Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #9

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Poster by erinaael.

Story is my mine. Don’t be plagiat.
Chapter 9
Kalian tau apa yang paling mengerikan untuk seorang pelajar bahkan mahasiswa sekalipun? Ya, tugas akhir, ujian dan teman-temannya. Selain menyita waktu dan tenaga ini juga sangat menyita seluruh pikiran kita.

Jika para siswa pada jam istirahat berada di kantin atau lapangan maka jika waktu ujian tiba mendadak penghuni perpustakaan bertambah. Jika siswa rajin dan kutu buku biasanya menjadi seorang yang terasingkan maka mereka mendadak menjadi populer. Bukan karena apa, hanya saja catatannya lah yang menjadi incaran.

Untuk para siswi yang biasanya berdandan maka mereka terlihat seperti zombi dengan kantung hitam pada matanya dan berjalan seperti mayat hidup karena kekurangan waktu tidur.

Untuk siswa tingkat akhir seperti Xiumin maka bebannya terasa dua kali lipat. Bukan hal yang mudah mempertaruhkan waktu tiga tahun hanya pada beberapa soal.

Chorong berjalan dengan gontai menuju bangkunya, sang sahabat memandanginya bingung.

“Ada apa denganmu?” tanyanya pada Chorong ketika gadis itu sudah berada di bangkunya.

“Aku butuh tidur, kenapa harus ada matematika sih?!” gerutunya.

“Ck, dia mulai lagi” gumam Irene.

Ya hari ini anak tingkat 2 sedang melangsungkan ujian dan sialnya itu adalah pelajaran matematika. Menghitung bukan keahlian Chorong. 

Disisi lain, Suho dan Lay sedang berjalan menuju kelas mereka. Untung saja perban di tangan Suho sudah bisa dibuka sebelum ujian dimulai.

“Xing, ku pikir kau yang paling tenang untuk ujian kali ini” Suho membuka suara, pasalnya teman disampingnya ini tidak menunjukan wajah gelisah atau frustasi seperti yang lain.

“Tidak juga, aku sudah belajar. Jika aku tak bisa maka prinsipku memilih pilihan ke 4” tutur pria berdimple itu.

“Jika 3 pilihan?” tanya Suho memasuki kelasnya disusul Lay.

“Ya pilihlah yang terakhir” Lay menggeser bangkunya dan duduk setelah meletakan tasnya.

“Jika itu semua esay?” tanya Suho yang kali ini sedang mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

Mata Yixing terbelalak “Heol, aku tidak memikirkan hal itu” ia mengacak rambutnya frustasi. Suho yang melihat menggelengkan kepalanya. 

Yixing melihat Suho dengan puppy eyesnya. “Myeonie” panggilnya. Suho bergidik, ia merasa akan ada hal buruk. Ia berbalik pada Yixing.

“Bantu aku ya ya ya” pintanya.

“Shireo, kerjakan sendiri!” tolak Suho.

“Yak! Dasar Kim Joon Myeon si manusia pelit. Ku sumpahi kau tidak bisa bersama Chorongie!” koar Yixing dan kembali duduk di bangkunya.

“Yak!” 

Ya, seperti itulah persahabatan mereka.
*** 

sekolah terasa sangat tenang ketika para siswa mengerjakan ujian. Ada yang sangat serius mengerjakan, stes tidak bisa menjawab, mencontek bahkan yang paling pasrah dari itu semua adalah tertidur.

Guru yang mengawas terlihat sangat menyeramkan. Pandangan matanya terasa seprti elang yang mencari buruan. Jika dia sudahendapatkannya maka tamatlah riwayat kalian. Keluar kelas bukan lagi sebuah pilihan.

“Waktu kalian 5 menit lagi” ujar guru Min setelah melihat arlojinya.

Anak-anak terperangah, sebisa mungkin mereka mengisi, yang semula tertidur melihat sekeliling. Chorong salah seorang di dalam kelas itu menggaruk kepalanya frustasi. Ia baru mengisi setengahnya. Karena masalah waktu maka sisanya ia memilih jawaban terakhir.

“Kumpulkan” ujar sang guru. 

Para murid berbondong bondong menuju meja guru dan menyerahkan lembar jawaban mereka. 

“Sudah semua? Baiklah saya permisi” guru Min meninggalkan kelas setelah para murid memberi salam dan ucapan terima kasih.

Chorong langsung terkulai di mejanya. Tenaganya habis. Irene mendekatinya “Kau mau ke kantin?” tanya Irene. 

“Tidak, aku menitip saja padamu, aku ingin tidur kepalaku rasanya siap mengeluarkan asap” timpal Chorong.

“Haha kau berlebihan, baiklah tidur yang nyenyak. Tunggu aku kembali” Irene menepuk kepala Chorong. Dan dibalas Chorong dengan gumaman.
*** 

Suho, Lay serta Xiumin sedang berjalan menuju kantin. “Bagaimana ujianmu Xing?” tanya Xiumin. 

“Biasa saja hyung, yang tidak bisa aku kerjakan maka aku menghitung kancing saja” ujar Lay. Xiumin dan Suho tergelak.

“Tidak ada yang lucu kawan, kalian sangat menyebalkan” Lay berjalan lebih dulu ketika mereka sudah berada di kantin. Xiumin dan Suho masih terkikik dibelakang.

“Bibi, aku ingin jjangmyeon” pesan Lay pada bibi kantin.

“Baiklah, akan bibi tambahkan ekstra untukmu” ujar bibi kantin. “Uh, bibi jjang” Lay membuat gestur hebat dengan ibu jarinya.

“Bibi, kenapa kau memberikannya ekstra tapi aku tidak?” tanya seorang wanita di samping Lay. 

“Karena dia anak yang baik” bibi kantin membawa semangkuk jjangmyeon pada Lay. “Ini” Lay menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih” balas Lay setelah mengambil pesanannya.

“Memangnya aku tidak baik?” tanya gadis itu memberengut.

“Kau baik Irene, tapi Lay lebih baik lagi” senyum terukir di wajah sang bibi. Lay menjulurkan lidah. Irene memberengut.

“Irene, kau sendiri?” tanya Xiumin setelah ia sampai di dekat Lay. “Bibi, aku ingin ttopoki” pesan Xiumin, bibi kantin membuat gestur ‘ok’.

“Ah, hallo sunbae” Irene memberi hormat, bagaimana pun Xiumin adalah seniornya. “Iya, aku sendiri” lanjut Irene.

“Dimana Chorong?” tanya Suho sambil melihat sekitar. Itu kata yang akan dilontarkan oleh Xiumin namun keduluan oleh sang adik. Irene terkikik.

“Sebegitu rindunyakah tuan Kim ini pada sang kekasih, padahal belum sehari” goda Irene. Lay dan Xiumin menahan tawanya.. 

“Bukan begitu” sangkal Suho.

“Lalu?” Irene masih menggodanya.

“Hanya saja tidak biasanya ia tidak berada di kantin pada jam istirahat, ya kau tau sendiri bukan. Ia mudah lapar” Irene tersenyum dengan penjelasan Suho. 

“Wah, kau sudah begitu mengenalnya ya. Chorong, ia berada di kelas, ia bilang butuh tidur, otaknya akan mengeluarkan asap jika ia tak istirahat itu yang ia bilang padaku. Ya kau tau sendiri bukan ia seperti apa soal pelajaran” jelas Irene.

“Aku setuju dengan pendapat Chorong” ujar Lay dari salah satu meja, ia sudah mendapatkan tempat. Malah dia sudah memasukan jjangmyeon ke mulutnya. Xiumin yang sudah menerima pesanannya duduk bersama Lay.

“Ck, kau sama saja. Aku akan ke kelasnya” ujar Suho. Beranjak dari kantin.

“Tunggu, bolehkah aku menitip ini pada Chorong. Dia belum makan” Irene menyerahkan sandwich dan susu pisang pada Suho.

“Tentu, terima kasih” setelah ituia benar-benar meninggalkan kantin.

“Irene, bergabunglah dengan kami” Xiumin melambaikan tangannya pada Irene. “Apa boleh sunbae?” tanya Irene. “Kenapa tidak, kemarilah” Irene segera mendekati meja mereka dan duduk di sana bersama Xiumin dan Lay.

“Apa kalian tidak keberatan jika bertambah satu orang lagi?” tanya seseorang dengan nampan di tangannya. Mereka menoleh bersama. “Eoh, Chanyeol. Tentu saja. Kenapa tidak. Ayo duduk” Chanyeol menampilkan cengirannya dan duduk di samping Irene. “Nonna, kemana Chorong nonna?” tanya Chanyeol.

“Kau tau sendiri seperti apa kakakmu jika menghadapi ujian. Ia tertidur di kelas” jawab Irene. 

“Haha pasti kapasitas otaknya overload, apa dia sudah makan? Ia belum sarapan tadi” Chanyeol sedikit khawatir.

“Tenang saja, Suho akan menemuinya dan dia sudah membawa makanan” Balas Xiumin kemudian kembali menyuapkan makanan.

“Baguslah, tak salah aku menyetujuinya” ujar Chanyeol. Ia mengambil sumpit dan menyuapkan makanan ke mulutnya. “Wah ini enak” ujar Chanyeol.

“Tentu saja. Masakan bibi kantin yang terbaik” bangga Lay.
*** 
Suho memasuki kelas Chorong, sebagian siswi terpana sebagian siswa menghindar dan sisanya setelah kaget kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia menghampiri bangku dimana gadisnya sedang tertidur dengan sebelah tangannya sebagai bantalan. Suho tersenyum dan duduk di depan bangku Chorong. Namun posisinya mengadap pada Chorong. Ia memegang salah satu jemari Chorong.

“Aku masih ingin tidur Irene” balasnya tanpa berkeinginan mengangkat kepalanya.

“Sebegitu mengantuknya kah kau?” suara itu bukan Irene. Chorong mengenalinya. Itu suara pria menyebalkan yang mengganggu waktu istirahatnya. Ia menegakan tubuhnya.

“Pergilah Kim, aku ingin istirahat” usir Chorong. 

“Jika ingin tidur di rumah bukan di sekolah. Apa matematika sangat menyita otakmu” ejek Suho.

“Ck, berhetilah mengejekku. Kau pikir siapa yang mengganggu waktu istirahatku setiap malam hanya untuk menyuruhku belajar huh?” wajahnya penuh emosi.

“Itu juga untuk kebaikanmu” balas Suho dengan tenang.

“Kebaikan kepalamu, kebahagian untukmu siksaan untukku” serapah Chorong.

“Haha kau berlebihan” inilah hobi Suho yang lain, menggoda Chorong.

“Pergilah Kim, aku ingin tidur. Masih ada waktu sebelum ujian berikutnya” Chorong bersiap meletakan kepalanya di meja lagi namun Suho menahannya.

“Makanlah dulu, ini titipan Irene. Kau belum makan bukan?” Suho menyerahkan sandwich dan susu pisang tadi. Seketika mata Chorong berbinar.

“Terima kasih” Chorong mengambil sandwich dan segera memakannya. Cacing di perutnya sudah berorcestra. Suho mengangguk.

“Makanlah perlahan, kau seperti tidak makan sebulan” ejek Suho.

“akhu suhduah luapar (aku sudah lapar)” ujarnya dengan mulut penuh.

“Telan dulu, kau ini. Dasar jorok” Chorong tak peduli. Sandwich lebih penting dari pada Suho.

“Kau mau?” tawar Chorong. 

“Tidak usah, ku pikir itu pun tak cukup untukmu” ujar Suho. Chorong hanya menyengir.

“Kapan pertandinganmu?” tanya Suho setelah Chorong selesai menghabiskan sandwichnya. 

“Dua hari setelah ujaian selesai. Memangnya kenapa?” Chorong meminum susunya.

“Tidak apa, aku akan melihat” ujar Suho.

Uhuk

Chorong tersedak susu bahkan sebagian ada yang keluar. Ia menepuk nepuk dadanya. Suho membantu menepuk punggungnya. “Kau tak apa?” tanya Suho khawatir.

Chorong sudah sedikit lebih baik “Aku baik, dan untuk pertandingan. Kau tak perlu datang”.

“Aku tak perduli pendapatmu, aku tetap akan melihat” 

“Yak!” 

“Lalala aku tak dengar” Suho menutup telinganya.

“Dasar Kim menyebalkan!” 

“Berhenti menggerutu Park!”

Tanpa mereka sadari. Mereka sudah menjadi perhatian bagi orang-orang di lelas Chorong. Dan tanpa mereka duga. Ada seseorang yang sedang tersulut emosi.
To be continue . .
Bukan hal susah kan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Advertisements
Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #8

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Chapter 8
Yixing termenung di pinggir trotoar ketika Xiumin dan Suho menghampirinya.

“Yixing” panggil pemuda yang lebih tua.

Reflex tubuh Yixing berbalik, liquid bening hampir saja keluar dari kedua matanya. “Hyung . . “ Yixing segera berlari menghampiri kedua kakak beradik Kim dengan merentangkan kedua tangannya. Rasa gembira bisa bertemu dengan mereka tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Sampai di hadapan Xiumin ia segera memeluk pria dengan pipi bakpau tersebut. “Hyung, aku merindukanmu. Terima kasih telah menemukanku” girangnya memeluk Xiumin dengan melompat-lompat bak bocah yang bertemu lagi dengan teman lamanya.

“Uhuk, Ching lepas, aku tak bisa bernafas” Gumam Xiumin.

“AH, maaf” Yixing melepaskan pelukannya dan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Rindu kepalamu, kau hanya berpisah dari kami sekitar 4 jam Xing” Gerutu seseorang di samping Xiumin.

“Omo, Myeon! Aku juga merindukanmu” Yixing bersiap memeluk Suho, namuan niatnya tertahan oleh perintah Suho.

“Kau tak lihat lenganku!” bentak Suho.

“Astaga apa yang terjadi?” kaget Yixing. 

Suho memutar bola matanya “Kau lupa kenapa aku menyuruhmu untuk mengambil motorku?”.

Yixing berpikir sejenak “Ah Ya! (Ia menepuk lengannya seperti teringat akan sesuatu). Maaf aku lupa. Lalu bagaimana dengan Chorong?” tanya Yixing.

“Ia baik” balas Suho.

“Cha . . ceritanya dirumah saja, hari semakin larut” Xiumin memberi saran dan menyuruh salah satu pegawainnya untuk membawakan motor Suho.

“Benar, ceritannya di rumah saja. Perutku sudah minta diisi. Go go go kita pulang!” Yixing dengan penuh semangat berjalan mendahului kedua kakak beradik itu. Di pertigaan ia dengan semangat berbelok ke kiri sambil berseru “Ayo pulang, ayo pulang!”.

“Yixing, kanan!” teriak Xiumin.

Dengan secepat kilat ia berbelok lagi ke arah kanan masih dengan berseru “Ayo pulang!”.

Xiumin menggelengkan kepalanya. Suho menghela nafas. ‘ Kapan temannya ini normal’ pinta mereka dalam hati.

***

Koridor sekolah sudah dipadati beberapa siswa. Termasuk Chorong dan Irene yang Sedang menuju kelas mereka. Namun seseorang menghalangi langkah keduanya.

Irene memandangnya jengah, Chorong bahkan sudah berwajah datar. “Ada apa lagi?” Tanya Chorong pada orang tersebut.

“Urusan kita belum selesai!” Ujarnya lantang. Membuat mereka menjadi pusat perhatiaan. Chorong benci ini. ia menghela nafas. Baru saja Irene akan membalas anak itu namuan Chorong sudah lebih dulu maju menghampiri gadis keturunan Jepang tersebut. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Aku tau, kemarin juga perbuatanmu. Jika kau melakukankan hal yang lebih jauh dari kemarin. Maka tamatlah riwayatmu” bisik Chorong di telinga Rion. Sang gadis keturunan Jepang itu sedikit membola. Chorong menepuk pundaknya dan melewatinya. Irene berlalu melewatinya untuk menyusul Chorong.

Rion masih membeku. Semua orang kembali pada aktifitasnya. Tanpa Rion sadari seseorang mendekatinya. Ia mengangkat wajahnya “Oppa” ujarnya.

“Berhenti melakukan hal yang aneh-aneh atau kau akan tau akibatnya” Ujar Suho kemudian meninggalkannya. Ya, Suho melihat kejadian tadi.

“Chorongie~” panggil Suho. 

Bulu kuduk Chorong meremang. Panggilan macam apa itu. Batinnya. Ia melihat kebelakang. 

Disana. Beberapa meter dari tempatnya ia melihat pria yang sangat menyebalkan menurutnya sedang tersenyum bodoh dan menghampirinya. Bola matanya berputar jengah. 

“Maaf Bae, sepertinya aku harus pergi lebih dulu. Sampai bertemu dikelas bye” dan Chorong pun berlari.

“Yak!” teriak Irene.

“YAK! PARK CHORONG TUNGGU!” teriak Suho dengan mengejar Chorong.

“Tidak mau!” teriak Chorong masih dengan berlari.

Irene sedikit bingung dengan keadaan Suho yang menopang sebelah tangannya. Namun ia tidak terlalu peduli. Dan kembali berjalan menuju kelasnya.

Disisi lain, Rion masih di tempatnya melihat kejadian itu. “Awas saja kau Chorong” tangannya mengepal erat.

*** 

“Akan ku hajar pria Kim itu!” gerutu Chorong setelah mendudukan dirinya di bangku kantin. Chanyeol dan Irene dibuat melongo.

“ Ku kira kakakmu tersambet sesuatu” Ujar Irene pada Chanyeol. 

“Kurasa juga begitu nonna” Chanyeol mengangguk setuju dengan pendapat Irene.

“Yak! Kalian ini aish” sungut Chorong.

“Habisnya baru datang sudah menggerutu, ada apa?” pandangan Chanyeol menatap Chorong namun lengannya mengambil sesuatu di atas meja. Dengan gerakan kilat Chorong lebih dulu meraih benda yang diinginkan Chanyeol dan menghabiskannya secara rakus.

“ITU MILIKU!” geram Chanyeol, namun itu sia sia karena yang diletakan Chorong di atas meja tinggalah gelas kosong. Setelah itu Chorong melirik Chanyeol tajam.

Glek

“Jika kau masih haus akan ku belikan lagi” tawar Chanyeol ciut setelah melihat pandangan sang kakak.

Baru saja akan beranjak Chorong sudah mencegahnya “Tak perlu” dan Chanyeol mendudukan kembali dirinya.

“Ada apa ? cepat katakan” titah Irene.

Chorong mengambil nafas sejenak, “Kau tau? Dengan tidak biadabnya Kim Suho mengesalkan itu memeberiku tumpukan soal yang perlu dikerjakan, belum lagi tadi ia sengaja datang menemuiku untuk menyerahkan semua buku ini” tunjuk Chorong pada beberapa tumpukan buku diatas meja.

“Hanya karena itu? Heol ku kira ada apa” sesal Irene.

“Ish, aku rugi membiarkan minumanku diminum olehmu” kali ini Chanyeol yang mengeluh.

“Yak ! hari ini aku juga ada latihan untuk kejuaraan, belum lagi ada hal penting yang harus ku kerjakan lainnya” tutur Chorong yang tak terima dengan pendapat kedua mahluk dihadapannya ini.

“Memangnya apa?” tanya Chanyeol sedikit penasaran.

“Tentu saja bermain game!” ujar Chorong percaya diri.

“Heol, rugi aku bertanya padamu nonna” Chanyeol memutar bola matanya jengah.

“Aku bersukur Suho memberimu banyak tugas, setidaknya otakmu itu perlu diisi sedikit nutrisi bukan hanya game dan berkelahi” nasehat Irene.

“Kau itu temanku bukan sih, kenapa tak pernah membelaku?” Tanya Chorong.

“Sayangnya, aku harus mengaku benar” balas Irene datar.

“Yak!”

*** 

Bulir peluh mengalir di pinggiran wajah Chorong. Dengan mengenakan seragam putih itu ia melihat targetnya dengan pasti dan “Yak!” buk. Tendangannya mengenai target.

“Bagus Chorong, sebentar lagi turnamen, jagalah kesehatanmu” ujar sang pelatih. Chorong membungkuk hormat “Baiklah Seosangnim”.

“Cha, semua! Cukup untuk hari ini. berisitirahatlah” ujar sang pelatih.

“Nde, kamsahamida” ujar para murid serempak. Setelah sang pelatih undur diri semua berpencar.

“Rong-ah, pacarmu sudah menunggu tuh” ujar Eungkwang.

“Apa maksu . .” namun ucapannya terhenti ketika matanya melihat gambaran mahluk yang membuatnya kesal tadi siang.

Chorong merajut langkahnya sedikit cepat menuju sang pria. “Aigo, sebegitu rindunya kah ia, padahal belum sehari, andai saja ku punya kekasih hahh” ujar Eunkwang.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Chorong ketika langkahnya terhenti setelah berhadapan dengan sang pria.

“Tentu saja menunggumu, kau lupa jika hari ini aku harus mengajarimu” ujar Suho.

“Tapi aku sangat lelah” melas Chorong.

“Tak ada bantahan, kau tak ingin nilamu naik” ujar Suho.

“Ish, kau ini menyebalkan” Chorong berbalik meninggalkan Suho dengan menghentakan langkahnya. “Ku harap lengannya akan seperti itu terus” gerutu Chorong.

“AKU MENDENGARMU PARK CHORONG!!” teriak Suho. Chorong yang mendengar itu mempercepat langkahnya menjadi berlari. “Dasar” ujar Suho tersenyum.

*** 

“Kenapa dirumahku sih?” Tanya Chorong ketika mereka sudah memasuki bis. “Kenapa tidak boleh? Apa kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Suho. 

“Ta tak ada yang aku sembunyikan, lagi pula orang tuaku tidak mungkin . .” “ mereka sudah mengijinkan” perkataan Chorong terpotong oleh Suho. 

“Apa? Mana mungikn” 

“Tak percaya? Coba saja hubungi Chanyeol atau orang tuamu” ujar Suho.

“Baiklah” Chorong mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Tak butuh waktu lama ia sudah terhubung dengan seseorang.

“Ibu” ujarnya

“Ah, Rong-ah. Kau tau apa makanan kesukaan Suho? Ku dengar dia akan berkunjung. Aku akan menyiapkan cemilan untuk kalian. Ku dengar dia akan mengajarimu, wah tak kusangka ia murah hati ingin mengajarimu yang bebal ini”

‘murah hati apanya’  pikir Chorong.

“Ibu!”

“Cepatlah sampai, dan hati-hati di jalan, bye” dan sambunganpun terputus.

“Apa katanya?” Tanya Suho.

“Tak ada” ujar Chorong, Suho yang melihat ekspresi Chorong saat ini terkekeh. “Jangan tertawa” ancam Chorong. 

“Aku tidak” sangkal Suho.

“Kau iya” ujar Chorong. “Lagi pula kenapa kau mau naik bis?” Tanya Chorong.

“Hai gadis barbar, apa kau lupa dengan kondis tanganku” ujar Suho menunjukan lengannya yang masih terbalut perban.

“Ups, maaf aku lupa. Kenapa tak menyuruh sopirmu atau pegawaimu yang lain untuk mengantar kita?” Tanya Chorong.

“Kenapa? Kau tak mau naik bis?” Tanya Suho menyelidik.

“Tidak, aku sudah terbiasa dengan ini, hanya saja . .” ujar Chorong menggantung.

“Hanya saja apa?” Tanya Suho.

“Ku kira kau bangkrut haha” ujar Chorong.

“Heol, tak mungkin seorang Kim Suho bangkrut!” ujar Suho.

“Nde nde, tuan muda Suho saya paham” balas Chorong.

“Bagusalah jika kau paham” 

“Dasar Sombong” gumam Chorong.

“Aku mendengarmu Park” ujar Suho dan Chorong hanya menampilkan senyuman bodohnya.

*** 

“Ini masih salah, kerjakan lagi” titah Suho.

“AISH” Chorong merebut kembali catatannya.

Tok tok 

“Ya” Ujar keduanya.

“Maaf jika ibu mengganggu, ini cemilan untuk kalian. Selamat belajar” Nyonya Park meletakan nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan.’

“Terima kasih Bi” ujar Suho membungkuk.

“Tak perlu sungkan, silahkan kalian lanjutkan belajarnya. Ibu tak kan mengganggu kalian” nyonya Park kembali menutup pintu kamar Chorong. Suho kembali duduk.

“Myeonnie . . aku lelah” ujar Chorong. Oh Suho tau rengekan ini, jika Chorong sudah memanggilnya seperti ini pasti ada maunya.

“Kerjakan sebisamu, ujian sebentar lagi. Jika ada yang tidak kau mengerti baru kau bertanya. Cha kerjakan” Suho menggerakan kepala Chorong menuju lembaran Soal di meja.

“Dasar kejam” gerutu Chorong. Namun Suho tak peduli ia lebih memilih membaca buku yang berada di sebelah tangan kirinya.

Suho meletakkan bukunya “Kau sudah . .” perkataannya terhenti ketika melihat Chorong sudah terlelap menuju alam mimpinya. Suho menghela nafas “Ia benar-benar kelelahan” Suho membenarkan rambut Chorong dan tersenyum. ia beranjak dari tempatnya menuju ranjang Chorong. Dan kembali membawa sebuah selimut di tangannya. Dengan usaha semampunya ia menyelimuti Chorong.

“Kau sudah berusaha” Ia mengelus pelan kepala Chorong membuat sang gadis bergerak sedikit dalam tidurnya. Suho melihat interior kamar Chorong. Ia tak menyadarinya ketika masuk pertama kali. Kamar Chorong tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Dalam kamarnya tergantung sebuah samsak dan berjejer beberapa koleksi manga serta kaset video game. Suho menjelajahi isi kamar Chorong. Ia menjelajahi salah satu rak yang menyimpan kaset game milik Chorong. Ia mengambil salah satunya. Namun selembar kertas terjatuh dari situ.

Suho mengambilnya, ternyata sebuah Foto. Ia melihatnya secara seksama. Di foto itu terdapat Chorong dan seorang pria sedang tersenyum. Dia tidak mengenali pria ini, ini bukan Chanyeol. Lalu siapa pria ini?

Tbc

Whai para reader jujurlah kalian, apa kalian lebih menunggu part Yixing dibanding Chorong dan Suho sang pemeran utama? Haha . .

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, semoga saya bisa cepat update lagi.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo chapter 14

I Live With Satan Soo

Evina93 @2015-2017

Chapter / PG 16

Romance, Comedy.

Shin Mingi (Oc), Do Kyungsoo (EXO), Kim Seokjin (BTS), Bang Minah (GDay)

Alur cerita mungkin pasaran, don’t be plagiat, typo masih bertebaran, biasakanlah meninggalkan komentar setelah membaca.

Chapter 14
Tubuhnya memang berada di tempat ini namun pikirannya sedang melanglang buana. Itulah keadaan Mingi saat ini. Suara gaduh para pengunjung cafe, alunan musik dan perdebatan kedua pria di hadapannya ini seolah tak terdengar oleh sepasang telinganya.

Dalam pikirannya masih berkelebat bayangan Kyungsoo dan Minah sedang berciuman. Mingi tak mungkin seperti ini jika ia tidak menyukai Kyungsoo, walau hatinya selalu menyangkal hal itu tapi entah mengapa kali ini hatinya bagai di rujam oleh ribuan belati.

“Hey hitam! Ide itu sudah pasaran, coba yang lain” ujar pria tinggi dengan kulit putihnya.

“YA! Albino. Kau hanya berkomentar terus tanpa mengeluarkan pendapat, namun setiap aku mengeluarkan pendapat kau selalu menyangkalnya, aish” Jongin sang pria yang di panggil dengan sebutan hitam itu mendengus frutasi. Sudah satu jam mereka berada disini namun masih belum mendapatkan kesepakatan tentang tema yang akan mereka angkat untuk tugas kelompok kali ini.

“Bagaimana jika kita tanya saja pendapat Mingi, jadi bagaimana pendapatmu?” atensi keduanya beralih pada sosok wanita di hadapan mereka yang sedang memandang kosong.

“Mingi, Shin Mingi, Do Mingi” panggil Sehun berulang, namun tak ada sahutan dari Mingi.

“YA MINGI!” teriak Jongin frustasi. 

“Ah, apa?” akhirnya sang wanita menanggapinya. Namun Sehun berulang kali membungkuk minta maaf karena semua pengunjung sedang melihat mereka.

“Ck, bagaimana pendapatmu?” tanya Jongin kemudian.

“Soal apa?” tanya Mingi dengan pandangan bingungnya. Dan keduanya hanya bisa menghela nafas. 

*** 

Kyungsoo mencari keberadaan Sehun ketika ia sudah memasuki kedai. Kakinya bergerak mendekati tempat dimana orang yang dicarinya berada.

“Maaf, membuatmu menunggu, ada apa kau ingin bertemu denganku?” Kyungsoo mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi dihadapan Sehun.

“Aku juga baru tiba tenang saja hyung” ujar Sehun. Seorang pelayan mendatangi mereka dengan memberikan air minum. Setelah selesai dengan pesanan mereka dan sang pelayan kembali ke tempatnya untuk membuat pesanan, maka focus Kyungsoo kembali pada Sehun.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Kyungsoo menuangkan air ke dalam gelasnya.

“Tadi siang aku, Jongin dan Mingi mendatangi tempatmu dan Mingi bekerja” tutur Sehun. Pergerakan Kyungsoo terhenti beberapa detik, “Benarkah?” dan dijawab oleh pria bermarga Oh itu dengan anggukan.

“Hyung, jujur saja. Aku sudah menganggap Mingi sebagai saudaraku sendiri. Walau ia tak berkata apa-apa sedari tadi namun aku tau ia merahasiakan sesuatu” ujar Sehun serius.

“Apa maksudmu?” Kening Kyungsoo berkereut.

Sehun menghela nafas “Mingi melihatmu sedang berciuman dengan Minah” tutur Sehun final.

Kyungsoo membola, terkejut ? tentu saja. 

“Mingi seharian ini tidak focus hyung, bahkan ketika kami mengerjakan tugas ia terus saja melamun. Tadi saja ia bersikeras ingin pulang sendiri. Namun aku dan Jongin melarangnya. Apa jadinya jika ia pulang sendiri dan terus melamun” cerita Sehun.

“Lalu?” ada gurat khawatir di wajah Kyungsoo.

“Tenang saja, aku sudah menyuruh si hitam mengantarnya karena aku harus menemuimu. Jangan cemburu pada Jongin!” kalimat terakhir dikeluarkan dengan penuh penekanan oleh Sehun setelah melihat raut cemburu Kyungsoo keluar tadi. Heol, bisa panjang urusannya jika Satan Soo mengamuk.

“Aku tidak cemburu!” dengus Kyungsoo.

“Cih, dengar hyung. Aku memang lebih muda diantara kalian. Namun ku mohon renungkanlah perkataanku ini baik-baik. Jika kau benar-benar menyukai bahkan mencintai Mingi maka pertahankah dan perjuangkanlah. Jangan pernah menyakitinya. Kau tau sendiri bukan bagaimana menyakitkannya itu”.

“Eum, aku tau itu” ujar Kyungsoo dan menegak minumannya.

*** 

Daun pintu itu terbuka dan masuklah Kyungsoo ke dalamnya. Jam sudah menenjukan pukul 11.30 malam ketika ia memasuki apartemnnya.

Hening.

Itulah yang ia rasakan, dahinya mengerenyit. Biasanya pada waktu ini Mingi masih duduk manis di depan televisi menyaksikan drama favoritnya. Lalu kemana anak itu?.

Ia merajut langkahnya menuju salah satu pintu yang sedikit terbuka. Kepalanya ia sembulkan kedalam. Sosok yang ia cari sedang tertidur di atas meja belajarnya. Tumpukan buku masih berserakan di sekitarnya. Sepertinya ia kelelahan ketika mengerjakan tugas.

Kyungsoo mendekatinya. Merapikan rambut Mingi dan menyelipkan di belakang telinga sang wanita. Wajah lelapnya seolah menghipnotis seorang Do Kyungsoo. 

Kyungsoo menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Ia meletakan ranselnya di atas meja belajar Mingi. Lalu membawa tubuh Mingi ke tempat tidurnya.

Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Mingi. Namun kedua retinanya terpaku ketika melihat Kristal bening itu keluar dari sudut mata Mingi.

Sebelah tanganannya ia gerkan menuju wajah Mingi, ibu jarinya menghapus Kristal bening itu kemudian ia berbisik “Maafkan aku” dan mencium kening Mingi.

*** 

Mentari sudah berada di peraduannya, bahkan sang cahaya sudah menerobos masuk diantara gorden yang tertutup itu. Burung-burung sudah melantunkan nyanyian merdunya.

Sang wanita menggeliat dalam tidurnya. Ia ingin membuka kedua kelopak matanya namun kenyamanan ini membuatnya tak ingin terbangun. Ia lebih mengeratkan lagi pelukannya dan wajahnya kembali mengusak pada sebuah dada bidang.

Sebuah kekehan terdengar di panca indra Mingi.

Tunggu, dada, pelukan? Dan sepertinya ia merasa seseorang juga memeluknya. Mau tak mau kedua kelopak matanya terbuka dengan cepat. Hal pertama yang ia lihat adalah dada seorang Pria. Dahinya mengerenyit. Seingatnya semalam ia sedang mengerjakan tugas 

Dengan keyakinan yang ia bangun secara mendadak, ia mencoba melihat ke atas. 

Glek

Kedua matanya memantulkan sosok seorang pria tampan, tidak. Pria manis, tidak. Lebih tepatnya iblis yang sedang menyeringai.

“Sudah bangun hum?” tanya sang pria.

“Kyaaa!!” Buk. Reflex Mingi mengambil bantal dan memukulkannya ke wajah Kyungsoo. Bukan hanya itu, bahkan ia menendang Kyungsoo hingga terjatuh.

“YAK!” teriak Kyungsoo dari bawah tempat tidur.

Yang diteriaki malah memeluk tubuhnya sendiri. “Kau! apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kenapa kau tidur disini?” tanya Mingi menyelidik.

Kyungsoo menarik sebelah sudut bibirnya menampilkan sebuah Smirk, sebuah ide terlintas dipikirannya.

“Astaga, kau tak ingat tentang semalam? Aku kecewa” ujar Kyungsoo membuat Mingi membulatkan tatapnnya.

Dalam hati Kyungsoo bersorak bahagia, Mingi termakan umpannya. Uh lihat betapa menggemaskannya wajah wanita di hadapnnya ini. inilah salah satu hal yang membuat Kyungsoo sangat senang menjahili Mingi.

“Tunggu, memangnya apa yang kita lakukan kenapa aku tak ingat” Mingi memegang kepalanya dan meremas rambutnya.

“Hahahaha” gelak tawa itu keluar dari Kyungsoo.

Mingi menyipitkan kedua matanya memandang Kyungsoo. “YAK! DO KYUNGSOO KAU MENGERJAIKU YA?!!”.

“HAHAHA . . Habisnya wajahmu sangat lucu tadi” Kyungsoo memegang perutnya.

“Ish, kemari kau!” Mingi membawa sebuah bantal di tangannya bersiap untuk menghajar Kyungsoo. Namun Kyungsoo sudah lebih dulu berlari. 

“Kejar saja jika kau bisa wek” Kyungsoo menjulurkan lidahnya dan menghindari Mingi. Maka pagi hari ini di apartemen mereka diisi oleh aksi saling kejar – kejaran antar sepasang suami istri ini. Apa kalian tidak ingat umur dan status kailan?

Tbc

Holla, akhirnya saya meneruskan cerita ini. baru nyadar nih cerita udah 2 th dan belum selesai haha . .

Yang menunggu cerita ini terima kasih atas kesabaran kalian (Bungkuk), semoga saya bisa cepat update lagi . .

Posted in Uncategorized

Minor Feeling

Minor Feeling

Evina93/Oneshoot/PG-15

Romance, comedy.

Kim Jongdae & Son Seungwan
Langkah Seungwan semakin cepat ketika menemukan targetnya, jangan lupakan gerutuan sepanjang jalannya.

“Kim Jongdae!” panggilnya pada segerombolan pria yang sedang berkumpul.

Merasa ada yang memanggil Jongdae segera mengalihkan atensinya. Matanya berbinar senang ketika mengetahui sang pemanggil.

“Seungwan? Ada apa? Oh jgn bilang kau rindu padaku. Aku juga merindukanmu” ia berkata dengan penuh percaya diri.

“Dalam mimpimu!” ketus Seungwan.

“Aku memang selalu memimpikanmu” Senyum Jongdae.

“Jangan membuatku ingin muntah, kau! Kenapa kau yang menjadi pasangan duetku!” kesal Seungwan.

“Aku hanya dipinta oleh guru Shim, memang kenapa? Kau tak mau?” tanya Jongdae.

“Berdiri di dekatmu saja aku jengah apalagi satu stage denganmu” Jongdae hanya bisa tertunduk. “Baiklah, aku akan berkata pada guru Shim agar seseorang menggantikanku” ujarnya dengan mimik sendu.

“Baguslah jika kau tau” Seungwan berkata sombong.

“Hanya dalam mimpimu Son Seungwan haha” lanjut Jongdae.

“Yak!” 

“Aigo, kau marah. Sangat lucu sekali” Jongdae mencubit kedua pipi Seungwan.

“Leupeuskeaun Jounhdue!” gumam Seungwan aneh.

###

Hari ini Seungwan sangat senang, pasalnya ia baru saja diberi tahu jika ia lolos lomba menyanyi ke tahap selanjutnya.

Pluk

Sebuah lengan melingkar di pundaknya. “Wah, kau kelihatan sangay senang. Apa karena kau melihatku?” tanya pria di samping Seungwan. Mata Seungwan berkilat tajam. “Singkirkan tanganmu Kim Jongdae!” ujarnya rendah dengan penuh penekanan.

Jongdae menggeleng. “Yak!” Jongdae malah semakin erat memeluk lehernya membuat Seungwan menjadi lebih dekat dengannya.

“Aku membencimu!” ujar Seungwan.

“Sama-sama, aku juga menyukaimu” Ujar Jongdae.

“Telingamu bermasalah!” bentak Seungwan namun entah mengapa wajahnya sedikit memerah.

##

Jongdae belakangan ini selalu saja uring-uringan. Biasnya ia selalu mengerjai Seungwan dimanapun dan kapanmu, namun beberpa hari terakhir ini ia tak pernah melihat Seungwan, jika bertanya pada Seulgi maka jawaban yang ia dapat “Seungwan sedang sibuk berlatih”. Jongdae rasanya ingin berlari menuju ruang musik untuk menemui Seungwan. Tapi di sisi lain ia tak ingin mengganggu.

“Argggh, aku tak tahan lagi!!!!” ujarnya frustasi.

“Jika rindu padanya maka temuilah, bukannya berteriak di dekatku” ujar teman mata belonya. Jongdae hanya mencibir.

“Dae-ya tadi aku melihat Seungwan sedang bicara akrab sekali dengan pria tinggi di depan ruang musik” lapor salah satu temannya yang baru saja masuk dengan sekotak susu stowbery di gengamannya.

“Apa?!” Tanpa pikir panjang Jongdae segera berlari menuju ruang musik.

“Apa benar begitu Baek?” tanya Kyungsoo setelah Jongdae tak terlihat lagi. Bekhyun mendekati Kyungsoo sambil menyeruput minumannya.

“Sebenarnya ia hanya sedang berdiskusi dengan Chanyeol haha” Kyungsoo hanya menggeleng melihat kelakuan Baekhyun.

Jongdae memperlambat langkahnya ketika melihat Seungwan. “Baekhyun bilang Seungwan dengan pria tinggi, tapi itu kan Chanyeol. Apa Baek menipuku” gumamnya dengan dahi mengerenyit.

“Seungwan” panggilnya. Gadis dan pria tinggi yang ternyata Chanyeol itu menoleh.

“Ada apa kau kemari?” ujar Seungwan mengerenyit.

“Yo!” Sapa Chanyeol.

“Kalian sedang apa?” tanya Jongdae.

“Berdiskusi untuk tugas musikalisasi kami. Aku dan Chanyeol satu kelompok ah Baekhyun juga. Tunggu kenapa aku harus menjelaskan padamu” Seungwan berpikir sejenak.

“Tapi Baekhyun bilang . .” Jongdae meminta penjelasan pada Chanyeol.

“Ah, Sepertinya kau dikerjai. Lagi pula aku tak akan merebutnya” bisik Chanyeol di akhir kalimat pada Jongdae.

“Yak! BYUN!!!!” Lengkingan nada tinggi terdengar di sepanjang koridor. 

##

Setelah bermain basket dengan teman-temannya Jongdae merasa sangat kehausan. Ia berjalan menuju mesin penjual minuman otomatis. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang tersenyum pada seorang pria. senyum yang jarang malah tidak pernah ditunjukan untuknya. Tubuhnya seolah kaku, dadanya tetasa sesak, apalagi ketika pria itu mengelus surai kecoklatan sang gadis.

Ia berbalik, melangkah menjauh dengan hati yang penuh goresan.

“Kawan-kawan aku pulang duluan” pamitnya. 

“Loh sudah mau pulang?” tanya Chanyeol. Jongdae hanya memberi isarat lambaian tangan.

“Ada apa dengannya?” teman-temannya terheran.

Ketika akan melewati gerbang ia berpapasan dengan Seungwan. Tak seperti biasanya Jongdae hanya berjalan lurus dan mengabaikan Seungwan. Merasa ada yang aneh Seungwan berbalik melihat punggung Jongdae. Alisnya menyatu. “Kim Jongdae!” panggilnya. Tidak bebalik dan tak ada tanggapan. Jongdae terus saja berjalan tak peduli apapun.

Seungwan bergerak cepat ia menahan lengan Jongdae, membuatnya berpaling melihat Seungwan. Bukan tatapan seperti biasanya dan Seungwan sadar itu. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Bukan urusanmu” kata-katanya singkat namun terdengar sangat dingin dan tatapan itu Seungwan tak paham. Jongdae melepaskan genggaman Seungwan pada lengannya dan kembali melangkah.

##

Sudah beberapa hari ini Jongdae menghindari Seungwan, dan Seungwan sadar itu. Dan puncaknya tadi, Jongdae tak ingin satu stage dengannya. Harusnya Seungwan senang, tapi ini sangat mengejutkan seperti bukan Jongdae. Akhirnya Seungwan memutuskan untuk menemui Jongdae yang belakangan ini ia ketahui sering mengunjungi atap sekolah.

“Kim Jongdae!” panggilnya. Namun Jongdae hanya melirik malas. Seungwan kaget melihat reaksi Jongdae. “Yak! Kau ini kenapa huh?” tanya Seungwan. 

“Apa pedulimu” Ujar Jongdae dingin.

“Ya! Kau ini aneh sekali” amarah dalam diri Seungwan tersulut.

“Kau yang aneh, sudah memiliki kekasih untuk apa peduli padaku!” Ujarnya tanpa melihat Seungwan.

Seungwan mengerenyit “Aku tak mengerti maksudmu?”.

“Ya kau memang tak pernah mengerti, bahkan setelah sekian lama aku menunjukannya padamu kau tak pernah peduli!” ujarnya emosi.

“K kau menyukaiku? Sejak kapan?” tanya Seungwan, bahkan jantungnya bekerja lebih cepat.

“Setiap kali aku selalu mengatakannya padamu” Jongdae kali ini mentap Seungwan.

“Ku pikir itu hanya bercanda” gumam Seungwan.

“Jadi selama ini kau anggap aku bergurau?” ujar Jongdae.

“Kau tak pernah serius!” bela Seungwan.

“Ck, sudahlah. Lagi pula ini tak penting lagi” Jongdae berbalik meninggalkan Seungwan.

“Lalu bagaimana jika aku juga menyukaimu” suara Seungwan mengalun di telingnya. Tak percaya ia berbalik. “Jangan bercanda!” ujar Jongdae, ia tak percaya apa yang ia dengar tadi.

“Apa wajahku terlihat bercanda?” Jongdae menggeleng. Seungwan tersenyum. “Jadi apa kau masih menyukaiku?” tanya Seungwan. Jongdae mengangguk “Tapi kekasihmu”.

“Jika yang kau maksud pria dengan wajah campuran itu maka jawabanku adalah ia sepupuku. Lagi pula aku tak memiliki kekasih” Seungwan tersipu di akhir kalimatnya. Senyum Jongdae merekah.

“Son Seungwan aku menyukaimu!!” ujarnya dan memeluk Seungwan. Seungwan tersenyum dan membalas pelukannya.

##

“Jadi kau sudah lama menyukaiku?” Seungwan kembali bertanya. Mereka sedang duduk berdua di taman belakang.

“Ya” Jongdae memaikan rambutnya. Entahlah tapi sekilas smirk terlihat di wajah Seungwan.

“Kalau begitu pilih, aku atau bebek karetmu?” Seungwan menatapnya.

“Apa harus itu?” Seungwan mengangguk.

“Tentu saja kau” Senyum Jongdae.

“Kalau begitu buang semua bebek karetmu” Smirk Seungwan.

“APA???!!!” rasanya Jongdae baru tersambar petir di hari yang cerah.
Fin
#happychentongday

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #7

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance, AU.

Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (APink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol (Exo)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Typo masih bertebaran, don’t plagiat, tinggalkan jejak setelah membaca, butuh keritik untuk perkembangan sang penulis.

Chapter 7
Chorong melambatkan laju motornya setelah merasa keadaan cukup aman, pegangan Suho pada pinggangnya masih kuat. Chorong menepi untuk memastikan sesuatu. Setelah motor berhenti di tepian ia memukul lengan Suho. 

“Ah ah, sakit!” teriak seseorang di belakangnya. Ya secara tidak sengaja ia memukul lengan Suho yang terkilir.

“Omo, maaf. Apa masih sakit?” ia melihat keadaan tangan Suho setelah turun dari motor, Suho sudah lebih dulu turun.

“Tentu saja! Tanganku ini terkilir nona. Tapi yang lebih penting dari semua itu adalah, jika kau ingin mati jangan mengajakku!” bentak Suho di depan wajah Chorong.

“Tak ada pilihan lain” Chorong mengedikan bahu. “Hey kau ini kan pria, masa segitu saja sudah takut. Apa lagi yang membawa motormu ini adalah seorang wanita. Dasar pengecut” ejeknya dengan ekspresi meremehkan.

“Si siapa bilang aku takut?” 

“wajahmu mengatakan semuanya tuan Kim, sudah jujur saja” Chorong menepuk – nepuk bahu Suho. 

“Cih” ketika akan menurunkan tangan Chorong ia melihat ada bekas darah. “Ya! Tanganmu kenapa huh?” ia menggenggam tangan Chorong dan menunjukkan lukanya. 

“Entahlah, kenapa bisa berdarah ya?” Chorong malah heran sendiri, ia tidak merasakan sakit.

“Dasar bodoh! Ini kan tubuhmu, kenapa tidak tau! Ayo ke klinik” Suho menarik tangan Chorong dengan tangannya yang tidak terluka.

“Hey, bagaimana dengan motormu?” Chorong menunjuk motor yang masih terparkir di pinggir jalan.

“Akan ku panggil seseorang untuk mengambilnya”.

*** 

“Maaf nona kami tidak berhasil melakukannya. Ia bersama tuan Suho tadi” lapor salah satu pria yang menyerang Suho dan Chorong tadi.

“Apa?! Bagaimana bisa? Kalian semua tidak berguna!” seorang wanita menatap nyalang pada setiap orang di hadapannya. 

“lalu bayarannya” tanya pria lainnya.

“Sudah gagal masih minta bayaran, dasar tak berguna!” ia melempar beberapa lembar puluh ribu won. Setelah itu ia meninggalkan tempat tersebut.

“Awas saja kau Park Chorong” ia mengepalkan tangannya dengan emosi yang meluap.

*** 

“Untung saja tanganmu tidak terkilir begitu parah, 1-2 minggu kemudian tanganmu bisa sembuh. Jangan terlalu banyak digunakan dulu” ujar dokter yang telah selesai memberi balutan pada tangan Suho. 

“Baik, terima kasih” sang dokter hanya menepuk pundak Suho. “Oh ya, pacarmu tidak terluka parah, ia hanya tergores, lukanya sudah di bersihkan dan di obati. Kalian harus lebih berhati-hati” dokter melihat Chorong yang berada di luar ruangan. 

“Ah, ya terima kasih lagi. Tapi kenapa dokter langsung menganggap dia pacar saya?” 

“Semua orang pasti akan tau, melihat bagaimana khawatirnya dirimu ketika masuk tadi, dia gadis hebat tambahan lainnya ia juga cantik” terang sang dokter.

“Ya dia sedikit berbeda” Suho melihat Chorong yang sedang duduk sambil menggoyangkan kakinya.

“Kau sudah selesai?” Tanya Chorong ketika Suho keluar dari ruangan. 

“Ya, hanya tidak bisa digunakan untuk beberapa waktu. Apa lukamu sudah di obati?” ia melihat plester yang menempel pada salah satu lengan Chorong.

“Sudah, kau saja yang berlebihan. Ini tidak terlalu sakit kok” Chorong memperlihatkan tangannya sambil tersenyum.

“Ck, sudahlah. Ayo ku antar pulang” 

“Motormu?”

“Sudah ada yang mengambil”. Chorong hanya menjawab “Oh” dan mengikuti Suho.

*** 

“Joon Myeon sialan, kenapa juga harus aku yang mengambil motornya! Akh, padahal sedikit lagi aku menang dari Umin hyung!!” teriak Lay sambil mengendarai motor. Namun di pertengahan jalan tiba-tiba motornya sedikit bermasalah.

“Loh loh ini kenapa?” Lay menepi. “Astaga kenapa harus habis disaat seperti ini. kan jauh dari tempat pengisian bahan bakar!”. 

Dengan berat hati akhirnya Lay mendorong motornya, baru saja beberpa meter ia berhenti “Tunggu, ini dimana? Aku tak tahu daerah ini, astaga” ia melihat kanan kirinya. “Seseorang tolong, Iching tersesat!!!!”.

*** 

“Sudah sampai. Ini rumahku. Kau kembalilah naik taksi” titah Chorong.

“Apa kau tak akan menawariku untuk masuk?” Tanya Suho.

“Jangan bermimpi tuan, pulanglah” Chorong memberi gesture tangan seakan mengusir.

“Ish dasar”

“Loh hyung?” panggil seseorang, Suho menoleh. Itu Chanyeol yang memanggil. Chanyeol segera menghampiri mereka. 

“Apa yang terjadi pada tanganmu?” Chanyeol menunjuk lengan Suho yang terbalut perban.

“Ah, ini. panjang ceritanya haha” Suho menggaruk tengkuknya dengan tangan yang bebas.

“Yeol , Chorong-ah” mereka berdua menoleh.

“Ibu” ujar mereka. Nyonya Park menghampiri mereka. 

“Omo, apa kau seseorang yang dihajar Chorong? Astaga maafkan anakku. Yak! Kau kan wanita sudah ibu bilang jangan berkelahi!” nyonya Park memukuli tubuh Chorong.

“Ah, ibu sakit dengarkan dulu ah appo” Chorong berusaha menghindar bahkan ia bersembunyi di belakang Suho.

“Ah, bibi saya tidak dihajar oleh anak bibi” ujar Suho. “Ibu dengar bukan”. “Ya walau terkadang dia selalu memukuli saya sih” lanjut Suho. “Yak!”.

“Tuh kan ibu sudah menduganya, kemari kau anak nakal!” Nyonya Park berusaha meraih anaknya.  Bukannya menolong, Chanyeol malah tertawa melihat nasib sang kakak. 

“Ibu dengar” 

“Bibi ini salah paham saya mohon”

“Hahaha”

“Kemari anak nakal!”

“Ah, tanganku!” tidak sengaja nyonya Park mengenai tangan Suho yang sakit.

“Ya, kau baik-baik saja?” Chorong bertanya sedikit khawatir.

“Omo, maafkan bibi”

“Aku baik-baik saja taka apa” ia berkata taka apa tapi sedikit meringis.

“Sudahlah bu, pria itu pacar Nonna” ujar Chanyeol setelah berhasil menenangkan dirinya dari tawa.

“Oh . . APA?”

*** 

“Ini makanlah yang banyak” nyonya Park menyodorkan makannan pada Suho. 

“Ah, terima kasih, anda tidak perlu repot-repot” Ujar Suho.

“Tak masalah, kau harus makan baru kau bisa pulang. Makanlah”.

“Namamu siapa tadi?” kali ini yang bertanya adalah tuan Park.

“Kim Joon Myeon, paman” Suho sedikit gugup. Ayah Chorong sedari tadi menatapnya.

“Ayah jangan menatapnya terus ia tak nyaman!” protes Chorong pada ayahnya.

“Ayah hanya heran, ada juga yang mau denganmu ya” ujar sang ayah.

“Ayah!” 

“Hahahaha” tawa tuan dan nyonya Park serta Chanyeol menggelegar.

“Sudah ayo makan”.

Suho berusaha menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya tak bisa ia gunakan. Tapi setiap ingin menyuap ia selalu gagal. Chorong yang berada di sebelahnya menghela nafas. Ia memutar sedikit tubuhnya, mengambil sendok Suho . Tindakan Chorong selanjutnya membuat semua keluarganya tersenyum. 

“Buka mulutmu” ujar Chorong, ia berusaha menyuapi Suho.

“A aku bisa sendiri”

“Sudah makan saja dan jangan banyak bicara!” akhirnya Suho menerima suapan Chorong dengan wajah yang memerah. Ia malu karena 3 orang lainnya sedang memandanginya dengan tersenyum.

“Ada apa dengan ekspresi kalian?” tanya Chorong pada anggota keluarganya.

“Tidak ada” jawab mereka. ‘Dasar tidak peka’ gumam mereka dalam hati.

*** 

“Aku pulang!” teriak Suho.

“YA! Myeonnie kau kemana saja huh? Omo tanganmu kenapa?” Tanya Xiumin.

“Mengantar Chorong, hyung sepertinya ada yang ingin mencelakai Chorong” ujar Suho.

“Apa maksudmu?” 

“Tadi ketika aku ingin mengantar Chorong ada yang mengejar kami, itu bukan musuhku. Aku tau karena mereka tidak berusaha mencelakaiku melainkan mereka mengincar Chorong. Dan aku tau siapa pelaku utamanya” ujar Suho.

“Rion” jawab Xiumin.

“Kau benar, aku sedikit bersalah pada Chorong. Dia pasti akan menjadi bulan-bulanan Rion. Untung saja Chorong masih bisa mengatasinya”.

“Tapi kau juga tidak bisa sesantai itu Myeon, Rion bisa lebih berbahaya. Sekuat apapun Chorong ia tetaplah wanita. Aku tau didasar hatimu paling dalam kau sangat khawatir padanya, kau menyayanginya, kau menyukainya” jelas Xiumin.

“Aku menyukainya? Tidak-tidak, dia itu sangat waw, tidak ada wanita wanitanya” ujar Suho.

“Cih, masih saja tidak mengaku”.

“Hyung, apa Yixing sudah sampai membawa motorku?” Tanya Suho.

“Ia belum kembali” Xiumin mengerutkan dahinya. “Apa sesuatu terjadi padanya? Akan ku telephone ia” Xiumin segera menghubungi Lay.

“Hallo, HYUNG!”

“Xing, dimana kau?”

“Aku tersesat hyung” 

“Apa? Kenapa kau tidak menghubungiku?”

“Aku lupa jika aku membawa handphone”

Xiumin menepuk dahinya, Suho menghela nafasnya. ‘kambuh lagi’ gumam mereka.

To be continue . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #6

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter /  PG 15

School life, comedy, romance, drama.

Kim Joon Myeon /  Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok /  Xiumin , Zhang Yixing / Lay , Park Chanyeol  (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red velvet)

Chapter 6
Bel  tanda usainya pelajaran selalu terdengar paling nyaring bagi para siswa, tak terkecuali bagi para siswa di kelas Chorong.

“Baiklah, sampai sini saja pelajaran kita hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian” Guru Choi masih membereskan buku-buku bawaannya.

“Nde~ terima kasih pak” koor anak-anak sekelas.

Guru Choi mengangguk sebagai jawaban dan menuju pintu, lalu meninggalkan kelas. Sebagian anak menghela nafas lega, sebagian membaringkan kepalanya pada meja. Disisi lain ujung kelas, Chorong sudah merapikan buku dan alat tulisnya. Selesai memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal ia mensleting ranselnya

Ia menepuk bahu Irene yang duduk dihadapannya. “Bae, aku duluan” ujarnya dengan menyelempangkan sebelah tali ranselnya pada bahu.

“Kau sungguh-sungguh akan les private dengan tuan Kim itu?” Irene kali ini sudah berbalik penuh pada Chorong.

Chorong mengedikan kedua bahunya “Entahlah, aku pun tak yakin, tapi jika guru Nam yang memberi saran, itu bisa aku pertimbangkan. Lagi pula tak ada salahnya mencoba, apalagi ini geratis” senyuman lima jari tercipta di wajahnya. Jika sudah senyum seperti ini ia benar-benar mirip dengan Chanyeol.

Irene hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Semoga kau berhasil”.

“Baiklah aku pergi dulu, bye” Chorong berlari menuju pintu kelas, oh bahkan tadi ia hampir terpeleset.

“Jangan membuat ulah macam-macam” teriak Irene dari dalam kelas. Samar-samar ia mendengar gerutuan Chorong. Irene terkikik akan kelakuan sahabatnya satu ini, ‘kasihan sekali Suho harus mengajari Chorong ‘ pikirnya. 

“Semoga kau mendapat kesabaran yang ekstra Kim Joon Myeon” doa Irene, setelah selesai membereskan barangnya Irene segera beranjak pulang.

*** 

“Suho-sii, pacarmu sudah menunggu diluar” ujar slah satu teman sekelas Suho yang duduk dekat pintu keluar.

“Pacar?” 

“Iya, Park Chorong. Itu dia” tunjuk temannya keluar kelas dari jendela. Suho melihat arah yang di tunjuk oleh temannya. “Astaga, dia sungguh-sungguh akan permintaannya!” gumam Suho.

“Baiklah aku duluan” pamit temannya. Suho hanya melambaikan salah satu tangannya sebagai jawaban. Otaknya berpikir keras. Bagaimana cara dia menghindar. 

“Uh, sial. Harusnya pelajaran tadi aku bolos saja” sesalnya.

Suho melihat keadaan sekita, jika diperhatikan tingkahnya seperti maling yang akan mencuri sesuatu. Berjalan dengan mengendap-endap.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang, ia berbalik dan menemukan Chorong disana dengan raut kebingungan.

‘Sial’ umpatnya dalam hati.

“Oh, hai Chorong. Aku duluan ya!” pamitnya dan berbalik.

“YAK!” belum melangkah, kerah belakang seragamnya sudah ditarik oleh Chorong. “Jangan mencoba untuk kabur, kau sudah berjanji, jadi tepatilah janjimu. Kau ini kan laki-laki” Chorong membawa Suho dengan menarik kerah belakang seragamnya.

“Uhuk lepaskan YAK!, UHUK. Kau ingin membunuhku ya?! Lagi pula kapan aku menyetujuinya! YAK LEPAS!” Suho berusaha melonggarkan bagian atas seragamnya, lehernya serasa tercekik.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku adalah ajari aku. Kau sudah berjanji jadi kabulkan!” protes Chorong yang masih menarik seragam Suho. Jika ini dalam film pembunuhan, Chorong terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menyeret paksa korbannya. Bahkan hal ini menjadi tontonan menarik bagi para siswa yang melihatnya.

“Baiklah-baiklah, akan ku turuti. Jadi lepaskan ini ok?” Suho berusaha bernegosiasi.

“Tak akan, aku tau akal busukmu. Nanti kau malah kabur!” Chorong semakin gencar menyeret Suho.

“YAK!”

Xiumin yang baru saja keluar dari kelas dibuat melongo akan pemandangan menakjubkan pada penglihatannya.

“Daebak, akhirnya kau mempunyai lawan yang sepadan Myeonnie” gumam Xiumin.

“Bukankah itu adikmu?” tanya salah satu teman Xiumin.

“Iya” jawabnya santai.

“Apa tak apa ia seperti itu?”

“Tak apa, sekali-kali ia harus terkena akibatnya, ayo” Xiumin tertawa senang, temannya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

*** 

Chorong dan Suho sedang berada di perpustakaan. Buku pelajaran menumpuk di sebelah kiri Chorong. Melihat wajahnya, sepertinya ia sangat frustasi. Apalagi Suho selalu mengejeknya bodoh.

“Ah, aku tak mengeri” ia mengacak rambutnya.

“Astaga Park Chorong, harus aku jelaskan berpa kali lagi agar kau mengerti!” geram Suho. “Bahkan anak tingkat awal pun tau mengerjakan ini”.

“Jelaskanlah secara ringkas agar aku paham” Chorong memainkan pensil di tangannya dengan cemberut.

“Aku bahkan sudah menjelaskannya dengan teramat sangat ringkas!” Suho menghela nafasnya. Tak ia sangka mengajari Chorong akan membuatnya sefrustasi ini.

“Pssst, jangan terlalu ribut” ujar penjaga perpustakaan.

Mereka menggangguk “Maafkan kami” ujar keduanya.

Suho mengatur emosinya dengan menghela nafas “Baiklah, kita mulai lagi. Jadi bagian mana yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?” tanya Suho.

“Semuanya” jawab Chorong polos.

“YAK! PARK!”

“KELUAR KALIAN SEKARANG JUGA!” usir sang penjaga.

*** 

“Ah jadi begitu, aku paham. Ternyata mudah” Chorong mencatat pada bukunya, ia tersenyum senang.

“Ini memang mudah, kau saja yang bodoh” Suho meminum jusnya.

Mereka sedang berada di salah satu café, lagi pula Chorong mengeluh ia lapar.

“Berhentilah mengataiku bodoh, aku tak bodoh. Aku ini special, jadi kau harus bersabar” Chorong menepuk-nepuk bahu Suho.

“Spesial apanya, bodoh tetaplah bodoh” ejek Suho.

“YAK!”

“Besok datang ke rumahku, kita belajar disana. Akan ku rangkum secara lebih rinci lagi” ujar Suho.

“Kenapa di rumahmu?” Chorong mengerenyit.

“Tidak mau, ya suadah” 

“Baiklah-baiklah, ngomong-ngomong makanan disini enak, apa boleh aku tambah lagi?” Chorong memberikan puppy eyesnya.

“Silahkan saja” 

“Asa” Chorong memakan sandwichya.

“Lagi pula kau yang traktir” lanjut Suho.

“Uhuk” Chorong tersedak makannya, Suho tertawa melihatnya. Ia segera menyerahkan minuman pada Chorong.

“Uangku tak cukup” melasanya.

“Hahaha aku hanya bercanda, makanlah yang banyak” Suho menepuk kepala Chorong. Chorong tersenyum senang dan kembali memakan sandwichnya. “Anak babi” lanjut Suho.

“Habislah kau Kim!” Chorong sudah dengan tatapan tajamnya.

*** 

Lay berjalan dengan riang menuju kelasnya. Sepertinya suasana hatinya sangat gembira hari ini.

Brak

Ia mebuka pintu kelasnya “Myeonnie, kawan-kawan apa kalian merindukanku???” teriaknya.

Wush

Hanya terdengar bunyi angin yang menggoyangkan ranting pohon di luar jendela.

Matanya mencari keberadaan teman-temannya “Kemana semua orang? Apa mereka sedang bermain petak umpet? Curang sekali tidak mengajakku” .

“Loh, nak. Ada perlu apa datang ke sekolah?” tanya penjaga yang sedang berkeliling.

“Tentu saja untuk sekolah, oh, apa bapak tau dimana yang lain? kenapa aku tidak melihat seorang pun” tanyanya melihat sekeliling.

“Mereka di rumah masing-masing” balas sang penjaga.

“Astaga malas sekali mereka, bukannya sekolah ckck” omel Lay.

“Mereka bukan malas, ini kan hari minggu, kegiatan belajar mengajar tentu saja diliburkan. Malah bapak yang heran kenapa kau berada disini. Apa kau ada kegiatan lain?” tanya penjaga.

“Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika hari minggu itu libur!” Lay segera merogoh handphonenya dan menekan kontak seseorang.

Sang penjaga hanya dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Ia kembali berkeliling.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sambungan terhubung.

“Hallo” terdengar suara khas seseorang baru bangun tidur.

“Myeon, kenapa tak beri tahu aku jika minggu itu libur!” bentak Lay.

“Memang dari dulu juga seperti itu!”

“Benarkah?”

“Yak! Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan kenapa minggu libur? Terkutuklah kau Zhang Yixing dengan sikap pikunmu itu!” sumpah serapah Suho terdengar dari sebrang sana. Bahkan Lay sedikit menjauhkan telinganya.

*** 

Pukul 10 pagi Chorong sudah berdiri di depan pagar megah rumah seseorang. Mulutnya masih menggumamkan kata-kata takjub. 

“Dia benar-benar kaya ck” Chorong menghampiri Intercome dekat gerbang dan menekannya. Selang beberapa detik terdengar suara seorang bibi. Mungkin itu salah satu pegawainya.

“Apa Suho ada? Ah maksud saya Kim Joon Myeon” ujar Chorong melalui intercome.

“Mohon tunggu sebentar” 

Chorong kembali melihat sekitar, tak sampai lima menit ia menunggu, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka sendiri.

“Daebak!” ia berjalan dan semakin dibuat kagum. Tapi beberapa detik kemudian ia menyumpah serapahi sang pemilik. Pasalnya dari gerbang utama menuju rumah jaraknya sama dengan rumahnya menuju halte terdekat. 

Pintu utama terbuka setelah Chorong sampai di depannya.  Ia segera masuk dan dipersilahkan duduk, tak berselang lama seseorang muncul dan menyapanya. 

“ Waw, angin apa yang membawamu kesini?” Chorong mengalihkan tatapannya pada sang penanya.

“Ah, Sunbae. Lain kali sediakanlah kendaraan dari gerbang utamamu, tak taukah kau betapa melelahkannya menuju rumahmu!” ceroscos Chorong.

“Ahaha, baiklah usul yang bagus. Akan ku pertimbangkan, ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

“Ah, itu . .”

“Kau sudah datang?” sapa Suho yang baru saja menuruni tangga, lihatlah pakaiannya. Masih terlihat seperti orang yang bangun tidur.

“Dia yang menyuruhku datang” tunjuk Chorong pada Suho.

Xiumin hanya terkekeh, jangan lupakan seseorang dibelakang Suho yang sedang melambaikan tangannya.

“Lay? Sedang apa kau disini?” Chorong mengerenyitkan dahi. 

“Hai, Chorong. Aku? Aku sedang . . . hyung kenapa aku kemari ya?” Tanya Lay pada Xiumin.

“Mana aku tahu, kau sendiri yang datang kemari menggunakan seragam” jelas Xiumin.

“Ah benar aku baru ingat, aku bosan dan salah masuk sekolah akhirnya ku putuskan untuk kemari” terang Lay.

“Dan mengganggu tidur nyenyakku” lanjut Suho. Lay hanya menyengir.

“Ayo ke lantai atas, tunggu aku disana. Aku mandi dulu”

“Pantas saja ada bau tak sedap” Chorong pura-pura menutup hidungnya.

“Yak! Aish. Sudahlah”  Suho berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh Chorong dan yang lainnya dengan tertawa.

Beberapa menit kemudian Suho keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih rapih. Tatapan matanya langsung tertuju pada Lay dan Chorong yang sedang berbincang, mereka terlihat sangat dekat. Sebenarnya disana ada Xiumin. Tapi entah mengapa focus mata Suho hanya pada mereka berdua. Ada perasaan panas di hatinya.

Ia berjalan dengan tergesa dan duduk diantara keduanya. “Apa yang kau lakukan?” Chorong yang tergeser mengajukan protes.

“Tentu saja duduk”

“Masih ada tempat lain” jawab Chorong.

“Aku ingin disini!” balas Suho. Xiumin hanya terkekeh.

“Ayo mulai belajarnya” Suho membuka buku dan Chorong mengeluarkan alat tulisnya dari tas. “Kau akan mengajari Chorong?! Kenapa kau tidak pernah mengajariku?” Tanya Lay.

“Kau ingin belajar juga? “ Tanya Suho.

“Tidak sih, aku akan bermain game dengan hyung saja. Ayo hyung!” Lay dan Xiumin masuk kedalam kamar. Meninggalkan Suho yang geram. “Lalu untuk apa kau bertanya!” teriak Suho.

*** 

Hari sudah mulai petang ketika Chorong selesai dengan les privatenya. “Akhirnya!!!” ia merenggangkan tubuhnya.

“Kau itu hanya perlu praktek tak bisa dijelaskan ckck, ternyata sudah jam 4” Suho melihat arlojinya.

“Nah, aku pulang dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini” Chorong berdiri dan membungkuk.

“Ku antar” mata Chorong melebar.

“Tak perlu aku bisa sendiri” tolak Chorong. “Sudahlah, aku tau rumahmu lumayan jauh dari sini” Suho beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dan mengambil jaketnya.

“Ayo, Hyung, Lay aku pergi dulu!”

“Sudah mau pulang?” Tanya Xiumin. Chorong hanya mengangguk. “Hati-hati” lanjut Xiumin.

“Kapan-kapan datang lagi kemari ya, bye Chorong”.

“Ini bukan rumahmu Zhang!” ujar Suho. Tapi Lay seperti tak peduli dan kembali bermain game.

Chorong yang melihat terkikik geli. ‘Jadi masih ada orang lain yang bisa mengabaikan Suho’ pikirnya.

*** 

Suho mengantar Chorong menggunakan motornya. Entah sengaja atau apa Suho menambahkan kecepatannya membuat Chorong memeluknya karena tidak ingin terjatuh. Dibalik helemnya ia tersenyum sedikit. Memanfaatkan keadaan huh?.

Di tengah perjalanan tiba-tiba motor mereka di apit oleh tiga motor dengan pengendara berhelem fullface. Salah satu dari ketiga motor itu menyenggol Suho dan membuatnya terjatuh.  Chorong hanya sedikit tergores namun salah satu pergelangan tangan Suho terkilir.

Tanpa menunggu lebih lama. Chorong membenarkan motor Suho yang terjatuh dan menaikinya “Cepat naik, mereka masih mengejar kita!” Ujar Chorong.

“Apa kau bisa mengendarainya?” Tanya Suho tak yakin.

“Jangan banyak omong, cepatlah naik!” Chorong sudah menstater motornya, bahkan jika ia melepaskan rem tanganya sudah pasti motor ini melaju dengan kecepatan tinggi.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Suho dibonceng oleh Chorong. Ia berdoa dalam hati agar ia selamat. Setelah Suho menaiki motor, Chorong melihat pada salah satu spion yang retak, ketiga motor itu masih mengejar. Dengan kecepatan tinggi ia membawa motor Suho. Kini giliran Suho yang memeluknya sangat erat. Bahkan kecepatannya melebihi Suho tadi.

“PARK CHORONG AKU INGIN SELAMAT~~~~” teraik Suho dibalik helemnya.

To be continue

Posted in Uncategorized

[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

EXO FanFiction Indonesia

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^

CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

View original post 1,435 more words

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #5

PicsArt_07-12-12.54.32

TELL ME WHAT IS LOVE
EVINA93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance, drama
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).
Cerita milik saya, cast hanya ,ilik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Tinggalkanlah jejak setelah membaca. Hargailah usaha para penulis.
Selamat membaca . .
Chapter 5
Perasaan bosan sedang menghampiri seorang Kim Joon Myeon, pasalnya jika waktu istirahat ia selalu berbuat kejahilan atau bermain-main bersama Yixing. Kali ini teman yang terkadang tidak ingin ia akui itu sedang ijin . Yixing sedang ada acara keluarga, itu yang ia tau.
Langkah kakinya membawa menuju kelas sang kakak, tanpa permisi ia masuk begitu saja. Berjalan menuju kakaknya berada tanpa memperdulikan tatapan semua penghuni kelas padanya.
“Hyung” panggilnya ketika berada di hadapan meja kakaknya.
Xiumin melihat sang pemanggil dan berdecak cukup keras. “Ada apa? “ ujarnya ketus.
“Aku bosan” Suho duduk di depan meja Xiumin dengan menghadap sang kakak.
“Lalu apa hubungannya denganku?” Xiumin mengerenyit. Tak cukupkah sang adik tercinta mengganggunya di rumah ketika sedang mengerjakan tugas. Heol, tugasnya masih menumpuk dan ia harus menyerahkannya siang nanti pada guru Choi. Seseorang tolong ingatkan Suho jika sang kakak sedang dalam masa pra ujian sehingga tugas dan kegiatannya sedang menumpuk.
“Temani aku melakukan sesuatu, Yixing sedang tak masuk hari ini, aku bosan~” ia menaruh kepalnya di meja.
“Ck, tugasku masih banyak Myeonnie” Minseok memberikan penekanan pada akhir katanya dan kembali menyelesaikan tugasnya.
“Kau benar-benar tak asik” Brak. Suho bangkit dan sedikit menggebrak meja, membuat Xiumin kaget dan tugas yang ia tulis tercoret dengan sempurna.
Mata Xiumin menatap tugasnya dengan nanar, sedangkan Suho terbelalak. ‘Mati aku’ gumamnya dalam hati.
“Kim Joon Myeon” panggil Xiumin dengan aura yang sangat mencekam.
“Hyeong itu itu . .” Suho sedikit tergagap.
“Keluar dari kelasku sekarang juga!” Xiumin menendang pantat Suho cukup keras hingga sang adik keluar. Pelajaran untuk kalian, jangan pernah membuat Xiumin marah jika kau tidak ingin merasakan tendangan mematikan dari sang captain team sepak bola sekolah.
Setelah sang adik keluar, Xiumin menutup pintu kelas hingga menimbulkan bunyi debuman keras, tanpa peduli pada sang adik yang sedang merintih kesakitan denagn mengelus bagian belakangnya.
“Aish, hyung. Kau sedang menstruasi ya? Galak sekai” teriaknya dari luar. Yang berda di dalam kelas dan sekitar menahan tawa mereka.
“YA! KIM JOON MYEON!!!!”
Setelah mendengar nada peringatan, Suho segera mengambil langkah seribu.
***
Langkah Suho kali ini membawanya menuju lapangan sekolah. Ia melihat Chanyeol dan anak lainnya sedang bermain basket. Ia menghentikan langkahnya dan menonton jalannya permainnan dari pinggir lapangan.
Chanyeol yang mengetahui kehadiran Suho segera menghampirinya. “Ah, Suho sunbae” sapanya. Suho hanya tersenyum sebagai balasan. “Terima kasih atas action figurenya” cengir Chanyeol.
“Tak masalah, apa kau menyukainya?” Tanya Suho.
“Tentu saja, itu incaranku dari dulu”
“Baguslah kalau begitu, apa kau diapa-apakan oleh Chorong?” selidik Suho.
“Itu sudah biasa Sunbae haha” jawabnya dengan sedikit garukan pada lehernya.
“Hyung” ujar Suho.
“Apa?” Tanya Chanyeol memastikan.
“Panggil aku hyung, mendegarmu memanggilku sunbae terasa sangat kaku” titah Suho.
“Ah, baiklah hy .. hyung” Chanyeol mencoba namun sedikit gugup.
“Ah, apakah kau ingin bermain dengan kami?” ajak Chanyeol.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak suka panas panasan” tolak Suho.
“O oh baiklah” rasa canggung sedang dirasakan Chanyeol kali ini.
“Apa kau tau dimana Chorong?” setelah hening beberapa saat akhirnya Suho membuka suara.
“Ah, nonna. Jika tidak berada di ruang club. Pasti ia sedang bersama Irene nonna di kelas atau di kantin. Aku belum menemuinya di sekolah hari ini” ujar Chanyeol.
“Baiklah aku akan mencarinya, aku pergi dulu” baru berbalik Chanyeol dengan keberanian yang ada menahan lengan Suho.
“Ada apa?” tanya Suho. Kali ini fokusnya pada Chanyeol yang sedang memandangnya dengan penuh keseriusan.
“Sun . . Hyung, tolong jangan sakiti nonna, aku harap ia bahagia kali ini” pinta Chanyeol dengan menatap langsung pada kedua mata Suho dengan serius.
Walau Suho sedikit tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chanyeol, ia akhirnya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Senyuman merekah pada wajah Chanyeol “Walau pun nonna itu galak, kasar dan menyebalkan tapi ia wanita yang baik, jaga dia ya hyung” Chanyeol berujar dengan sedikit keras dan berjalan mundur kembali ke lapangan.
Suho hanya tersenyum melihat kelakuan Chanyeol. Satu kesimpulan yang ia dapat dari perilaku Chanyeol. Walau terlihat dari luar Chanyeol itu selalu berkelahi dengan kakaknya tapi sifat protrctive pada sang kakak tetaplah ada.
Dan untuk Chanyeol. Tamat riwayatmu jika Chorong mendengarkan teriakanmu tadi. Berteriak di tengah lapangan, sedikit menjelekkan kakakmu, pada kekasih sang kakak. Benar-benar luar biasa Yeol.
***
Chorong dan Irene baru saja kembali dari kantin ketika sang wali kelas memanggil Chorong dan menyuruhnya ke ruang guru.
“Chorong-ah” panggil sang guru. Chorong entah kenapa susah untuk bernafas sekarang ini. apa ia melakukan kesalahan lagi?
“Ibu tau kau ini atlit kebanggan sekolah kita, tapi kau juga harus ingan jika nilai akademikmu itu juga penting. Melihat dari nilai rata-ratamu sehari-hari ini bisa membuatmu tinggal kelas. Ibu harap kau memikirkan ini. Kau tak ingin tinggal kelas kan?” nasehat sang guru.
Chorong menggeleng kaku sebagai jawaban.
“Belajarlah dengan giat, sebentar lagi ulangan kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Jika nilaimu masih saja begini ibu tidak bisa menjaminnya” ujar sang guru.
“Ba baik bu, akan saya usahakan, terima kasih. Saya permisi” pamit Chorong.
“Oh ya Chorong” Chorong kembali berbalik pada wali kelasnya.
“Cobalah kau minta diajari oleh Joon Myeon, bukankah kalian sedang dekat” usul wali kelas.
“Nde? Maskud ibu, Joon Myeon, Kim Joon Myeon?” Tanya Chorong memastikan.
“Memangnya ada Kim Joon Myeon lain yang sedang dekat denganmu?” Tanya sang guru.
Chorong menggeleng, “Tapi mana, mungkin dia bisa” lanjutnya tak yakin.
“Kenapa tak bisa? Dia kan juara umum seangkatanmu” ujar sang guru meyakinkan.
“APA?!” mata Chorong terbelalak dan rahangnya sedikit terbuka. ‘ini mustahil’ pikirnya,
***
Suho sudah mencari Chorong di ruang club waktu itu, tapi nihil. Di kantin tak terlihat batang hidungnya sekalipun. Akhirnya Suho memutuskan menuju kelas Chorong. Bel masuk istirahat sebentar lagi akan berbunyi. Masa iya Suho menghabiskan waktu istirahatnya tapi tidak menemukan Chorong.
Sampai dikelas Chorong ia segera melihat-lihat, tak ada Chorong hanya ada Irene yang sedang berbincang dengan seseorang.
“Kau temannya Chorong kan?” Tanya Suho. Irene mengangguk.
“Apa kau melihat Chorong?” Tanya Suho.
“Ah, dia sedang, ah itu dia” Irene menunjuk seseorang di belakang Suho. Suho berbalik dan melihat Chorong yang sedang mendekati mereka dengan gumamannya.
Ketika Sudah berada di hadpan Irene dan Suho Chorong menghentikan langkahnya. “Belum masuk kan?” Tanya Chorong.
“Belum” Jawab Irene.
Lalu Chorong melihat ke sisi lainnya. “Tuh kan, mana mungkin” ujarnya melihat Suho dari atas sampai bawah.
“Apanya yang tak mungkin?” Tanya Suho yang kebingungan dengan sikap Chorong.
“Irene, jawab dengan Jujur. Apa benar dia juara umum angkatan kita?” Tanya Chorong menunjuk Suho.
“Yak!” teriak Suho yang di tunjuk-tunjuk.
“Benar, memangnya kenapa? Astaga, jangan bilang kau tak tau” ujar Irene. Chorong mengangguk.
“Tapi dia kan . .”
“Memangnya kenapa? Apa salahnya aku juara umum, kau pikir aku hanya orang yang seenaknya dan bodoh huh?” Tanya Suho.
“Tepat, itu kau tau” Chorong menepuk tanganya sekali, seperti memberi selamat pada Suho yang bisa menebaknya.
“YA!!”
“Oppa!” panggil seseorang.
Suho melebarkan tatapannya, tanpa pikir panjang ia menarik Chorong ke pelukannya. Dan Action!
“Chagia, aku merindukanmu” Suho menggoyang-goyang tubuh Chorong di pelukannya.
Rion, selaku pemanggil dan yang melihat terbakar api cemburu.
“Lepaskan” gumam Chorong dan berusaha melepaskan pelukan Suho.
“Diamlah, dan berperilakulah seperti kita ini adalah pasangan kasmaran. Dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu” bisik suho.
“Benarkah?” bisik Chorong.
“Iya, cerewet”
“Ah, Chagia aku juga merindukanmu” Binggo. Rion semakin dibakar api cemburu. Sedangkan Irene dibuat terheran dengan kelakuan kedua insan yang sedang berpelukan ini. Bukankah beberapa menit lalu mereka sedang beradu mulut?
“Oppa kau tega sekali!” Rion menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
Setelah keadaan aman. Mereka segera melepaskan pelukannya dan berjauhan dengan jarak 1 meter. Menepuk-nepuk tubuh mereka seakan tertempel kotoran.
Irene hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya.
“Kau harus mengabulkan permintaanku” ujar Chorong.
“Baiklah-baiklah, asal bukan mengakhiri kesepakatan kita itu tak apa. Jadi apa permintaanmu?” Tanya Suho.
“Ajari aku pelajaran” pinta Chorong.
“Ooh, APA????”
“Selamat Joon Myeon – sii, mengajari Chorong itu lebih sulit dari pada mengajari penguin bermain bola” Irene menepuk sedikit bahu Suho dan masuk kedalam kelas.
“YA”
“Kenapa aku?” Tanya Suho.
“Tak ada penolakan, sampai jumpa sepulang sekolah” Chorong menarik kedua pipi Suho. “Aigo, keyowo” pak pak. Chorong mencubit pipi Suho dan menepuknya dengan sedikit berlebihan.
“KENDALIKAN KEKUATANMU PARK!, AH, appo”
TO BE CONTINUE . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #4

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^
CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga. 

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

*** 

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal. 

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur. 

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

*** 

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya. 

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi. 

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

*** 

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas. 

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga. 

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong. 

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras. 

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

*** 

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor. 

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah” 

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi. 

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.
To be continue . .

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #3

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance.
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Red velvet)
Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^
Chapter 3

“Sebenarnya apa hubungan kalian?”

Karena sudah tidak memungkinkan masuk pada jam pelajaran pertama Chorong memasuki kelasnya pada jam pelajaran berikutnya. Ia yang semula berniat kabur mengurungkan niatnya karena kejadian tadi yang hingga saat ini membuatnya kesal seperti ingin mendorong pria bernama Kim Suho itu dari gedung pencakar langit. Masih ingat dengan jelas di pikirannya bibir pria itu menempel pada pipinya, uh Chorong sepertinya harus membasuh mukanya dengan sabun dan wewangian lainnya agar ia tidak terkena infeksi.

“Kau tak jadi membolos?” Irene memandang Chorong penuh tanya. “Niatnya sih begitu, sayangnya niatku terhalang oleh seseorang paling menyebalkan” jika Irene melihat dengan jelas pada mata Chorong disana terdapat tatapan tajam yang ditujukan pada siapapun yang mengganggunya.

“Baguslah kau tak membolos, jam pelajaran berikutnya kan ulangan bahasa uh kau akan kena hukuman oleh guru Choi jika tak hadir dengan alasan selain sakit” Irene membuat tanda seolah-olah hidup Chorong akan tamat.

“Apa?!! Kenapa kau tak memberitahuku! Aish aku belum belajar!” Chorong segera mengambil buku dalam tasnya dan membuka halaman demi halaman.

“Bab berapa yang akan diujikan?” tanyanya.

“Percuma kau belajar, kau akan tetap mendapat nilai buruk” pendapat Irene.

“Ya!”

***

“Astaga rasanya kepalaku ingin pecah!” Gerutu seseorang dengan menenggelamkan kepalanya pada tangan.

“Suruh siapa di dalam kelas kerjamu hanya tidur” ujar Irene.

“Setidaknya kau memberi tahuku lebih dulu” cicit Chorong. “Hey nona Park, aku sudah memberi tahumu kemarin malam, kau saja yang tak membaca chat ku. Untuk apa punya handphone, apa untuk menimpuk orang?” tanya Irene.

“Mulut mu itu Bae, aish, aku bingung kenapa mempunyai teman sepertimu yang bermulut tajam” Chorong menyipitkan matanya memandang irene dan menggerutu.

“Sudahlah simpan omong kosongmu itu. Ayo ke kantin. Aku lapar” ajak Irene. “Kau yang traktir” seringai Chorong.

“Baiklah-baiklah untuk menebus kesalahanku” mereka tertawa bersama dan keluar kelas.

***

“Kau ingin pesan apa?” tanya Irene setelah mereka tiba dikantin. “Aku ingin Kimbbap, cacing-cacing pada perutku sudah mulai berorcestra” Chorong memegangi perutnya dengan tatapan memelas.

“Hahaha baikalah, carilah bangku kosong” Chorong mengangguk dan berjalan pada salah satu bangku kosong di deretan paling belakang kantin.

“Kau menunggu lama? Maaf penuh sekali” Irene datang dengan 2 makanan di tangannya.

“Tak apa” Chorong mengambil kimbbapnya dengan tersenyum-senyum. “Mari makan” ujarnya riang. Baru saja ia akan mengambil sepotong kimbbapnya ‘Byur’seseorang menumpahkan jus pada kimbbapnya.

“Ya!” teriaknya kemudian melihat sang pelaku.

“Uh maaf sunbae, tanganku tergelincir. Akan ku ganti makananmu. Itu tak seberapa bagiku” ujar sang pelaku. Chorong hafal ia siapa, oh rasanya Chorong sudah naik pitam. Jika orang tersebut dengan tulus meminta maaf tak masalah untuknya. Tapi ia melihat seringai dan ejekan pada kalimat yang orang tersebut ucapkan. Irene memandangi mereka dengan was-was.

jika Chorong lepas kendali ini akan bahaya pikirnya. Semua yang ada di kantin melihat ke arah mereka. Seperti tontonan geratis.

Suho, Xiumin dan Lay yang baru tiba di kantin heran dengan apa yang terjadi hingga akhirnya Suho maju membelah kerumunan dan tertawa setelah melihat apa yang terjadi didepannya. Nah Park Chorong apa yang akan kau lakukan? Pikirnya.

“Myeon, apa tak apa membiarkan mereka?” tanya Xiumin. “Tenanglah hyung dan lihat apa yang akan terjadi” ujar Suho dengan memasukan kedua tangannya pada saku. “Aku bertaruh ini akan menjadi tontonan menarik” Lay menempelkan tangannya pada pundak Suho.

“Tak perlu” ujar Chorong menahan emosi jika kau melihat kebawah, tangannya sudah terkepal sempura.

“Kenapa, tak perlu sungkan sunbae. Bukankah kau mendekati Suho oppa juga karena hartanya” jika ini di komik, 4 siku sudah berada di sudut dahi Chorong kali ini.

‘Akh, aku tak bisa menahannya lagi!’ pikir Chorong.

‘Ini bahaya’ pikir Irene. Dia bersiap menahan Chorong namun terlambat. Tangan Chorong sudah lebih dulu mengambil Kimbbap dengan kuah jus tadi dan melemparkannya tepat pada wajah Rion.

“Ups, maaf tanganku tergelincir” ujar Chorong dengan memijit pergelangan tangannya. Seisi kantin dibuat melongo oleh tindakan Chorong. ‘Ku pikir akan lebih buruk’ irene.

Rion masih terkejut di tempatnya. Semua menertawakannya. “Bae, ayo pergi, nafsu makanku hilang” Chorong sudah beranjak dari tempatnya.

“Ya tunggu!” Irene mengejarnya setelah mengambil cup ramennya. Baru beberapa langkah Irene kembali lagi dan menyerahkan beberapa lembar tisu pada Rion.

“Make up mu luntur” Ujar Irene dengan wajah datar, tanpa menghiraukan tatapan Rion ia kembali mengejar Chorong.

“Dia luar biasa” heboh Lay.

“Ku pikir dia akan tunduk pada Rion ternyata sebaliknya haha” Xiumin menepuk nepuk pundak Lay.

“Eum, aku pergi dulu” Suho beranjak beberapa langkah dari tempatnya.

“Kau mau kemana?” tanya Xiumin.

“Paling menemui kekasih hebatnya itu” goda Lay.

“Diam kau Zhang Yixing”

Xiumin dan Lay tertawa terpingkal oleh kelakuan Suho.

***

Chorong dan Irene kembali kekelas. Aura suram menghampiri Chorong. Ia lapar tapi malas jika berlama-lama dikantin.

“Kenapa kau pergi?” tanya Irene yang sekarang sudah duduk dihadapannya dengan 1 cup ramen yang mengepul.

“Heol, kau sempat membawa itu?!” Chorong menunjuk ramen Irene.

“Memangnya kenapa? Aku lapar dan aku harus membawanya dari pada aku kelaparan” Irene sudah menyumpit ramennya dan meniup-niupnya.

Glek

Chorong menelan ludahnya.

“Berikan padaku” Chorong berniat mengambil makanan Irene namun sayang Irene lebih cepat. “Ets, beli sendiri sana!. Jatah traktiranmu hanya 1 kali” kemudian Irene melahap ramennya.

“Ya!”

“Park Chorong” panggil seseorang.

“Apa lagi!” bentaknya.

“Ah maaf, ada seseorang yang mencarimu diluar” ujar orang tersebut.

“Baikalah, terima kasih. Maaf membentakmu tadi. Aku sedang kesal” ungkapnya.

“Tak apa, aku tahu” jawab orang tersebut.

Chorong beranjak dari kursinya dan keluar kelas, sampai di pintu ia berdecak.

“Ada perlu apalagi?” tanya Chorong.

Suho, orang yang dimaksud memberikan sekantung pelastik pada Chorong.

“Apa ini?” Chorong mengerenyit.

“Bayaran untuk kau tidak membolos dan membuat sesuatu yang tak membosankan dikantin tadi” ujarnya.

“Ck, tak perlu. Dan semua ini karena kau!. Menjauhlah dariku, aku selalu sial jika bersamamu” Chorong berniat mengusir Suho.

“Ambil saja” Suho menyerahkannya ke tangan Chorong.

“Aku tak la (kriuk) par” Chorong menunduk dan merutuki perutnya yang berbunyi pada saat yang tak tepat.

“Haha perutmu tak bisa berbohong, sudahlah terima saja. Makan yang banyak ya anak baik” Suho mengelus puncak kepala Chorong dan pergi sebelum Chorong akan memukulnya.

“Ya!”

“Pastikan tak tersisa ok” Suho mengedipkan matanya. Chorong merasa ingin muntah.

“Aigo, romantisnya” gumam seseorang. Chorong membalikkan badannya. Sang adik tiangnya sudah ada disana dengan sekantung makanan juga.

“Diam kau!, apa yang kau bawa?” tanyanya melihat pada pelastik bawaan Chanyeol.

“Ini” Chanyeol mengangkat pelastiknya ke atas. “Tadinya akan kuberikan padamu agar kau tak kelaparan, tapi aku lupa jika sudah ada yang memperhatikanmu sekarang” sambungnya.

“Berikan padaku” Chorong memintanya.

Chanyeol menggeleng. Chorong mengerenyit. “Bukannya itu untukku” tanya Chorong. “Tadinya” “Lalu” Chorong semakin bingung. “Kau kan sudah punya” Chanyeol menunjuk pada tangan Chorong yang menggenggam pelastik.

“Tapi kau memberikan itu untukku jadi berikan” pinta Chorong. “Serakah sekali” ujar Chanyeol. “kalau begitu, kita bertukar” putus Chorong. “Tidak, aku makan ini dan kau itu, itu kan diberikan dengan penuh ‘cinta’ ” Chanyeol menyeringai.

“Ya!”

“Bye, nonna jangan lupa habiskan. Ingat pesan Suho Sunbae ok” Chanyeol tertawa dan berlari.

“Awas saja kau” Chorong menunjuk adiknya yang sudah jauh itu dengan kepalan tangan.

Ia berjalan masuk kelas dengan melihat isi kantung yang diberikan Suho. Ada ttopoki dan kimbbap didalamnya. “Tidak buruk” Chorong segera menghampiri Irene yang sudah menandaskan ramennya.

“Siapa?” tanya Irene.

“Praia menyebalkan dan pria tiang” jawab Chorong dengan mengeluarkan ttopoki juga kimbbap dari dalam kantung.

“Waw, sepertinya enak” Irene akan mengambil ttoppoki namun tangannya di pukul oleh Chorong.

“Ini jatahku” ujarnya.

“Pelit sekali” gerutu Irene. Ia melihat ada secarik kertas dalam kantung dan mengambilnya.

“Makanlah yang banyak, tertanda pacarmu yang tampan Suho” Irene membacakan isi dalam kertas itu.

“Uhuk” Chorong tersedak ttoppokinya.

***

semakin hari Suho semakin menempel pada Chorong, kenapa? Karena jika ia bersama Chorong maka Rion tak berani mendekat. Rion masih shock soal kejadian dikantin tempo hari.

“Eum, Myeon. Kau bilang tak ada perasaan pada Chorong. Tapi ku lihat semakin hari kau semakin menempel padanya” Lay bertanya pada Suho setelah pria tersebut duduk dihadapannya dan Xiumin setelah ia mengerjai Chorong terlebih dahulu. Lihat saja di sisi kantin lainnya ada Chorong yang terus menyumpah serapah Suho.

“Dia itu sedang jatuh cinta tapi tak ingin mengaku” jawab Xiumin kemudian menyupkan nasi ke mulutnya.

“Ck, aku bilang tak jatuh cinta. Dia kan alatku agar jauh dari para gadis genit” Suho mengambil minuman Lay.

“ya!, mulut bisa saja berbohong tapi hati tidak” balas Lay mengambil kembali minumannya.

“Dengar ya adikku sayang, tak akan ada yang tau perasaan cinta itu datang kapan dan pada siapa, mungkin kini kau tak menyadarinya tapi nanti siapa yang tau” nasihat sang anak paling tua.

“Ya ya terserah kalian” Suho acuh tak acuh. Namun ia kembali memandang sudut kantin lainnya dimana Chorong berada. Ketika tatapan mata mereka bertemu Suho tersenyum dan melambaikan tangannya sedangkan Chorong menatapnya tajam sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Haha” kelekar dua orang disamping Suho yang melihat kejadian itu.

***

Hari sudah larut ketika Chorong selesai latihan untuk mengikuti kejuaraan. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia mengambil handphone dalam lokernya. Satu pesan dari Chanyeol.

‘Nonna, aku tak bisa menjemputmu. Restoran sangat penuh kasihan ibu. Kau bisa pulang sendiri kan, atau minta tolong dengan Suho sunbae?’

Chorong berdecak, “Kenapa bawa-bawa nama pria itu” Chorong segera mengetik balasan pada Chanyeol.

‘Tak apa, aku bisa pulang sendiri’

 setelah menekan send. Ia meletakan kembali handphonenya, mengambil seragam dan menutup lokernya kembali.

“Hai” Sapa seseorang sambil tersenyum lalu menguap.

“Astaga, Kau membuatku terkejut” Chorong memegang dadanya “Untung saja aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung” omelnya.

“Ck, cerewet sekali. Kau baru selesai?” tanya orang tersebut. Chorong hanya menjawab dengan anggukan. “Kenapa kau masih disini?” tanya Chorong.

“Minseok hyung meninggalkanku ketika tertidur” jawabnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Oh” hanya itu balasan Chorong, ia segera meninggalkan Suho untuk mengganti pakainnya.

***

“Kau masih disini?” tanya Chorong setelah ia selesai berganti pakaian. Suho masih berdiri dekat lokernya dengan wajah mengantuk.

“ah, um ya. Tadi temanmu eunwang atau siapalah itu bilang kau tidak dijemput adikmu. Dan dia bilang ada urusan mendadak jd tidak bisa pulang bersama” Suho menjelaskan dengan setengah mengantuk.

“Ck, Eunkwang sialan!” gumamnya. “Minggir, aku mau ambil tas” Chorong menyingkirkan Suho dari depan lokernya.

“Ck, dasar bar bar” Suho segera menyingkir. Chorong segera mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Suho.

“Kenapa kau masih mengikutiku?!” tanya Chorong pada Suho yang berjalan dibelakangnya.

“Eum itu, Minseok hyung mengambil dompetku. Aku tak bisa pulang” melasnya.

“Telpon dia atau siapapun untuk menjemputmu!” titah Chorong. “Batrai handphoneku habis” Suho menunjukan handphonenya. “Ini pakai milikku” Chorong menyerahkan handphonenya, Suho segera menerimanya namun detik berikutnya ia terdiam. “Aku lupa nomor Minseok hyung” ujarnya. “No rumahmu” balas Chorong. Suho segera menekan no telpon rumahnya. “Tak ada yang mengangkat. Mereka semua kemana sih? Ck akan ku pecat mereka semua” Suho marah-marah pada handphone Chorong.

“Ck, berhentilah marah-marah dan jangan berbuat berlebihan!” nasehat Chorong, ia mengambil handphonenya.

“Naik bis saja denganku” tawar Chorong. Ia merapikan kembali tasnya dan berjalan.

“Hah? Tidak tidak. Aku. Naik bis. Tak ada sejarahnya” tolak Suho. “Kalau begitu jalan kaki saja sana!” Chorong meninggalkan Suho.

Mata Suho membola, jarak dari sekolah ke rumahnya lumayan jauh. Lebih parah jalan kaki dari pada naik bis. Ia segera mengejar Chorong yang semakin menjauh. “Ya! Tunggu aku!” panggilnya.

To be continue . . .