Posted in action, au, comedy, exo, fanfiction, Uncategorized

New Life #4

PicsArt_05-08-09.03.20

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action, comedy.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 4

Dewi fortuna memang tak berpihak padanya hari ini, dengan wajah datarnya dan gerutuan dalam hati ia berjalan melewati beberapa siswa, tak jarang banyak siswa yang memandangnya. Kyungsoo tak peduli dengan isi kepala mereka yang melihatnya. Ia sudah penat dan tujuan utamanya saat ini adalah ruang kosong yang luas. Karena ini hari pertamanya jadi ia masih mencari dimana keinginannya itu akan terkabul.

Setelah melewati lorong dan beberapa anak tangga, akhirnya ia menemukan sebuah pintu besi. Suara decitan besi tua yang berkarat terdengar di telinganya ketika tangan itu mendorongnya . ia mengangkat tangannya menutupi penglihatan ketika cahaya yang sangat terang terlihat olehnya.

“Waw, apa yang membawamu kemari?” tiba-tiba indra pendengarnya merasakan suara yang sangat asing di telinganya.

Setelah membiasakan dengan cahaya ia menurunkan lengannya dan berbalik pada asal suara, seketika helaan nafas keluar dari bibirnya. Sedangkan seseorang yang bertanya tadi hanya menampilkan senyum tanpa matanya itu. Bahkan matanya terlihat hanya segaris. Bertolak belakang dengan pria lain disampingnya yang sedang menyeruput minuman dan memandangnya dengan bola mata melebar.

“Yak! Oh Sehun lain kali kau yang beli makananmu sendiri!” teriak seorang pria yang tiba-tiba saja datang dari arah tempatnya tadi.

“Wah, wah. Lihat siapa yang datang. Bintang kita hari ini berkunjung” ujar pria bertelinga lebar itu dengan heboh.

“Ck, aku bukan bintang” Kyungsoo berdecak dan melihat dengan tatapan malas pada pria tinggi dengan telinga lebar itu yang enatah tak ia ketahui namanya.

“Ya ya, kau bukan bintang tapi kau membuat heboh seisi kelas di hari pertamamu anak baru” akhirnya Jongin membuka suara setelah ia menandaskan minumannya.

Seketika tatapan tajam Kyungsoo mengarah padanya.

Gelek

“Hun-ah, kenapa dia menatapku seperti itu?” tanya Jongin pelan setelah ia mencolek bahun teman di sampingnya.

“Mungkin karena kau hitam” jawab Sehun santai.

Tak

Satu jitakan berhasil Jongin layangkan pada teman sialnya ini.

“Kenapa kau memukulku?!” Teriak Sehun  tak terima.

“Kau mengataiku. Aku tidak hitam, aku ini Tan!” balas Jongin tak mau kalah.

“Ck, apa mereka selalu seperti itu?” Kyungsoo bertanya pada pria tinggi disebelahnya sambil menunjuk kedua orang yang sedang beradu mulut itu.

“Kau akan terbiasa dengan itu nanti, dan apa yang membawamu kemari tuan Do?” tanya pria tinggi itu yang ternyata Chanyeol.

“Aku hanya ingin mencari udar segar, maaf sudah mengganggu kalian, aku akan pergi” ujarnya dan berbalik.

“Kenapa tak bergabung saja dengan kami?” tawar ketiga peria itu serempak, Kyungsoo berbalik dan menaikan sebelah alisnya.

***

Disinilah Kyungsoo dan ketiga orang itu sekarang. Atap sekolah.

Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk bergabung, kakinya sudah lelah untuk berkeliling.

“Nah Kyungsoo, mari kita memperkenalkan diri kembali” Itu Chanyeol yang berujar, ia kelihatan sangat antusias.

“Namaku Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol” jangan lupakan senyum lima jarinya.

“Atau kau bisa memanggilnya Park Dobi” ini Sehun yang berkomentar tanpa wajah bersalah.

“Yak!” Akhirnya Suara bass Chanyeol menggema. Kyungsoo menutup telinganya.

“Abaikan saja mereka, Namaku Kim Jongin. Kau bisa memanggilku Jongin atau Kai terserah padamu” Akhirnya Jongin memperkenalkan diri.

“Atau kau bisa memanggilnya Hitam” Ujar Chanyeol dan Sehun serempak. Sepertinya mereka lupa akan pertengkaran mereka tadi.

“Yak! Sudah ku katakan aku ini tidak hitam!” ujarnya tak terima. Tapi tak ada yang peduli.

“Nah, giliranku. Namaku Oh Sehun. Kau bisa memanggilku si tampan Oh atau Sehun” ujaranya bangga penuh percaya diri.

“Tampan tapi cadel” ujar Jongin dan Chanyeol.

“Aish”

“Baiklah, mohon bantuannya Chanyeol, Jongin dan Sehun” ujar Kyungsoo dengan formal.

“Kyungsoo tak perlu seformal itu” ujar Sehun.

“Santai saja ok?” Chanyeol memberikan beberepa snacknya.

“Ngomong-ngomong Kyung, kenapa kau bisa berurusan dengan Baekhyun, guru Min dan Nari?” tanya Jongin.

“Soal itu, entahlah. Aku juga tak begitu ingat. Hanya saja sepertinya aku membuat kesalahan” Kyungsoo menggaruk tengkuknya kemudian membenarkan kembali letak kaca matanya.

“ Aku tau” ujar Chanyeol.

“Kau cenayang?” tanya Sehun.

“Bukan begitu, aish. Hanya saja. Aku juga berada di tempat kejadian” terang Chanyeol.

“Lalu ?” tanya Kyungsoo.

“Kau mengambil longboard milik Nari, mencopot wig guru Min, dan menumpahkan minuman pada seragam Baekhyun” Chanyeol menjelaskan dengan tenang.

“Apa? Jadi itu yang membuat mereka marah padaku?! Itu kan tak sengaja. Mana aku tau itu longboard miliknya, dan mana aku tau jika guru Min itu memakai Wig, dan untuk urusan Baek siapa lah itu. Aku tak sengaja!”.

“Itu bisa dipahami, tenanglah” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo.

“Tunggu! Kau bilang guru Min memakai Wig?! Jadi selama ini beliau botak?! Haha” Sehun tertawa terpingkal.

“Oh Sehun, pelankan suaramu, kau ingin mati huh?” gumam Jongin.

“Maaf hanya saja, aku tak sanggup membayangkannya” Sehun menyeka air matanya. Sepertinya ia sangat senang.

“Ck, dasar bocah ini. Lalu untuk Baekhyun. Kami sarankan, kau jangan lagi berurusan dengannya” ujar Chanyeol.

“Kenapa?” Kyungsoo menjadi penasaran.

“Entahlah, disekolah ini tak ada yang berani mendekatinya, walau ada hanya beberapa. Dan menurut kabar yang ku dengar, dia itu salah satu anggota mafia” ujar Jongin.

“Mustahil” gumam Kyungsoo.

“Jong, jangan menyebar hoax” kali ini Sehun berpendapat.

“Aku hanya mengeluarkan pendapat dari apa yang ku dengar” gerutu Jongin.

“Itu sama saja hoax Jong, jika kau belum tau fakta sebenarnya. Dan untuk Nari, kami sarankan kau untuk segera minta maaf” Chanyeol memberi pendapat dan diangguki kedua temannya.

“Memang kenapa?” Kyungsoo menampilkan wajah inoncennya.

“Pertama, itu loangboar kesayangannya yang ia beli dengan susah payah” Sehun mengacungkan 1 jarinya.

“Kedua, kau telah mengambil dan merusaknya” Jongin membentuk tanda peace dengan jarinya .

“Itu tak sengaja” sanggah Kyungsoo.

“Kami tau tapi Nari tidak mau tau” ujar Sehun.

“Dan yang terakhir, jika dia marah, maka dia seperti malaikat kematian, tamat riwayatmu” Chanyeol bergidik, Sehun dan Jongin mengangguk disertai postur memotong leher mereka dengan salah satu tangan.

“Aku juga memang berniat untuk meminta maaf jika sudah tenang” jelas Kyungsoo.

“Itu baru namanya pria sejati” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo kembali.

“Ngomong-ngomong Kyung, kami lihat sepertinya kau jago sekali bermain longboard, kau pro ya?” tanya Sehun antusias begitu pula Jongin. Matanya terlihat berbinar.

“Itu kali pertamaku bermain” Kyungsoo mengambil snack Chanyeol yang berada disampingnya.

“APA?!!”

***

Entah hanya perasaan Kyungsoo saja atau memang benar, sedari tadi ia merasa Baek siapalah tadi yang disebut Chanyeol memandang tajam ke arahnya. Pelajaran sedang berlangsung dan ia tidak bisa menengok kebelakang, ia tak ingin terkena kesialan lainnya hingga diusir dari kelas.

Entah guru Min memang masih dendam padanya atau tidak, beliau menempatkan Kyungsoo di depan Baekhyun dan di belakang Nari. Membuat Kyungsoo merasa kurang nyaman.

Sampai akhirnya pelajaran berakhir dan ia bisa bernafas lega. Setelah guru meninggalkan ruangan ia segera berbalik pada Baekhyun.

“Bukankah aku sudah minta maaf, kenapa kau terus mellihatku dengan tatapan membunuh?” tanya Kyungsoo. Seketika perhatian seluruh kelas berpusat pada mereka.

“Cih, kau peka juga rupanya. Tapi urusan kita belum berakhir” dan Baekhyun memecah ketegangan itu dengan meninggalkan kelas.

Kyungsoo hanya menghela nafas, sepertinya akan sulit untuk kedepannya, pikir Kyungsoo. Ia melirik Nari di depannya dan mengambil longboard yang berada disamping mejanya.

“Maaf, Nari-sii” ujar Kyungsoo.

Nari menoleh dengan pandangan sadis “Apa? Kau mau mencuri barang apalagi?” ujarnya beruntun.

“Bukan begitu, ini (Kyungsoo menyerahkan Longboard milik Nari) aku tak sengaja memakainya karena terjatuh” Nari segera menarik Longboard miliknya.

“Longboardku” pekiknya senang. Ia segera menarik longboard miliknya dan memeluknya.

“Dan maaf, rodanya menjadi aus setelah ku pakai” Kyungsoo bergumam pelan. Tapi Nari masih bisa mendengarnya. Seketika matanya yang tertutup menjadi terbuka lebar.

“APA?!” Teriaknya lantang. Dan teriakannya berhasil membuat seisi kelas memandang kembali Kyungsoo.

“Tenang saja, aku akan menggantinya” ujar Kyungsoo menenangkan.

“Kau. HARUS! Itu sudah kewajibanmu! Perbaiki ini, aku tidak mau tau” Nari kembali menyerahkan Longboard miliknya pada Kyungsoo. Setelah itu ia mengambil tasnya dan melangkah keluar, namun belum sempat mencampai pintu ia berbalik kembali “Kau! Secepatnya kembalikan itu!” tunjuk Nari pada Kyungsoo , setelah melihat Kyungsoo mengangguk ia akhirnya keluar kelas.

“Ini akan sulit” Kyungsoo menghela nafas. Hari ini membuatnya frustasi.

***

Baekhyun memasuki lorong yang sangat sempit, sepertinya itu jalan buntu. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Yo, Baek kau sampai?” tanya seseorang. Baekhyun tak menjawab. Ia berjalan dan duduk di samping pria yang bertanya padanya tadi.

“Gawat!” seseorang berlari ke arah mereka dengan sempoyongan.

Baekhyun mengerenyit, “Ada apa?” tanya pria di samping Baekhyun.

“Daniel, Daniel dipukuli pria berjas hitam” ujar pria yang datang tadi.

“APA?!”

“Kita kesana” Baekhyun segera beranjak dari tempatnya.

Sepertinya kali ini Baekhyun dan kawannya salah memilih lawan. Daniel sudah babak belur, bahkan temannya yang lain sudah tak sanggup. Baekhyun harus membawa orang-orang itu menjauh dari temannya. Ia mengambil sebuh balok yang terjangkau dan memukul salah seorang pria berjas hitam itu hingga tumbang dan mengelurkan darah. Pria berjas lainnya melihat Baekhyun, namun Baekhyun dengan cepat berlari dari sana.

“BAEK!” Teriak teman-temannya.

***

Inilah yang membuat Kyungsoo kesal jika tinggal bersama dengan kakaknya. Joohyun selalu seenaknya menyuruh ini itu. Kali ini Kyungsoo terpaksa keluar malam, tidak terlalu malam juga karena ini masih pukul 09.00 Pm. Hanya untuk membelikan Joohyun pembalut. Kyungsoo bisa saja menolak, tapi uang bulanannya akan disita Joohyun. Ia masih butuh uang untuk memperbaiki longboard Nari. Jika tidak ingat hal itu ia sudah diam di kamar saat ini bermain game.

Dengan menahan malu yang luar biasa akhirnya ia berhasil membeli apa yang dipinta kakaknya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekumpulan orang, awalnya ia akan mengabaikannya tpi setelah melihat dengan jelas siapa yang sedang dihajar oleh mereka. Dengan mantap kedua kakinya melangkah menuju kerumunan itu.

“YAK!” teriaknya. Beberpa pria tinggi dengan jas hitam berbalik melihat Kyungsoo.

“Mau apa kau boc . . “ BUAGH. Perkataan pria tadi terhenti karena Kyungsoo menghajarnya dadakan dan membabi buta.

“Ish, bocah pengganggu lainnya. Hajar dia!” dan berakhir dengan pria berbadan besar itu melawan Kyungsoo. Mengabaikan seseorang yang sudah babak belur dihajar oleh mereka tadi.

Buk, karena sudah tak tahan pria babak belur itu terbaring di tempat, bahkan matanya sudah akan tertutup namun samar-samar ia bisa melihat seseorang dengan setelan hodie dan trening serba hitam sedang bertarung, hingga matanya benar-benar terpejam.

TBC

 

Advertisements
Posted in action, comedy, exo, fanfiction

New Life #3

PicsArt_05-08-09.03.20

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action, comedy.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 3

 

Pip Pip Pip Pip

Gadis itu menekan beberapa digit angka, tak lama kemudian pintu berhasil terbuka.

“Ingat angka tadi, jika kau tak ingin terkunci diluar” ujarnya setelah masuk kedalam apartemennya dan mengganti alas kaki dengan sandal rumahan.

“Kau pikir aku seperti dirimu huh?! Yak! Bantu aku! Memangnya aku ini pelayanmu” pemuda di belakangnya bersungut-sungut, ia membawa dua koper besar, satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri jangan lupakan satu ransel besar yang masih setia menggantung di punggungnya.

“CK, merepotkan, kau kan bisa membawanya satu – satu” gadis itu kembali walau dengan gerutuan ia tetap mengambil salah satu dari tangan sang pria lebih muda.

“Jika bukan kakakku sudah ku hajar dia, aish!” umpat sang pria muda dengan kepalan tangan dan mengayunkannya, ia melampiaskannya pada udara hampa.

“Do Kyungsoo aku mendengarmu~” ujar wanita yang lebih tua darinya itu, pemuda itu Kyungsoo melebarkan kedua bola matanya. Pasalnya sang kakak sudah berada di ruang tengah ketika ia mengumpat. “Sial, ada yang membicarakannya saja baru telinganya peka” ia menghampiri sang kakak dengan menyeret kopernya.

“Dimana kamarku?” tanya Kyungsoo setelah ia berada di ruang tengah.

Joohyun menunjuk salah satu pintu tanpa bicara. Air lebih penting untuknya saat ini. Bahkan ia berhasil menegak habis isi air dari dalam satu botol besar tanpa sisa satu tetespun.

Kyungsoo melihat arah yang Joohyun maksud, ia segera mendekati pintu itu tanpa ada kecurigaan sama sekali.

Kyungsoo menggenggam pegangan pintu itu, tanpa melihat di belakangnya Joohyun memperhatikan dan berhitung tanpa suara, dan . .

Kriett

Bugh bagh bugh

“Aw aw” Bugh bugh “Aw aw ya aww” rintih sang pemuda dengan kedua tangan melindungi kepalanya, membuatnya terduduk di lantai. Beberapa kardus menimbun tubuhnya.

Joohyun tertawa di belakang sana tanpa ada niatan menolong sang adik.

“YAK!” Deep voice dangan nada tinggi terdengar di seluruh penjuru ruangan, Joohyun melebarkan matanya, ia segera berlari menuju kamarnya tepat di sebelah adiknya.

Blam.

Pintu itu tertutup dengan keras.

“Do Joohyun akan ku hajar kau!!!” Teriak Kyungsoo dengan tatapan membara.

“Maafkan aku Sooie, aku belum sempat membereskannya, jadi kau bereskan saja sendiri ya?” Ujar Joohyun dari dalam kamarnya.

“Yak!” Kyungsoo menggedor pintu kamarnya tanpa henti.

Oh sepertinya para tetangga tidak akan bisa hidup dengan tenang setelah ini.

****

Kyungsoo keluar kamarnya dengan tergesa, ia sedikit terlambat bangun di hari pertamanya. Salahkan Joohyun yang membuatnya bekerja ekstra memindahkan kardus-kardus itu semalaman.

“Kak, bus apa yang harus ku naiki untuk sampai ke sekolah?” tanyanya setelah menemukan Joohyun yang berada di counter dapur dengan sepotog roti ditangannya. Joohyun mengalihkan atensinya, ia mengerenyit “Sejak kapan kau memakai kacamata?”.

Tanpa berniat untuk menjawab ia lebih memilih merapihkan seragamnya “Jawab aku!”.

Joohyun memutar bola matanya “Bus No 8 , kau tak ingin aku antar?” tawar Joohyun.

“Terlalu lama menunggumu, aku berangkat!” setelah memakai sepatunya ia melesat keluar.

“Ya, kau tidak sarapan?!” namun sang adaik sudah jauh meninggalkannya. Joohyun mengedikan bahunya dan berjalan menuju laptopnya dan tumpukan buku di meja dengan segelas susu di tangannya dan sepotong roti di mulutnya.

****

Halte tujuan utamanya saat ini, entah seberapa cepat ia berlari sekarang. Ini hari pertama di sekolah barunya, ia tidak boleh terlambat. Jika di sekolahnya yang lama ia sudah tak peduli dengan waktu tapi untuk sekarang tak bisa. Ia sudah berjanji untuk berubah. Mungkin sekitar 100 meter dari tempatnya ini ia bisa melihat halte bus, “ itu dia!” pekiknya. Tanpa membuang waktu ia menambah kecepatan larinya, jalan yang menurun lebih mempermudahnya melesat. Namun naas, ketika sudah berada di kecepatan penuhnnya tak di sangka seorang kakek dan gerobaknnya keluar dari jalanan kecil di turunan itu.

“Ya ya kakek!” teriaknya, karena sudah sulit untuknnya berhenti di saat ini.

Sang kakek melebarkan matanya terkejut tanpa bisa bergerak, kurang dari 5 meter lagi seorang pemuda bisa menabraknya.

Berpikir dengan cepat, Kyungsoo memutuskan untuk menambah kecepatannya, ketika ia sudah dekat dengan gerobak sang kakek, ia melompat. Bagaikan adegan di film action, tubuhnya berputar di udara melewati gerobak. Sedangkan sang kakek dibuat terkejut dan mulutnya mengaga, ia seperti melihat film action secara langsung.

Disisi lain seorang pemuda tinggi berkacamata menyaksikan kejadian itu tanpa berkedip.

“Daebak!” ujarnya.

Sedangkan seorang gadis di belakang pemuda itu tak tau apa yang terjadi, ia melihat tali sepatunya terlepas, tidak ingin dirinya malu karena bisa saja ia terjatuh oleh tali sepatunya ia menunduk, meletakan Longboardnya dan mengikat tali sepatu, ketika ia akan mengikat sepatu satunya kakinya tak sengaja menendang Longboarnya. Membuat benda itu meluncur bebas,  “Astaga, Longboardku!”.

Sialnya Longboard itu mengarah pada Kyungsoo. Kyungsoo yang semula tersenyum karena apa yang dipikirkannya berhasil seketika terbelalak. Aspal yang harusnya ia pijak berganti menjadi sebuah Longboard.

Ia meluncur dengan Longboard itu, tanpa bisa mengendalikannya.

“Ya! Pencuri kembalikan Longboard milikku!” teriak gadis itu.

Kyungsoo belum bisa mengendalikan situasi, ia bahakan menyenggol seseorang yang baru saja keluar dari sebuah minimarket, membuat minuman yang dipegang pria itu tumpah mengenai bajunya. Tak sampai disitu, karena mencoba mencari keseimbangan tangan Kyungsoo bergerak bebas. Tanpa sengaja ia menarik sesuatu, ketika ia melihat apa yang ada di tangannya ia segera membuangnya. Itu seperti rambut.

Kyungsoo bedoa dalam hati agar ia bisa selamat, seketika ia terbayang adegan dimana ia sedang diajari skateboard oleh Jongdae.

Flashback

Kyungsoo sedang mencari keseimbangan di atas skateboard, namun ia selalu saja terjatuh. Jongdae yang melihatnya tertawa terbahak, Kyungsoo menyerah. Ia melemparkan pelindung tangannya dan helem yang dipakenya.

“Aku menyerah!” ujarnya.

“Haha, seharusnya kau yang mengendalikan benda itu bukan benda itu yang mengendalikanmu”.

End of flasback

Kyungsoo berusaha mencari keseimbangan tubuhnya, kaki tempat ia berpijak di papan itu ia geser sesuai dengan posisi nyamannya. Dan benar saja itu berhasil. Kyungsoo tersenyum senang. Ia menghentikan laju papan miliknya ketika sudah berada di halte.

“Sial!” umpatnya.

Bus yang seharusnya ia naiki sudah pergi meninggalkannya. Ia melihat Loangboard dibawahnya. Tanpa berpikir dua kali ia melajukan papan miliknya kejalanan. Tidak peduli dengan suara klakson dan makian, tujuan utamanya adalah bus di depan.

Ketika jarak semakin dekat ia melepaskan dasi di lehernya dan melemparkannya.

“Gotcha!” ujarnya ketika dasi miliknya tersangkut di slah satu besi belakang bus.

Ia menggenggam dasi itu dengan erat dan melaju dengan loangboardnya.

***

“Kim Jongin cepat bangun! Kau harus melihat seusuatu yang menarik di belakang sana” ujar pria berkulit putih pada teman di sampingnya.

“Aku mengantuk Sehun” pria dengan nama Jongin itu tak berniat membuka matanya, ia lebih memilih memejamkan mata dan membuat posisi duduknya senyaman mungkin.

Plak

“YAK!” teriak Jongin memegang kepalanya. Sehun memukulnya tadi.

“Lihat ke belakang dan kau tak akan menyesal” ujar sehun menunjuk jendela belakang. Posisi mereka saat ini sangat menguntungkan karena mereka duduk di bangku belakang.

Jongin melebarkan kedua matanya. “Apa dia gila?!” tanya Jongin ketika ia melihat seorang peria berkacamata menaiki longboard di belakang bus yang dinaikinya. Seoalah ia sedang berselancar di laut lepas.

“Sudahku bilang bukan ini menarik” senyum sehun.

***

Ketika bus di depannya berhenti di tempat tujuan ia segera menghentikan Longboardnya. Tanpa peduli dengan kegaduhan para penumpang bus yang turun dan naik, ia lebih memilih mengambil kembali dasinya menaruhnya di leher dan merapihkan seragamnya. Ia mengambil papandi bawahnya.

“Astaga, rodanya sampai aus. Baiklah akan ku ganti nanti sebagai ucapan maaf dan terima kasih” ia menenteng longboard di salah satu tangannya dan bertanya pada penjaga dimana ruang kepala sekolah.

Tak jauh di belakangnya sehun dan Jongin baru saja turun dari bus. “Kau lihat tadi bukan?” tanya Sehun. “Ya, aku melihat. Dan sepertinya ia siswa disini, jika aku tak salah melihat seragam miliknya” mereka masih berjalan dari gerbang menuju kelasnya.

“Benarkah? Jika benar ini akan menarik” ujar Sehun.

Dibelakang kedua pria berbeda warna kulit itu seorang wanita terus saja mengumpat “Awas saja jika aku bertemu denganmu pencuri! Yak! Tak taukah kau seberapa lama aku menabung untuk benda itu!!”.

Tak lama kemudian seorang pria dengan wajah imut memasuki pekarangan sekolah. “Hai Byun ada apa dengan seragammu?” tanya pria lain pada pria berwajah imut dengan nama Byun itu.

“Sial, menjauhlah dariku jika kau tak ingin terkena imbas, aku sedang kesal sekarang” umpat pria Byun itu, astaga wajah tak sesuai dengan umpatan yang keluar dari bibir tipisnya.

Penjaga akan menutup gerbang, hanya tinggal sedikit lagi dan “Pak tunggu!” seorang pria tinggi berkacamata berlari dengan terengah.

“Park Chanyeol, kau lagi kau lagi” ujar sang penjaga. Sedangkan pria tinggi bermarga Park itu hanya menampilkan senyum 5 jarinya.

“Kau terlambat bangun lagi?” tanya sang penjaga.

“Tidak, tadi aku melihat . .” ujarannya antusias namun harus di potong dengan panggilan . .

“PARK CHANYEOL CEPAT MASUK ATAU KU HUKUM KAU!” Guru Choi.

Chanyeol segera berlari “Nde!”.

****

“Nah Kyungsoo, semoga kau betah di sekolah ini, guru Kim akan mengantarkan dirimu” ujar kepala sekolah.

“Baiklah, terima kasih atas bantuannya” Kyungsoo menunduk hormat dan berpamitan, kemudian ia mengambil kembali Longboardnya dan mengikuti guru Kim.

11-C

Itulah yang tertulis di papan diatas pintu.

Guru kim melihat ke arah Kyungsoo. “Ini kelasmu, kau tunggu disini sebentar” Kyungsoo mengangguk, sedangkan guru Kim mengetuk pintu dan masuk kedalam.

Kyungsoo memainkan kakinya, tak lama suara guru Kim memanggil dirinya. Tanpa ragu ia membenarkan letak kacamatanya dan masuk kedalam.

“Halo semua, aku Do Kyungsooo slam kenal” ia kembali menegakkkan tubuhnya setelah membungkuk memberi salam.

Jongin terkejut di tempatnya, sehun di sampingnya tampak antusias sama halnnya dengan pria tinggi dibelakang sana.

“Daebak!” ujar keduanya.

“Yak! Pencuri!” itu suara slah satu siswi penguni kelas ini yang menunjuk Longboard ditangan Kyungsoo.

Pria bermarga Byun yang semula tertidur dibangkunnya membuka mata dan meneggakkan tubuhnya karena tidurnya terganggu.

“Kenapa ribut sekali sih, YAK KAU!” teriak Bakehyun menunjuk Kyungsoo begitu pula guru Min.

 

TBC

 

 

Posted in au, fanfiction

New Life #2

 
New Life
Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 2

Rasa bersalah selalu menghantuinya, sikapnya berubah 180 derajat. Semenjak keluar dari rumah sakit ia jarang sekali bicara. Seolah membuat dinding pembatas untuk memisahkan dirinya. Ia tidak datang pada acara pemakam Jongdae karena kondisinya, namun setelah keluar ia pun belum berkunjung ke makamnya.

Kedua orang tua Kyungsoo tidak bisa berbuat banyak, ketiga sahabatnya bahkan selalu membujuknya keluar. Namun Kyungsoo tak menghiraukannya. Orang tua Jongdae tidak menyalahkannya, mereka berfikir ini sudah takdir dari tuhan. Mungkin saja Jongdae lebih bahagia disana, walau untuk beberapa saat terkadang mereka kehilangan sosoknya. Bahkan mereka sama khawatirnya dengan orang tua Kyungsoo pada anak itu.

Tok tok

Tak ada tanggapan, akhirnya ibu Kyungsoo masuk kedalam dengan membawa nampan berisi makanan.

“Soo- ya kau harus makan nak” ia meletakan nampan di meja belajar Kyungsoo. Numun sang anak tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Ia masih betah melihat langit dari balkon kamarnya.

Ibunya mendesah pasrah, terkadang ia menyesal dengan sikapnya dulu. Ia dan suaminya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibanding memperhatikan sang anak. Sehingga ia tidak terlalu mengetahui perkembangan sang anak, sampai suatu hari telponnya berbunyi dan mengabarkan bahwa sang anak masuk rumah sakit dalam keadaan kritis. Nyawanya seakan terangkat beberapa saat ketika mendengar kabar itu.

Dengan perlahan ia menghampiri sang anak dan memegang pundaknya, “Soo-ya”.

Kyungsoo menoleh, mata itu seolah redup tak ada sinar seperti sebelumnya.

“Ibu” ujaranya lemah.

Sang ibu mengelus surai hitam anaknya dengan penuh kasih. “Soo-ya, ayo makan heum?”.

“Aku tak lapar bu” Ibunya menghela nafas, jika begini terus sang buah hati bisa kembali masuk ke ruang rawat inap. “Tapi kau belum mengisi perutmu sedari pagi”.

“Aku tak berselera” ia kembali menatap langit.

“Kyungsoo, jangan menghukum dirimu seperti ini. Semua ini bukan salahmu. Ini semua sudah takdir tuhan, tak ada yang menyalahkanmu. Kau harus bangkit nak, mungkin saja Jongdae di atas sana sedang menggerutu karena tingkahmu ini. Semua bukan salahmu” sang ibu memeluk sayang anaknya dan kembali mengelus surai hitam legamnya. 

“Ibu . .” gumamnya dan memeluk ibunya, ia membenamkan wajahnya. Tidak selang lama ibunya merasakan tubuh anaknya bergetar, Kyungsoo menangis tanpa suara.

*** 

“Apa ia tertidur?” tuan Do bertanya ketika istrinya baru saja keluar kamar anaknya.

“Eum, aku semakin khawatir padanya, tubuhnya semakin kurus, belum lagi ia selalu bermimpi buruk” wajah nyonya Do menjadi murung. “Ini semua salahku jika saja ..”, “Sttt, jangan menyalahkan dirimu. Kita berdua kurang memperhatikan mereka. Tuan Do, memeluk istrinya yang sudah terisak.

“Ibu, Ayah aku datang!, dimana anak itu?” teriak seseorang dari bawah. 

Nyonya Do mengerenyit, “Bukankah itu suara Joohyun?”.

Tuan Do mengagguk, mereka turun kebawah. “Ternyata benar kau” ujar sang ayah.

“Ah, hallo ayah, ibu aku pulang. Dimana bocah itu?” setelah memberi salam pada kedua orang tuanya ia menggulung lengan kemejanya berjalan menaiki tangga meninggalkan koper miliknya.

“Adikmu baru saja tidur, sudahlah nanti lagi saja” cegah sang ibu.

“Huh, dia beruntung kali ini. Awas saja nanti” ia bergumam dengan mengepalkan kedua tangannya.

“Kenapa kau tidak mengabari jika akan pulang, ayah bisa menyuruh seseorang menjemputmu” mereka menuruni anak tangga menuju lantai bawah tak ingin membuat keributan dan membangunkan anak bungsunya.

“Ck, merepotkan. Yang penting akau sudah sampai dengan selamat” Joohyun menuju salah satu sofa dan mendudukinya.

“Ya! Anak ini” yang dibentak hanya menunjukan cengirannya. Nyonya Do hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya.

“Kau sudah makan?” tanya nyonya Do.

“Wah ibu tau saja jika aku lapar” Ia tersenyum dan menghampiri ibunya di dapur, giliran ayahnya yang menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. 

*** 

Srak srak srak

Seseorang membuka tirai kamar bernuansa hitam itu, membuat cahaya sang surya menembus setiap kaca jendela.

Tubuh yang sedang terbaring merasa terusik.

“Do Kyungsoo bangun atau aku hajar kau!” seorang wanita berdiri di dekat tempat tidur  dengan melipat kedua tangannya didada.

Kyungsoo yang semula terusik dalam tidurnya mendadak tubuhnya tegang, ia mengenali suara ini, tapi tak mungkin halaunya. Karena yang ia tau orang tersebut sedang tidak berada disini. Dari pada dilanda penasaran ia mencoba membuka matanya, menyesuaikan penglihatannya karena ia baru saja terbangun.

“Sial” gumamnya, setelah ia melihat dengan jelas penampakan seorang wanita yang sedang menyeringai ke arahnya.

“Apa kabar adik manisku?” itu Joohyun, kakaknya.

“Untuk apa kau kemari? Keluar!”usir Kyungsoo dengan tatapan tajamnya.

“Ck” Joohyun berjalan kesamping tempat tidur sang adik, dan menarik lengannya tanpa ampun “Yang harusnya keluar itu kau! Sampai kapan kau seperti ini huh!” ia masih menarik adiknya.

“Ya ya! Ibu!” rengek Kyungsoo.

Bugh

Kyungsoo terjatuh dari tempat tidurnya, “Cepat mandi! Temani aku jalan-jalan sudah lama aku tidak pulang”. Kyungsoo baru saja akan membuka mulut, “Tak ada bantahan, cepat atau aku siram kau di tempat ini juga”.

Blam

Tanpa berperasaan Joohyun membantik pintu itu menyisakan adiknya yang sedang menyumpah serpah dirinya.

Setelah keluar dari kamar sang adik ia tersenyum sekilas, “Jika tidak seperti ini kau tak akan mau keluar dari sangkarmu” gumamnya.

“Ada apa? Kenapa Kyungsoo berteriak?” tanya sang ibu yang baru saja menghampirinya.

“Tidak ada apa-apa, ibu tak perlu khawatir. Sebentar lagi anak itu akan keluar”.

“Benarkah?” Ibunya sedikit terkejut.

“Eum, lebih baik ibu memask untukku” Joohyun menggandeng ibunya menjauh.

*** 

Tuan dan nyonya Do tersenyum cerah ketika melihat anak bungsu mereka keluar dari kamarnya. Kyungsoo menarik salah satu kursi dan duduk di sana.

“Makanlah” sang ibu memberinya sepiring hidangan.

“Aku tak lapar” tolak Kyungsoo.

“Do Kyungsoo makan!” titah Joohyun.

“Ck kau ini bawel sekali” tapi Kyungsoo mengambil sendok dan memasukan sesuap nasi ke mulutnya. Tuan dan nyonya Do semakin tersenyum senang. Anak sulungnya memang bisa diandalkan untuk saat seperti ini.

*** 

“Wah sudah lama sekali rasanya” Joohyun merentangkan kedua tangannya sambil berjalan.

“Hanya dua tahun bodoh” ujar Kyungsoo.

“Yak!” Joohyun berancang akan memukul adiknya tapi ia urungkan.  “Maksudku, sudah lama bukan kalu tak keluar rumah sebulan? Ah tidak dua bulan bukan?”. Tak ada bantahan.

“Kenapa kita ke pemakaman?” Kyungsoo mengerenyitkan dahi. 

“Hanya ingin memberi salam pada salah satu ‘adik’ kesayanganku” jawab Joohyun.

Deg

Kyungsoo tau makam siapa itu dari fotonya. Tubuhnya seolah kaku, rasa ketakutan dan bersalah seakan menembus hatinya kembali.

“Annyeong Dae-ah, maafkan aku tidak datang melihatmu untuk terakhir kali. Dan ah,aku juga membawa Kyungsoo, Soo-ya kemari” panggil Joohyun, namun sang adik tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Joohyun menarik lengan sang adik dan berakhir di depan makam Jongdae.

“Tidak ingin memberi salam?” tanya Joohyun. Tapi mulut Kyungsoo seakan terkena lem yang susah untuk dibuka. Joohyun menghela nafasnya. Ia menggenggam erat lengan sang adik.

“Dae-ya, terima kasih sudah menjaga Kyungsoo. Kau sudah seperti kakaknya sendiri, terkadang aku iri, kali ini serahkan saja padaku, kau tak perlu khawatir lagi disana. Aku tau dia memang menjengkelkan, aku akan lebih bersabar tenang saja” Joohyun seperti sedang mencurahkan perasaannya.

“Kakak!” akhirnya ia bersuara. Joohyun tertawa. “Tak ingin mengucapkan sesuatu pada Jongdae?”.

Kyungsoo menelan liurnya “Jongdae-ya, maafkan aku, maafkan aku” tanpa diduga liquid bening sudah meluncur dari mata bulatnya.

Joohyun mengelus punggung sang adik.

“Kyungsoo-ya apa itu kau?” mereka menoleh karena ada yang memanggil.

“Ternyata benar kau, akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga nak” seorang wanita seumuran ibunya menghampiri mereka.

“Bibi” gumam Kyungsoo. Tanpa diduga wanita itu memeluknya. “Bibi maafkan aku, karena aku Jongdae, Jongdae . .”

“Sttt, itu bukan salahmu nak, mungkin ini sudah takdir yang di atas, bibi dan paman tidak menyalahkanmu, mungkin Jongdae juga akan merasa sedih dan mengomelimu jika seperti ini” wanita itu yang ternyata Ibu Jongdae menghapus air mata Kyungsoo.

“Maafkan aku bi” ujar Kyungsoo. Joohyun tersenyum lembut di samping keduanya.

*** 

Mereka sedang makan malam bersama. Joohyun menatap mereka bergantian.

“Ayah, ibu, besok aku akan kembali. Aku tak bisa ijin lama-lama” ujar Joohyun.

“Secepat itukah?” tanya sang ayah.

“Eumh, lalu ada yang ingin  ku bicarakan pada kalian” Joohyun berubah serius.

“Apa itu?” kali ini ibunya yang bertanya.

“Aku akan membawa Kyungsoo, ibu dan ayah bisa mengurus perpindahan sekolahnya bukan?” pinta Joohyun.

“Tentu saja, itu hal yang mudah, akan kami urus” ujar sang ayah.

“Yak!, harusnya kau bicara dulu padaku?” ujar Kyungsoo.

“Kau sulit untuk diajak bicara, jadi terima saja tuan Do kecil” Joohyun menyeringai puas.

‘welcome to my sweet life uri dongsaeng’ pikir Joohyun dengan seringainya.

‘I come to hell’ pikir Kyungsoo berteriak dalam hatinya. ‘siapapun tolong aku?’ itulah arti sorotan matanya saat ini.

To be continue

Posted in action, drama, fanfiction

New Life #1

      

                                 New Life

                            Evina93 ©2018

                            Chapter /PG 16

                 Au, drama, friendship, action.

                       Do Kyungsoo (Exo), Oc.

‘Menjalani sesuatu hal yang baru tanpa bayang-bayang masa lalu memang sulit, namun bagaimana jika masa lalu adalah suatu takdir yang harus dijalanin agar mendapat hal baru yang lebih berharga untuk kau jalani dan miliki’.

                              Chapter 1

Udara yang semakin terasa pengap pada ruangan 4 x 5 meter ini tak dihiraukan oleh mereka, yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah bagaimana cara membebaskan salah satu teman mereka dari kumpulan para mafia itu.

“Aku akan pegi sendiri” setelah terdiam cukup lama pria dengan mata bulat itu akhirnya membuka suara.

“Jangan gegabah Soo, mereka itu bukan tandingan kita!” Bentak seorang lainnya yang lebih tua diantara mereka.

“Lalu aku harus bagaimana?! Kita harus membebaskan Jongdae! Ini semua salahku!” Sesal pria bermarga Do tersebut.

“Kyungsoo dengar! Ini semua bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu lagi. Jongdae seperti itu karena dia ingin melindungumu. Kau tau bukan sifatnya? Jangan bertindak sendiri. Aku akan ikut denganmu” pria berwajah malaikat itu menepuk bahu Kyungsoo, sedikit menyalurkan energi agar juniornya ini tidak terlalu terpuruk.

“Benar apa yang dikatakannya, aku juga akan ikut denganmu. Begini-begini aku juga bisa berkelahi” pria lain dengan diemple di pipinya memperlihatkan otot tangannya. Dia salah satu yang bisa mencairkan suasana, walau terkadang berakhir dengan membuat kesal temannya.

Plak

Seseorang memukul kepalannya. “Sakit! Kim Minseok kau kejam!” Yixing, pria berdiemple itu memberengut sambil mengusap kepalannya.

“Do Kyungsoo, kami akan ikut tak ada penolakan!” Putus Minseok.

Kyungsoo mengangkat wajahnya menatap mereka. Ia menghela nafas,”Baikalah”.

*** 

Mereka dibagi menjadi dua kelompok, Yixing dengan Joonmyeon dan Kyungsoo dengan Minseok. Kyungsoo mengendap memasuki salah satu gudang besar di pinggir pelabuhan. Salah satu markas mafia yang menyekap Jongdae.

Minseok mengintip sedikit. Di tengah ruangan sana ia melihat seseorang duduk terikat dengan wajah babak belur. Ia mengepalkan tangannya. “Aku menemukannya” gumam Minseok. Kyungsoo menghampiri Minseok. Tatapan matanya semakin tajam. Ditengah sana Jongdae sudah babak belur. “Hyung, kami menemukannya” Kyungsoo berbicara setelah menekan beda kecil yg menempel di telinganya.

“Hyung, kau siap?” tanyanya pada Minseok.

“Kapanpun” Minseok menyeringai. 

“Ayo”.

*** 

Dengan perlahan mereka menumbangkan satu persatu penjaga. Hingga sampailah posisi mereka dekat Jongdae. Minseok segera melepaskan Jongdae “Jongdae sadarlah! Kau bisa mendengarku?” Minseok masih berusaha membuka ikatan Jongdae. Jongdae membuka matanya yang sudah bengkak “Hyung” gumamnya.

Kyungsoo menghalau siapa saja yang mendekat. Ia layangkan tinjunya, tendangan dan menghalau lagi. Disisi lain Yixing dan juga Joonmyeon sedang berurusan dengan beberapa orang.

Buk

“Hyung!” mata Kyungsoo melebar, ia segera menerjang seseorang yang menendang Minseok hingga terpental beberapa meter. 

Bak buk bak buk prang buk buk

“Ugh” rintih Kyungsoo memegang perutnya yang terkena tendangan. Tidak ia hiraukan ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.

Minseok kembali bangkit membantu Kyungsoo. Merka kembali beradu 2 lawan 10 memang tidak adil apalagi mereka masih anak sekolah. Namun bukan anak sekolah sembarangan.

Dor

Suara tembakan itu mengalihkan atensi mereka. Sesorang dengan setelan serba hitam berdiri di dekat pintu dengan mengacungkan senjata ke udara.

“Wah wah, tidak aku sangka. Para bocah ini berani sekali. Tangkap mereka!” titahnya.

“Lepas!” Kyungsoo tidak tinggal diam.

“DIAM! ATAU TEMANMU MATI!” pria serba hitam itu mengacungkan pistol ke kepala Jongdae.

Kyungsoo melotot. Ia tidak bisa melawan, Minseok, Joonmyeon serta Yixing pun digeret ke tengah ruangan.

“Kau ingin temanmu bebas huh?” Pria itu mendekati Kyungsoo.

Tak ada jawaban, pria yang berada di dekat Jongdae memukul kepala Jongdae dengan pistol.

“YAK!” teriak mereka. 

“Apa maumu?” tantang Kyungsoo.

“Chip. Kembalikan chip itu maka kalian bebas”. Ujar pria tinggi yang sudah berada di depan Kyungsoo.

“Yixing hyung berikan” titah Kyungsoo.

Yixing mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan melemparnya. Seseorang menangkapnnya.

“Anak pintar. Bebaskan meraka” Pria tersebut berbalik dari Kyungsoo.

Pegangan pada Minseok, Yixing, Joonmyeon serta Kyungsoo mengendur. Jongdae dibebaskan dari ikatannya.

Perlahan Jongdae berjalan ke arah teman-temannya. Dengan senyum yang menghiasi bibirnya tanpa perduli wajah yang babak belur, darah serta sudut bibir yang sakit ketika tersenyum.

“Bereskan” Ujar pria tinggi tadi pada anak buahnya dan dijawab oleh anggukan.

Tanpa ke 5 anak itu sadari selongsong senapan sudah mengarah pada Jongdae.

DOR

Headshoot, peluru itu berhasil mengenai kepala Jongdae.

Jongdae terbelalak dan jatuh dihadapan ke empat temannya.

“Jongdae!!!” 

“Dasar bajingan!” Kyungsoo sudah diluar kendali. Ia menghajar semua orang yang menghalanginya.

Minseok mendekati Jongdae memastikan keadaannya, “Jongdae bangunlah,Arggggghhhh sial!” Minseok bangkit ikut menghajar semua orang setelah mengetahui keadaan Jongdae. Ia telah meninggalkan mereka. 

Dengan berlinang air mata dan keadaan kacau mereka berusaha melawan. Yixing terkena hantaman pada kepalannya membuatnya tak sadarkan diri. Joonmyeon tertusuk pisau. Minseok tertembak kakinya. 

“Arghhhhh!” Kyungsoo semakin brutal menghajar semua.

Door

Peluru lainnya berhasil menembus dadanya. Kyungsoo ambruk di dekat Jongdae.

“Kyungsoo!!!!” teriak Minseok. Ia tidak bisa bergerak karena kakinya tertembak.

Kesadarannya perlahan semakin menghilang, dengan sisa terakhir ia melihat wajah Jongdae.

‘Maafkan aku’ dan kesadarannya pun menghilang.

Tidak lama suara sirine polisi berbunyi, sebagian para penjahat itu berhasil kabur dan sebagian tertangkap.

“Bawa tandu kemari”

“Dia butuh pertolongan pertama”

“Nyawanya sudah tidak tertolong”

“Tahan ini, aku akan membawamu”

“Detak jantungnya masih ada, cepat bawa dia”

Semua sibuk, mobil polisi mengepung. Ambulan berjejer.

“Apa ini ulahnya lagi?” tanya seorang komandan polisi.

“Benar pak”.

“Sial dia kabur lagi”.

***

Disalah satu ruang oprasi para dokter bekerja sangat keras.

“Pisau” seorang dokter mulai membedah.

“Pompa keluar darahnya, , pingset” dengan hati-hati dokter tersebut mengeluarkan peluru di dada Kyungsoo. Terlambat sedikit saja dan salah maka akan berakibat fatal pada Kyungsoo.

“Jahit” dengan fokus yang tinggi dokter serta asistennya menjahit dada Kyungsoo.

“gunting” dokter bernafas lega.

“Lakukan transfusi darah, cek terus perkembangannya. Ia kekurangan banyak darah”.

*** 

Kyungsoo berada di rungan yang semuanya terlihat putih, tak ada siapapun.

“Kyungsoo-ya” ia berbalik karena seseorang memanggilnya.

“Jongdae”.

“Hai Kyung, maafkan aku karena sudah menyusahkanmu”. Ujar Jingdae dengan senyumnya.

“Tidak ini semua salahku, harusnya aku yang meminta maaf, tak seharusnya kau melindungiku” Kyungsoo tak sanggup menahan air matanya.

“Hey, kau sudah seperti adikku. Sudah menjadi kewajiban seorang kakak melindungi adiknya”. Jongdae mengelus surai Kyungsoo.

“Dengar Kyung, jangan pernah merasa berasalah karena aku akan sedih. Ah, sudah waktunya aku pergi”. Jongdae berjalan mundur menjauh dari Kyungsoo.

“Tidak, jangan pergi. Jongdae kumohon tidak” Kyungsoo berlari mengejar Jongdae, namun Jongdae terasa sangat Jauh.

“Kyungsoo-ya belum saatnya kau ikut denganku. Bertemanlah dengan yang lain. Mungkin kau akan mempunyai teman yang lebih baik dariku atau mungkin mendapatkan kekasih. Ah, membayangkannya saja membuatku senang. Ah, dan berbaikanlah dengan orang tuamu. Bye Kyung” Jongdae tersenyum untuk terakhir kalinya. Sebelum cahaya terang menghilangkan Jongdae.

“Tidak!!!”

Kyungsoo membuka kedua matanya. Nafasnya memburu.

“Dokter dia sadar!”.

Tbc

Posted in fanfiction, sad, slice of life

I’m (Not) Fine


I’m (Not) Fine

Evina93 @2018

Oneshoot/ PG 15

Slice of life, sad.

You (Readers) & Do Kyungsoo.

“Sakit tapi tidak berdarah”.

Bangku pojok belakang kelas yang dekat dengan jendela. Itulah tempat favoritku di sekolah ini. Kenapa? Karena dari sini aku bisa dengan bebas melihatnya tanpa ketahuan. Siapa? Jika aku berani, maka dengan gamblang aku akan mengangkat tangan dan mengarahkan telunjukku pada sosok pemuda dengan mata bulat, pipi sedikit berisi dan bibir berbentuk hati yang sekarang ini sedang tertawa bersama teman-temannya di bangku depan sana. Namanya Do Kyungsoo dan dia salah satu teman sekelasku.

Ujung bibirku refleks tertarik ketika melihat ia tertawa. Namun detik berikutnya aku menghela nafas, andai saja tawa dan senyum itu ia tunjukan padaku juga. 

Kalian heran? Aku pun begitu. Entah apa kesalahan yang aku perbuat terhadapnya. Ia selalu berkata kasar terhadapku, mengejek bahkan menatapku dengan mata tajamnya seolah aku makhluk asing di dunia ini. Apa dia membenciku? Pertanyaan itu selalu keluar di pikiranku dan selalu ingin aku utarakan padanya, tapi tak bisa karena aku terlalu takut. Kenapa ? apa ada yang salah pada diriku. Apa karena penampilanku? Karena aku tidak se feminim permpuan lain, tapi ini nyaman untukku. Atau karena pergaulanku? Karena lebih banyak berteman dengan anak lelaki?, hey salahkan kakakku!.

“Kau kenapa?” tanya Sohyun. Ia teman sebangkuku. Teman dekat? Tidak juga. Aku berteman dengan siapa saja namun tidak begitu dekat hanya beberapa orang yang ku anggap sangat dekat. Seolah ada benteng tak kasat mata yang ku buat sehingga hanya beberapa orang yang ku ijinkan saja yang bisa melewati benteng tersebut.

“Tidak ada apa-apa” balasku.

“Ya! Kau harus ikut kali ini. Tak ada penolakan lagi” Jongdae menghampiriku. Aku memutar mata jengah. Ia salah satu sahabat kakaku. “Bukankah sudah ada Baekhyun disana” balasku. 

Plak 

Satu pukulan mendarat di kepalaku. “Ya!” aku menatap tajam siapa orang yang memukulku. “Panggil aku Oppa, tak sopan sekali kau pada kakakmu” ya orang yang memukulku ini adalah kakakku sendiri. “Ck kalian merepotkan” aku keluar dari zona nyamanku. Sohyun terkekeh melihatku. Jongdae tersenyum senang dan lupakan si bodoh Byun itu. Dasar pemaksa. Menuju pintu keluar aku mencoba melirik sedikit pada sosok pria itu namun detik berikutnya perasaan menyesal yang aku rasakan. Ia berdecak dan membuang muka. Lagi-lagi seperti ini. 

*** 

“Kau masih mengharapkannya?” pandanganku mengarah pada kakakku. “Apa terlihat jelas?” tanyaku dengan menunduk. “Mengapa tak coba mengungkapkannya saja?” tanya Jongdae.

Aku meringis “Tak perlu mengungkapkanpun aku sudah tau dia membenciku” ujarku dengan pandangan lurus ke depan. Aku merasakan tepukan pelan di punggungku dan belaian halus di kepakaku. Ya, kakakku dan Jongdae yang melakukannya.

*** 

Aku sedikit menggerutu dalam perjalanan. Buku sebanyak ini kenapa aku harus membawanya sendiri. Sial sekali nasibku. Andai saja tadi aku tidak melewati ruang guru dan bertemu dengan guru Choi hah~. Sudahlah hitung-hitung beramal saja.

Karena buku yang terlalu tinggi dan menghalangi pemandanganku membuat diriku menabrak seseorang sehingga semua buku berjatuhan. 

Aku membereskan buku-buku itu dan meminta maaf setelahnya. Tak ada jawaban maka aku memberanikan diri mengangkat wajahku. 

Deg

Kenapa harus dia.

“Disuruh begitu saja tak becus ck” ujarnya sarkastik. Tatapan tajam itu. Ya tatapan itu yang selalu ia berikan ketika berhadapan denganku.

“Aku sudah meminta maaf” ujarku.

Ia melaluiku begitu saja. Jari-jariku memegang buku dengan sangat erat. “Sebegitunya kah kau membenciku? Apa salahku?” tanyaku dengan berteriak. Aku sudah tak peduli lagi.

Ia berhenti melangkah tapi tidak berbalik. “Kau . . kau menyebalkan dan aku benci itu” ujarnya dan berlalu pergi.

Sakit tentu saja tapi aku masih bisa menahannya.

*** 

Hari ini entah angin apa kakakku yang cerewet itu meminta untuk pulang bersama. Membuat diriku berakhir menunggunya di samping pintu kelasnya.

Dahiku mengerenyit, kenapa semua orang berlarian den berkumpul di suatu titik. Setauku tak ada uji coba kebakaran bahkan aku tak merasakan gempa atau apapun. Karena rasa penasaran yang cukup tinggi aku menahan salah satu temanku “Hey, Jong ada apa?” tanyaku.

“Kau tak tahu? Kyungsoo sedang menyatakan perasaannya pada Sohyun”.

Ugh rasanya sakit.

“Kau ingin melihatnya juga, ayo” Entahlah aku tidak bisa menolak tarikan Jongin, aku tidak ingin melihat tapi aku juga penasaran, aku harus membuktikannya dengan mataku sendiri.

Disinilah aku sekarang dengan seluruh kebodohanku. Di depan sana ya disana aku melihat Kyungsoo dan Sohyun saling berhadapan. Aku seperti tidak mendengar apapun hanya bisa melihat. Dan hal terakhir yang aku lihat adalah Sohyun yang mengangguk malu dan senyum Do Kyungsoo.

Semua berteriak heboh dan tepuk tangan terkecuali diriku. Aku menunduk dan merasakan seseorang menarikku.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya, aku sangat mengenal suara ini. Tapi aku tak bisa mengangkat wajahku. Aku hanya menunduk dan menepuk dadaku berkali kali. Membuat Baekhyun menarikku ke pelukannya. Ia mengelus kepalaku.

“Rasanya sakit sekali Baek, sakit sekali tapi tak berdarah” ujarku masih dengan tatapan kosong. Dan detik berikutnya aku merasakan kristal bening itu meluncur bebas.
End.
Heol, berasa de javu buat nih cerita. Mungkin ini masih kurang feelnya. Saya akan coba lebih baik lagi. Tidak susah bukan menuliskan jejak komentar kalian (^^)

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #5

PicsArt_07-12-12.54.32

TELL ME WHAT IS LOVE
EVINA93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance, drama
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).
Cerita milik saya, cast hanya ,ilik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Tinggalkanlah jejak setelah membaca. Hargailah usaha para penulis.
Selamat membaca . .
Chapter 5
Perasaan bosan sedang menghampiri seorang Kim Joon Myeon, pasalnya jika waktu istirahat ia selalu berbuat kejahilan atau bermain-main bersama Yixing. Kali ini teman yang terkadang tidak ingin ia akui itu sedang ijin . Yixing sedang ada acara keluarga, itu yang ia tau.
Langkah kakinya membawa menuju kelas sang kakak, tanpa permisi ia masuk begitu saja. Berjalan menuju kakaknya berada tanpa memperdulikan tatapan semua penghuni kelas padanya.
“Hyung” panggilnya ketika berada di hadapan meja kakaknya.
Xiumin melihat sang pemanggil dan berdecak cukup keras. “Ada apa? “ ujarnya ketus.
“Aku bosan” Suho duduk di depan meja Xiumin dengan menghadap sang kakak.
“Lalu apa hubungannya denganku?” Xiumin mengerenyit. Tak cukupkah sang adik tercinta mengganggunya di rumah ketika sedang mengerjakan tugas. Heol, tugasnya masih menumpuk dan ia harus menyerahkannya siang nanti pada guru Choi. Seseorang tolong ingatkan Suho jika sang kakak sedang dalam masa pra ujian sehingga tugas dan kegiatannya sedang menumpuk.
“Temani aku melakukan sesuatu, Yixing sedang tak masuk hari ini, aku bosan~” ia menaruh kepalnya di meja.
“Ck, tugasku masih banyak Myeonnie” Minseok memberikan penekanan pada akhir katanya dan kembali menyelesaikan tugasnya.
“Kau benar-benar tak asik” Brak. Suho bangkit dan sedikit menggebrak meja, membuat Xiumin kaget dan tugas yang ia tulis tercoret dengan sempurna.
Mata Xiumin menatap tugasnya dengan nanar, sedangkan Suho terbelalak. ‘Mati aku’ gumamnya dalam hati.
“Kim Joon Myeon” panggil Xiumin dengan aura yang sangat mencekam.
“Hyeong itu itu . .” Suho sedikit tergagap.
“Keluar dari kelasku sekarang juga!” Xiumin menendang pantat Suho cukup keras hingga sang adik keluar. Pelajaran untuk kalian, jangan pernah membuat Xiumin marah jika kau tidak ingin merasakan tendangan mematikan dari sang captain team sepak bola sekolah.
Setelah sang adik keluar, Xiumin menutup pintu kelas hingga menimbulkan bunyi debuman keras, tanpa peduli pada sang adik yang sedang merintih kesakitan denagn mengelus bagian belakangnya.
“Aish, hyung. Kau sedang menstruasi ya? Galak sekai” teriaknya dari luar. Yang berda di dalam kelas dan sekitar menahan tawa mereka.
“YA! KIM JOON MYEON!!!!”
Setelah mendengar nada peringatan, Suho segera mengambil langkah seribu.
***
Langkah Suho kali ini membawanya menuju lapangan sekolah. Ia melihat Chanyeol dan anak lainnya sedang bermain basket. Ia menghentikan langkahnya dan menonton jalannya permainnan dari pinggir lapangan.
Chanyeol yang mengetahui kehadiran Suho segera menghampirinya. “Ah, Suho sunbae” sapanya. Suho hanya tersenyum sebagai balasan. “Terima kasih atas action figurenya” cengir Chanyeol.
“Tak masalah, apa kau menyukainya?” Tanya Suho.
“Tentu saja, itu incaranku dari dulu”
“Baguslah kalau begitu, apa kau diapa-apakan oleh Chorong?” selidik Suho.
“Itu sudah biasa Sunbae haha” jawabnya dengan sedikit garukan pada lehernya.
“Hyung” ujar Suho.
“Apa?” Tanya Chanyeol memastikan.
“Panggil aku hyung, mendegarmu memanggilku sunbae terasa sangat kaku” titah Suho.
“Ah, baiklah hy .. hyung” Chanyeol mencoba namun sedikit gugup.
“Ah, apakah kau ingin bermain dengan kami?” ajak Chanyeol.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak suka panas panasan” tolak Suho.
“O oh baiklah” rasa canggung sedang dirasakan Chanyeol kali ini.
“Apa kau tau dimana Chorong?” setelah hening beberapa saat akhirnya Suho membuka suara.
“Ah, nonna. Jika tidak berada di ruang club. Pasti ia sedang bersama Irene nonna di kelas atau di kantin. Aku belum menemuinya di sekolah hari ini” ujar Chanyeol.
“Baiklah aku akan mencarinya, aku pergi dulu” baru berbalik Chanyeol dengan keberanian yang ada menahan lengan Suho.
“Ada apa?” tanya Suho. Kali ini fokusnya pada Chanyeol yang sedang memandangnya dengan penuh keseriusan.
“Sun . . Hyung, tolong jangan sakiti nonna, aku harap ia bahagia kali ini” pinta Chanyeol dengan menatap langsung pada kedua mata Suho dengan serius.
Walau Suho sedikit tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chanyeol, ia akhirnya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Senyuman merekah pada wajah Chanyeol “Walau pun nonna itu galak, kasar dan menyebalkan tapi ia wanita yang baik, jaga dia ya hyung” Chanyeol berujar dengan sedikit keras dan berjalan mundur kembali ke lapangan.
Suho hanya tersenyum melihat kelakuan Chanyeol. Satu kesimpulan yang ia dapat dari perilaku Chanyeol. Walau terlihat dari luar Chanyeol itu selalu berkelahi dengan kakaknya tapi sifat protrctive pada sang kakak tetaplah ada.
Dan untuk Chanyeol. Tamat riwayatmu jika Chorong mendengarkan teriakanmu tadi. Berteriak di tengah lapangan, sedikit menjelekkan kakakmu, pada kekasih sang kakak. Benar-benar luar biasa Yeol.
***
Chorong dan Irene baru saja kembali dari kantin ketika sang wali kelas memanggil Chorong dan menyuruhnya ke ruang guru.
“Chorong-ah” panggil sang guru. Chorong entah kenapa susah untuk bernafas sekarang ini. apa ia melakukan kesalahan lagi?
“Ibu tau kau ini atlit kebanggan sekolah kita, tapi kau juga harus ingan jika nilai akademikmu itu juga penting. Melihat dari nilai rata-ratamu sehari-hari ini bisa membuatmu tinggal kelas. Ibu harap kau memikirkan ini. Kau tak ingin tinggal kelas kan?” nasehat sang guru.
Chorong menggeleng kaku sebagai jawaban.
“Belajarlah dengan giat, sebentar lagi ulangan kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Jika nilaimu masih saja begini ibu tidak bisa menjaminnya” ujar sang guru.
“Ba baik bu, akan saya usahakan, terima kasih. Saya permisi” pamit Chorong.
“Oh ya Chorong” Chorong kembali berbalik pada wali kelasnya.
“Cobalah kau minta diajari oleh Joon Myeon, bukankah kalian sedang dekat” usul wali kelas.
“Nde? Maskud ibu, Joon Myeon, Kim Joon Myeon?” Tanya Chorong memastikan.
“Memangnya ada Kim Joon Myeon lain yang sedang dekat denganmu?” Tanya sang guru.
Chorong menggeleng, “Tapi mana, mungkin dia bisa” lanjutnya tak yakin.
“Kenapa tak bisa? Dia kan juara umum seangkatanmu” ujar sang guru meyakinkan.
“APA?!” mata Chorong terbelalak dan rahangnya sedikit terbuka. ‘ini mustahil’ pikirnya,
***
Suho sudah mencari Chorong di ruang club waktu itu, tapi nihil. Di kantin tak terlihat batang hidungnya sekalipun. Akhirnya Suho memutuskan menuju kelas Chorong. Bel masuk istirahat sebentar lagi akan berbunyi. Masa iya Suho menghabiskan waktu istirahatnya tapi tidak menemukan Chorong.
Sampai dikelas Chorong ia segera melihat-lihat, tak ada Chorong hanya ada Irene yang sedang berbincang dengan seseorang.
“Kau temannya Chorong kan?” Tanya Suho. Irene mengangguk.
“Apa kau melihat Chorong?” Tanya Suho.
“Ah, dia sedang, ah itu dia” Irene menunjuk seseorang di belakang Suho. Suho berbalik dan melihat Chorong yang sedang mendekati mereka dengan gumamannya.
Ketika Sudah berada di hadpan Irene dan Suho Chorong menghentikan langkahnya. “Belum masuk kan?” Tanya Chorong.
“Belum” Jawab Irene.
Lalu Chorong melihat ke sisi lainnya. “Tuh kan, mana mungkin” ujarnya melihat Suho dari atas sampai bawah.
“Apanya yang tak mungkin?” Tanya Suho yang kebingungan dengan sikap Chorong.
“Irene, jawab dengan Jujur. Apa benar dia juara umum angkatan kita?” Tanya Chorong menunjuk Suho.
“Yak!” teriak Suho yang di tunjuk-tunjuk.
“Benar, memangnya kenapa? Astaga, jangan bilang kau tak tau” ujar Irene. Chorong mengangguk.
“Tapi dia kan . .”
“Memangnya kenapa? Apa salahnya aku juara umum, kau pikir aku hanya orang yang seenaknya dan bodoh huh?” Tanya Suho.
“Tepat, itu kau tau” Chorong menepuk tanganya sekali, seperti memberi selamat pada Suho yang bisa menebaknya.
“YA!!”
“Oppa!” panggil seseorang.
Suho melebarkan tatapannya, tanpa pikir panjang ia menarik Chorong ke pelukannya. Dan Action!
“Chagia, aku merindukanmu” Suho menggoyang-goyang tubuh Chorong di pelukannya.
Rion, selaku pemanggil dan yang melihat terbakar api cemburu.
“Lepaskan” gumam Chorong dan berusaha melepaskan pelukan Suho.
“Diamlah, dan berperilakulah seperti kita ini adalah pasangan kasmaran. Dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu” bisik suho.
“Benarkah?” bisik Chorong.
“Iya, cerewet”
“Ah, Chagia aku juga merindukanmu” Binggo. Rion semakin dibakar api cemburu. Sedangkan Irene dibuat terheran dengan kelakuan kedua insan yang sedang berpelukan ini. Bukankah beberapa menit lalu mereka sedang beradu mulut?
“Oppa kau tega sekali!” Rion menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
Setelah keadaan aman. Mereka segera melepaskan pelukannya dan berjauhan dengan jarak 1 meter. Menepuk-nepuk tubuh mereka seakan tertempel kotoran.
Irene hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya.
“Kau harus mengabulkan permintaanku” ujar Chorong.
“Baiklah-baiklah, asal bukan mengakhiri kesepakatan kita itu tak apa. Jadi apa permintaanmu?” Tanya Suho.
“Ajari aku pelajaran” pinta Chorong.
“Ooh, APA????”
“Selamat Joon Myeon – sii, mengajari Chorong itu lebih sulit dari pada mengajari penguin bermain bola” Irene menepuk sedikit bahu Suho dan masuk kedalam kelas.
“YA”
“Kenapa aku?” Tanya Suho.
“Tak ada penolakan, sampai jumpa sepulang sekolah” Chorong menarik kedua pipi Suho. “Aigo, keyowo” pak pak. Chorong mencubit pipi Suho dan menepuknya dengan sedikit berlebihan.
“KENDALIKAN KEKUATANMU PARK!, AH, appo”
TO BE CONTINUE . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #3

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance.
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Red velvet)
Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^
Chapter 3

“Sebenarnya apa hubungan kalian?”

Karena sudah tidak memungkinkan masuk pada jam pelajaran pertama Chorong memasuki kelasnya pada jam pelajaran berikutnya. Ia yang semula berniat kabur mengurungkan niatnya karena kejadian tadi yang hingga saat ini membuatnya kesal seperti ingin mendorong pria bernama Kim Suho itu dari gedung pencakar langit. Masih ingat dengan jelas di pikirannya bibir pria itu menempel pada pipinya, uh Chorong sepertinya harus membasuh mukanya dengan sabun dan wewangian lainnya agar ia tidak terkena infeksi.

“Kau tak jadi membolos?” Irene memandang Chorong penuh tanya. “Niatnya sih begitu, sayangnya niatku terhalang oleh seseorang paling menyebalkan” jika Irene melihat dengan jelas pada mata Chorong disana terdapat tatapan tajam yang ditujukan pada siapapun yang mengganggunya.

“Baguslah kau tak membolos, jam pelajaran berikutnya kan ulangan bahasa uh kau akan kena hukuman oleh guru Choi jika tak hadir dengan alasan selain sakit” Irene membuat tanda seolah-olah hidup Chorong akan tamat.

“Apa?!! Kenapa kau tak memberitahuku! Aish aku belum belajar!” Chorong segera mengambil buku dalam tasnya dan membuka halaman demi halaman.

“Bab berapa yang akan diujikan?” tanyanya.

“Percuma kau belajar, kau akan tetap mendapat nilai buruk” pendapat Irene.

“Ya!”

***

“Astaga rasanya kepalaku ingin pecah!” Gerutu seseorang dengan menenggelamkan kepalanya pada tangan.

“Suruh siapa di dalam kelas kerjamu hanya tidur” ujar Irene.

“Setidaknya kau memberi tahuku lebih dulu” cicit Chorong. “Hey nona Park, aku sudah memberi tahumu kemarin malam, kau saja yang tak membaca chat ku. Untuk apa punya handphone, apa untuk menimpuk orang?” tanya Irene.

“Mulut mu itu Bae, aish, aku bingung kenapa mempunyai teman sepertimu yang bermulut tajam” Chorong menyipitkan matanya memandang irene dan menggerutu.

“Sudahlah simpan omong kosongmu itu. Ayo ke kantin. Aku lapar” ajak Irene. “Kau yang traktir” seringai Chorong.

“Baiklah-baiklah untuk menebus kesalahanku” mereka tertawa bersama dan keluar kelas.

***

“Kau ingin pesan apa?” tanya Irene setelah mereka tiba dikantin. “Aku ingin Kimbbap, cacing-cacing pada perutku sudah mulai berorcestra” Chorong memegangi perutnya dengan tatapan memelas.

“Hahaha baikalah, carilah bangku kosong” Chorong mengangguk dan berjalan pada salah satu bangku kosong di deretan paling belakang kantin.

“Kau menunggu lama? Maaf penuh sekali” Irene datang dengan 2 makanan di tangannya.

“Tak apa” Chorong mengambil kimbbapnya dengan tersenyum-senyum. “Mari makan” ujarnya riang. Baru saja ia akan mengambil sepotong kimbbapnya ‘Byur’seseorang menumpahkan jus pada kimbbapnya.

“Ya!” teriaknya kemudian melihat sang pelaku.

“Uh maaf sunbae, tanganku tergelincir. Akan ku ganti makananmu. Itu tak seberapa bagiku” ujar sang pelaku. Chorong hafal ia siapa, oh rasanya Chorong sudah naik pitam. Jika orang tersebut dengan tulus meminta maaf tak masalah untuknya. Tapi ia melihat seringai dan ejekan pada kalimat yang orang tersebut ucapkan. Irene memandangi mereka dengan was-was.

jika Chorong lepas kendali ini akan bahaya pikirnya. Semua yang ada di kantin melihat ke arah mereka. Seperti tontonan geratis.

Suho, Xiumin dan Lay yang baru tiba di kantin heran dengan apa yang terjadi hingga akhirnya Suho maju membelah kerumunan dan tertawa setelah melihat apa yang terjadi didepannya. Nah Park Chorong apa yang akan kau lakukan? Pikirnya.

“Myeon, apa tak apa membiarkan mereka?” tanya Xiumin. “Tenanglah hyung dan lihat apa yang akan terjadi” ujar Suho dengan memasukan kedua tangannya pada saku. “Aku bertaruh ini akan menjadi tontonan menarik” Lay menempelkan tangannya pada pundak Suho.

“Tak perlu” ujar Chorong menahan emosi jika kau melihat kebawah, tangannya sudah terkepal sempura.

“Kenapa, tak perlu sungkan sunbae. Bukankah kau mendekati Suho oppa juga karena hartanya” jika ini di komik, 4 siku sudah berada di sudut dahi Chorong kali ini.

‘Akh, aku tak bisa menahannya lagi!’ pikir Chorong.

‘Ini bahaya’ pikir Irene. Dia bersiap menahan Chorong namun terlambat. Tangan Chorong sudah lebih dulu mengambil Kimbbap dengan kuah jus tadi dan melemparkannya tepat pada wajah Rion.

“Ups, maaf tanganku tergelincir” ujar Chorong dengan memijit pergelangan tangannya. Seisi kantin dibuat melongo oleh tindakan Chorong. ‘Ku pikir akan lebih buruk’ irene.

Rion masih terkejut di tempatnya. Semua menertawakannya. “Bae, ayo pergi, nafsu makanku hilang” Chorong sudah beranjak dari tempatnya.

“Ya tunggu!” Irene mengejarnya setelah mengambil cup ramennya. Baru beberapa langkah Irene kembali lagi dan menyerahkan beberapa lembar tisu pada Rion.

“Make up mu luntur” Ujar Irene dengan wajah datar, tanpa menghiraukan tatapan Rion ia kembali mengejar Chorong.

“Dia luar biasa” heboh Lay.

“Ku pikir dia akan tunduk pada Rion ternyata sebaliknya haha” Xiumin menepuk nepuk pundak Lay.

“Eum, aku pergi dulu” Suho beranjak beberapa langkah dari tempatnya.

“Kau mau kemana?” tanya Xiumin.

“Paling menemui kekasih hebatnya itu” goda Lay.

“Diam kau Zhang Yixing”

Xiumin dan Lay tertawa terpingkal oleh kelakuan Suho.

***

Chorong dan Irene kembali kekelas. Aura suram menghampiri Chorong. Ia lapar tapi malas jika berlama-lama dikantin.

“Kenapa kau pergi?” tanya Irene yang sekarang sudah duduk dihadapannya dengan 1 cup ramen yang mengepul.

“Heol, kau sempat membawa itu?!” Chorong menunjuk ramen Irene.

“Memangnya kenapa? Aku lapar dan aku harus membawanya dari pada aku kelaparan” Irene sudah menyumpit ramennya dan meniup-niupnya.

Glek

Chorong menelan ludahnya.

“Berikan padaku” Chorong berniat mengambil makanan Irene namun sayang Irene lebih cepat. “Ets, beli sendiri sana!. Jatah traktiranmu hanya 1 kali” kemudian Irene melahap ramennya.

“Ya!”

“Park Chorong” panggil seseorang.

“Apa lagi!” bentaknya.

“Ah maaf, ada seseorang yang mencarimu diluar” ujar orang tersebut.

“Baikalah, terima kasih. Maaf membentakmu tadi. Aku sedang kesal” ungkapnya.

“Tak apa, aku tahu” jawab orang tersebut.

Chorong beranjak dari kursinya dan keluar kelas, sampai di pintu ia berdecak.

“Ada perlu apalagi?” tanya Chorong.

Suho, orang yang dimaksud memberikan sekantung pelastik pada Chorong.

“Apa ini?” Chorong mengerenyit.

“Bayaran untuk kau tidak membolos dan membuat sesuatu yang tak membosankan dikantin tadi” ujarnya.

“Ck, tak perlu. Dan semua ini karena kau!. Menjauhlah dariku, aku selalu sial jika bersamamu” Chorong berniat mengusir Suho.

“Ambil saja” Suho menyerahkannya ke tangan Chorong.

“Aku tak la (kriuk) par” Chorong menunduk dan merutuki perutnya yang berbunyi pada saat yang tak tepat.

“Haha perutmu tak bisa berbohong, sudahlah terima saja. Makan yang banyak ya anak baik” Suho mengelus puncak kepala Chorong dan pergi sebelum Chorong akan memukulnya.

“Ya!”

“Pastikan tak tersisa ok” Suho mengedipkan matanya. Chorong merasa ingin muntah.

“Aigo, romantisnya” gumam seseorang. Chorong membalikkan badannya. Sang adik tiangnya sudah ada disana dengan sekantung makanan juga.

“Diam kau!, apa yang kau bawa?” tanyanya melihat pada pelastik bawaan Chanyeol.

“Ini” Chanyeol mengangkat pelastiknya ke atas. “Tadinya akan kuberikan padamu agar kau tak kelaparan, tapi aku lupa jika sudah ada yang memperhatikanmu sekarang” sambungnya.

“Berikan padaku” Chorong memintanya.

Chanyeol menggeleng. Chorong mengerenyit. “Bukannya itu untukku” tanya Chorong. “Tadinya” “Lalu” Chorong semakin bingung. “Kau kan sudah punya” Chanyeol menunjuk pada tangan Chorong yang menggenggam pelastik.

“Tapi kau memberikan itu untukku jadi berikan” pinta Chorong. “Serakah sekali” ujar Chanyeol. “kalau begitu, kita bertukar” putus Chorong. “Tidak, aku makan ini dan kau itu, itu kan diberikan dengan penuh ‘cinta’ ” Chanyeol menyeringai.

“Ya!”

“Bye, nonna jangan lupa habiskan. Ingat pesan Suho Sunbae ok” Chanyeol tertawa dan berlari.

“Awas saja kau” Chorong menunjuk adiknya yang sudah jauh itu dengan kepalan tangan.

Ia berjalan masuk kelas dengan melihat isi kantung yang diberikan Suho. Ada ttopoki dan kimbbap didalamnya. “Tidak buruk” Chorong segera menghampiri Irene yang sudah menandaskan ramennya.

“Siapa?” tanya Irene.

“Praia menyebalkan dan pria tiang” jawab Chorong dengan mengeluarkan ttopoki juga kimbbap dari dalam kantung.

“Waw, sepertinya enak” Irene akan mengambil ttoppoki namun tangannya di pukul oleh Chorong.

“Ini jatahku” ujarnya.

“Pelit sekali” gerutu Irene. Ia melihat ada secarik kertas dalam kantung dan mengambilnya.

“Makanlah yang banyak, tertanda pacarmu yang tampan Suho” Irene membacakan isi dalam kertas itu.

“Uhuk” Chorong tersedak ttoppokinya.

***

semakin hari Suho semakin menempel pada Chorong, kenapa? Karena jika ia bersama Chorong maka Rion tak berani mendekat. Rion masih shock soal kejadian dikantin tempo hari.

“Eum, Myeon. Kau bilang tak ada perasaan pada Chorong. Tapi ku lihat semakin hari kau semakin menempel padanya” Lay bertanya pada Suho setelah pria tersebut duduk dihadapannya dan Xiumin setelah ia mengerjai Chorong terlebih dahulu. Lihat saja di sisi kantin lainnya ada Chorong yang terus menyumpah serapah Suho.

“Dia itu sedang jatuh cinta tapi tak ingin mengaku” jawab Xiumin kemudian menyupkan nasi ke mulutnya.

“Ck, aku bilang tak jatuh cinta. Dia kan alatku agar jauh dari para gadis genit” Suho mengambil minuman Lay.

“ya!, mulut bisa saja berbohong tapi hati tidak” balas Lay mengambil kembali minumannya.

“Dengar ya adikku sayang, tak akan ada yang tau perasaan cinta itu datang kapan dan pada siapa, mungkin kini kau tak menyadarinya tapi nanti siapa yang tau” nasihat sang anak paling tua.

“Ya ya terserah kalian” Suho acuh tak acuh. Namun ia kembali memandang sudut kantin lainnya dimana Chorong berada. Ketika tatapan mata mereka bertemu Suho tersenyum dan melambaikan tangannya sedangkan Chorong menatapnya tajam sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Haha” kelekar dua orang disamping Suho yang melihat kejadian itu.

***

Hari sudah larut ketika Chorong selesai latihan untuk mengikuti kejuaraan. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia mengambil handphone dalam lokernya. Satu pesan dari Chanyeol.

‘Nonna, aku tak bisa menjemputmu. Restoran sangat penuh kasihan ibu. Kau bisa pulang sendiri kan, atau minta tolong dengan Suho sunbae?’

Chorong berdecak, “Kenapa bawa-bawa nama pria itu” Chorong segera mengetik balasan pada Chanyeol.

‘Tak apa, aku bisa pulang sendiri’

 setelah menekan send. Ia meletakan kembali handphonenya, mengambil seragam dan menutup lokernya kembali.

“Hai” Sapa seseorang sambil tersenyum lalu menguap.

“Astaga, Kau membuatku terkejut” Chorong memegang dadanya “Untung saja aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung” omelnya.

“Ck, cerewet sekali. Kau baru selesai?” tanya orang tersebut. Chorong hanya menjawab dengan anggukan. “Kenapa kau masih disini?” tanya Chorong.

“Minseok hyung meninggalkanku ketika tertidur” jawabnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Oh” hanya itu balasan Chorong, ia segera meninggalkan Suho untuk mengganti pakainnya.

***

“Kau masih disini?” tanya Chorong setelah ia selesai berganti pakaian. Suho masih berdiri dekat lokernya dengan wajah mengantuk.

“ah, um ya. Tadi temanmu eunwang atau siapalah itu bilang kau tidak dijemput adikmu. Dan dia bilang ada urusan mendadak jd tidak bisa pulang bersama” Suho menjelaskan dengan setengah mengantuk.

“Ck, Eunkwang sialan!” gumamnya. “Minggir, aku mau ambil tas” Chorong menyingkirkan Suho dari depan lokernya.

“Ck, dasar bar bar” Suho segera menyingkir. Chorong segera mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Suho.

“Kenapa kau masih mengikutiku?!” tanya Chorong pada Suho yang berjalan dibelakangnya.

“Eum itu, Minseok hyung mengambil dompetku. Aku tak bisa pulang” melasnya.

“Telpon dia atau siapapun untuk menjemputmu!” titah Chorong. “Batrai handphoneku habis” Suho menunjukan handphonenya. “Ini pakai milikku” Chorong menyerahkan handphonenya, Suho segera menerimanya namun detik berikutnya ia terdiam. “Aku lupa nomor Minseok hyung” ujarnya. “No rumahmu” balas Chorong. Suho segera menekan no telpon rumahnya. “Tak ada yang mengangkat. Mereka semua kemana sih? Ck akan ku pecat mereka semua” Suho marah-marah pada handphone Chorong.

“Ck, berhentilah marah-marah dan jangan berbuat berlebihan!” nasehat Chorong, ia mengambil handphonenya.

“Naik bis saja denganku” tawar Chorong. Ia merapikan kembali tasnya dan berjalan.

“Hah? Tidak tidak. Aku. Naik bis. Tak ada sejarahnya” tolak Suho. “Kalau begitu jalan kaki saja sana!” Chorong meninggalkan Suho.

Mata Suho membola, jarak dari sekolah ke rumahnya lumayan jauh. Lebih parah jalan kaki dari pada naik bis. Ia segera mengejar Chorong yang semakin menjauh. “Ya! Tunggu aku!” panggilnya.

To be continue . . .

Posted in Apink, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #1


Evina93/Chapter/PG 15

Romance, Comedy.

Kim Joon Myeon/Suho (Exo), Park Chorong (A Pink), Rion
” Perasaan tulus lah yang tidak bisa dibeli dengan uang”

Kim Joon Myeon atau lebih dikenal dengan panggilan Suho ini siapa yang tak mengenal dirinya di sekolah ini. Anak dari donatur terbesar sekolah, berotak lumayan namun sayang jarang digunakan, berparas tampan bak malaikat namun berkelakuan iblis. Semua orang tahu dia. Satu hal yang perlu kalian camkan baik-baik ‘JANGAN PERNAH BERURUSAN DENGAN SUHO’ atau kau akan tau akibatnya.

Seperti halnya kali ini, hanya karena seseorang menumpahkan sekotak susu pada seragamnya secara tak sengaja ia menghina habis-habisan orang tersebut. Siapa yang berani menolong? Tak ada. Kalaupun ada esok hari kau akan memberi salam perpisahan pada sekolahmu.

“Sudahlah Suho, kau tidak liat sebentar lagi bel masuk. Selesaikan ini dan segera kembali” perintah Xiumin. Sekasar apapun ia seburuk apapun ia, ia tidak bisa membantah Xiumin. Suho membantah maka ia yang kena hukumannya. Kenapa? Karena Xiumin itu kakaknya. 

Ah, mari ku perkenalkan, Xiumin atau Kim Minseok anak sulung keluarga Kim. Berlaku tenang tidak seperti suho. Memiliki wajah yang baby face. Bahkan banyak yang mengira dia itu junior. Ia sudah lelah memarahi Suho hingga ia mengambil keputusan. Asal tidak keterlaluan aku akan diam.

“Kali ini kau bebas, untung saja Xiumin Hyung berada disini jika tidak” Suho memvuat gerakan memenggal leher. Orang yang menjadi sasaran Suho hanya bisa menelan ludah “Te terima kasih” Suho pun berlalu untuk mengejar kakaknya.

“Kau tidak lelah berlaku seperti itu terus?” Tanya Xiumin ketika mereka berjalan di koridor menuju kelas masing-masing.

“Aku perlu hiburan” Suho menjawab dengan entengnya.

“Hh . . Siapa yang bisa menjinakkanmu sih, kau hanya menuruti perkataanku namun kembali melakukannya” ceroscos Xiumin.

“Kau pikir aku hewan” Suho menggerutu dibelakangnya, namun ia berhenti ketika melihat sosok perempuan berjalan dari arah berlawanan menuju dirinya. “Hyung, sepertinya aku akan membolos. Bye hyung” dan Suho berlari tanpa menunggu reaksi Xiumin selanjutnya.

“Ya! Mau kemana kau?!” teriak Xiumin.

“Suho oppa tunggu” seorang wanita berlari dari arah belakang Xiumin dan berhenti dengan nafas terputus-putus disampingnya.

“Xiumin oppa, Suho oppa akan pergi kemana?” Tanya sang wanita. “Mana aku tau” Xiumin hanya mengedikan bahu dan berlalu meninggalkannya.

“Haha kena kau Suho” Xiumin tertawa puas.

Perempuan tadi hanya cemberut di tempat dan menghentak-hentakan kakinya.

Mari ku perkenalkan seseorang yang bisa membuat Suho kabur terbirit-birit. Namanya Rion. Asing? dia berasal dari Jepang dan baru beberapa tahun tinggal di Korea. Keluarganya lumayan berpengaruh dalam bidang usaha. Ia adik kelas dari Suho dan Xiumin. Mempunyai obsesi besar terhadap Suho. Sehingga Suho membencinya dan memilih menjauhinya. Bukanlah rahasia jika Rion sangat ingin menjadi kekasih Suho.

“Chorong-a pst chorong, Park Chorong bangun” Seorang wanita berusaha membangunkan temannya yang sedang menjelajah ke alam mimpi. Namun yg didapat tak ada tanggapan sama sekali masih saja membaringkan wajahnya pada meja.

“Astaga, aku tak ikut campur lagi” gumam wanita tadi. Jika ini dirumah tak masalah baginya tapi ini sekolah, di dalam kelas, pelajaran guru Jung yang terkenal sangat killer. Matilah kau Park Chorong.

Derap langkah kaki menghampiri meja Chorong, murid lain sudah menunduk dan mengasihani nasib seseorang di meja belakang sana.

setelah sampai pada tempat yang dituju sang guru langsung saja mengetuk meja tersebut dengan penggaris kayu. 

“Kenapa berisik sekali sih!” Chorong membuka matanya awalnya ia akan membentaknya lagi tapi setelah melihat sang pelaku “Pak kau tampan sekali hari ini” ujarnya sambil tersenyum bodoh.

Semua yang didalam kelas tergelak, “Hentikan!” dan kelas pun sunyi seketika. “Nona Park sudah berpa kali kau tidur di jam pelajaranku, apa pelajaranku sangat membosankan hingga membuatmu terlelap?”.

“Apa aku harus jujur pak?” tanyanya.

“Tentu saja”

“Sejujurnya aku tidak mengerti dengan apa yang kau jelaskan, mencerna semua penjelasanmu membuat kepalaku berputar. Jadi ku putuskan untuk menaruh kepalaku diatas meja siapa sangka aku terlelap” tuturnya. Yang lain hanya bisa menahan tawanya. Ada yang mengatakan jika ia ini terlampau jujur ada pula yang mengatakan ia bodoh.

Reaksi sang guru hanya memijat pelipisnya “Nona Park, kau tak bisa hanya mengandalkan keahlianmu saja dalam seni bela diri. Kau juga perlu nilai akademik untuk naik kelas dan lulus. Dan apa ini, kenapa kau memakai celana olahraga dibalik rokmu!”.

“Ini membuatku lebih nyaman pak, kau tahu kan lelaki sekarang banyak yang mesum” ujarnya berbisik pada sang guru. 

“Ya! Bersihkan halaman sekarang juga!” perintah sang guru.

Park Chorong, murid tingkat 2 SHS. Atlit beladiri cabang taekwondo, jadi wahai para pria jangan macam-macam padanya. Berparas manis, namun ganas. Dia malas dalam hal belajar, bukannya tak bisa.

“Kenapa mendadak halaman ini banyak sampahnya sih” Chorong mengambil beberapa bekas minuman botol dan menaruhnya didalam kantung sampah. 

Selesai dengan tugasnya Chorong membawa sampah-sampah itu ke samping gedung sekolah. “Ini melelahkan, kenapa tempat sampah jauh sekali sih” gerutunya. Seperti mendpatkan sebuah pencerahan ia sedikit tersenyum. Memutar-mutar badannya pegangannya semakin erat pada kantung pelastik itu. Dikira sudah cukup kencang ia melonggarkan pegangannya dan mengarahkan ke bak sampah. “Masuklah!” teriaknya.

Namun naas, sebelum menuju bak sampah tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dari lorong dekat bak sampah “Ya! Awas!” teriak Chorong. Orang yang diteriaki berbalik melihat yang memanggilnya, matanya membulat, sialnya ia tak bisa menghindar alhasil kantung itu mendarat di wajahnya.

Buk

Dan ia pun terjatuh. Chorong segera berlari menghampiri. “Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku” ujarnya dengan mengulurkan tangan membantu orang tersebut berdiri.

“Ya! Kau cari gara-gara denganku huh? Kau tak tau siapa aku?!” marah orang tersebut.

“Aku kan sudah minta maaf. Kenapa kau marah-marah” Chorong menatapnya tajam.

“Kau benar-benar cari masalah. Tak tahu kah kau siapa aku?” pria yang tadi terkena lemparan Chorong berdiri dari keadaan naasnya itu membersihkan seragamnya dan memandang remeh wanita dihadapannya.

“Memangnya kau siapa?” tanya Chorong santai sambil mengusap hidungnya yang sedikit gatal. “Kau tak tau siapa aku,astaga” pria tersebut menghembuskan nafasnya kasar “Baiklah, mungkin kau tak tau Wajahku, mungkin kau tau namaku. Aku Kim Suho” pria itu tersenyum sinis.

Chorong terhenti seketika dari kegiatannya. Dahinya mengerenyit.

‘Gotcha, kena kau’ Suho tertawa sinis dalam hati.

Namun reaksi selanjutnya dari Chorong membuatnya ternganga “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Ah molla molla. Yang jelas aku sudah minta maaf ok” Chorong mengambil kantung keresek sampahnya tadi dan berjalan menuju bak pembuangan dengan santainya, mengabaikan Suho yang menatapnya tak percaya. 

Selesai membereskan tugasnya ia menepuk-nepuk tangangnya membersihkan debu “Kau masih ingin disini? Kalau begitu aku duluan. Annyeong” pamitnya meninggalkan Suho yang masih memandangnya tak percaya.

Ini tak bisa dibiarkan, Suho mengejar Chorong dengan refleks mencengkram tangannya “Hei!” Chorong yang selalu waspa itupun dengan lihai membalik keadaan dengan memelintir tangan Suho dan menjatuhkannya ke tanah. “Ya ya appo! Appo” rintih Suho. “Kau mau apa huh?” nada ancaman keluar dari bibir gadis itu di dekat telinga Suho, ia masih menahan tangan Suho dibelakang tubuhnya, aura ancaman sudah keluar dari dirinya tak peduli Suho sedang merintih kesakitan.

“Nona!” Panggil seseorang, Chorong mengalihkan atensinya. Aura membunuh yang sebelumnya terpancar terganti menjadi aura musim semi. “Eoh, Chanyeol”.

Chorong buru-buru melepaskan Suho. “Apa yang kau lakukan disana?” tanya Chanyeol dengan memincingkan matanya.

“Eum, tak ada. Sedang apa kau disini? Bukankah ini masih jam pelajaran?” Chorong berusaha mengalihkan topik.

“Harusnya aku yang bertanya padamu, aku disuruh guru Choi mengembalikan ini” ia mengangkat beberapa buku ditangannya. “Oh, akan ku bantu” Chorong berjalan mendekati Chanyeol. Namun sebelum beranjak dari tempatnya ia membisikan sesuatu pada Suho “Kali ini kau bebas” gumamnya dan melanjutkan langkahnya.

“Sini aku bantu, kemana?” tanyanya pada Chanyeol. “Perpus” dan merekapun berjalan beriringan.

Uh, Suho rasa harga dirinya sudah diinjak-injak. Ia memijat tangannya dan punggungnya sendiri “Awas saja kau”.

Chorong dan Chanyeol berjalan beriringan menuju perpus. Chanyeol itu adik Chorong. Mereka hanya berbeda 1 thn. 

“Kau dihukum lagi ya?” tanya Chanyeol, respon dari sang kakak hanya cengirian. “Jangan adukan ini pada ibu” Chanyeol bersmirk ria ” 1 paket makan Siang” ujarnya kemudian. Chorong mendengus, sial adiknya ini. “Arra arra”.

“Ngomong-ngomong nonna, siapa yang bersamamu tadi?” mereka sudah berbelok masuk ke perpustakaan. 

“Annyeong haseo, aku menyerahkan ini saja” ujar Chanyeol dan menaruh bukunya diikuti Chorong pada meja sang petugas.

“Ah baiklah terima kasih” ujar sang petugas.

“Kalau begitu kami pamit, annyeong haseo” mereka menunduk hormat kemudian kembali keluar.

“Pria yang mengesalkan jadi aku sedikit memberi pelajaran padanya” jawab Chorong dari pertanyaan adiknya tadi.

“Kau tak menghajarnya kan?” mereka mengobrol tanpa memandang satu sama lain,fomus mereka hanya jalan di depan.

“Sedikit” jujur Chorong. “Ck, apa temanmu?” “Kau mengintrogasiku?” Chorong sedikit kesal. “Hanya bertanya, siapa dia?” “Jika aku tak salah dengar namanya Kim Suyong,eh Sulong, ah aku lupa” Chorong mengacak rambutnya. “Ah benar Suho, Kim Suho” ujarnya kemudian.

“Oh Kim Suho” tanggap sang adik.

1 detik 

2 detik.

“Mwo, Kim Suho! Nona untuk sementara jauh-jauhlah dari ku. Aku tak ingin terkena maslah” Sang adik berangsur menjauh.

“Memangnya kenapa?” Chorong mengerenyitkan keningnya. Apa hebatnya Suho itu.

“Astaga, kau tak tau siapa Suho Sunbae? Bukankah dulu sudah ku katakan, tak apa kau membuat masalah asal tidak dengan keluarga Kim, kau bisa di tendang dari sekolah ini nonna, dan baru saja kau bilang kau menghajarnya. Astga astga. Tamatlah riwayatmu” Chanyeol memijat pelipisnya sambil mondar mandir.

“Maksudmu Kim yang itu? Aish kenapa kau tak bilang. Pantas saja aku pernah mendengar namanya, ah bagaimana ini?” Chorong mengacak rambutnya.

“Pokonya sementara ini, jangan dekati aku disekolah, annyoung nonna” Chanyeol meninggalkan Chorong yang frustasi disana.

“Ya! Adik macam apa kau ini!” 

setelah jam pelanjaran berakhir, Suho baru memasuki kelasnya. “Yo, kawan dari mana saja?” tanya Yixing kawan sebangkunya.

” Menghindari singa betina dan malah bertemu singa liar” tuturnya yang kali ini sudah menjatuhkan tubuh di bangkunya. “Maksudmu?” Yixing sedikit bingung akan istilah yang digunakan temannya ini.

” Aku menghindari Rion dan sialnya aku bertemu gadis barbar yang melemparkan kantung sampah pada wajahku juga menghajarku” kesalnya. Tapi ia mendengar suara tawa puas dari sebelahnya. “Berhentilah tertawa!” bentaknya.

“Ini luar biasa, siapa gadis itu?” Yixing sangat antusias pasalny baru kali ini ada yang berani melawan teman disebelahnya ini.

“Entahlah, yang pasti tak akan ku biarkan ia hidup tenang” oow, sepertinya ini akan menarik pikir Yixing.

Pagi ini Chorong entah kenapa malas sekali untuk bersekolah. Karena percakapnnya dengan sang adik semalam ia jadi ragu untuk sekolah. Bagaimana jika Suho itu membawa masalah ini lebih lanjut. Ia hanya bila menghela nafas dan berdoa pada sang kuasa agar ia tak bertemu lagi dengan makhluk bernama Kim Suho itu.

“Park Chorong” Panggil seseorang.

“Nde” Chorong membalikkan tubuhnya. Oh tuhan kenapa kau tak mengabulkan permintaanku. Pikir Chorong.

Ya dihadapannya sekarang Suho telah tersenyum iblis menatapnya. Chorong hanya bisa menelan ludah.

“Ah, kau. Selamat pagi. Oh, sepertinya sebentar lagi bel masuk. kalau begitu aku duluan. Annyeong” Chorong melambaikan tangannya dan sudah bersial akan berlari. 

“Eit, mau kemana kau? Urusan kita belum selesai” sayangnya Suho sudah menahan hodie yang dipakai Chorong. Sebenarnya dalam keadaan seperti ini Chorong bisa saja melawan hanya saja ia tak ingin menambah masalah.

“Hehe, memangnya kita ada urusan apa ya?” Chorong menggaruk kepalanya, pura-pura lupa. Itulah idenya.

“Ya kau!”

“Oppa” belum selesai berbicara ada yang memanggilnya. Mereka berdua mengalihkan penglihatan pada sang pemanggil.

‘sial kenapa sekarang’ pikir Suho. Sedangkan Chorong hanya mengerejepkan matanya bingung.

“Oppa siapa dia?” tanya Rion. Ya yang memanggilnya tadi adalah Rion. 

Chorong menunjuk dirinya sendiri “Aku? Oh aku hanya”

“Dia pacarku!” Suho yang semula memegang hodie Chorong beralih dengan merangkulnya.

“Mwo?!” Chorong membulatkan matanya. Rion seperti mendapat hantaman 1000 ton. 

“Daebak!” ujar Xiumin dan Yixing.

Chanyeol menjatuhkan rotinya dan mulut mengang lebar. Yang lain mulai berbisik-bisik. Sedangkan sang pelaku pembuat kehebohan hanya tersenyum bodoh.

Tbc
Hallo, aku balik lagi bawa cerita lain. Entah kenapa saya ingin membuat cerita dari cast ini, semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ^^.

Kamsahamida . . 

Posted in fanfiction

MOTHER #2 (END)

PicsArt_05-21-05.31.53

 

Evina93 I Two shoot I PG 15

Family,

Byun Baekhyun, Kim Taehyung

“Ikatan darah itu lebih kuat dibanding apapun”

 

Semenjak pertemuannya dengan Taehyung kala itu, enatah kenapa anak itu selalu menempel padanya. Taehyung itu lebih muda 4 tahun darinya. Taehyung duduk di bangku kelas satu dan ia kelas 3. Melihat perbedaan usianya harusnya Taehyung berada di kelas akhir Junior School. Namun kabar yang beredar mengatakan jika Taehyung itu anak yang pintar sehingga membuatnya berada di kelas akselerasi.

Otak tidak sesuai kelakuannya. Itulah pendapat Baekhyun. Terkadang Taehyung itu bisa berkelakuan seperti alien dari planet Mars.

Awal mula Taehyung masuk sekolah ini banyak yang mengatakan bahwa ia adalah adik Baekhyun. Taehyung tentu saja senang tapi lain halnya dengan Baekhyun, ia merasa sangat jengah. Seperti hal nya kali ini.

“HYUNG!” Panggil Taehyung dengan enerjik dari arah pintu kantin. “Tidak lagi” gumam Baekhyun dengan mengusap kasar wajahnya.

“Baek, adikmu sudah datang” Ujar Chanyeol menggoda Baekhyun. “Sudah kukatakan dia bukan adikku” sanggah Baekhyun. “Tapi kalian mirip” sambung Kyungsoo. “Apa semua orang yang mirip itu adalah saudara huh?” Tanya Baekhyun. “Itu kemungkinan yang sangat besar” Jawab Jongdae. “Aish”

“Hyung aku mencarimu kemana-mana ternyata kau disini” keluh Taehyung yang kali ini sudah berada di samping Baekhyun. “Tak bisakah kau tak mengikutiku sehari saja?” Pinta Baekhyun. “Eum” Taehyung pura-pura berpikir “Tak bisa” jawabnya disertai cengirannya.

“Ya Kim Taehyung, kau meninggalkanku lagi !” Amuk seseorang . Taehyung mengalihkan atensinya. “Oh, maafkan aku cimcim” sesalnya. “Kau ini selalu saja, oh, hallo sunbae” sapa Jimin ketika mengetahui para sunbaenya itu berada didekatnya.

“Cimcim” dahi Baekhyun mengkerut. “Ah, itu nama panggilanku untuk Jimin” jelas Taehyung. “Yak, sudah ku katakana jangan panggil aku dengan nama itu lagi!” Jimin sedikit kesal. “Itu salah satu bentuk rasa sayangku padamu” Taehyung menyandarkan kepalanya pada bahu Jimin. “Iuh, menjauhlah dariku, aku ini normal” Jimin berangsur menjauh. “Aku juga masih menyukai wanita asal kau tau” Taehyung mengerucutkan wajahnya. Semua yang berada didekatnya tertawa tak terkecuali Baekhyun.

***

“Hyung apa hari ini pun kau bekerja?” Tanya Taehyung ketika mereka sedang berjalan menuju gerbang. Ini sudah jam pulang sekolah.

“Tentu saja, mana bisa aku dapat uang jika tidak bekerja” Baekhyun berkata namun tidak menatap Taehyung.

Taehyung hanya mengangguk angguk. “Aku juga ingin bekerja” gumamnya. “Tidak perlu bekerja pun uangmu sudah banyak” ujar Baekhyun. “Aku ingin mandiri” terang Taehyung. Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik mengarah pada Taehyung. Taehyung terdiam, ‘apa aku salah bicara’ pikirnya.

“Dengar ya anak kecil” Baekhyun menghela nafas. “Aku bukan anak kecil” sanggah Taehyung. “Ya ya terserah kau, tapi kau masih kecil dari pada diriku. Badanmu saja yang besar” Taehyung mengerucutkan bibirnya.

Pluk

Tangan Baekhyun berada diatas kepala Taehyung. Mata Taehyung membola. “Belajarlah yang rajin, jika kau sudah seusiaku baru kau boleh bekerja, arra?” entah angin dari mana Baekhyun hanya ingin menasihati anak ini.

Taehyung tidak pernah sesenang ini. Ia mengaguk paham dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya “Arra”.

***

Taehyung pulang kerumah dengan bersenandung. Sang ibu yang baru saja keluar dari dapur mengerutkan kening melihat kelakuan sang anak. Anaknya memang periang tapi hari ini anaknya terlihat sangat senang melebihi hari-hari sebelumnya.

“Kau terlihat sangat senang, apa ada hal yang menyenangkan?” Taehyung yang melihat ibunya segera berlari menghampirinya dan memeluknya “Eomma”.

“Aigo aigo ada apa hum?” Tanya sang ibu dengan mengelus surai sang anak. “Aku senang, sangat senang. Hari ini dia mengelus kepalaku” terangnya.

“Siapa? Apa wanita yang kau sukai?” tanya sang ibu.

“Ani, hyung yang melakukannya” Taehyung masih saja tersenyum, namun kali ini ia sudah melepaskan pelukan pada ibunya. Dan berjalan ke arah sofa. Sang ibu menuangkan air minum untuknya.

“Hyung, hyung siapa? “ Tanya sang ibu yang kali ini sudah berjalan kearah Taehyung dengan membawa segelas air.

“Tentu saja, Baekhyun hyung” Taehyung berujar dengan tenang.

Prang

“Dimana kau bertemu dengan Baekhyun?” Taehyung terdiam kaku. ‘Aku salah bicara’ gumamnya.

***

Setelah mendengar penjelasan sang anak dengan berurai air mata akhirnya ia berada disini. Di dalam mobil depan tempat Baekhyun bekerja sambilan, atau bisa dibilang restoran ibu Chanyeol. Awalnya nyonya Kim merasa aneh karena anaknya tiba-tiba ingin pindah sekolah, ia kira anaknya itu terkena bullyng atau lainnya dan akhirnya ia setuju namun kenyataan sebenarnya karena Taehyung sudah menemukan kakaknya dan ingin lebih tau tentangnya. Ia awalnya marah karena Taehyung tidak berterus terang padanya, namun setelah mendengar cerita Taehyung sebenci apa Baekhyun padanya menurut info yang didapatkan Taehyung. Ia ingin melihatnya namun tidak berani mendekatinya.

Seorang pria dengan dua kantung besar bawaannya baru saja keluar dari dalam restoran. Nyonya Kim memperhatikan dengan seksama.

“Hyung itu kau bisa melihat wajahnya padaku, tentu saja ia tampan sepertiku namun masih tampan aku, ia sedikit cantik, bermata sipit berbibir tipis, tingginya . . dia sedikit dibawahku”

Menurut ciri-ciri yang diceritakan Taehyung ,pria dengan dua kantung besar ditangannya itu sangatlah mirip hanya saja ia ingin lebih memastikannya.

Pria itu meletakan dua kantung besar di samping restoran yang ternyata itu adalah sampah. Ia mengelap keringat yang keluar dari pelipisnya.

“Baekhyun”

Nyonya Kim tersentak ketika ia mendengar suara seseorang memanggil nama itu.

“Nde” Pria dengan dua kantung besar tadi yang ternyata Baekhyun menjawab sang pemanggil yang ternyata Ibu Chanyeol.

“Jika kau sudah selesai dengan itu, kau boleh pulang. Ah dan jangan lupa bawa makanan yang berada diatas meja. Kau hanya perlu menghangatkannya. Terima kasih untuk hari ini, kau bekerja dengan rajin” Ibu Chanyeol tersenyum hangat.

“Nde, kamsahamida eommonim” Baekhyun membungkuk dan tersenyum.

Lain Baekhyun lain nyonya Kim, ia sedang bercucuran air mata didalam mobil “Mian, mianne adul ah” guamamnya terus menerus.

***

Hari ini Taehyung bermaksud untuk mengunjungi Baekhyun di restoran milik keluarga Chanyeol Sunbae. Namun ditengah perjalannnya ia melihat sang kakak sedang beradu mulut dengan seseorang.

“Aku bilang, aku tidak punya kenapa kau masih saja ngotot sih!” bentak Baekhyun.

“Kau pasti berbohong kan” ujar orang yang lainnya. Dan ia mendekati Baekhyun lalu memeriksa seluruh tubuh Baekhyun.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Aku bilang tidak ada ya tidak!” teriak Baekhyun.

“Tidak ada. Lalu ini apa huh?!” orang tersebut memperlihatkan beberapa lembar ribu won dihadapan Baekhyun.

“Hanya itu yang aku miliki untuk bulan ini jika kau mengambilnya aku tidak punya lagi!” matanya memerah jarinya mengepal menahan amarah.

“Dasar anak pembohong”

Plak

Orang tersebut menampar wajah Baekhyun cukupm keras hingga menimbulkan bekas kemerahan paada pipinya.

Taehyung sudah tidak bisa mentorelilir ini, ini keterlaluan.

“Ya! Ahjushi apa yang kau lakukan pada hyung huh?!” Taehyung berjalan menghampiri mereka dengan penuh amarah.

“Bukan urusanmu bocah!” bentak sang pria dan mendorong taehyung hingga terjatuh.

“Hentikan!” orang tersebut memandang Baekhyun.

“Bawa uang itu dan pergilah!” putus Baekhyun.

“Tidak usah kau suruhpun aku akan pergi” dan pria itu pun meninggalkan Baekhyun dan Taehyung yang masih terduduk di jalanan.

“Hyung kenapa kau membiarkan dia pergi membawa uangmu! Dia juga sudah memukulimu harusnya “

“Dia ayahku”

“ Kau tidak membiarkan ia pergi begi . . MWO? APPA?!” Taehyung semakin emosi.

“Ya! Ayah macam apa yang memukuli anaknya seperi itu aish”

“Sudahlah, apa kau baik-baik saja?”

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa itu menyakitkan? Apa dia selalu seperti itu?”

“Begitulah”

***

Taehyung baru saja pulang ke rumahnya, ia segera menceritakan kejadian tadi pada ibunya.

“Byun Jae won, dia tidak pernah berubah. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mengambil Baekhyun tapi apa dia mau denganku?” air mata terus saja mengalir pada pipi ibunya.

“Tenanglah Yeobo. Kita pikirkan jalan keluarnya” tenang sang suami.

Taehyung mengepalkan tangannya, ia semakin bertekad menemukan keduanya.

***

Hari ini tak seperti biasanya, Taehyung tidak mengikutinya kemanapun. “Baek kemana adikmu?” Tanya Kyungsoo. “Dia bukan adikku” sanggahnya.

Jimin baru saja memasuki kantin, “Oy, Park Jimin. Kau tidak bersama Taehyung?” Tanya Jongdae.

“Ah sunbae. Aku kira dia sudah berada disini. Hari ini dia sangat aneh. Aku tidak mendengar ia mengeluarkan suara sejak tadi pagi, ya kalian tau sendiri kan bagaimana Taehyung itu?” terang Jimin.

Baekhyun beranjak dari duduknya. “Kau mau kemana?” tanya Kyungsoo.

“Jalan-jalan” Jawab Baekhyun dan ia pergi meninggalkan kantin.

“Ia menyangkal tapi ia mengkhawatirkan Taehyung seperti kakaknya” Ujar Chanyeol dan yang lain mengangguk setuju.

***

Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang sedang berbaring dipinggir lapangan. Seseorang menempelkan minuman soda di wajahnya. “YA!” Ia bangkit dari posisi berbaringnya.

“Hyung”

“Hm” Baekhyun menyerahkan minuman itu pada Taehyung.

“Dari mana kau tau aku suka ini?” Taehyung bertanya sambil membuka penutup kaleng minuman.

“Benarkah? Aku hanya mengambilnya saja” Baekhyun duduk disamping Taehyung, meneguk minumannya dan memandang sekeliling lapangan.

“Akh, segarnya” Taehyung yang baru saja meneguk minumannya mengeluarkan opininya.

“Apa kau ada masalah?” Baekhyun to the point.

“Sedikit” Jawab Taehyung.

“Jika terlalu berat berbagilah” usul Baekhyun.

“Hm” Taehyung mengangguk.

“Hyung, apa ia selalu memukulmu?” Tanya Taehyung.

“Astaga kau memikirkan masalhku?” Baekhyun bertanya balik dengan sedikit menggodanya.

“Tidak, aku hanya bertany saja” Baekhyun memincingkan tatapannya.

“Kim Taehyung, suadah lama aku memikirkan ini” Taehyung mengalihkan atensi penuhnya pada Baekhyun. “Soal apa?”

“Kau naksir padaku ya?”

Byur

Taehyung menyemburkan minumannya dan terbatuk batuk “Heol, kau gila hyung. Aku ini masih normal” gerutu Taehyung.

“HAHAHA .. aku bercanda” namun Taehyung masih saja menggerutu.

“Kau tidak perlu memikirkan maslahku, aku baik-baik saja” Baekhyun tersenyum pada Taehyung, dan seorang Kim Taehyung hanya bisa terdiam seribu bahasa.

***

Baekhyun baru saja mengembalikan pinjaman bukunya dari perpustakaan kota, ingat ia ditingkat akhir. Sebentar lagi ia akan mengadapi ujian. Namun ditengah perjalannnya ia melihat seseorang tengah dipukuli habis habisan. Awalnya ia tak peduli tapi setelah melihat lagi siapa yang telah dipukuli iasegera berlari menghampiri kerumunan itu.

“YA!”

Semua melihat ke arahnya, tanpa ba bibu ia menghajar gerombolan itu hingga mereka lari terbirit-birit.

“Taehyung-a, Kim Taehyung kau tidak apa-apa?”

“Hyung” dan Taehyung pun pingsan.

Baekhyun segera membawa Taehyung ke rumah sakit terdekat, ia mengabari kediaman Taehyung namun yang mengangkat hanyalah pembantunya. Setidaknya ia sudah mengabari bukan.

“Eung” Taehyung tersadar.

“Kau sudah sadar? Aku akan memanggil dokter dulu” Baekhyun beranjak keluar.

Tak lama setelah Baekhyun keluar orang tua Taehyung datang.

“Taehyung kau baik-baik saja?” Tanya sang ibu

“Aku baik-baik saja eomma” jawabnya

“Aigo, anak ini, apa yang kau lakukan hingga babak belur huh?” Tanya sang ayah.

“Itu”

“Ah, maaf aku mengganggu”

“Hyung” panggil Taehyung. Nyonya Kim segera berbalik. Betapa terkejutnya Baekhyun. Tubuhnya melemas, ia memegang sisi pintu.

“Baekhyun-a” Ujar nyonya Kim.

Baekhyun segera berlari keluar, “Baekhyun tunggu, baek “ Nyonya Kim mengejar sang anak sulung. Bukan berhenti Baekhyun malah menambah kecepatannya hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh.

“Baekhyun”

“Jangan mendekat!” teriak Baekhyun, ia tidak ingin membalikan tubuhnya ia berusaha dengan keras menahan air matanya agar tidak keluar, namun itu percuma karena likuid bening itu sudah mengalir bebas.

“Baekhyun, maafkan eomma, eomma memang salah” sesal nyonya Kim atau Baek A Yeon. Tidak kalah dengan Baekhyun sang ibu pun sudah beruraian air mata.

“Untuk apa kau kembali setelah meninggalkanku huh?! UNTUK APA?!” Raung Baekhyun.

“Maafkan eomma,”

“TAK TAU KAH KAU, AKU SELALU DISIKSA OLEH PRIA BERENGSEK ITU! TAK TAUKAH KAU HIDUPKU SANGAT MENDERITA! KENAPA KAU MENINGGALKANKU ? KEPA KENAPA???” Baekhyun terus saja meraung mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah lama ia pendam sedari lama.

“Maafkan eomma”

“Jangan temui aku lagi” itulah kata terkahir Baekhyun sebelum ia meninggalkan sang ibu yang menangis tersedu.

“Baekhyun maafkan eomma” Baek A yeon hanya bisa menangis tersedu memanggil sang anak sulung hingga terjatuh dan tak mampu mengejarnya.

***

Baekhyun sedang berada di atap sekolah melihat pemandangan penjuru sekolah ketika Taehyung menghampirinya dengan wajah penuh lebam dan plester.

“Hyung”

“Sejak kapan kau merencanakan ini?” Tanya Baekhyun tanpa mengalihkan atensinya.

“Sudah lama” Taehyung menunduk.

“Jangan pernah mendekatiku lagi” dan Baekhyun pun berbalik menuju tangga bawah tanpa melihat Taehyung yang kali ini dipenuhi wajah penuh penyesalan dan kecewa “Hyung”

Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu dan benar saja Baekhyun menjaga jarak dengan Taehyung.

Hingga mala mini ia mendengar percakapan mencurigakan yang dilakukan ayahnya dengan seseorang dibalik pintu kamarnya.

“itu gampang, kita hanya perlu menculik anak dari keluarga Kim itu bukan? Siapa tadi namanya? Kim Taehyung. Ya benar itu dia. Lalu meminta tebusan haha”

Baekhyun tegang, apa yang akan ayahnya lakukan pada Taehyung? Ia harus menggagalkan rencana sang ayah.

Baekhyun berpikir mondar-mandir dengan cemas didlam kamarnya. Ia mengambil handphonenya dan segera menghubungi nomor seseorang.

“Yeobaseo?”

“Kyungsoo, bantu aku, perhatikan Taehyung secara berkala, jika ada yang mencurigakan segera telpon aku”

“ada apa Baek?”

“Nanti akan aku jelaskan”

Dan baekhyun mengakhiri sambungannya. “Sial” gumamnya.

***

Baekhyun sedang bekerja paruh waktu ketika Kyungsoo menelponnya dan mengatakan ada beberapa orang yang membawa Taehyung pergi. Setelah mendapat ijin dari sang pemilik Baekhyun segera menuju lokasi dimana Kyungsoo sampaikan tadi.

Taehyung membuka matanya dan melihat sekitar juga keadaannya, ruangan dengan minim ventilasi, duduk terikat, heol ia diculik lagi. Pikirmya.

Beberapa orang pria paruh baya datang menghampirinya dan ia dibuat terkejut oleh salah satu diantara mereka. “Byun Ahjushi, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya.

“Ku mengenalku?” Tanya Byun Jae Won, “Ah, aku baru ingat kau anak yang waktu itu bersama Baekhyun bukan, aish. Anak itu dekat dengan orang kaya kenapa tidak bilang”

“Apa mau kalian?” Tanya Taehyung santai. Namun ia sedang berusaha meloloskan ikatannya. Sudah ku katakana bukan Taehyung terlalu sering berada disituasi ini karena pekerjaan sang ayah.

“Tentu saja uang” Jawab mereka.

“Oh, berpa yang kalian inginkan?” Taehyung masih bertanya dengan santai.

“Cih, kau meremehkan kami bocah” Jae won akan melayangkan pukulannya namun taehyung yang sedari tadi mengulur waktu berhasil bebas dari ikatannya dan menahn pukulan berbalik jadi menyerang.

“Taehyung” Baekhyun datang dari arah samping dan membantu Taehyung menghajar mereka.

“Hyung, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Taehyung.

“Tentu saja menolongmu bodoh” Baekhyun menjawab dengan mengkis dan menyerang balik lawannya. Begitu pula Taehyung “Ah, kau mengkhawatirkanku”

“Berhenti bicara dan selesaikan ini”

“Baiklah”

Merka berdua menangkis melawan menghindar begitu terus menerus. Hingga tinggal beberapa orang lagi.

“Appa ku mohon menyerahlah” bujuk Baekhyun.

“Tak akan pernah, minggir kau anak bodoh!”

Mereka terus saja melawan hingga suara sirine polisi terdengar dan mereka kalang kabut. Taehyung yang kelelahan sedikit lengah hingga tak menyadari ada seseorang yang membawa pisau berjalan ke arahnya.

“Taehyung awas!” Taehyung berbalik.

Bles

Mata taehyung membulat, ‘HYUNG!!!” ya Baekhyun menyelamatkannya.

Oaring yang menusuknya gemetar dan menjatuhkan pisau berjalan mundur ketakutan dan berteriak tidak mungkin. Baru saja seorang Byun Jae Won menusuk anaknya sendiri. Ya. Ia menusuk anaknya sendiri.

“Angkat tangan kalian” polisi sudah mengepung mereka, kali ini dipimpin langsung oleh Kim Haechul, ayah Taehyung.

“Ka kau tidak apa-apa?” Baekhyun di tengah kritisnya masih saja bertanya. “Hyung bertahanlah, bertahanlah”Taehyung terus saja meracu. Ia benar-banar kalutterutama melihat darah yang terus saja keluar dari tubuh Baekhyun.

“Syukurlah” cicit Baekhyun.

“Taehyung, Baekhyun” Pnggil A Yeon, ia segera menghampiri kedua anaknya dibelakangnya ada kyungsoo membuntuti.

“Eomma” Baekhyun tersenyum sekilas. “Ya ini eomma, Baekhyun Eomma mohon bertahanlah” Nyonya Kim berusaha menahan aliran darah sang anak dengan terisak.

“Eomma” “Ya tenanglah, eomma disini. Bertahanlah ne?” tenang sang ibu berbanding terbalik dengan perasaannya yang saat ini kalut menyaksikan sang anak sulung bersimbah darah.

Baekhyun memegang tangan sang ibu, A Yeon melihatnya dengan berdurai air mata “Eomma ma ma maafkan aku” tangan Baekhyun terlepas dan hialng kesadaran.

“HYUNG!!”

“BAEKHYUN!!”

***

Taehyung berjalan membawa setangkai bunga, tempat ini, ruangan ini sudah ia sambangi berkali-kali. Aroma obat yang menyebar dimana-mana sudah biasa akhir-akhir ini ia hirup.

Ia membuka salah satu pintu ruangan. “Kau sudah datang” sapa sang ibu.

Taehyung meletakan bunga yang ia bawa di vas samping tempat tidur.

“Eomma beristirahatlah, biar aku yang menjaganya” Sang ibu beranjak dari tempatnya namun sebelumnya ia mengelus surai seseorang yang berbaring di atas ranjang ini. “Eomma perlu menemui dokter, baru beristirahat” Taehyung hanya mengangguk. Ia melihat sang ibu keluar dari ruangan dan duduk disamping tempat tidur pasien.

“Hai Hyung, ini sudah hari ke dua lima kau tidak membuka mata. Apakah senyaman itu disana? Hyung, apa kau tidak merindukanku, eomma, temanmu hm? Hyung ku mohon bangunlah” dan tangis Taehyung pun pecah.

Baekhyun selamat setelah melakukan oprasi, harusnya setelah 2 hari oprasi ia sadar namun ini sudah hari ke dua lima ia tidak sadar.

“Hyung, ku mohon bangunlah hiks hyung” Taehyung menggenggam tangan sang kakak. Ia selalu berdoa setiap hari agar kakaknya cepat sadar dan kembali.

“Berhentilah menangis” gumam seseorang.

“Tidak bisa hiks, se sebelum kau sadar” balas Taehyung. Second berikutnya Taehyung terdiam dan melihat Baekhyun. Disana sang kakak sedang memandangnya dengan tersenyum tipis.

“HYUNG” teriaknya.

“Taehyung ada apa?” Sang ibu yang baru masuk sama dibuat terkejetnya.

“BAEKHYUN”

“Hai eomma” gumamnya.

“Anak anda sudah lebih baik, 2 hari lagi ia bisa pulang. Tapi jangan terlalu melakukan aktivitas berlebihan dulu. Lukanya belum menutup sempurna” terang sang dokter.

“Terima kasih dok” Balas sang ibu.

“Kalau begitu saya permisi” Dokter dan beberapa suster pamit dan meninggalkan ruangan.

“Berhentilah tersenyum bodoh” ujar Baekhyun.

“Tidak bisa aku sangat senang” balas sang adik. Sang ibu yang memperhatikan kedua anaknya tersenyum bahagia. Ia menghampiri Baekhyun dan mengelus surai sang putra sulung.

“Baekhyun, maafkan eomma. Syukurlah kau sudah sadar” Baekhyun tersenyum hangat sudah lama ia tidak tersenyum seperti ini. “Aku juga minta maaf, dan berjanjilah satu hal padaku” pinta Baekhyun. “Jangan pernah meninggalkanku lagi” lanjutnya dan sang ibu mengangguk lalu memeluk putranya.

“tidak akan, tidak akan pernah”

“Ah sepertinya aku mengganggu moment kerinduan kalian”

“Appa” panggil Taehyung.

“Hyung perkenalkan ini appaku” Haechul berjalan mendekati Baekhyun. “Annyeong ahjushi, aku Baekhyun” sapa Baekhyun. Sang ibu hanya tersenyum. “Aku sudah mengenalmu Baek” Baekhyun menggaruk tengkuknya kikuk. “Ahjushi terima kasih telah menjaga ibuku” Ucap Baekhyun tulus. “Itu sudah kewajibanku nak, dan satu hal lagi. Panggil aku appa” terang Haechul.

“Nde ahj . . appa” dan semuanya tersenyum.

***

“Hyung lihatlah siapa yang datang” ujar Taehyung ketika sampai diruangan Baekhyun.

“Hai Baek” sapa Chanyeol, Jongdae dan Kyungsoo.

“Hai sunbae” tak lupa juga Park Jimin.

“Baek kau cepatlah pulang dan kita bermain” Chanyeol

“Kau hutang penjelasan padaku” Kyungsoo.

“Sunbae cepatlah kelaur dari sini, aku sudah lelah dengan sifat Taehyung yang selalu ingin kabur dari sekolah dan menjagamu” Jimin.

“Heol, sudah ku katakana bukan kalian benar-benar adik kakak” Jongdae.

Baekhyun tersenyum. inilah yang ia rindukan tema-temannya.

“Ah kalian berkumpul” Ujar nyonya AYeon. “Ah Annyeong haseo eommonim” sapa mereka.

“Annyeong, aigo. Kalian tidak perlu repot-repot membawa ini” balsanya.

“Kim Taehyung kami datang” ujar beberpa orang. “Oh Eommoninm, hyung appa kabar?” Tanya merka. “Baik, masuklah” titah sang ibu. Baekhyun memincingkan tatapannya. Ia mengenali mereka, Taehyung berjalan mundur menghampiri pintu.

“Bukankah kalian yang waktu itu menghajar Taehyung?” Tanya Baekhyun. “Ah itu, kami kira Taehyung sudah menjelaskan” Alis Baekhyun bertaut “Apa maksud kalian?”.

“Kami ini teman SMP Taehyung, dia menyuruh kami menghajarnya hingga pingsan lalu kau menolongnya, ia masuk rumah sakit dan bertemu ibu kalian” terang seseorang diantara mereka.

“apa dia yang merencanakan semua ini?” Tanya Baekhyun. Mereka semua mengangguk.

“Badan kami pegal semua setelah dihajar olehmu. Ia bilang kau hanya akan memukul biasa saja, siapa kira kau ini atlit hapkido. Dan dia hanya mentraktir kami tttopoki” terang yang lainnya diantara mereka.

Mungkin jika ini di dlam komik gambar 4 siku di dahi Baekhyun sudah muncul.

“YA! KIM TAEHYUNG!!!”

“MIANNE HYUNG” Taehyung keluar dari kamar rawat Baekhyun dengan berlari.

END

 

Yey, selesai (Jingkrak-jingkrak bareng Baek sama mpi)

Maaf klo masih ada typo, terima kasih telah membaca, ditunggu like, dan Reviewnya.

Next project with Suho oppa.

Berjejer bareng anak exo + tae dan jimin “Kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ^^”

See ya with next story . . ^^

Posted in fanfiction

I live With Satan Soo (Chapter 11)


Evina93 || Chapter || PG 15
Comedy,Romance
Shin Mingi (Oc), Do Kyungsoo (Exo), Bang Minah (G.Day), Kim seokjin (BTS)
Chapter 11
Semenjak kejadian atau Mingi menyebutnya sebagai insiden ciuman pagi itu, Mingi berusaha untuk tidak bertatap muka atau bertemu dengan kyungsoo dengan kata lain ‘Shin Mingi menghindari Do Kyungsoo’. Mingi bangun lebih pagi dari kyungsoo menyiapkan sarapan lalu pergi lebih dulu sebelum kyungsoo bangun hal itu pun ia lakukan di tempat kerjanya, membuat luhan terheran karena mingi meminta tidak satu sift dengan kyungsoo. Luhan pikir mereka bertengkar namun melihat dari situasi yang ada sepertinya tidak mungkin.

Selama 3 hari mingi berusaha menghindar dari kyungsoo namun untuk kali ini dewi fortuna sedang tidak berpihak padanya. Karena apa?? Usaha mingi selama 3 hari seakan sia-sia saja. Ia yang selama 3 hari berusaha menghindar harus satu kelas dengan Do Kyungsoo sang tuan menyebalkan itu sekarang ini, lebih parahnya kyungsoo duduk disampingnya dan terus saja memandanginya membuat mingi jengah.

Kesal? Ya itu yang dirasakan mingi sekarang namun perasaannya lebih cenderung pada malu dan takut. Ia malu karena ketika ia melihat kyungsoo maka ia akan teringat kejadian memalukan itu dan takut jika kyungsoo akan mendengar detak jantumgnya yang tidak normal ketika bersama kyungsoo namun secepat mungkin ia menutupi perasaannya dengan sifat aslinya.

“Berhenti menatapku dan perhatikan apa yang dijelaskan dosen!” perintah mingi pelan. Bukan kyungsoo namanya jika ia langsung menurut, kyungsoo masih betah memandang mingi oh janhan lupakan senyum bodohnya sekarang ini. Entahlah mungkin jatuh cinta membuat seorang Do Kyungsoo terjangkit virus senyum lebar chanyeol.

“Shireo, aku hanya ingin memperhatikan wajah istriku karena aku merindukannya” ujar kyungsoo. ‘heol’ pikir mingi sejak kapan seorang the lil evil soo bisa berkata sechissy ini.

***

Jam pelajaran berakhir dan Mingi segera keluar dari kelas tanpa memperdulikan kyungsoo yang terus saja memanggilnya.

“Mingi-ya”

“Shin Mingi”

“Do Mingi”

Aish kyungsoo dibuat sedikit geram, sebuah ide terlintas di otaknya dan seketika senyum iblis pada wajah kyungsoo pun terlihat.

“Do Mingi! Berhenti atau akan ku cium kau!” ujar kyungsoo dengan lantang.

Mingi langsung saja menghentikan langkahnya. Semua orang menatap mereka ada yang berbisik-bisik dan sebagainnya.

Kyungsoo tersenyum lebar dan berjalan menghampiri mingi.

“anak pintar, sekarang temani aku makan” perintah kyungsoo sambil menggenggam tangan mingi.

“Tidak mau, aku ada kelas lagi” tolak mingi. ‘ck’ decakan keluar dari bibir kyungsoo. “kau ingin menipuku ya, aku tau kelasmu dimulai 2 jam lagi. Kau berusaha menghindariku huh?” tanya kyungsoo.

“si siapa yang menghindarimu!” bela mingi.

“kau pikir aku bodoh! Jelas-jelas kau menghindariku. Hei apa ini karena ci.. Hump” bibir kyungsoo langsung saja di bekap oleh tangan mingi. Kyungsoo meronta, ia bisa kehabisan nafas jika begini terus. Dengan mengandalkan kekuatannya sebagai laki-laki kyungsoo membalik keadaan sehingga mingi terhuyung dan jatuh pada pelukan kyungsoo. Kyungsoo tersenyum sangat puas berbanding terbalik dengan wajah mingi yang kaget setengah mati.

“kau benar-benar ingin ku cium lagi ya, apa salahnya sih menurut padaku” bisik kyungsoo.

Mingi yg tak bisa berkata kata hanya terdiam, sialnya detak jantungnya kembali bermaraton.

“ehum, aku tau kalian masih pengantin baru. Tapi bisakah jangan bermesraan di kampus” ujar suho.

Mingi yang sadar lebih dulu segera mendorong kyungsoo, membuat kyungsoo terhuyung ke.belakang. Untung saja kyungaoo bisa menyeimbangkan tubuhnya agak tidak terjatuh.

Mingi melihat kearah lain asal tidak melihat suho. Oh dia benar-benar malu sekarang.

“Hyung kau mengganggu saja” gerutu kyungsoo. 

“Apa? Aku? YA! Kalian yang salah beradegan romance di tengah jalan. Kau pikir aku saja yang melihat coba lihat sekitar kalian” ujar suho.

Mingi memandang sekitarnya’blush’

“do kyungsoo sialan” gumam mingi.

“apa peduliku. Lagi pula dia is . . Yak appo!” mingi segera menginjak kaki kyungsoo sebelum kyungsoo bicara aneh-aneh lagi.memandangnya tajam dan pergi meninggalkan kyungsoo yang kesakitan dan suho yang menatapnya takjub.

“Dia benar-benar lawanmu yang seimbang soo” ujar suho.

“aish, hyung urusan kita, kita lanjutkan nanti awas saja” ancam kyungsoo. Setelah itu ia segera mengejar mingi.

“Mingi”

“ya! Do mingi berhenti kau!” teriak kyungsoo.

“ck ck dasar anak muda, tapi setidaknya kyungsoo menjadi dirinya kembali” suho tersenyum senang. Oh oppa dirimu juga masih muda ckck.

***

Mingi terua saja berjalan tanpa menghiraukan kyungsoo yang terua saja memanggilnya.

“Mingi tunggu:

” Ya do mingi!”

Dan hup

Akhirnya kyungsoo bisa meraih tangan mingi. Untuk ukuran seorang perempuan jalan mingi termasuk cepat. Kyungsoo saja dibuat sedikit kewalahan tadi.

“apalagi?!” hardik mingi.

“temani aku makan,jebal” ujar kyungsoo.

“shireo” tolak mingi.

“kau tidak kasihan pada suamimu ini jika ia kelaparan” uh kyungsoo kau mulai lagi.

“apa peduliku” ujar mingi acuh.

“ck, kau ini. Apa susahnya menurut sih” kyungsoo mulai habis kesabaran.

“Makan saja sendiri atau dengan temanmu yang lain. Aku tidak la . .’kruyuk’ par” ujar mingi dengan malu. ‘uh kenapa harus berbunyi di saat yang tidak tepat’ pikir mingi.

“haha . . Kau bisa bicara tidak tapi perutmu berkata lain. Kajja, aku tau kau belum makan dari pagi” kyungsoo segera menarik mingi ke tempat makan terdekat. Ia tau istrinya masih ada kelas lagi nanti. Ia tidak akan membawanya jauh-jauh.

” Tapi aku tidak. .”

“Tutup mulutmu dan ikut saja denganku. Aku tidak mau kau sakit lagi” 

“uh baiklah”

***

Mingi dan kyungsoo sudah berada di salah satu restoran. Tak perlu mewah yang penting makanan itu bersih dan enak itu pikir kyungsoo. Mingi? Dia hanya menurut saja. Lagi pula ini termasuk seleranya.

“Ini makanlah yang banyak” kyungsoo mengambil beberapa lauk dan diletakan di atas nasi mingi. “Aku bisa mengambilnya sendiri” ujar mingi.

“aish, kau ini. Enak tidak?” tanya kyungsoo.

Mingi hanya mengangguk sebagai jawaban.karena mulutnya sedang sibuk mengunyah makanan.

Kyungsoo terus saja memperhatikan mingi sambil tersenyum senang. Ia benar-benar merindukan orang yang berada di hadapannya ini sekarang. 3 hari tidak bertemu pikirannya menjadi tak menentu.

“Kau tidak makan?” tanya mingi.

“Aku akan makan jika kau menyuapiku” ujar kyungsoo.

‘uhuk’ mingi tersedak makanannya tangannya berusaha menggapai gelas berisi air. Kyungsoo yang khawatir segera memberinya air. Mingi dengan cepat meminum air hingga habis. Kyungsoo menepuk – nepuk punggung mingi.

“kau baik-baik saja?” tanya kyungsoo setelah mingi terlihat bisa bernafas kembali.

“ini semua salahmu” tuduh mingi.

“hah? Aku? Apa salahku?” tanya kyungsoo.

“kau dan perkataanmu semua salah” jawab mingi.

“apanya yang salah, aku hanya ingin disuapi” kyungsoo mempoutkan bibirnya. ‘ uh, sial kenapa dia terlihat sangat manis’ pikir mingi.

” jangan membuat ekspreai seperti itu. Itu menjijikan” mingi membuat ekspresi seakan akan ia mual.

“Ck, dasar gadis bar bar” gerutu kyungsoo. Setelah itu kyungsoo hanya memainkan makanannya. Mingi yang melihatnya menghela nafas kasar. ‘anak ini benar-benar’ mingi menggelang ringan.

“Baiklah, aku akan menyuapimu. Buka mulutmu aaa” mingi mengambil sesendok nasi dan mengarahkannya pada kyungsoo.

Wajah kyungsoo langsung berbinar. Ia segera membuka mulutnya dan melahap suapan mingi. Jika orang yang mengenal kyungsoo melihat ini mereka tidak akan percaya jika ini kyungsoo. Sejak kapan pria dingin, berpandangan tajam jangan lupa ucapannya juga. Bisa berkelakuan seperti bocah begini haha . .

“aigo . . Aku iri sekali pada kalian. Kapan aku disuapi seperti itu” gerutu baekhyun sambil menopang tanganya di atas meja.

Mingi dan kyungsoo berbalik menuju asal suara.

“oppa” ujar mingi.

“baek, sejak kapan kau disini?” tanya kyungsoo.

“sejak tadi kau mencoba aegyo agar mingi menyapimu” jelas baekhyun setelah itu ia beralih pada mingi. 

Kyungsoo memelototkan matanya.’apa? Selama itu? Kenapa aku tidak menyadarinya’ pikir kyungsoo.

“Mingi – ya, aku juga ingin disuapi” pinta baekhyun dengan puppy eyesnya.

Uh mingi bisa luluh kembali. ‘tidak boleh’ tekadnya.

“kau bisa makan sendiri oppa” tolak mingi.

“uh dasar pelit” baekhyun mengerucutkan bibirnya.

“haha rasakan itu baek ” tawa kyungsoo namun beberapa detik kemudian ia terdiam. ‘oppa’ ‘oppa’ ‘oppa’. Kyungsoo langsung menatap mingi tajam.

“Ya! Mingi. Sejak kapan kau memanggil baekhyun dengan oppa?” tanya kyungsoo.

“sudah lama” mingi kembali memakan makanannya. Di setujui dengan anggukan baekhyun.

Kyungsoo tambah melebarkan matanya. “Ya! Aku juga lebih tua darimu. Tapi kau tak pernah memanggilku oppa” gerutu kyungsoo.

“kau, aku panggil oppa, hanya dalam mimpimu do kyungsoo” ujar mingi.

“ya kau ini . . Bla bla bla” uh kyungsoo mulai kembali berkoar.

Jika kalian bertanya apa yang dilakukan mingi? Ia dengan tenang menghabiskan makannannya. Lalu baekhyun? Ia sibuk melihat model supr*** keluaran terbaru di hp nya. Tak ada yang menanggapi kyungsoo sedikitpun.

Mingi sudah selesai dengan makannya. Ia meminum air di gelasnya lalu beralih pada kyungsoo “Apa kau sudah selesai marah-marahnya? Jika masih panjang kau teruskan saja nanti. Karena aku ada kelas sekarang” mingi mengambil tas yang berada di samping bangkunya. Pamit pada baekhyun yang dibalas dengan lambayan tangan saja.

“ya aku belum selesai. Ya ya ya kau mau kemana? Ya do mingi” gerutu kyungsoo

“aish, anak itu” kyungsoo mengacak rambutnya dan kembali duduk masih dengan gerutuannya. 

Chu~

Seseorang mencium pipinya sekilas. Kyungsoo memalingkan wajahnya untuk melihat sang pelaku. Matanya melebar

“terima kasih makananya. Jangan mengomel terus. Dan habiskan makananmu. Aku pergi dulu” mingi berujar dengan pipi merona merah. Lalu ia benar-benar pergi.

Kyungsoo masih syok dengan kejadian tadi. Seperti gerakan robot ia menghadap baekhyun. Baekhyun yang melihatnya menahan tawa.

“Baek” panggil kyungsoo.

“nde~” balas baekhyun.

“apa ini mimpi?” tanyanya.

Plak

Baekhyun menampar kyungsoo. “Ya! Kau cari mati huh! Sakit pabo!” bentak kyungsoo.

“Berarti itu bukan mimpi haha” balas baekhyun. “astaga uri soo sedang jatuh cinta” ledek baekhyun.

Tanpa mereka sadari seorang gadis dari luar restoran memperhatikan kejadian tadi. Ia mengepalkan genggaman tangannya.

***

“uh apa yang aku lakukan tadi?! Itu memalukan. Pabo!” mingi sedikit memukul-mukul kepalanya setelah sebelumnya memegang pipinya dan berkata sendiri. Jika orang-orang melihatnya mereka bisa menganggap mingi gila.

“Mingi-ya, bisa kita bicara sebentar?” tanya seseorang.

“huh?”

TbC

Author’s note

Holla, maaf baru update. Ku belum ada waktu nulis. Masih pendek? Kurang fellnya?

Semoga chap berikutnya aku bisa buat lebih panjang, lebih gereget dan semoga gak lama.

Makasih buat readers yang setia nungguin nih ff abal dari author yang masih abal sampai ada yang pc langsung haha. .

Terakhir dari author . .

Coment please, don’t be a sailent reder.