa?” Kyungsoo menjadi penasaran.

“Entahlah, disekolah ini tak ada yang berani mendekatinya, walau ada hanya beberapa. Dan menurut kabar yang ku dengar, dia itu salah satu anggota mafia” ujar Jongin.

“Mustahil” gumam Kyungsoo.

“Jong, jangan menyebar hoax” kali ini Sehun berpendapat.

“Aku hanya mengeluarkan pendapat dari apa yang ku dengar” gerutu Jongin.

“Itu sama saja hoax Jong, jika kau belum tau fakta sebenarnya. Dan untuk Nari, kami sarankan kau untuk segera minta maaf” Chanyeol memberi pendapat dan diangguki kedua temannya.

“Memang kenapa?” Kyungsoo menampilkan wajah inoncennya.

“Pertama, itu loangboar kesayangannya yang ia beli dengan susah payah” Sehun mengacungkan 1 jarinya.

“Kedua, kau telah mengambil dan merusaknya” Jongin membentuk tanda peace dengan jarinya .

“Itu tak sengaja” sanggah Kyungsoo.

“Kami tau tapi Nari tidak mau tau” ujar Sehun.

“Dan yang terakhir, jika dia marah, maka dia seperti malaikat kematian, tamat riwayatmu” Chanyeol bergidik, Sehun dan Jongin mengangguk disertai postur memotong leher mereka dengan salah satu tangan.

“Aku juga memang berniat untuk meminta maaf jika sudah tenang” jelas Kyungsoo.

“Itu baru namanya pria sejati” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo kembali.

“Ngomong-ngomong Kyung, kami lihat sepertinya kau jago sekali bermain longboard, kau pro ya?” tanya Sehun antusias begitu pula Jongin. Matanya terlihat berbinar.

“Itu kali pertamaku bermain” Kyungsoo mengambil snack Chanyeol yang berada disampingnya.

“APA?!!”

***

Entah hanya perasaan Kyungsoo saja atau memang benar, sedari tadi ia merasa Baek siapalah tadi yang disebut Chanyeol memandang tajam ke arahnya. Pelajaran sedang berlangsung dan ia tidak bisa menengok kebelakang, ia tak ingin terkena kesialan lainnya hingga diusir dari kelas.

Entah guru Min memang masih dendam padanya atau tidak, beliau menempatkan Kyungsoo di depan Baekhyun dan di belakang Nari. Membuat Kyungsoo merasa kurang nyaman.

Sampai akhirnya pelajaran berakhir dan ia bisa bernafas lega. Setelah guru meninggalkan ruangan ia segera berbalik pada Baekhyun.

“Bukankah aku sudah minta maaf, kenapa kau terus mellihatku dengan tatapan membunuh?” tanya Kyungsoo. Seketika perhatian seluruh kelas berpusat pada mereka.

“Cih, kau peka juga rupanya. Tapi urusan kita belum berakhir” dan Baekhyun memecah ketegangan itu dengan meninggalkan kelas.

Kyungsoo hanya menghela nafas, sepertinya akan sulit untuk kedepannya, pikir Kyungsoo. Ia melirik Nari di depannya dan mengambil longboard yang berada disamping mejanya.

“Maaf, Nari-sii” ujar Kyungsoo.

Nari menoleh dengan pandangan sadis “Apa? Kau mau mencuri barang apalagi?” ujarnya beruntun.

“Bukan begitu, ini (Kyungsoo menyerahkan Longboard milik Nari) aku tak sengaja memakainya karena terjatuh” Nari segera menarik Longboard miliknya.

“Longboardku” pekiknya senang. Ia segera menarik longboard miliknya dan memeluknya.

“Dan maaf, rodanya menjadi aus setelah ku pakai” Kyungsoo bergumam pelan. Tapi Nari masih bisa mendengarnya. Seketika matanya yang tertutup menjadi terbuka lebar.

“APA?!” Teriaknya lantang. Dan teriakannya berhasil membuat seisi kelas memandang kembali Kyungsoo.

“Tenang saja, aku akan menggantinya” ujar Kyungsoo menenangkan.

“Kau. HARUS! Itu sudah kewajibanmu! Perbaiki ini, aku tidak mau tau” Nari kembali menyerahkan Longboard miliknya pada Kyungsoo. Setelah itu ia mengambil tasnya dan melangkah keluar, namun belum sempat mencampai pintu ia berbalik kembali “Kau! Secepatnya kembalikan itu!” tunjuk Nari pada Kyungsoo , setelah melihat Kyungsoo mengangguk ia akhirnya keluar kelas.

“Ini akan sulit” Kyungsoo menghela nafas. Hari ini membuatnya frustasi.

***

Baekhyun memasuki lorong yang sangat sempit, sepertinya itu jalan buntu. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Yo, Baek kau sampai?” tanya seseorang. Baekhyun tak menjawab. Ia berjalan dan duduk di samping pria yang bertanya padanya tadi.

“Gawat!” seseorang berlari ke arah mereka dengan sempoyongan.

Baekhyun mengerenyit, “Ada apa?” tanya pria di samping Baekhyun.

“Daniel, Daniel dipukuli pria berjas hitam” ujar pria yang datang tadi.

“APA?!”

“Kita kesana” Baekhyun segera beranjak dari tempatnya.

Sepertinya kali ini Baekhyun dan kawannya salah memilih lawan. Daniel sudah babak belur, bahkan temannya yang lain sudah tak sanggup. Baekhyun harus membawa orang-orang itu menjauh dari temannya. Ia mengambil sebuh balok yang terjangkau dan memukul salah seorang pria berjas hitam itu hingga tumbang dan mengelurkan darah. Pria berjas lainnya melihat Baekhyun, namun Baekhyun dengan cepat berlari dari sana.

“BAEK!” Teriak teman-temannya.

***

Inilah yang membuat Kyungsoo kesal jika tinggal bersama dengan kakaknya. Joohyun selalu seenaknya menyuruh ini itu. Kali ini Kyungsoo terpaksa keluar malam, tidak terlalu malam juga karena ini masih pukul 09.00 Pm. Hanya untuk membelikan Joohyun pembalut. Kyungsoo bisa saja menolak, tapi uang bulanannya akan disita Joohyun. Ia masih butuh uang untuk memperbaiki longboard Nari. Jika tidak ingat hal itu ia sudah diam di kamar saat ini bermain game.

Dengan menahan malu yang luar biasa akhirnya ia berhasil membeli apa yang dipinta kakaknya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekumpulan orang, awalnya ia akan mengabaikannya tpi setelah melihat dengan jelas siapa yang sedang dihajar oleh mereka. Dengan mantap kedua kakinya melangkah menuju kerumunan itu.

“YAK!” teriaknya. Beberpa pria tinggi dengan jas hitam berbalik melihat Kyungsoo.

“Mau apa kau boc . . “ BUAGH. Perkataan pria tadi terhenti karena Kyungsoo menghajarnya dadakan dan membabi buta.

“Ish, bocah pengganggu lainnya. Hajar dia!” dan berakhir dengan pria berbadan besar itu melawan Kyungsoo. Mengabaikan seseorang yang sudah babak belur dihajar oleh mereka tadi.

Buk, karena sudah tak tahan pria babak belur itu terbaring di tempat, bahkan matanya sudah akan tertutup namun samar-samar ia bisa melihat seseorang dengan setelan hodie dan trening serba hitam sedang bertarung, hingga matanya benar-benar terpejam.

TBC

 

Advertisements
Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #10

​Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joonmyeon (Suho Exo), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok (Xiumin Exo), Zhang Yixing (Lay Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Johyun (Irene Red velvet)
Chapter 10
Suara riuh para suporter bergema di seluruh penjuru aula. Namun hal tersebut tidak menghilangkan kegugupan bagi sebagian orang di tengah ruangan sana.

“Kau gugup?” tanya seorang pria yang sudah lengkap menggunakan seragam tempurnya.

“Tentu saja! Kau pikir kau tidak huh? Bahkan dari tadi aku melihatmu bolak balik ke toilet” hardik sang gadis.

“Ey, Chorong-a. Kau tau sendiri bukan jika aku gugup maka perutku menjadi bermasalah. Itu sudah menjadi ritwalku dalam bertanding” pria tersebut yang ternyata Eunkwang berujar seoalah itu adalah kebanggaan untuknya.

“Heol, terserah apa katamu” Chorong meninggalkan Eunkwang lebih dulu berjalan menuju arena.

“Ya! Kau ini. Tunggu aku” Eunkwang mengejar Chorong mensejajarkan langkahnya.

“Apa kekasihmu datang?” tanya Eunkwang menyelidik.

“Aku tak peduli” ujarnya.

“Ck, sebenarnya kalian pacaran atau tidak sih, atau jangan-jangan kau masih belum bisa move on dari dia” tebak Eunkwang.

Deg

“Kau ini cerewet sekali, satu lagi. Jangan pernah menyebutkannya lagi” mood Chorong tirun drastis akibat perkataan Eunkwang. Benarkah ia masih belum bisa melupakannya?

“Kau yang bernama Chorong?” tanya seorang wanita. Sepertinya salah satu lawan mereka nanti, melihat dari seragam yang dikenakannya itu merupakan salah satu lawan terberat mereka.

“Ya, dan ada perlu apa denganku?” 

“Hanya sekedar menyapa dan melihat seseorang yang akan ku kalahkan nanti. Ah dan semoga wajahmu nanti akan baik-baik saja” ia menepuk bahu Chorong dan melewatinya. Chorong mengerenyit. ‘Apa yang dikatakannya tadi? Kalah. Heol, tak semudah itu’.

“Hey, jaga ucapanmu! Lihat saja nanti huh!” teriak Chorong penuh emosi. Sedangkan sang objek teriakannya hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.

“Chorong-a, entah mengapa aku mempunyai firasat buruk” ujar Eunkwang.

“Ck, kau berlebihan. Ayo! Pelatih sudah menunggu. Tak akan ku maafkan dia karena meremehkanku” Chorong mengepalkan tangannya kuat.

“Semoga saja firasatku salah” Eunkwang menghela nafasanya dan berjalan mengikuti Chorong. 

Seseorang yang bersembunyi di balik salah satu lorong tersenyum menyeramkan. “Kita lihat saja Park Chorong. Ini akan menjadi tontonan yang menarik”.

***

“Apa pertandingannya masih lama Nonna?” tanya Chanyeol pada gadis di sampingnya. Ia sudah menggunakan ikat kepala dan membawa balon panjang di kedua tangannya. 

“Sepertinya sebentar lagi” Irene melihat jam tangannya. “Yeol, apa penampilanmu tak berlebihan. Ini pertandingan Taekwondo bukan bola”  ujar Irene.

“Ey, ini masih tak ada apa-apanya dibandingkan ayah dan ibuku nanti” ujar Chanyeol.

Irene mengerenyit, apa keluarga temannya ini ada yang normal. Tapi apa pedulinya itulah keunikan mereka dan Irene suka. “Lalu dimana ayah dan ibumu?” tanya Irene. 

“Mereka akan menyusul” Irene hanya mengangguk. Chanyeol mengedarkan pandanganya. “Hyung sebelah sini!” ia melambaikan tangannya. Irene melihat arah pandang Chanyeol.

“Apa belum dimulai?” tanyanya setelah berada di hadapan Irene dan Chanyeol.

“Sepertinya sebentar lagi, ah halo sunbae” sapa Chanyeol ketika melihat Xiumin. Irene pun ikut menyapa. 

“Panggil hyung saja agar akrab. Dan kai boleh memanggilku Xiumin jika mau” ujar Xiumin pada Chanyeol dan Irene. Mereka mengangguk.

“Tapi apa kalian melihat Yixing?” tanya Xiumin. 

“kami belum melihatnya” Chanyeol dan Irene menggeleng.

“Aneh sekali, bukankah dia yang lebh dulu masuk” ujar Suho. 

*** 

“Permisi permisi” seorang pria dengan bawaan yang cukup banyak berjalan melewati para penonton.

Setelah menemukan tempat yang pas ia duduk di tempat itu. “Apa pertandingannya sudah mulai?” ia bertanya pada orang di sampingnya.

Yang ditanya hanya menggeleng. 

“Baguslah. Tapi kemana Umin hyung dan Joonmyeon?” Yixing melihat sekeliling kemudian mengedikan bahu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Bisa kalian pegang ini?” pinta Yixing. Beberapa orang yang heran dengan kelakuan Yixing hanya menurut tanpa berkata apapun. Yixing kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengikatnya dikepala dengan tulisan ‘Zhang selalu mendukungmu’. Dan kembali mengeluarkan sesuatu. Ia mencoba alat itu “tes tes” dia mengangguk yakin. 

“Bentangkan!” ujar Yixing. Semua mengerenyit. “Ayo bentangkan apa yg kalian pegang” titahnya. Mereka yang dimaksud Yixing menurutinya dan terpangpanglah tulisan “Park Chorong Fighting!!!” dengan gambar Yixing membawa pom pom.

“Park Chorong Fighting!” teriaknya menggunakan toa. 

“Permisi” ujar seseorang disebelahnya.

“Apa? Kau tak lihat aku sedang sibuk. Jika ingin berkenalan nanti saja” ujar Yixing dan kembali meneriaki Chorong.

“Bukan itu” orang tersebut menahan kesal.

“Lantas apa? Menyatakan cinta? Maaf tapi aku tak suka padamu kita baru bertemu” tutur Yixing.

“Ya!” habis sudah kesabaran orang itu. “Aku hanya ingin mengatakan KAU SALAH TEMPAT, SUPORTER SEKOLAHMU DISEBRANG SANA! INI SEKOLAH LAWANMU! AISH JINJJA”. Yixing mengerejapkan matanya.

“Aish, harusnya aku sudah menduga ini. Yixing ayo, kau salah tempat. Maaf semua. Permisi permisi” Xiumin dan Suho segera membawa Yixing dari sana sebelum semua orang menyerangnya.

*** 

“Memalukan” gumam Chorong dari arah arena ketika melihat kejadian tadi.

“Hahaha Park aku kira tadi orang tuamu, ternyata kau membawa suporter baru haha” Eunkwang tertawa terpingkal.

“Berhentilah tertawa atau kau akan terkena usus buntu” hardik Chorong.

“Kalian siap? Kita akan memulainya” ujar pelatih.

“Nde~” koor semua anak.

*** 

“Haha Lay hyung kau benar-benar haha” Chanyeol menghapus air matanya, bahkan perutnya sakit menertawakan Lay.

“Dasar  bodoh” ujar Irene. Sedangkan Lay hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Giliran Chorong kapan?” tanya Suho pada Chanyeol.

“Setelah ini, aku harap dia tak akan terluka terlalu parah” Chanyeol menatap kedepan. Fokusnya hanya pada sang kakak yang sedang menunggu gilirannya di tengah sana.

“Ku harap juga begitu” namun entah mengapa Suho memiliki firasat lain dan ini terasa sangat buruk.

“Apa ayah dan ibu terlambat?” tanya nyonya Park.

“Tidak bu, nonna baru akan mulai setelah ini” ujar Chanyeol.

“Syukurlah, mari kita mulai” tuan Park mengeluarkan sesuatu. 

“Woah, ahjushi kau membawa itu juga” teriak Lay. Tuan Park melihat orang yang bicara tadi. “Kau pendukung anakku. Baiklah mari lakukan bersama” tuan park sudah membentangkan spanduk bersama Lay dan nyonya Park. Bahkan mereka mulai berteriak heboh.

Xiumin dan Suho yang melihat hanya bisa melebarkan mulutnya, “Biasakanlah, ini akan sering terjadi” Ujar Irene. “Benar bukan apa yang ku katakan tadi Nonna” Ujar Chanyeol pada irene.

*** 

Chorong mengikat kuat sabuk seragamnya. Ia berjalan menuju tengah arena. 

“Kalian Siap?” tanya sang wait.

“Kapanpun” ujar lawannya dengan angkuh.

Mereka membungkuk memberi salam dan membuat kuda-kuda. “Mulai!” ujar sang wasit.

Pukulan dan tendangan dilancarkan. Beberpa ada yang bisa di tepis ada pula yang tidak sehingga menghasilkan poin bagi keduanya.

Entah sengaja atau tidak tapi lawan dari Chorong mengenai bagian yang dilarang sehingga membuat Chorong sedikit meringis. Entah sang wasit tak melihat atau apa tapi itu tidak menjadi pelanggaran.

Serangan kembali dilayangkan pada Chorong, kali ini tendangan dan itu mengenai samping wajahnya membuat tubuhnya tersungkur dan lawan mendapatkan point.

“Ugh” Chorong kembali bangkit, ia melayangkan pukulan dan kali ini mengenai lawannya. Ia tersenyum puas point ia dapat.

Suho menyatukan kedua tangannya dan berdoa di dalam hati. Entah mengapa ia sangat gusar.

“Hyung, percayalah nonna itu kuat” Chanyeol menenangkan.

“Aku tau, hanya saja . .” 

“Argh!!!” teriak seseorang dari tengah arena. Suho membulatkan matanya. “Nonna!” teriak Chanyeol.

Chorong merintih sambil memegang kakinya. Entah apa yang terjadi tp wasit menganggap itu bukan pelanggaran. Suho semakim cemas. Lain halnya dengan seseorang di belakang sana yang sedang tersenyum puas. 

“Rasakan itu Park, Sudah ku katakan jauhi milikku atau kau tau sendiri haha”.

Suho ingin berlari kesana tapi ditahan Chanyeol. Ia menatap tajam Chanyeol seolah berkata ‘Kenapa kau menahanku?!’ namun Chanyeol menunjuk pada arena pertandingan. Suho melihat itu, Chorong kembali bangkit.

“Akan ku balas kau” gumam Chorong ketika bangkit dengan menahan rasa sakitnya.

“Wah wah, kenapa tak menyerah saja? Agar kau tak terluka huh” ejek lawannya.

“Tutup mulutmu!” Chorong mengepalkan tangannya. 

“ups maaf haha “

“Kau tak apa?” Chorong mengangguk. “Mulai”.

Kali ini Chorong tak bisa menahannya. Ia kerahkan seluruh tenaganya. Serangan pukulan dan gerkan lainnya yang ia pelajari ia lakukan. Membuat sang lawan sedikit kepayahan. Dengan sekuat tenaga ia melakukan tendangan terakhir dan . .

Buagh

Lawan tumbang dihadapannya. Tak sampai pingsan hanya tal bisa bangkit.

Wasit memberi tanda dan Chorong dinyatakn sebagai pemenangnya. “Ups maaf” ujar Chorong pada lawannya.

“Dasar tak berguna! Ayo pergi!” gadis dengan wajah oriental melempar umpatan dan pergi meninggalkan gedung diikuti beberpa bodyguardnya. Tanpa menyadaro sepasang mata malailat yang berubah menjadi iblis “Rion” ia mengepalkan tangannya.

*** 

Dengan kemenangan Chorong maka team putri dimenangkan oleh sekolahnya. Sedangkan untuk pria mereka harus puas berada di posisi ke dua.

Setelah serah terima mendali semua orang mengerubunginya.

“Nonna!!”

“Chorongie”

“Chorong-ah”

“wah wah kalian benar-benar datang?” sapa Chorong. 

“Anak ayah kau hebat sekali” Tuan park memeluk anaknya. “Akh” “Astaga maafkan ayah jika sakit. Mana yang sakit?” sang ayah memeriksa anaknya. “Haha aku tak apa appa” ujarnya bohong. 

Semua tertawa terkecuali Joonmeyon. Wajahnya sangat datar. 

“Myeonie, setidaknya katakan sesuatu” Xiumin mendorong adiknya mendekati Chorong. 

“Kau datang?” ujar Chorong. Tak ada jawaban. “Bahkan aku sudah bilang tak perlu” lanjutnya. 

“Tumben sekali kau menjadi pendiam. Baguslah” Chorong masih bersikap biasa saja.

“Apa sakit?” Suho akhirnya membuka suara.

“Apa maksudmu? Aku baik-baik .. “ tubuh Chorong sedikit oleng. Bahkan keringat sudah bercucuram di pelipisnya. Jika Suho tak menahannya maka Chorong akan jatuh bebas ke lantai.

“Kau bohong” Suho merengkuh Chorong.

“Aku hanya tak kuat lagi” 

Brugh

“Chorong!”

“Nonna!!!”

Chorong dan Suho terjatuh. Suho masih menahan tubuh Chorong sedangkan sang gadis sudah tak sadarkan diri.
To be continue . .
Huahhhh . . alur apa ini . . !!! 

Aku belum punya ide lagi. Mohon bersabar.
Tidak susah bukan meninggalkan jejak komentar dibanding membuat cerita (^^).

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #9

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Poster by erinaael.

Story is my mine. Don’t be plagiat.
Chapter 9
Kalian tau apa yang paling mengerikan untuk seorang pelajar bahkan mahasiswa sekalipun? Ya, tugas akhir, ujian dan teman-temannya. Selain menyita waktu dan tenaga ini juga sangat menyita seluruh pikiran kita.

Jika para siswa pada jam istirahat berada di kantin atau lapangan maka jika waktu ujian tiba mendadak penghuni perpustakaan bertambah. Jika siswa rajin dan kutu buku biasanya menjadi seorang yang terasingkan maka mereka mendadak menjadi populer. Bukan karena apa, hanya saja catatannya lah yang menjadi incaran.

Untuk para siswi yang biasanya berdandan maka mereka terlihat seperti zombi dengan kantung hitam pada matanya dan berjalan seperti mayat hidup karena kekurangan waktu tidur.

Untuk siswa tingkat akhir seperti Xiumin maka bebannya terasa dua kali lipat. Bukan hal yang mudah mempertaruhkan waktu tiga tahun hanya pada beberapa soal.

Chorong berjalan dengan gontai menuju bangkunya, sang sahabat memandanginya bingung.

“Ada apa denganmu?” tanyanya pada Chorong ketika gadis itu sudah berada di bangkunya.

“Aku butuh tidur, kenapa harus ada matematika sih?!” gerutunya.

“Ck, dia mulai lagi” gumam Irene.

Ya hari ini anak tingkat 2 sedang melangsungkan ujian dan sialnya itu adalah pelajaran matematika. Menghitung bukan keahlian Chorong. 

Disisi lain, Suho dan Lay sedang berjalan menuju kelas mereka. Untung saja perban di tangan Suho sudah bisa dibuka sebelum ujian dimulai.

“Xing, ku pikir kau yang paling tenang untuk ujian kali ini” Suho membuka suara, pasalnya teman disampingnya ini tidak menunjukan wajah gelisah atau frustasi seperti yang lain.

“Tidak juga, aku sudah belajar. Jika aku tak bisa maka prinsipku memilih pilihan ke 4” tutur pria berdimple itu.

“Jika 3 pilihan?” tanya Suho memasuki kelasnya disusul Lay.

“Ya pilihlah yang terakhir” Lay menggeser bangkunya dan duduk setelah meletakan tasnya.

“Jika itu semua esay?” tanya Suho yang kali ini sedang mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

Mata Yixing terbelalak “Heol, aku tidak memikirkan hal itu” ia mengacak rambutnya frustasi. Suho yang melihat menggelengkan kepalanya. 

Yixing melihat Suho dengan puppy eyesnya. “Myeonie” panggilnya. Suho bergidik, ia merasa akan ada hal buruk. Ia berbalik pada Yixing.

“Bantu aku ya ya ya” pintanya.

“Shireo, kerjakan sendiri!” tolak Suho.

“Yak! Dasar Kim Joon Myeon si manusia pelit. Ku sumpahi kau tidak bisa bersama Chorongie!” koar Yixing dan kembali duduk di bangkunya.

“Yak!” 

Ya, seperti itulah persahabatan mereka.
*** 

sekolah terasa sangat tenang ketika para siswa mengerjakan ujian. Ada yang sangat serius mengerjakan, stes tidak bisa menjawab, mencontek bahkan yang paling pasrah dari itu semua adalah tertidur.

Guru yang mengawas terlihat sangat menyeramkan. Pandangan matanya terasa seprti elang yang mencari buruan. Jika dia sudahendapatkannya maka tamatlah riwayat kalian. Keluar kelas bukan lagi sebuah pilihan.

“Waktu kalian 5 menit lagi” ujar guru Min setelah melihat arlojinya.

Anak-anak terperangah, sebisa mungkin mereka mengisi, yang semula tertidur melihat sekeliling. Chorong salah seorang di dalam kelas itu menggaruk kepalanya frustasi. Ia baru mengisi setengahnya. Karena masalah waktu maka sisanya ia memilih jawaban terakhir.

“Kumpulkan” ujar sang guru. 

Para murid berbondong bondong menuju meja guru dan menyerahkan lembar jawaban mereka. 

“Sudah semua? Baiklah saya permisi” guru Min meninggalkan kelas setelah para murid memberi salam dan ucapan terima kasih.

Chorong langsung terkulai di mejanya. Tenaganya habis. Irene mendekatinya “Kau mau ke kantin?” tanya Irene. 

“Tidak, aku menitip saja padamu, aku ingin tidur kepalaku rasanya siap mengeluarkan asap” timpal Chorong.

“Haha kau berlebihan, baiklah tidur yang nyenyak. Tunggu aku kembali” Irene menepuk kepala Chorong. Dan dibalas Chorong dengan gumaman.
*** 

Suho, Lay serta Xiumin sedang berjalan menuju kantin. “Bagaimana ujianmu Xing?” tanya Xiumin. 

“Biasa saja hyung, yang tidak bisa aku kerjakan maka aku menghitung kancing saja” ujar Lay. Xiumin dan Suho tergelak.

“Tidak ada yang lucu kawan, kalian sangat menyebalkan” Lay berjalan lebih dulu ketika mereka sudah berada di kantin. Xiumin dan Suho masih terkikik dibelakang.

“Bibi, aku ingin jjangmyeon” pesan Lay pada bibi kantin.

“Baiklah, akan bibi tambahkan ekstra untukmu” ujar bibi kantin. “Uh, bibi jjang” Lay membuat gestur hebat dengan ibu jarinya.

“Bibi, kenapa kau memberikannya ekstra tapi aku tidak?” tanya seorang wanita di samping Lay. 

“Karena dia anak yang baik” bibi kantin membawa semangkuk jjangmyeon pada Lay. “Ini” Lay menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih” balas Lay setelah mengambil pesanannya.

“Memangnya aku tidak baik?” tanya gadis itu memberengut.

“Kau baik Irene, tapi Lay lebih baik lagi” senyum terukir di wajah sang bibi. Lay menjulurkan lidah. Irene memberengut.

“Irene, kau sendiri?” tanya Xiumin setelah ia sampai di dekat Lay. “Bibi, aku ingin ttopoki” pesan Xiumin, bibi kantin membuat gestur ‘ok’.

“Ah, hallo sunbae” Irene memberi hormat, bagaimana pun Xiumin adalah seniornya. “Iya, aku sendiri” lanjut Irene.

“Dimana Chorong?” tanya Suho sambil melihat sekitar. Itu kata yang akan dilontarkan oleh Xiumin namun keduluan oleh sang adik. Irene terkikik.

“Sebegitu rindunyakah tuan Kim ini pada sang kekasih, padahal belum sehari” goda Irene. Lay dan Xiumin menahan tawanya.. 

“Bukan begitu” sangkal Suho.

“Lalu?” Irene masih menggodanya.

“Hanya saja tidak biasanya ia tidak berada di kantin pada jam istirahat, ya kau tau sendiri bukan. Ia mudah lapar” Irene tersenyum dengan penjelasan Suho. 

“Wah, kau sudah begitu mengenalnya ya. Chorong, ia berada di kelas, ia bilang butuh tidur, otaknya akan mengeluarkan asap jika ia tak istirahat itu yang ia bilang padaku. Ya kau tau sendiri bukan ia seperti apa soal pelajaran” jelas Irene.

“Aku setuju dengan pendapat Chorong” ujar Lay dari salah satu meja, ia sudah mendapatkan tempat. Malah dia sudah memasukan jjangmyeon ke mulutnya. Xiumin yang sudah menerima pesanannya duduk bersama Lay.

“Ck, kau sama saja. Aku akan ke kelasnya” ujar Suho. Beranjak dari kantin.

“Tunggu, bolehkah aku menitip ini pada Chorong. Dia belum makan” Irene menyerahkan sandwich dan susu pisang pada Suho.

“Tentu, terima kasih” setelah ituia benar-benar meninggalkan kantin.

“Irene, bergabunglah dengan kami” Xiumin melambaikan tangannya pada Irene. “Apa boleh sunbae?” tanya Irene. “Kenapa tidak, kemarilah” Irene segera mendekati meja mereka dan duduk di sana bersama Xiumin dan Lay.

“Apa kalian tidak keberatan jika bertambah satu orang lagi?” tanya seseorang dengan nampan di tangannya. Mereka menoleh bersama. “Eoh, Chanyeol. Tentu saja. Kenapa tidak. Ayo duduk” Chanyeol menampilkan cengirannya dan duduk di samping Irene. “Nonna, kemana Chorong nonna?” tanya Chanyeol.

“Kau tau sendiri seperti apa kakakmu jika menghadapi ujian. Ia tertidur di kelas” jawab Irene. 

“Haha pasti kapasitas otaknya overload, apa dia sudah makan? Ia belum sarapan tadi” Chanyeol sedikit khawatir.

“Tenang saja, Suho akan menemuinya dan dia sudah membawa makanan” Balas Xiumin kemudian kembali menyuapkan makanan.

“Baguslah, tak salah aku menyetujuinya” ujar Chanyeol. Ia mengambil sumpit dan menyuapkan makanan ke mulutnya. “Wah ini enak” ujar Chanyeol.

“Tentu saja. Masakan bibi kantin yang terbaik” bangga Lay.
*** 
Suho memasuki kelas Chorong, sebagian siswi terpana sebagian siswa menghindar dan sisanya setelah kaget kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia menghampiri bangku dimana gadisnya sedang tertidur dengan sebelah tangannya sebagai bantalan. Suho tersenyum dan duduk di depan bangku Chorong. Namun posisinya mengadap pada Chorong. Ia memegang salah satu jemari Chorong.

“Aku masih ingin tidur Irene” balasnya tanpa berkeinginan mengangkat kepalanya.

“Sebegitu mengantuknya kah kau?” suara itu bukan Irene. Chorong mengenalinya. Itu suara pria menyebalkan yang mengganggu waktu istirahatnya. Ia menegakan tubuhnya.

“Pergilah Kim, aku ingin istirahat” usir Chorong. 

“Jika ingin tidur di rumah bukan di sekolah. Apa matematika sangat menyita otakmu” ejek Suho.

“Ck, berhetilah mengejekku. Kau pikir siapa yang mengganggu waktu istirahatku setiap malam hanya untuk menyuruhku belajar huh?” wajahnya penuh emosi.

“Itu juga untuk kebaikanmu” balas Suho dengan tenang.

“Kebaikan kepalamu, kebahagian untukmu siksaan untukku” serapah Chorong.

“Haha kau berlebihan” inilah hobi Suho yang lain, menggoda Chorong.

“Pergilah Kim, aku ingin tidur. Masih ada waktu sebelum ujian berikutnya” Chorong bersiap meletakan kepalanya di meja lagi namun Suho menahannya.

“Makanlah dulu, ini titipan Irene. Kau belum makan bukan?” Suho menyerahkan sandwich dan susu pisang tadi. Seketika mata Chorong berbinar.

“Terima kasih” Chorong mengambil sandwich dan segera memakannya. Cacing di perutnya sudah berorcestra. Suho mengangguk.

“Makanlah perlahan, kau seperti tidak makan sebulan” ejek Suho.

“akhu suhduah luapar (aku sudah lapar)” ujarnya dengan mulut penuh.

“Telan dulu, kau ini. Dasar jorok” Chorong tak peduli. Sandwich lebih penting dari pada Suho.

“Kau mau?” tawar Chorong. 

“Tidak usah, ku pikir itu pun tak cukup untukmu” ujar Suho. Chorong hanya menyengir.

“Kapan pertandinganmu?” tanya Suho setelah Chorong selesai menghabiskan sandwichnya. 

“Dua hari setelah ujaian selesai. Memangnya kenapa?” Chorong meminum susunya.

“Tidak apa, aku akan melihat” ujar Suho.

Uhuk

Chorong tersedak susu bahkan sebagian ada yang keluar. Ia menepuk nepuk dadanya. Suho membantu menepuk punggungnya. “Kau tak apa?” tanya Suho khawatir.

Chorong sudah sedikit lebih baik “Aku baik, dan untuk pertandingan. Kau tak perlu datang”.

“Aku tak perduli pendapatmu, aku tetap akan melihat” 

“Yak!” 

“Lalala aku tak dengar” Suho menutup telinganya.

“Dasar Kim menyebalkan!” 

“Berhenti menggerutu Park!”

Tanpa mereka sadari. Mereka sudah menjadi perhatian bagi orang-orang di lelas Chorong. Dan tanpa mereka duga. Ada seseorang yang sedang tersulut emosi.
To be continue . .
Bukan hal susah kan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #8

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Chapter 8
Yixing termenung di pinggir trotoar ketika Xiumin dan Suho menghampirinya.

“Yixing” panggil pemuda yang lebih tua.

Reflex tubuh Yixing berbalik, liquid bening hampir saja keluar dari kedua matanya. “Hyung . . “ Yixing segera berlari menghampiri kedua kakak beradik Kim dengan merentangkan kedua tangannya. Rasa gembira bisa bertemu dengan mereka tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Sampai di hadapan Xiumin ia segera memeluk pria dengan pipi bakpau tersebut. “Hyung, aku merindukanmu. Terima kasih telah menemukanku” girangnya memeluk Xiumin dengan melompat-lompat bak bocah yang bertemu lagi dengan teman lamanya.

“Uhuk, Ching lepas, aku tak bisa bernafas” Gumam Xiumin.

“AH, maaf” Yixing melepaskan pelukannya dan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Rindu kepalamu, kau hanya berpisah dari kami sekitar 4 jam Xing” Gerutu seseorang di samping Xiumin.

“Omo, Myeon! Aku juga merindukanmu” Yixing bersiap memeluk Suho, namuan niatnya tertahan oleh perintah Suho.

“Kau tak lihat lenganku!” bentak Suho.

“Astaga apa yang terjadi?” kaget Yixing. 

Suho memutar bola matanya “Kau lupa kenapa aku menyuruhmu untuk mengambil motorku?”.

Yixing berpikir sejenak “Ah Ya! (Ia menepuk lengannya seperti teringat akan sesuatu). Maaf aku lupa. Lalu bagaimana dengan Chorong?” tanya Yixing.

“Ia baik” balas Suho.

“Cha . . ceritanya dirumah saja, hari semakin larut” Xiumin memberi saran dan menyuruh salah satu pegawainnya untuk membawakan motor Suho.

“Benar, ceritannya di rumah saja. Perutku sudah minta diisi. Go go go kita pulang!” Yixing dengan penuh semangat berjalan mendahului kedua kakak beradik itu. Di pertigaan ia dengan semangat berbelok ke kiri sambil berseru “Ayo pulang, ayo pulang!”.

“Yixing, kanan!” teriak Xiumin.

Dengan secepat kilat ia berbelok lagi ke arah kanan masih dengan berseru “Ayo pulang!”.

Xiumin menggelengkan kepalanya. Suho menghela nafas. ‘ Kapan temannya ini normal’ pinta mereka dalam hati.

***

Koridor sekolah sudah dipadati beberapa siswa. Termasuk Chorong dan Irene yang Sedang menuju kelas mereka. Namun seseorang menghalangi langkah keduanya.

Irene memandangnya jengah, Chorong bahkan sudah berwajah datar. “Ada apa lagi?” Tanya Chorong pada orang tersebut.

“Urusan kita belum selesai!” Ujarnya lantang. Membuat mereka menjadi pusat perhatiaan. Chorong benci ini. ia menghela nafas. Baru saja Irene akan membalas anak itu namuan Chorong sudah lebih dulu maju menghampiri gadis keturunan Jepang tersebut. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Aku tau, kemarin juga perbuatanmu. Jika kau melakukankan hal yang lebih jauh dari kemarin. Maka tamatlah riwayatmu” bisik Chorong di telinga Rion. Sang gadis keturunan Jepang itu sedikit membola. Chorong menepuk pundaknya dan melewatinya. Irene berlalu melewatinya untuk menyusul Chorong.

Rion masih membeku. Semua orang kembali pada aktifitasnya. Tanpa Rion sadari seseorang mendekatinya. Ia mengangkat wajahnya “Oppa” ujarnya.

“Berhenti melakukan hal yang aneh-aneh atau kau akan tau akibatnya” Ujar Suho kemudian meninggalkannya. Ya, Suho melihat kejadian tadi.

“Chorongie~” panggil Suho. 

Bulu kuduk Chorong meremang. Panggilan macam apa itu. Batinnya. Ia melihat kebelakang. 

Disana. Beberapa meter dari tempatnya ia melihat pria yang sangat menyebalkan menurutnya sedang tersenyum bodoh dan menghampirinya. Bola matanya berputar jengah. 

“Maaf Bae, sepertinya aku harus pergi lebih dulu. Sampai bertemu dikelas bye” dan Chorong pun berlari.

“Yak!” teriak Irene.

“YAK! PARK CHORONG TUNGGU!” teriak Suho dengan mengejar Chorong.

“Tidak mau!” teriak Chorong masih dengan berlari.

Irene sedikit bingung dengan keadaan Suho yang menopang sebelah tangannya. Namun ia tidak terlalu peduli. Dan kembali berjalan menuju kelasnya.

Disisi lain, Rion masih di tempatnya melihat kejadian itu. “Awas saja kau Chorong” tangannya mengepal erat.

*** 

“Akan ku hajar pria Kim itu!” gerutu Chorong setelah mendudukan dirinya di bangku kantin. Chanyeol dan Irene dibuat melongo.

“ Ku kira kakakmu tersambet sesuatu” Ujar Irene pada Chanyeol. 

“Kurasa juga begitu nonna” Chanyeol mengangguk setuju dengan pendapat Irene.

“Yak! Kalian ini aish” sungut Chorong.

“Habisnya baru datang sudah menggerutu, ada apa?” pandangan Chanyeol menatap Chorong namun lengannya mengambil sesuatu di atas meja. Dengan gerakan kilat Chorong lebih dulu meraih benda yang diinginkan Chanyeol dan menghabiskannya secara rakus.

“ITU MILIKU!” geram Chanyeol, namun itu sia sia karena yang diletakan Chorong di atas meja tinggalah gelas kosong. Setelah itu Chorong melirik Chanyeol tajam.

Glek

“Jika kau masih haus akan ku belikan lagi” tawar Chanyeol ciut setelah melihat pandangan sang kakak.

Baru saja akan beranjak Chorong sudah mencegahnya “Tak perlu” dan Chanyeol mendudukan kembali dirinya.

“Ada apa ? cepat katakan” titah Irene.

Chorong mengambil nafas sejenak, “Kau tau? Dengan tidak biadabnya Kim Suho mengesalkan itu memeberiku tumpukan soal yang perlu dikerjakan, belum lagi tadi ia sengaja datang menemuiku untuk menyerahkan semua buku ini” tunjuk Chorong pada beberapa tumpukan buku diatas meja.

“Hanya karena itu? Heol ku kira ada apa” sesal Irene.

“Ish, aku rugi membiarkan minumanku diminum olehmu” kali ini Chanyeol yang mengeluh.

“Yak ! hari ini aku juga ada latihan untuk kejuaraan, belum lagi ada hal penting yang harus ku kerjakan lainnya” tutur Chorong yang tak terima dengan pendapat kedua mahluk dihadapannya ini.

“Memangnya apa?” tanya Chanyeol sedikit penasaran.

“Tentu saja bermain game!” ujar Chorong percaya diri.

“Heol, rugi aku bertanya padamu nonna” Chanyeol memutar bola matanya jengah.

“Aku bersukur Suho memberimu banyak tugas, setidaknya otakmu itu perlu diisi sedikit nutrisi bukan hanya game dan berkelahi” nasehat Irene.

“Kau itu temanku bukan sih, kenapa tak pernah membelaku?” Tanya Chorong.

“Sayangnya, aku harus mengaku benar” balas Irene datar.

“Yak!”

*** 

Bulir peluh mengalir di pinggiran wajah Chorong. Dengan mengenakan seragam putih itu ia melihat targetnya dengan pasti dan “Yak!” buk. Tendangannya mengenai target.

“Bagus Chorong, sebentar lagi turnamen, jagalah kesehatanmu” ujar sang pelatih. Chorong membungkuk hormat “Baiklah Seosangnim”.

“Cha, semua! Cukup untuk hari ini. berisitirahatlah” ujar sang pelatih.

“Nde, kamsahamida” ujar para murid serempak. Setelah sang pelatih undur diri semua berpencar.

“Rong-ah, pacarmu sudah menunggu tuh” ujar Eungkwang.

“Apa maksu . .” namun ucapannya terhenti ketika matanya melihat gambaran mahluk yang membuatnya kesal tadi siang.

Chorong merajut langkahnya sedikit cepat menuju sang pria. “Aigo, sebegitu rindunya kah ia, padahal belum sehari, andai saja ku punya kekasih hahh” ujar Eunkwang.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Chorong ketika langkahnya terhenti setelah berhadapan dengan sang pria.

“Tentu saja menunggumu, kau lupa jika hari ini aku harus mengajarimu” ujar Suho.

“Tapi aku sangat lelah” melas Chorong.

“Tak ada bantahan, kau tak ingin nilamu naik” ujar Suho.

“Ish, kau ini menyebalkan” Chorong berbalik meninggalkan Suho dengan menghentakan langkahnya. “Ku harap lengannya akan seperti itu terus” gerutu Chorong.

“AKU MENDENGARMU PARK CHORONG!!” teriak Suho. Chorong yang mendengar itu mempercepat langkahnya menjadi berlari. “Dasar” ujar Suho tersenyum.

*** 

“Kenapa dirumahku sih?” Tanya Chorong ketika mereka sudah memasuki bis. “Kenapa tidak boleh? Apa kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Suho. 

“Ta tak ada yang aku sembunyikan, lagi pula orang tuaku tidak mungkin . .” “ mereka sudah mengijinkan” perkataan Chorong terpotong oleh Suho. 

“Apa? Mana mungikn” 

“Tak percaya? Coba saja hubungi Chanyeol atau orang tuamu” ujar Suho.

“Baiklah” Chorong mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Tak butuh waktu lama ia sudah terhubung dengan seseorang.

“Ibu” ujarnya

“Ah, Rong-ah. Kau tau apa makanan kesukaan Suho? Ku dengar dia akan berkunjung. Aku akan menyiapkan cemilan untuk kalian. Ku dengar dia akan mengajarimu, wah tak kusangka ia murah hati ingin mengajarimu yang bebal ini”

‘murah hati apanya’  pikir Chorong.

“Ibu!”

“Cepatlah sampai, dan hati-hati di jalan, bye” dan sambunganpun terputus.

“Apa katanya?” Tanya Suho.

“Tak ada” ujar Chorong, Suho yang melihat ekspresi Chorong saat ini terkekeh. “Jangan tertawa” ancam Chorong. 

“Aku tidak” sangkal Suho.

“Kau iya” ujar Chorong. “Lagi pula kenapa kau mau naik bis?” Tanya Chorong.

“Hai gadis barbar, apa kau lupa dengan kondis tanganku” ujar Suho menunjukan lengannya yang masih terbalut perban.

“Ups, maaf aku lupa. Kenapa tak menyuruh sopirmu atau pegawaimu yang lain untuk mengantar kita?” Tanya Chorong.

“Kenapa? Kau tak mau naik bis?” Tanya Suho menyelidik.

“Tidak, aku sudah terbiasa dengan ini, hanya saja . .” ujar Chorong menggantung.

“Hanya saja apa?” Tanya Suho.

“Ku kira kau bangkrut haha” ujar Chorong.

“Heol, tak mungkin seorang Kim Suho bangkrut!” ujar Suho.

“Nde nde, tuan muda Suho saya paham” balas Chorong.

“Bagusalah jika kau paham” 

“Dasar Sombong” gumam Chorong.

“Aku mendengarmu Park” ujar Suho dan Chorong hanya menampilkan senyuman bodohnya.

*** 

“Ini masih salah, kerjakan lagi” titah Suho.

“AISH” Chorong merebut kembali catatannya.

Tok tok 

“Ya” Ujar keduanya.

“Maaf jika ibu mengganggu, ini cemilan untuk kalian. Selamat belajar” Nyonya Park meletakan nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan.’

“Terima kasih Bi” ujar Suho membungkuk.

“Tak perlu sungkan, silahkan kalian lanjutkan belajarnya. Ibu tak kan mengganggu kalian” nyonya Park kembali menutup pintu kamar Chorong. Suho kembali duduk.

“Myeonnie . . aku lelah” ujar Chorong. Oh Suho tau rengekan ini, jika Chorong sudah memanggilnya seperti ini pasti ada maunya.

“Kerjakan sebisamu, ujian sebentar lagi. Jika ada yang tidak kau mengerti baru kau bertanya. Cha kerjakan” Suho menggerakan kepala Chorong menuju lembaran Soal di meja.

“Dasar kejam” gerutu Chorong. Namun Suho tak peduli ia lebih memilih membaca buku yang berada di sebelah tangan kirinya.

Suho meletakkan bukunya “Kau sudah . .” perkataannya terhenti ketika melihat Chorong sudah terlelap menuju alam mimpinya. Suho menghela nafas “Ia benar-benar kelelahan” Suho membenarkan rambut Chorong dan tersenyum. ia beranjak dari tempatnya menuju ranjang Chorong. Dan kembali membawa sebuah selimut di tangannya. Dengan usaha semampunya ia menyelimuti Chorong.

“Kau sudah berusaha” Ia mengelus pelan kepala Chorong membuat sang gadis bergerak sedikit dalam tidurnya. Suho melihat interior kamar Chorong. Ia tak menyadarinya ketika masuk pertama kali. Kamar Chorong tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Dalam kamarnya tergantung sebuah samsak dan berjejer beberapa koleksi manga serta kaset video game. Suho menjelajahi isi kamar Chorong. Ia menjelajahi salah satu rak yang menyimpan kaset game milik Chorong. Ia mengambil salah satunya. Namun selembar kertas terjatuh dari situ.

Suho mengambilnya, ternyata sebuah Foto. Ia melihatnya secara seksama. Di foto itu terdapat Chorong dan seorang pria sedang tersenyum. Dia tidak mengenali pria ini, ini bukan Chanyeol. Lalu siapa pria ini?

Tbc

Whai para reader jujurlah kalian, apa kalian lebih menunggu part Yixing dibanding Chorong dan Suho sang pemeran utama? Haha . .

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, semoga saya bisa cepat update lagi.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo chapter 14

I Live With Satan Soo

Evina93 @2015-2017

Chapter / PG 16

Romance, Comedy.

Shin Mingi (Oc), Do Kyungsoo (EXO), Kim Seokjin (BTS), Bang Minah (GDay)

Alur cerita mungkin pasaran, don’t be plagiat, typo masih bertebaran, biasakanlah meninggalkan komentar setelah membaca.

Chapter 14
Tubuhnya memang berada di tempat ini namun pikirannya sedang melanglang buana. Itulah keadaan Mingi saat ini. Suara gaduh para pengunjung cafe, alunan musik dan perdebatan kedua pria di hadapannya ini seolah tak terdengar oleh sepasang telinganya.

Dalam pikirannya masih berkelebat bayangan Kyungsoo dan Minah sedang berciuman. Mingi tak mungkin seperti ini jika ia tidak menyukai Kyungsoo, walau hatinya selalu menyangkal hal itu tapi entah mengapa kali ini hatinya bagai di rujam oleh ribuan belati.

“Hey hitam! Ide itu sudah pasaran, coba yang lain” ujar pria tinggi dengan kulit putihnya.

“YA! Albino. Kau hanya berkomentar terus tanpa mengeluarkan pendapat, namun setiap aku mengeluarkan pendapat kau selalu menyangkalnya, aish” Jongin sang pria yang di panggil dengan sebutan hitam itu mendengus frutasi. Sudah satu jam mereka berada disini namun masih belum mendapatkan kesepakatan tentang tema yang akan mereka angkat untuk tugas kelompok kali ini.

“Bagaimana jika kita tanya saja pendapat Mingi, jadi bagaimana pendapatmu?” atensi keduanya beralih pada sosok wanita di hadapan mereka yang sedang memandang kosong.

“Mingi, Shin Mingi, Do Mingi” panggil Sehun berulang, namun tak ada sahutan dari Mingi.

“YA MINGI!” teriak Jongin frustasi. 

“Ah, apa?” akhirnya sang wanita menanggapinya. Namun Sehun berulang kali membungkuk minta maaf karena semua pengunjung sedang melihat mereka.

“Ck, bagaimana pendapatmu?” tanya Jongin kemudian.

“Soal apa?” tanya Mingi dengan pandangan bingungnya. Dan keduanya hanya bisa menghela nafas. 

*** 

Kyungsoo mencari keberadaan Sehun ketika ia sudah memasuki kedai. Kakinya bergerak mendekati tempat dimana orang yang dicarinya berada.

“Maaf, membuatmu menunggu, ada apa kau ingin bertemu denganku?” Kyungsoo mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi dihadapan Sehun.

“Aku juga baru tiba tenang saja hyung” ujar Sehun. Seorang pelayan mendatangi mereka dengan memberikan air minum. Setelah selesai dengan pesanan mereka dan sang pelayan kembali ke tempatnya untuk membuat pesanan, maka focus Kyungsoo kembali pada Sehun.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Kyungsoo menuangkan air ke dalam gelasnya.

“Tadi siang aku, Jongin dan Mingi mendatangi tempatmu dan Mingi bekerja” tutur Sehun. Pergerakan Kyungsoo terhenti beberapa detik, “Benarkah?” dan dijawab oleh pria bermarga Oh itu dengan anggukan.

“Hyung, jujur saja. Aku sudah menganggap Mingi sebagai saudaraku sendiri. Walau ia tak berkata apa-apa sedari tadi namun aku tau ia merahasiakan sesuatu” ujar Sehun serius.

“Apa maksudmu?” Kening Kyungsoo berkereut.

Sehun menghela nafas “Mingi melihatmu sedang berciuman dengan Minah” tutur Sehun final.

Kyungsoo membola, terkejut ? tentu saja. 

“Mingi seharian ini tidak focus hyung, bahkan ketika kami mengerjakan tugas ia terus saja melamun. Tadi saja ia bersikeras ingin pulang sendiri. Namun aku dan Jongin melarangnya. Apa jadinya jika ia pulang sendiri dan terus melamun” cerita Sehun.

“Lalu?” ada gurat khawatir di wajah Kyungsoo.

“Tenang saja, aku sudah menyuruh si hitam mengantarnya karena aku harus menemuimu. Jangan cemburu pada Jongin!” kalimat terakhir dikeluarkan dengan penuh penekanan oleh Sehun setelah melihat raut cemburu Kyungsoo keluar tadi. Heol, bisa panjang urusannya jika Satan Soo mengamuk.

“Aku tidak cemburu!” dengus Kyungsoo.

“Cih, dengar hyung. Aku memang lebih muda diantara kalian. Namun ku mohon renungkanlah perkataanku ini baik-baik. Jika kau benar-benar menyukai bahkan mencintai Mingi maka pertahankah dan perjuangkanlah. Jangan pernah menyakitinya. Kau tau sendiri bukan bagaimana menyakitkannya itu”.

“Eum, aku tau itu” ujar Kyungsoo dan menegak minumannya.

*** 

Daun pintu itu terbuka dan masuklah Kyungsoo ke dalamnya. Jam sudah menenjukan pukul 11.30 malam ketika ia memasuki apartemnnya.

Hening.

Itulah yang ia rasakan, dahinya mengerenyit. Biasanya pada waktu ini Mingi masih duduk manis di depan televisi menyaksikan drama favoritnya. Lalu kemana anak itu?.

Ia merajut langkahnya menuju salah satu pintu yang sedikit terbuka. Kepalanya ia sembulkan kedalam. Sosok yang ia cari sedang tertidur di atas meja belajarnya. Tumpukan buku masih berserakan di sekitarnya. Sepertinya ia kelelahan ketika mengerjakan tugas.

Kyungsoo mendekatinya. Merapikan rambut Mingi dan menyelipkan di belakang telinga sang wanita. Wajah lelapnya seolah menghipnotis seorang Do Kyungsoo. 

Kyungsoo menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Ia meletakan ranselnya di atas meja belajar Mingi. Lalu membawa tubuh Mingi ke tempat tidurnya.

Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Mingi. Namun kedua retinanya terpaku ketika melihat Kristal bening itu keluar dari sudut mata Mingi.

Sebelah tanganannya ia gerkan menuju wajah Mingi, ibu jarinya menghapus Kristal bening itu kemudian ia berbisik “Maafkan aku” dan mencium kening Mingi.

*** 

Mentari sudah berada di peraduannya, bahkan sang cahaya sudah menerobos masuk diantara gorden yang tertutup itu. Burung-burung sudah melantunkan nyanyian merdunya.

Sang wanita menggeliat dalam tidurnya. Ia ingin membuka kedua kelopak matanya namun kenyamanan ini membuatnya tak ingin terbangun. Ia lebih mengeratkan lagi pelukannya dan wajahnya kembali mengusak pada sebuah dada bidang.

Sebuah kekehan terdengar di panca indra Mingi.

Tunggu, dada, pelukan? Dan sepertinya ia merasa seseorang juga memeluknya. Mau tak mau kedua kelopak matanya terbuka dengan cepat. Hal pertama yang ia lihat adalah dada seorang Pria. Dahinya mengerenyit. Seingatnya semalam ia sedang mengerjakan tugas 

Dengan keyakinan yang ia bangun secara mendadak, ia mencoba melihat ke atas. 

Glek

Kedua matanya memantulkan sosok seorang pria tampan, tidak. Pria manis, tidak. Lebih tepatnya iblis yang sedang menyeringai.

“Sudah bangun hum?” tanya sang pria.

“Kyaaa!!” Buk. Reflex Mingi mengambil bantal dan memukulkannya ke wajah Kyungsoo. Bukan hanya itu, bahkan ia menendang Kyungsoo hingga terjatuh.

“YAK!” teriak Kyungsoo dari bawah tempat tidur.

Yang diteriaki malah memeluk tubuhnya sendiri. “Kau! apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kenapa kau tidur disini?” tanya Mingi menyelidik.

Kyungsoo menarik sebelah sudut bibirnya menampilkan sebuah Smirk, sebuah ide terlintas dipikirannya.

“Astaga, kau tak ingat tentang semalam? Aku kecewa” ujar Kyungsoo membuat Mingi membulatkan tatapnnya.

Dalam hati Kyungsoo bersorak bahagia, Mingi termakan umpannya. Uh lihat betapa menggemaskannya wajah wanita di hadapnnya ini. inilah salah satu hal yang membuat Kyungsoo sangat senang menjahili Mingi.

“Tunggu, memangnya apa yang kita lakukan kenapa aku tak ingat” Mingi memegang kepalanya dan meremas rambutnya.

“Hahahaha” gelak tawa itu keluar dari Kyungsoo.

Mingi menyipitkan kedua matanya memandang Kyungsoo. “YAK! DO KYUNGSOO KAU MENGERJAIKU YA?!!”.

“HAHAHA . . Habisnya wajahmu sangat lucu tadi” Kyungsoo memegang perutnya.

“Ish, kemari kau!” Mingi membawa sebuah bantal di tangannya bersiap untuk menghajar Kyungsoo. Namun Kyungsoo sudah lebih dulu berlari. 

“Kejar saja jika kau bisa wek” Kyungsoo menjulurkan lidahnya dan menghindari Mingi. Maka pagi hari ini di apartemen mereka diisi oleh aksi saling kejar – kejaran antar sepasang suami istri ini. Apa kalian tidak ingat umur dan status kailan?

Tbc

Holla, akhirnya saya meneruskan cerita ini. baru nyadar nih cerita udah 2 th dan belum selesai haha . .

Yang menunggu cerita ini terima kasih atas kesabaran kalian (Bungkuk), semoga saya bisa cepat update lagi . .

Posted in Uncategorized

Minor Feeling

Minor Feeling

Evina93/Oneshoot/PG-15

Romance, comedy.

Kim Jongdae & Son Seungwan
Langkah Seungwan semakin cepat ketika menemukan targetnya, jangan lupakan gerutuan sepanjang jalannya.

“Kim Jongdae!” panggilnya pada segerombolan pria yang sedang berkumpul.

Merasa ada yang memanggil Jongdae segera mengalihkan atensinya. Matanya berbinar senang ketika mengetahui sang pemanggil.

“Seungwan? Ada apa? Oh jgn bilang kau rindu padaku. Aku juga merindukanmu” ia berkata dengan penuh percaya diri.

“Dalam mimpimu!” ketus Seungwan.

“Aku memang selalu memimpikanmu” Senyum Jongdae.

“Jangan membuatku ingin muntah, kau! Kenapa kau yang menjadi pasangan duetku!” kesal Seungwan.

“Aku hanya dipinta oleh guru Shim, memang kenapa? Kau tak mau?” tanya Jongdae.

“Berdiri di dekatmu saja aku jengah apalagi satu stage denganmu” Jongdae hanya bisa tertunduk. “Baiklah, aku akan berkata pada guru Shim agar seseorang menggantikanku” ujarnya dengan mimik sendu.

“Baguslah jika kau tau” Seungwan berkata sombong.

“Hanya dalam mimpimu Son Seungwan haha” lanjut Jongdae.

“Yak!” 

“Aigo, kau marah. Sangat lucu sekali” Jongdae mencubit kedua pipi Seungwan.

“Leupeuskeaun Jounhdue!” gumam Seungwan aneh.

###

Hari ini Seungwan sangat senang, pasalnya ia baru saja diberi tahu jika ia lolos lomba menyanyi ke tahap selanjutnya.

Pluk

Sebuah lengan melingkar di pundaknya. “Wah, kau kelihatan sangay senang. Apa karena kau melihatku?” tanya pria di samping Seungwan. Mata Seungwan berkilat tajam. “Singkirkan tanganmu Kim Jongdae!” ujarnya rendah dengan penuh penekanan.

Jongdae menggeleng. “Yak!” Jongdae malah semakin erat memeluk lehernya membuat Seungwan menjadi lebih dekat dengannya.

“Aku membencimu!” ujar Seungwan.

“Sama-sama, aku juga menyukaimu” Ujar Jongdae.

“Telingamu bermasalah!” bentak Seungwan namun entah mengapa wajahnya sedikit memerah.

##

Jongdae belakangan ini selalu saja uring-uringan. Biasnya ia selalu mengerjai Seungwan dimanapun dan kapanmu, namun beberpa hari terakhir ini ia tak pernah melihat Seungwan, jika bertanya pada Seulgi maka jawaban yang ia dapat “Seungwan sedang sibuk berlatih”. Jongdae rasanya ingin berlari menuju ruang musik untuk menemui Seungwan. Tapi di sisi lain ia tak ingin mengganggu.

“Argggh, aku tak tahan lagi!!!!” ujarnya frustasi.

“Jika rindu padanya maka temuilah, bukannya berteriak di dekatku” ujar teman mata belonya. Jongdae hanya mencibir.

“Dae-ya tadi aku melihat Seungwan sedang bicara akrab sekali dengan pria tinggi di depan ruang musik” lapor salah satu temannya yang baru saja masuk dengan sekotak susu stowbery di gengamannya.

“Apa?!” Tanpa pikir panjang Jongdae segera berlari menuju ruang musik.

“Apa benar begitu Baek?” tanya Kyungsoo setelah Jongdae tak terlihat lagi. Bekhyun mendekati Kyungsoo sambil menyeruput minumannya.

“Sebenarnya ia hanya sedang berdiskusi dengan Chanyeol haha” Kyungsoo hanya menggeleng melihat kelakuan Baekhyun.

Jongdae memperlambat langkahnya ketika melihat Seungwan. “Baekhyun bilang Seungwan dengan pria tinggi, tapi itu kan Chanyeol. Apa Baek menipuku” gumamnya dengan dahi mengerenyit.

“Seungwan” panggilnya. Gadis dan pria tinggi yang ternyata Chanyeol itu menoleh.

“Ada apa kau kemari?” ujar Seungwan mengerenyit.

“Yo!” Sapa Chanyeol.

“Kalian sedang apa?” tanya Jongdae.

“Berdiskusi untuk tugas musikalisasi kami. Aku dan Chanyeol satu kelompok ah Baekhyun juga. Tunggu kenapa aku harus menjelaskan padamu” Seungwan berpikir sejenak.

“Tapi Baekhyun bilang . .” Jongdae meminta penjelasan pada Chanyeol.

“Ah, Sepertinya kau dikerjai. Lagi pula aku tak akan merebutnya” bisik Chanyeol di akhir kalimat pada Jongdae.

“Yak! BYUN!!!!” Lengkingan nada tinggi terdengar di sepanjang koridor. 

##

Setelah bermain basket dengan teman-temannya Jongdae merasa sangat kehausan. Ia berjalan menuju mesin penjual minuman otomatis. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang tersenyum pada seorang pria. senyum yang jarang malah tidak pernah ditunjukan untuknya. Tubuhnya seolah kaku, dadanya tetasa sesak, apalagi ketika pria itu mengelus surai kecoklatan sang gadis.

Ia berbalik, melangkah menjauh dengan hati yang penuh goresan.

“Kawan-kawan aku pulang duluan” pamitnya. 

“Loh sudah mau pulang?” tanya Chanyeol. Jongdae hanya memberi isarat lambaian tangan.

“Ada apa dengannya?” teman-temannya terheran.

Ketika akan melewati gerbang ia berpapasan dengan Seungwan. Tak seperti biasanya Jongdae hanya berjalan lurus dan mengabaikan Seungwan. Merasa ada yang aneh Seungwan berbalik melihat punggung Jongdae. Alisnya menyatu. “Kim Jongdae!” panggilnya. Tidak bebalik dan tak ada tanggapan. Jongdae terus saja berjalan tak peduli apapun.

Seungwan bergerak cepat ia menahan lengan Jongdae, membuatnya berpaling melihat Seungwan. Bukan tatapan seperti biasanya dan Seungwan sadar itu. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Bukan urusanmu” kata-katanya singkat namun terdengar sangat dingin dan tatapan itu Seungwan tak paham. Jongdae melepaskan genggaman Seungwan pada lengannya dan kembali melangkah.

##

Sudah beberapa hari ini Jongdae menghindari Seungwan, dan Seungwan sadar itu. Dan puncaknya tadi, Jongdae tak ingin satu stage dengannya. Harusnya Seungwan senang, tapi ini sangat mengejutkan seperti bukan Jongdae. Akhirnya Seungwan memutuskan untuk menemui Jongdae yang belakangan ini ia ketahui sering mengunjungi atap sekolah.

“Kim Jongdae!” panggilnya. Namun Jongdae hanya melirik malas. Seungwan kaget melihat reaksi Jongdae. “Yak! Kau ini kenapa huh?” tanya Seungwan. 

“Apa pedulimu” Ujar Jongdae dingin.

“Ya! Kau ini aneh sekali” amarah dalam diri Seungwan tersulut.

“Kau yang aneh, sudah memiliki kekasih untuk apa peduli padaku!” Ujarnya tanpa melihat Seungwan.

Seungwan mengerenyit “Aku tak mengerti maksudmu?”.

“Ya kau memang tak pernah mengerti, bahkan setelah sekian lama aku menunjukannya padamu kau tak pernah peduli!” ujarnya emosi.

“K kau menyukaiku? Sejak kapan?” tanya Seungwan, bahkan jantungnya bekerja lebih cepat.

“Setiap kali aku selalu mengatakannya padamu” Jongdae kali ini mentap Seungwan.

“Ku pikir itu hanya bercanda” gumam Seungwan.

“Jadi selama ini kau anggap aku bergurau?” ujar Jongdae.

“Kau tak pernah serius!” bela Seungwan.

“Ck, sudahlah. Lagi pula ini tak penting lagi” Jongdae berbalik meninggalkan Seungwan.

“Lalu bagaimana jika aku juga menyukaimu” suara Seungwan mengalun di telingnya. Tak percaya ia berbalik. “Jangan bercanda!” ujar Jongdae, ia tak percaya apa yang ia dengar tadi.

“Apa wajahku terlihat bercanda?” Jongdae menggeleng. Seungwan tersenyum. “Jadi apa kau masih menyukaiku?” tanya Seungwan. Jongdae mengangguk “Tapi kekasihmu”.

“Jika yang kau maksud pria dengan wajah campuran itu maka jawabanku adalah ia sepupuku. Lagi pula aku tak memiliki kekasih” Seungwan tersipu di akhir kalimatnya. Senyum Jongdae merekah.

“Son Seungwan aku menyukaimu!!” ujarnya dan memeluk Seungwan. Seungwan tersenyum dan membalas pelukannya.

##

“Jadi kau sudah lama menyukaiku?” Seungwan kembali bertanya. Mereka sedang duduk berdua di taman belakang.

“Ya” Jongdae memaikan rambutnya. Entahlah tapi sekilas smirk terlihat di wajah Seungwan.

“Kalau begitu pilih, aku atau bebek karetmu?” Seungwan menatapnya.

“Apa harus itu?” Seungwan mengangguk.

“Tentu saja kau” Senyum Jongdae.

“Kalau begitu buang semua bebek karetmu” Smirk Seungwan.

“APA???!!!” rasanya Jongdae baru tersambar petir di hari yang cerah.
Fin
#happychentongday

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #7

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance, AU.

Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (APink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol (Exo)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Typo masih bertebaran, don’t plagiat, tinggalkan jejak setelah membaca, butuh keritik untuk perkembangan sang penulis.

Chapter 7
Chorong melambatkan laju motornya setelah merasa keadaan cukup aman, pegangan Suho pada pinggangnya masih kuat. Chorong menepi untuk memastikan sesuatu. Setelah motor berhenti di tepian ia memukul lengan Suho. 

“Ah ah, sakit!” teriak seseorang di belakangnya. Ya secara tidak sengaja ia memukul lengan Suho yang terkilir.

“Omo, maaf. Apa masih sakit?” ia melihat keadaan tangan Suho setelah turun dari motor, Suho sudah lebih dulu turun.

“Tentu saja! Tanganku ini terkilir nona. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah, jika kau ingin mati jangan mengajakku!” bentak Suho di depan wajah Chorong.

“Tak ada pilihan lain” Chorong mengedikan bahu. “Hey kau ini kan pria, masa segitu saja sudah takut. Apa lagi yang membawa motormu ini adalah seorang wanita. Dasar pengecut” ejeknya dengan ekspresi meremehkan.

“Si siapa bilang aku takut?” 

“wajahmu mengatakan semuanya tuan Kim, sudah jujur saja” Chorong menepuk – nepuk bahu Suho. 

“Cih” ketika akan menurunkan tangan Chorong ia melihat ada bekas darah. “Ya! Tanganmu kenapa huh?” ia menggenggam tangan Chorong dan menunjukkan lukanya. 

“Entahlah, kenapa bisa berdarah ya?” Chorong malah heran sendiri, ia tidak merasakan sakit.

“Dasar bodoh! Ini kan tubuhmu, kenapa tidak tau! Ayo ke klinik” Suho menarik tangan Chorong dengan tangannya yang tidak terluka.

“Hey, bagaimana dengan motormu?” Chorong menunjuk motor yang masih terparkir di pinggir jalan.

“Akan ku panggil seseorang untuk mengambilnya”.

*** 

“Maaf nona kami tidak berhasil melakukannya. Ia bersama tuan Suho tadi” lapor salah satu pria yang menyerang Suho dan Chorong tadi.

“Apa?! Bagaimana bisa? Kalian semua tidak berguna!” seorang wanita menatap nyalang pada setiap orang di hadapannya. 

“lalu bayarannya” tanya pria lainnya.

“Sudah gagal masih minta bayaran, dasar tak berguna!” ia melempar beberapa lembar puluh ribu won. Setelah itu ia meninggalkan tempat tersebut.

“Awas saja kau Park Chorong” ia mengepalkan tangannya dengan emosi yang meluap.

*** 

“Untung saja tanganmu tidak terkilir begitu parah, 1-2 minggu kemudian tanganmu bisa sembuh. Jangan terlalu banyak digunakan dulu” ujar dokter yang telah selesai memberi balutan pada tangan Suho. 

“Baik, terima kasih” sang dokter hanya menepuk pundak Suho. “Oh ya, pacarmu tidak terluka parah, ia hanya tergores, lukanya sudah di bersihkan dan di obati. Kalian harus lebih berhati-hati” dokter melihat Chorong yang berada di luar ruangan. 

“Ah, ya terima kasih lagi. Tapi kenapa dokter langsung menganggap dia pacar saya?” 

“Semua orang pasti akan tau, melihat bagaimana khawatirnya dirimu ketika masuk tadi, dia gadis hebat tambahan lainnya ia juga cantik” terang sang dokter.

“Ya dia sedikit berbeda” Suho melihat Chorong yang sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya.

“Kau sudah selesai?” Tanya Chorong ketika Suho keluar dari ruangan. 

“Ya, hanya tidak bisa digunakan untuk beberapa waktu. Apa lukamu sudah di obati?” ia melihat plester yang menempel pada salah satu lengan Chorong.

“Sudah, kau saja yang berlebihan. Ini tidak terlalu sakit kok” Chorong memperlihatkan tangannya sambil tersenyum.

“Ck, sudahlah. Ayo ku antar pulang” 

“Motormu?”

“Sudah ada yang mengambil”. Chorong hanya menjawab “Oh” dan mengikuti Suho.

*** 

“Joon Myeon sialan, kenapa juga harus aku yang mengambil motornya! Akh, padahal sedikit lagi aku menang dari Umin hyung!!” teriak Lay sambil mengendarai motor. Namun di pertengahan jalan tiba-tiba motornya sedikit bermasalah.

“Loh loh ini kenapa?” Lay menepi. “Astaga kenapa harus habis disaat seperti ini. kan jauh dari tempat pengisian bahan bakar!”. 

Dengan berat hati akhirnya Lay mendorong motornya, baru saja beberpa meter ia berhenti “Tunggu, ini dimana? Aku tak tahu daerah ini, astaga” ia melihat kanan kirinya. “Seseorang tolong, Iching tersesat!!!!”.

*** 

“Sudah sampai. Ini rumahku. Kau kembalilah naik taksi” titah Chorong.

“Apa kau tak akan menawariku untuk masuk?” Tanya Suho.

“Jangan bermimpi tuan, pulanglah” Chorong memberi gesture tangan seakan mengusir.

“Ish dasar”

“Loh hyung?” panggil seseorang, Suho menoleh. Itu Chanyeol yang memanggil. Chanyeol segera menghampiri mereka. 

“Apa yang terjadi pada tanganmu?” Chanyeol menunjuk lengan Suho yang terbalut perban.

“Ah, ini. panjang ceritanya haha” Suho menggaruk tengkuknya dengan tangan yang bebas.

“Yeol , Chorong-ah” mereka berdua menoleh.

“Ibu” ujar mereka. Nyonya Park menghampiri mereka. 

“Omo, apa kau seseorang yang dihajar Chorong? Astaga maafkan anakku. Yak! Kau kan wanita sudah ibu bilang jangan berkelahi!” nyonya Park memukuli tubuh Chorong.

“Ah, ibu sakit dengarkan dulu ah appo” Chorong berusaha menghindar bahkan ia bersembunyi di belakang Suho.

“Ah, bibi saya tidak dihajar oleh anak bibi” ujar Suho. “Ibu dengar bukan”. “Ya walau terkadang dia selalu memukuli saya sih” lanjut Suho. “Yak!”.

“Tuh kan ibu sudah menduganya, kemari kau anak nakal!” Nyonya Park berusaha meraih anaknya.  Bukannya menolong, Chanyeol malah tertawa melihat nasib sang kakak. 

“Ibu dengar” 

“Bibi ini salah paham saya mohon”

“Hahaha”

“Kemari anak nakal!”

“Ah, tanganku!” tidak sengaja nyonya Park mengenai tangan Suho yang sakit.

“Ya, kau baik-baik saja?” Chorong bertanya sedikit khawatir.

“Omo, maafkan bibi”

“Aku baik-baik saja taka apa” ia berkata taka apa tapi sedikit meringis.

“Sudahlah bu, pria itu pacar Nonna” ujar Chanyeol setelah berhasil menenangkan dirinya dari tawa.

“Oh . . APA?”

*** 

“Ini makanlah yang banyak” nyonya Park menyodorkan makannan pada Suho. 

“Ah, terima kasih, anda tidak perlu repot-repot” Ujar Suho.

“Tak masalah, kau harus makan baru kau bisa pulang. Makanlah”.

“Namamu siapa tadi?” kali ini yang bertanya adalah tuan Park.

“Kim Joon Myeon, paman” Suho sedikit gugup. Ayah Chorong sedari tadi menatapnya.

“Ayah jangan menatapnya terus ia tak nyaman!” protes Chorong pada ayahnya.

“Ayah hanya heran, ada juga yang mau denganmu ya” ujar sang ayah.

“Ayah!” 

“Hahahaha” tawa tuan dan nyonya Park serta Chanyeol menggelegar.

“Sudah ayo makan”.

Suho berusaha menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya tak bisa ia gunakan. Tapi setiap ingin menyuap ia selalu gagal. Chorong yang berada di sebelahnya menghela nafas. Ia memutar sedikit tubuhnya, mengambil sendok Suho . Tindakan Chorong selanjutnya membuat semua keluarganya tersenyum. 

“Buka mulutmu” ujar Chorong, ia berusaha menyuapi Suho.

“A aku bisa sendiri”

“Sudah makan saja dan jangan banyak bicara!” akhirnya Suho menerima suapan Chorong dengan wajah yang memerah. Ia malu karena 3 orang lainnya sedang memandanginya dengan tersenyum.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Chorong pada anggota keluarganya.

“Tidak ada” jawab mereka. ‘Dasar tidak peka’ gumam mereka dalam hati.

*** 

“Aku pulang!” teriak Suho.

“YA! Myeonnie kau kemana saja huh? Omo tanganmu kenapa?” Tanya Xiumin.

“Mengantar Chorong, hyung sepertinya ada yang ingin mencelakai Chorong” ujar Suho.

“Apa maksudmu?” 

“Tadi ketika aku ingin mengantar Chorong ada yang mengejar kami, itu bukan musuhku. Aku tau karena mereka tidak berusaha mencelakaiku melainkan mereka mengincar Chorong. Dan aku tau siapa pelaku utamanya” ujar Suho.

“Rion” jawab Xiumin.

“Kau benar, aku sedikit bersalah pada Chorong. Dia pasti akan menjadi bulan-bulanan Rion. Untung saja Chorong masih bisa mengatasinya”.

“Tapi kau juga tidak bisa sesantai itu Myeon, Rion bisa lebih berbahaya. Sekuat apapun Chorong ia tetaplah wanita. Aku tau didasar hatimu paling dalam kau sangat khawatir padanya, kau menyayanginya, kau menyukainya” jelas Xiumin.

“Aku menyukainya? Tidak-tidak, dia itu sangat waw, tidak ada wanita wanitanya” ujar Suho.

“Cih, masih saja tidak mengaku”.

“Hyung, apa Yixing sudah sampai membawa motorku?” Tanya Suho.

“Ia belum kembali” Xiumin mengerutkan dahinya. “Apa sesuatu terjadi padanya? Akan ku telephone ia” Xiumin segera menghubungi Lay.

“Hallo, HYUNG!”

“Xing, dimana kau?”

“Aku tersesat hyung” 

“Apa? Kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Aku lupa jika aku membawa handphone”

Xiumin menepuk dahinya, Suho menghela nafasnya. ‘kambuh lagi’ gumam mereka.

To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #6

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter /  PG 15

School life, comedy, romance, drama.

Kim Joon Myeon /  Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok /  Xiumin , Zhang Yixing / Lay , Park Chanyeol  (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red velvet)

Chapter 6
Bel  tanda usainya pelajaran selalu terdengar paling nyaring bagi para siswa, tak terkecuali bagi para siswa di kelas Chorong.

“Baiklah, sampai sini saja pelajaran kita hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian” Guru Choi masih membereskan buku-buku bawaannya.

“Nde~ terima kasih pak” koor anak-anak sekelas.

Guru Choi mengangguk sebagai jawaban dan menuju pintu, lalu meninggalkan kelas. Sebagian anak menghela nafas lega, sebagian membaringkan kepalanya pada meja. Disisi lain ujung kelas, Chorong sudah merapikan buku dan alat tulisnya. Selesai memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal ia mensleting ranselnya

Ia menepuk bahu Irene yang duduk dihadapannya. “Bae, aku duluan” ujarnya dengan menyelempangkan sebelah tali ranselnya pada bahu.

“Kau sungguh-sungguh akan les private dengan tuan Kim itu?” Irene kali ini sudah berbalik penuh pada Chorong.

Chorong mengedikan kedua bahunya “Entahlah, aku pun tak yakin, tapi jika guru Nam yang memberi saran, itu bisa aku pertimbangkan. Lagi pula tak ada salahnya mencoba, apalagi ini geratis” senyuman lima jari tercipta di wajahnya. Jika sudah senyum seperti ini ia benar-benar mirip dengan Chanyeol.

Irene hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Semoga kau berhasil”.

“Baiklah aku pergi dulu, bye” Chorong berlari menuju pintu kelas, oh bahkan tadi ia hampir terpeleset.

“Jangan membuat ulah macam-macam” teriak Irene dari dalam kelas. Samar-samar ia mendengar gerutuan Chorong. Irene terkikik akan kelakuan sahabatnya satu ini, ‘kasihan sekali Suho harus mengajari Chorong ‘ pikirnya. 

“Semoga kau mendapat kesabaran yang ekstra Kim Joon Myeon” doa Irene, setelah selesai membereskan barangnya Irene segera beranjak pulang.

*** 

“Suho-sii, pacarmu sudah menunggu diluar” ujar slah satu teman sekelas Suho yang duduk dekat pintu keluar.

“Pacar?” 

“Iya, Park Chorong. Itu dia” tunjuk temannya keluar kelas dari jendela. Suho melihat arah yang di tunjuk oleh temannya. “Astaga, dia sungguh-sungguh akan permintaannya!” gumam Suho.

“Baiklah aku duluan” pamit temannya. Suho hanya melambaikan salah satu tangannya sebagai jawaban. Otaknya berpikir keras. Bagaimana cara dia menghindar. 

“Uh, sial. Harusnya pelajaran tadi aku bolos saja” sesalnya.

Suho melihat keadaan sekita, jika diperhatikan tingkahnya seperti maling yang akan mencuri sesuatu. Berjalan dengan mengendap-endap.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang, ia berbalik dan menemukan Chorong disana dengan raut kebingungan.

‘Sial’ umpatnya dalam hati.

“Oh, hai Chorong. Aku duluan ya!” pamitnya dan berbalik.

“YAK!” belum melangkah, kerah belakang seragamnya sudah ditarik oleh Chorong. “Jangan mencoba untuk kabur, kau sudah berjanji, jadi tepatilah janjimu. Kau ini kan laki-laki” Chorong membawa Suho dengan menarik kerah belakang seragamnya.

“Uhuk lepaskan YAK!, UHUK. Kau ingin membunuhku ya?! Lagi pula kapan aku menyetujuinya! YAK LEPAS!” Suho berusaha melonggarkan bagian atas seragamnya, lehernya serasa tercekik.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku adalah ajari aku. Kau sudah berjanji jadi kabulkan!” protes Chorong yang masih menarik seragam Suho. Jika ini dalam film pembunuhan, Chorong terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menyeret paksa korbannya. Bahkan hal ini menjadi tontonan menarik bagi para siswa yang melihatnya.

“Baiklah-baiklah, akan ku turuti. Jadi lepaskan ini ok?” Suho berusaha bernegosiasi.

“Tak akan, aku tau akal busukmu. Nanti kau malah kabur!” Chorong semakin gencar menyeret Suho.

“YAK!”

Xiumin yang baru saja keluar dari kelas dibuat melongo akan pemandangan menakjubkan pada penglihatannya.

“Daebak, akhirnya kau mempunyai lawan yang sepadan Myeonnie” gumam Xiumin.

“Bukankah itu adikmu?” tanya salah satu teman Xiumin.

“Iya” jawabnya santai.

“Apa tak apa ia seperti itu?”

“Tak apa, sekali-kali ia harus terkena akibatnya, ayo” Xiumin tertawa senang, temannya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

*** 

Chorong dan Suho sedang berada di perpustakaan. Buku pelajaran menumpuk di sebelah kiri Chorong. Melihat wajahnya, sepertinya ia sangat frustasi. Apalagi Suho selalu mengejeknya bodoh.

“Ah, aku tak mengeri” ia mengacak rambutnya.

“Astaga Park Chorong, harus aku jelaskan berpa kali lagi agar kau mengerti!” geram Suho. “Bahkan anak tingkat awal pun tau mengerjakan ini”.

“Jelaskanlah secara ringkas agar aku paham” Chorong memainkan pensil di tangannya dengan cemberut.

“Aku bahkan sudah menjelaskannya dengan teramat sangat ringkas!” Suho menghela nafasnya. Tak ia sangka mengajari Chorong akan membuatnya sefrustasi ini.

“Pssst, jangan terlalu ribut” ujar penjaga perpustakaan.

Mereka menggangguk “Maafkan kami” ujar keduanya.

Suho mengatur emosinya dengan menghela nafas “Baiklah, kita mulai lagi. Jadi bagian mana yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?” tanya Suho.

“Semuanya” jawab Chorong polos.

“YAK! PARK!”

“KELUAR KALIAN SEKARANG JUGA!” usir sang penjaga.

*** 

“Ah jadi begitu, aku paham. Ternyata mudah” Chorong mencatat pada bukunya, ia tersenyum senang.

“Ini memang mudah, kau saja yang bodoh” Suho meminum jusnya.

Mereka sedang berada di salah satu café, lagi pula Chorong mengeluh ia lapar.

“Berhentilah mengataiku bodoh, aku tak bodoh. Aku ini special, jadi kau harus bersabar” Chorong menepuk-nepuk bahu Suho.

“Spesial apanya, bodoh tetaplah bodoh” ejek Suho.

“YAK!”

“Besok datang ke rumahku, kita belajar disana. Akan ku rangkum secara lebih rinci lagi” ujar Suho.

“Kenapa di rumahmu?” Chorong mengerenyit.

“Tidak mau, ya suadah” 

“Baiklah-baiklah, ngomong-ngomong makanan disini enak, apa boleh aku tambah lagi?” Chorong memberikan puppy eyesnya.

“Silahkan saja” 

“Asa” Chorong memakan sandwichya.

“Lagi pula kau yang traktir” lanjut Suho.

“Uhuk” Chorong tersedak makannya, Suho tertawa melihatnya. Ia segera menyerahkan minuman pada Chorong.

“Uangku tak cukup” melasanya.

“Hahaha aku hanya bercanda, makanlah yang banyak” Suho menepuk kepala Chorong. Chorong tersenyum senang dan kembali memakan sandwichnya. “Anak babi” lanjut Suho.

“Habislah kau Kim!” Chorong sudah dengan tatapan tajamnya.

*** 

Lay berjalan dengan riang menuju kelasnya. Sepertinya suasana hatinya sangat gembira hari ini.

Brak

Ia mebuka pintu kelasnya “Myeonnie, kawan-kawan apa kalian merindukanku???” teriaknya.

Wush

Hanya terdengar bunyi angin yang menggoyangkan ranting pohon di luar jendela.

Matanya mencari keberadaan teman-temannya “Kemana semua orang? Apa mereka sedang bermain petak umpet? Curang sekali tidak mengajakku” .

“Loh, nak. Ada perlu apa datang ke sekolah?” tanya penjaga yang sedang berkeliling.

“Tentu saja untuk sekolah, oh, apa bapak tau dimana yang lain? kenapa aku tidak melihat seorang pun” tanyanya melihat sekeliling.

“Mereka di rumah masing-masing” balas sang penjaga.

“Astaga malas sekali mereka, bukannya sekolah ckck” omel Lay.

“Mereka bukan malas, ini kan hari minggu, kegiatan belajar mengajar tentu saja diliburkan. Malah bapak yang heran kenapa kau berada disini. Apa kau ada kegiatan lain?” tanya penjaga.

“Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika hari minggu itu libur!” Lay segera merogoh handphonenya dan menekan kontak seseorang.

Sang penjaga hanya dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Ia kembali berkeliling.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sambungan terhubung.

“Hallo” terdengar suara khas seseorang baru bangun tidur.

“Myeon, kenapa tak beri tahu aku jika minggu itu libur!” bentak Lay.

“Memang dari dulu juga seperti itu!”

“Benarkah?”

“Yak! Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan kenapa minggu libur? Terkutuklah kau Zhang Yixing dengan sikap pikunmu itu!” sumpah serapah Suho terdengar dari sebrang sana. Bahkan Lay sedikit menjauhkan telinganya.

*** 

Pukul 10 pagi Chorong sudah berdiri di depan pagar megah rumah seseorang. Mulutnya masih menggumamkan kata-kata takjub. 

“Dia benar-benar kaya ck” Chorong menghampiri Intercome dekat gerbang dan menekannya. Selang beberapa detik terdengar suara seorang bibi. Mungkin itu salah satu pegawainya.

“Apa Suho ada? Ah maksud saya Kim Joon Myeon” ujar Chorong melalui intercome.

“Mohon tunggu sebentar” 

Chorong kembali melihat sekitar, tak sampai lima menit ia menunggu, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka sendiri.

“Daebak!” ia berjalan dan semakin dibuat kagum. Tapi beberapa detik kemudian ia menyumpah serapahi sang pemilik. Pasalnya dari gerbang utama menuju rumah jaraknya sama dengan rumahnya menuju halte terdekat. 

Pintu utama terbuka setelah Chorong sampai di depannya.  Ia segera masuk dan dipersilahkan duduk, tak berselang lama seseorang muncul dan menyapanya. 

“ Waw, angin apa yang membawamu kesini?” Chorong mengalihkan tatapannya pada sang penanya.

“Ah, Sunbae. Lain kali sediakanlah kendaraan dari gerbang utamamu, tak taukah kau betapa melelahkannya menuju rumahmu!” ceroscos Chorong.

“Ahaha, baiklah usul yang bagus. Akan ku pertimbangkan, ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

“Ah, itu . .”

“Kau sudah datang?” sapa Suho yang baru saja menuruni tangga, lihatlah pakaiannya. Masih terlihat seperti orang yang bangun tidur.

“Dia yang menyuruhku datang” tunjuk Chorong pada Suho.

Xiumin hanya terkekeh, jangan lupakan seseorang dibelakang Suho yang sedang melambaikan tangannya.

“Lay? Sedang apa kau disini?” Chorong mengerenyitkan dahi. 

“Hai, Chorong. Aku? Aku sedang . . . hyung kenapa aku kemari ya?” Tanya Lay pada Xiumin.

“Mana aku tahu, kau sendiri yang datang kemari menggunakan seragam” jelas Xiumin.

“Ah benar aku baru ingat, aku bosan dan salah masuk sekolah akhirnya ku putuskan untuk kemari” terang Lay.

“Dan mengganggu tidur nyenyakku” lanjut Suho. Lay hanya menyengir.

“Ayo ke lantai atas, tunggu aku disana. Aku mandi dulu”

“Pantas saja ada bau tak sedap” Chorong pura-pura menutup hidungnya.

“Yak! Aish. Sudahlah”  Suho berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh Chorong dan yang lainnya dengan tertawa.

Beberapa menit kemudian Suho keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih rapih. Tatapan matanya langsung tertuju pada Lay dan Chorong yang sedang berbincang, mereka terlihat sangat dekat. Sebenarnya disana ada Xiumin. Tapi entah mengapa focus mata Suho hanya pada mereka berdua. Ada perasaan panas di hatinya.

Ia berjalan dengan tergesa dan duduk diantara keduanya. “Apa yang kau lakukan?” Chorong yang tergeser mengajukan protes.

“Tentu saja duduk”

“Masih ada tempat lain” jawab Chorong.

“Aku ingin disini!” balas Suho. Xiumin hanya terkekeh.

“Ayo mulai belajarnya” Suho membuka buku dan Chorong mengeluarkan alat tulisnya dari tas. “Kau akan mengajari Chorong?! Kenapa kau tidak pernah mengajariku?” Tanya Lay.

“Kau ingin belajar juga? “ Tanya Suho.

“Tidak sih, aku akan bermain game dengan hyung saja. Ayo hyung!” Lay dan Xiumin masuk kedalam kamar. Meninggalkan Suho yang geram. “Lalu untuk apa kau bertanya!” teriak Suho.

*** 

Hari sudah mulai petang ketika Chorong selesai dengan les privatenya. “Akhirnya!!!” ia merenggangkan tubuhnya.

“Kau itu hanya perlu praktek tak bisa dijelaskan ckck, ternyata sudah jam 4” Suho melihat arlojinya.

“Nah, aku pulang dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini” Chorong berdiri dan membungkuk.

“Ku antar” mata Chorong melebar.

“Tak perlu aku bisa sendiri” tolak Chorong. “Sudahlah, aku tau rumahmu lumayan jauh dari sini” Suho beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dan mengambil jaketnya.

“Ayo, Hyung, Lay aku pergi dulu!”

“Sudah mau pulang?” Tanya Xiumin. Chorong hanya mengangguk. “Hati-hati” lanjut Xiumin.

“Kapan-kapan datang lagi kemari ya, bye Chorong”.

“Ini bukan rumahmu Zhang!” ujar Suho. Tapi Lay seperti tak peduli dan kembali bermain game.

Chorong yang melihat terkikik geli. ‘Jadi masih ada orang lain yang bisa mengabaikan Suho’ pikirnya.

*** 

Suho mengantar Chorong menggunakan motornya. Entah sengaja atau apa Suho menambahkan kecepatannya membuat Chorong memeluknya karena tidak ingin terjatuh. Dibalik helemnya ia tersenyum sedikit. Memanfaatkan keadaan huh?.

Di tengah perjalanan tiba-tiba motor mereka di apit oleh tiga motor dengan pengendara berhelem fullface. Salah satu dari ketiga motor itu menyenggol Suho dan membuatnya terjatuh.  Chorong hanya sedikit tergores namun salah satu pergelangan tangan Suho terkilir.

Tanpa menunggu lebih lama. Chorong membenarkan motor Suho yang terjatuh dan menaikinya “Cepat naik, mereka masih mengejar kita!” Ujar Chorong.

“Apa kau bisa mengendarainya?” Tanya Suho tak yakin.

“Jangan banyak omong, cepatlah naik!” Chorong sudah menstater motornya, bahkan jika ia melepaskan rem tanganya sudah pasti motor ini melaju dengan kecepatan tinggi.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Suho dibonceng oleh Chorong. Ia berdoa dalam hati agar ia selamat. Setelah Suho menaiki motor, Chorong melihat pada salah satu spion yang retak, ketiga motor itu masih mengejar. Dengan kecepatan tinggi ia membawa motor Suho. Kini giliran Suho yang memeluknya sangat erat. Bahkan kecepatannya melebihi Suho tadi.

“PARK CHORONG AKU INGIN SELAMAT~~~~” teraik Suho dibalik helemnya.

To be continue

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #4

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^
CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga. 

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

*** 

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal. 

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur. 

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

*** 

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya. 

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi. 

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

*** 

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas. 

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga. 

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong. 

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras. 

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

*** 

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor. 

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah” 

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi. 

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.
To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #2


Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Rv)

Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Chapter 2 

“Let’s play!”



‘Suho memiliki kekasih’ itulah topik utama sekolah hari ini, masih ingatkah kalian bagaimana dengan entengnya Suho mengatakan bahwa Chorong kekasihnya? Bahkan detik itu juga Rion pingsan ditempat. Tanpa peduli pada Rion dan kehebohan lainnya Suho segera menarik Chorong menuju atap sekolah.

Dan disinilah mereka sekarang, “Apa kau gila?!” bentak Chorong. Sudah cukup masalah yang ia dapatkan dengan pria yang ada dihadapannya ini kemarin, kenapa hari ini masalahnya semakin bertambah?.

“Aku masih waras nona, dan jangan pernah mengataiku gila!” hardik Suho. “Jika kau tidak gila kenapa kau mengatakan hal yang tak masuk akal tadi huh?” tanya Chorong. “Aku tak ada pilihan lain” Suho mengedikan bahunya. “Mwo?” Chorong membulatkan matanya.

“Dengar ya Park Chorong, karena sudah terlanjur basah, ku perintahkan kau untuk menjadi kekasihku. Harusnya kau bahagia, banyak sekali yang menginginkanku” ujarnya penuh bangga.

“Heol, geratispun aku tak sudi” Chorong mencibir, Suho yang mendengarnya seakan kesombongannya terinjak-injak. “Yak! Kau tidak bisa menolak atau kau aku keluarkan!” ancamnya. “Silahkan saja, aku tak peduli. Lagi pula melihatmu nanti setiap hari membuatku stres. Kalau begitu aku pamit. Annyeong Suho-sii” Chorong membungkukan badannya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Suho yang sedang berkoar di sana.

*** 

“Dari mana saja kau?” tanya seseorang ketika Chorong baru saja mendudukan dirinya pada bangku. “Sedikit urusan” ujarnya. “Urusan apa?” tanya gadis itu lagi. “Kau ini cerewet sekali sih Bae” gerutu Chorong.

“Nonna!!!” teriak seseorang. Chorong dan Irene melihat ke arah asal suara. Chanyeol berlari menuju ke arahnya dengan nafas memburu.Chorong yang melihatnya mengerutkan dahi. “Kau kenapa?” tanya Chorong setelah Chanyeol sudah berada di samping mejanya dengan nafas tersengal sengal.

“Hah hah kau hah berhutang hah penjelasan hah padaku” ujarnya dengan nafas terputus-putus. “Apa maksudmu?” Chorong kebingungan. “Iya, apa yang kau bicarakan sih?” tanya Irene. “Tentang Kau dan Suho Sunbae” Chanyeol menunjuk Chorong. “Memangnya ada apa antara mereka?” Tanya Irene. “Kau tak tahu nonna?”Chanyeol berujar heboh, Irene hanya menggeleng. “Dia berpacaran dengan Suho Sunbae!” teriaknya heboh. ‘Tak’ satu jitakan sukses mendarat dikepalanya walau Chorong harus bersusah payah menaiki bangku dulu untuk menjitak adik tiangnya satu ini “Kecilkan suaramu bodoh!” Chanyeol yang meringis kesakitan melihat sekitar dan benar saja semua orang telah melihat kearahnya, ia hanya bisa tersenyum kikuk dan meminta maaf. 

“Ya! Park Chorong kau berhutang penjelasan pada kami!” Irene menuntutnya, Chanyeol mengagguk setuju dan Chorong hanya bisa menghela nafas. Sepertinya hal ini tidak akan cepat selesai pikirnya.

*** 

Diluar kelas ternyata Suho melihat kejadian tersebut, ia yang semula akan menuju kelasnya yang berjarak tiga ruangan dari sini menghentikan langkahnya. Seluruh siswa yang melewatinya berbisik – bisik tapi apa pedulinya. Hal yang ia pedulikan adalah seorang gadis di dalam sana yang sedang memarahi pria berpostur tinggi bak tiang.

“Siapa dia?” gumamnya.

Ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari kelas tersebut, tanpa babibu ia segera menariknya. “Ya apa yang  . . ah Suho-sii, maafkan aku ku mohon jangan keluarkan aku, aku tak bermaksud membentakmu” mohon seseorang yang baru saja ditarik paksa oleh Suho. “Kecilkan suaramu!” titah Suho dan pria itu hanya mengangguk.

“Siapa pria itu?” tunjuk Suho pada seorang pria tinggi bersama Chorong dan wanita lainnya didalam kelas.

“Ah itu Chanyeol” jawabnya. “Dia kekasih Chorong?” tanya Suho. “Hahaha masa kau tidak tahu, memang sih jika orang yang baru pertama kali melihatnya akan berpikir begitu” ocehnya namun ketika melihat tatapan yang diberikan Suho ia langsung bungkam “Maafkan aku, Chanyeol atau Park Chanyeol dia adik dari Park Chorong” Suho melihatnya lagi dan senyum iblis baru saja terukir di wajahnya.

“Kau boleh pergi” Suho melepaskan cengkramannya, pria tadi membungkuk terima kasih dan berlalu meninggalkannya.

“Kena kau Park Chorong” gumamnya.

*** 

Sampai dikelasnya dan duduk disamping Lay ia masih tertawa. Lay yang melihatnya terkekeh “Memang ya orang yang jatuh cinta itu terlihat gila” suho memalingkan wajahnya pada Lay “Siapa yang jatuh cinta?” tanya Suho.”Kau” tunjuk Lay. “Aku, tidak mungkin” Suho menunjuk dirinya kemudian menggeleng. “Jika tidak, apa maksudnya tadi ‘Dia kekasihku’” Lay memperagakan adegan pagi tadi dimana Suho mengakui Chorong sebagai kekasihnya. “Heol” umpat Suho. “Mengakulah?” Lay menggodanya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Dia bukan kekasihku” terang Suho.

“Jika bukan berarti akan” lanjut Lay.

“Gadis barbar seperti dia mana ada yang mau” ujarnya.

“Kau mau dengannya” 

“Aish, dia hanya alat bagiku untuk menjauhi Rion” bisiknya pelan. “Kawan dengar, tak perlu malu jika kau menyukainya dan membuat alasan yang mengada-ada, aku mendukungmu. Siapa tau dia bisa merubah sikapmu” nasihat Lay dengan menepuk-nepuk pundak Suho.

“Ya! Zhang Yixing ku bilang bukan ya bukan, kau ingin ku deportasi huh!”

*** 

Chorong sedang berada di kantin, ia menunggu pesanannya yang sedang diambil temannya.

“Hai, Chagi” sapa seseorang. Chorong mendongkan kepalanya yang semula berbaring di atas meja. Matanya membulat. 

“Menjauhlah dariku” usirnya.

“Astaga, kenapa kau mengusirku? Kau tidak merindukanku?” tanyanya percaya diri.

“Dalam mimpimu!” sang pria hanya mengangguk-angguk. “Baiklah, dengan kata lain kau menyuruhku memimpikanmu. Benar kan?” Suho sang pria pengganggu ketenangan menaik turunkan halisnya menggoda.

“Terserah kau, selera makanku hilang!” Chorong beranjak dari kantin dengan muka cemberut. Meninggalkan Suho yang tersenyum-senyum bodoh. Tanpa disadarinya Rion menatap kejadian itu dari kejauhan.

“Tak ada yang bisa memiliki Suho oppa selain diriku” gumamnya.

*** 

Xiumin sedang berjalan dikoridor ketika Chorong melewatinya dengan gerutuannya. “Permisi” sapanya. Chorong berbalik dan melihat sekeliling lalu menunjuk dirinya Xiumin hanya mengangguk. “Ada apa ya sunbae?” tanyanya. “Kau melihat adikku?” Chorong mengerenyit “Siapa?” tanyanya bingung. “Suho, kau kan pacarnya. Setidaknya kau tau dimana dia” Xiumin berkata dengan senyum ramah. 

“Maaf ya sunbae, aku bukan pacarnya! Dan jika kau mencari bocah menyebalkan itu, dia dikantin!” ujarnya emosi. 

“Tapi Joonmyeon bilang kau” “Yak! Bukan ya bukan! Aish!” tanpa peduli reaksi Xiumin ia pergi terserah jika sunbae satu ini menilainya apa.

“Waw, myeonie kau punya lawan sepadan” Xiumin malah tersenyum senang.

***

Hari ini Chorong berniat membolos. Ia sedang bosan dikejar-kejar terus oleh anak iblis itu. Sudah memantapkan diri untuk membolos niatnya terhalang ketika menemukan pria menyebalkan itu di dekat pagar belakang sekolah.

“Kau membolos ya?” tanyanya santai.

“Apa pedulimu” Chorong berniat menaiki pagar, “Ya apa yang kau lakukan?” kau memakai rok dasar gadis tak tau malu” Suho membulatkan matanya. “Diamlah, aku memakai Celana tambahan, kecuali jika kau berniat untuk mengintip” Chorong mengedipkan matanya.

“Aish, hey, bukannya itu guru kedisiplinan” ujar Suho. Chorong yang semula akan naik melihat sekeliling dan kembali turun. “Sial” gumamnya. 

“Pak huemmmp” Suho yang berniat memanggil guru segera dibekap oleh Chorong dan dibawa pergi menjauhi pagar belakang.

Suho terus meronta, walau Chorong wanita bekapnnya bukan main-main. “Hmphmp”.

Merasa keadaan sudah aman Chorong melepaskan Suho. “Hah, kau gila! Bagaimana jika aku mati, akan ku tuntut kau dan akan ku gentayangi!” omelnya sarkasme.

“Bisa diam tidak!, atau kau ku hajar disini” glek Suho mengatupkan bibirnya. 

“Sepertinya sudah aman, aku akan pergi. Jika kau masih ingin disini silahkan” Chorong menarik tas ranselnya dan bersiap membuka pintu gudang. 

“Tunggu, kita perlu bicara” tahan Suho dengan memegang lengan Chorong. “Ku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Permisi” Chorong melepaskan genggaman Suho.

Suho berdecak “Turuti perintahku atau Park Chanyeol aku keluarkan!” ancamnya. Chorong terdiam kaku dan seketika memandang suho tajam. Ia segera mendekati Suho dan mencengkaram kerah seragamnya. “Berani macam-macam dengan adikku tak akan ku biarkan kau tenang!” gertak Chorong, namun Suho hanya tersenyum mengejek. “Kalu begitu, turuti perintahku atau ia akan ku keluarkan”.

Chorong memandang Suho dengan penuh benci, tak mungkin ia mengorbankan sang adik, pasalnya sang adik sangat bermimpi bisa sekolah disini bahkan dia sangat senang ketika tahu ia diterima di sekolah tempat kakaknya berada. Ia tak akan melupakan itu. 

“Diam berarti setuju” ujar Suho final.

“Sejak kapan aku menyetujuinya huh” Chorong kembali mengeratkan cengkramannya. “Sejak saat ini, nah Chagi mulai besok kau harus turuti kata-kataku, ah satu lagi” 

Cup

Suho mencium pipi Chorong membuat sang gadis melebarkan matanya dan cengkramnnya mengendur. “Jangan membolos, kembalilah ke kelasmu, annyeong” Suho mengacak surai Chorong dan meninggalkannya.

Chorong yang baru sadar setelah terdengar suara debuman pintu tertutup segera melihat sekitar “YAK! KIM JOONMYEON AKAN KU BUNUH KAU!!”

Tbc