Posted in action, au, comedy, exo, fanfiction, Uncategorized

New Life #4

PicsArt_05-08-09.03.20

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action, comedy.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 4

Dewi fortuna memang tak berpihak padanya hari ini, dengan wajah datarnya dan gerutuan dalam hati ia berjalan melewati beberapa siswa, tak jarang banyak siswa yang memandangnya. Kyungsoo tak peduli dengan isi kepala mereka yang melihatnya. Ia sudah penat dan tujuan utamanya saat ini adalah ruang kosong yang luas. Karena ini hari pertamanya jadi ia masih mencari dimana keinginannya itu akan terkabul.

Setelah melewati lorong dan beberapa anak tangga, akhirnya ia menemukan sebuah pintu besi. Suara decitan besi tua yang berkarat terdengar di telinganya ketika tangan itu mendorongnya . ia mengangkat tangannya menutupi penglihatan ketika cahaya yang sangat terang terlihat olehnya.

“Waw, apa yang membawamu kemari?” tiba-tiba indra pendengarnya merasakan suara yang sangat asing di telinganya.

Setelah membiasakan dengan cahaya ia menurunkan lengannya dan berbalik pada asal suara, seketika helaan nafas keluar dari bibirnya. Sedangkan seseorang yang bertanya tadi hanya menampilkan senyum tanpa matanya itu. Bahkan matanya terlihat hanya segaris. Bertolak belakang dengan pria lain disampingnya yang sedang menyeruput minuman dan memandangnya dengan bola mata melebar.

“Yak! Oh Sehun lain kali kau yang beli makananmu sendiri!” teriak seorang pria yang tiba-tiba saja datang dari arah tempatnya tadi.

“Wah, wah. Lihat siapa yang datang. Bintang kita hari ini berkunjung” ujar pria bertelinga lebar itu dengan heboh.

“Ck, aku bukan bintang” Kyungsoo berdecak dan melihat dengan tatapan malas pada pria tinggi dengan telinga lebar itu yang enatah tak ia ketahui namanya.

“Ya ya, kau bukan bintang tapi kau membuat heboh seisi kelas di hari pertamamu anak baru” akhirnya Jongin membuka suara setelah ia menandaskan minumannya.

Seketika tatapan tajam Kyungsoo mengarah padanya.

Gelek

“Hun-ah, kenapa dia menatapku seperti itu?” tanya Jongin pelan setelah ia mencolek bahun teman di sampingnya.

“Mungkin karena kau hitam” jawab Sehun santai.

Tak

Satu jitakan berhasil Jongin layangkan pada teman sialnya ini.

“Kenapa kau memukulku?!” Teriak Sehun  tak terima.

“Kau mengataiku. Aku tidak hitam, aku ini Tan!” balas Jongin tak mau kalah.

“Ck, apa mereka selalu seperti itu?” Kyungsoo bertanya pada pria tinggi disebelahnya sambil menunjuk kedua orang yang sedang beradu mulut itu.

“Kau akan terbiasa dengan itu nanti, dan apa yang membawamu kemari tuan Do?” tanya pria tinggi itu yang ternyata Chanyeol.

“Aku hanya ingin mencari udar segar, maaf sudah mengganggu kalian, aku akan pergi” ujarnya dan berbalik.

“Kenapa tak bergabung saja dengan kami?” tawar ketiga peria itu serempak, Kyungsoo berbalik dan menaikan sebelah alisnya.

***

Disinilah Kyungsoo dan ketiga orang itu sekarang. Atap sekolah.

Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk bergabung, kakinya sudah lelah untuk berkeliling.

“Nah Kyungsoo, mari kita memperkenalkan diri kembali” Itu Chanyeol yang berujar, ia kelihatan sangat antusias.

“Namaku Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol” jangan lupakan senyum lima jarinya.

“Atau kau bisa memanggilnya Park Dobi” ini Sehun yang berkomentar tanpa wajah bersalah.

“Yak!” Akhirnya Suara bass Chanyeol menggema. Kyungsoo menutup telinganya.

“Abaikan saja mereka, Namaku Kim Jongin. Kau bisa memanggilku Jongin atau Kai terserah padamu” Akhirnya Jongin memperkenalkan diri.

“Atau kau bisa memanggilnya Hitam” Ujar Chanyeol dan Sehun serempak. Sepertinya mereka lupa akan pertengkaran mereka tadi.

“Yak! Sudah ku katakan aku ini tidak hitam!” ujarnya tak terima. Tapi tak ada yang peduli.

“Nah, giliranku. Namaku Oh Sehun. Kau bisa memanggilku si tampan Oh atau Sehun” ujaranya bangga penuh percaya diri.

“Tampan tapi cadel” ujar Jongin dan Chanyeol.

“Aish”

“Baiklah, mohon bantuannya Chanyeol, Jongin dan Sehun” ujar Kyungsoo dengan formal.

“Kyungsoo tak perlu seformal itu” ujar Sehun.

“Santai saja ok?” Chanyeol memberikan beberepa snacknya.

“Ngomong-ngomong Kyung, kenapa kau bisa berurusan dengan Baekhyun, guru Min dan Nari?” tanya Jongin.

“Soal itu, entahlah. Aku juga tak begitu ingat. Hanya saja sepertinya aku membuat kesalahan” Kyungsoo menggaruk tengkuknya kemudian membenarkan kembali letak kaca matanya.

“ Aku tau” ujar Chanyeol.

“Kau cenayang?” tanya Sehun.

“Bukan begitu, aish. Hanya saja. Aku juga berada di tempat kejadian” terang Chanyeol.

“Lalu ?” tanya Kyungsoo.

“Kau mengambil longboard milik Nari, mencopot wig guru Min, dan menumpahkan minuman pada seragam Baekhyun” Chanyeol menjelaskan dengan tenang.

“Apa? Jadi itu yang membuat mereka marah padaku?! Itu kan tak sengaja. Mana aku tau itu longboard miliknya, dan mana aku tau jika guru Min itu memakai Wig, dan untuk urusan Baek siapa lah itu. Aku tak sengaja!”.

“Itu bisa dipahami, tenanglah” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo.

“Tunggu! Kau bilang guru Min memakai Wig?! Jadi selama ini beliau botak?! Haha” Sehun tertawa terpingkal.

“Oh Sehun, pelankan suaramu, kau ingin mati huh?” gumam Jongin.

“Maaf hanya saja, aku tak sanggup membayangkannya” Sehun menyeka air matanya. Sepertinya ia sangat senang.

“Ck, dasar bocah ini. Lalu untuk Baekhyun. Kami sarankan, kau jangan lagi berurusan dengannya” ujar Chanyeol.

“Kenapa?” Kyungsoo menjadi penasaran.

“Entahlah, disekolah ini tak ada yang berani mendekatinya, walau ada hanya beberapa. Dan menurut kabar yang ku dengar, dia itu salah satu anggota mafia” ujar Jongin.

“Mustahil” gumam Kyungsoo.

“Jong, jangan menyebar hoax” kali ini Sehun berpendapat.

“Aku hanya mengeluarkan pendapat dari apa yang ku dengar” gerutu Jongin.

“Itu sama saja hoax Jong, jika kau belum tau fakta sebenarnya. Dan untuk Nari, kami sarankan kau untuk segera minta maaf” Chanyeol memberi pendapat dan diangguki kedua temannya.

“Memang kenapa?” Kyungsoo menampilkan wajah inoncennya.

“Pertama, itu loangboar kesayangannya yang ia beli dengan susah payah” Sehun mengacungkan 1 jarinya.

“Kedua, kau telah mengambil dan merusaknya” Jongin membentuk tanda peace dengan jarinya .

“Itu tak sengaja” sanggah Kyungsoo.

“Kami tau tapi Nari tidak mau tau” ujar Sehun.

“Dan yang terakhir, jika dia marah, maka dia seperti malaikat kematian, tamat riwayatmu” Chanyeol bergidik, Sehun dan Jongin mengangguk disertai postur memotong leher mereka dengan salah satu tangan.

“Aku juga memang berniat untuk meminta maaf jika sudah tenang” jelas Kyungsoo.

“Itu baru namanya pria sejati” Chanyeol menepuk bahu Kyungsoo kembali.

“Ngomong-ngomong Kyung, kami lihat sepertinya kau jago sekali bermain longboard, kau pro ya?” tanya Sehun antusias begitu pula Jongin. Matanya terlihat berbinar.

“Itu kali pertamaku bermain” Kyungsoo mengambil snack Chanyeol yang berada disampingnya.

“APA?!!”

***

Entah hanya perasaan Kyungsoo saja atau memang benar, sedari tadi ia merasa Baek siapalah tadi yang disebut Chanyeol memandang tajam ke arahnya. Pelajaran sedang berlangsung dan ia tidak bisa menengok kebelakang, ia tak ingin terkena kesialan lainnya hingga diusir dari kelas.

Entah guru Min memang masih dendam padanya atau tidak, beliau menempatkan Kyungsoo di depan Baekhyun dan di belakang Nari. Membuat Kyungsoo merasa kurang nyaman.

Sampai akhirnya pelajaran berakhir dan ia bisa bernafas lega. Setelah guru meninggalkan ruangan ia segera berbalik pada Baekhyun.

“Bukankah aku sudah minta maaf, kenapa kau terus mellihatku dengan tatapan membunuh?” tanya Kyungsoo. Seketika perhatian seluruh kelas berpusat pada mereka.

“Cih, kau peka juga rupanya. Tapi urusan kita belum berakhir” dan Baekhyun memecah ketegangan itu dengan meninggalkan kelas.

Kyungsoo hanya menghela nafas, sepertinya akan sulit untuk kedepannya, pikir Kyungsoo. Ia melirik Nari di depannya dan mengambil longboard yang berada disamping mejanya.

“Maaf, Nari-sii” ujar Kyungsoo.

Nari menoleh dengan pandangan sadis “Apa? Kau mau mencuri barang apalagi?” ujarnya beruntun.

“Bukan begitu, ini (Kyungsoo menyerahkan Longboard milik Nari) aku tak sengaja memakainya karena terjatuh” Nari segera menarik Longboard miliknya.

“Longboardku” pekiknya senang. Ia segera menarik longboard miliknya dan memeluknya.

“Dan maaf, rodanya menjadi aus setelah ku pakai” Kyungsoo bergumam pelan. Tapi Nari masih bisa mendengarnya. Seketika matanya yang tertutup menjadi terbuka lebar.

“APA?!” Teriaknya lantang. Dan teriakannya berhasil membuat seisi kelas memandang kembali Kyungsoo.

“Tenang saja, aku akan menggantinya” ujar Kyungsoo menenangkan.

“Kau. HARUS! Itu sudah kewajibanmu! Perbaiki ini, aku tidak mau tau” Nari kembali menyerahkan Longboard miliknya pada Kyungsoo. Setelah itu ia mengambil tasnya dan melangkah keluar, namun belum sempat mencampai pintu ia berbalik kembali “Kau! Secepatnya kembalikan itu!” tunjuk Nari pada Kyungsoo , setelah melihat Kyungsoo mengangguk ia akhirnya keluar kelas.

“Ini akan sulit” Kyungsoo menghela nafas. Hari ini membuatnya frustasi.

***

Baekhyun memasuki lorong yang sangat sempit, sepertinya itu jalan buntu. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

“Yo, Baek kau sampai?” tanya seseorang. Baekhyun tak menjawab. Ia berjalan dan duduk di samping pria yang bertanya padanya tadi.

“Gawat!” seseorang berlari ke arah mereka dengan sempoyongan.

Baekhyun mengerenyit, “Ada apa?” tanya pria di samping Baekhyun.

“Daniel, Daniel dipukuli pria berjas hitam” ujar pria yang datang tadi.

“APA?!”

“Kita kesana” Baekhyun segera beranjak dari tempatnya.

Sepertinya kali ini Baekhyun dan kawannya salah memilih lawan. Daniel sudah babak belur, bahkan temannya yang lain sudah tak sanggup. Baekhyun harus membawa orang-orang itu menjauh dari temannya. Ia mengambil sebuh balok yang terjangkau dan memukul salah seorang pria berjas hitam itu hingga tumbang dan mengelurkan darah. Pria berjas lainnya melihat Baekhyun, namun Baekhyun dengan cepat berlari dari sana.

“BAEK!” Teriak teman-temannya.

***

Inilah yang membuat Kyungsoo kesal jika tinggal bersama dengan kakaknya. Joohyun selalu seenaknya menyuruh ini itu. Kali ini Kyungsoo terpaksa keluar malam, tidak terlalu malam juga karena ini masih pukul 09.00 Pm. Hanya untuk membelikan Joohyun pembalut. Kyungsoo bisa saja menolak, tapi uang bulanannya akan disita Joohyun. Ia masih butuh uang untuk memperbaiki longboard Nari. Jika tidak ingat hal itu ia sudah diam di kamar saat ini bermain game.

Dengan menahan malu yang luar biasa akhirnya ia berhasil membeli apa yang dipinta kakaknya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sekumpulan orang, awalnya ia akan mengabaikannya tpi setelah melihat dengan jelas siapa yang sedang dihajar oleh mereka. Dengan mantap kedua kakinya melangkah menuju kerumunan itu.

“YAK!” teriaknya. Beberpa pria tinggi dengan jas hitam berbalik melihat Kyungsoo.

“Mau apa kau boc . . “ BUAGH. Perkataan pria tadi terhenti karena Kyungsoo menghajarnya dadakan dan membabi buta.

“Ish, bocah pengganggu lainnya. Hajar dia!” dan berakhir dengan pria berbadan besar itu melawan Kyungsoo. Mengabaikan seseorang yang sudah babak belur dihajar oleh mereka tadi.

Buk, karena sudah tak tahan pria babak belur itu terbaring di tempat, bahkan matanya sudah akan tertutup namun samar-samar ia bisa melihat seseorang dengan setelan hodie dan trening serba hitam sedang bertarung, hingga matanya benar-benar terpejam.

TBC

 

Advertisements
Posted in action, comedy, exo, fanfiction

New Life #3

PicsArt_05-08-09.03.20

New Life

Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action, comedy.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 3

 

Pip Pip Pip Pip

Gadis itu menekan beberapa digit angka, tak lama kemudian pintu berhasil terbuka.

“Ingat angka tadi, jika kau tak ingin terkunci diluar” ujarnya setelah masuk kedalam apartemennya dan mengganti alas kaki dengan sandal rumahan.

“Kau pikir aku seperti dirimu huh?! Yak! Bantu aku! Memangnya aku ini pelayanmu” pemuda di belakangnya bersungut-sungut, ia membawa dua koper besar, satu di tangan kanan dan satu di tangan kiri jangan lupakan satu ransel besar yang masih setia menggantung di punggungnya.

“CK, merepotkan, kau kan bisa membawanya satu – satu” gadis itu kembali walau dengan gerutuan ia tetap mengambil salah satu dari tangan sang pria lebih muda.

“Jika bukan kakakku sudah ku hajar dia, aish!” umpat sang pria muda dengan kepalan tangan dan mengayunkannya, ia melampiaskannya pada udara hampa.

“Do Kyungsoo aku mendengarmu~” ujar wanita yang lebih tua darinya itu, pemuda itu Kyungsoo melebarkan kedua bola matanya. Pasalnya sang kakak sudah berada di ruang tengah ketika ia mengumpat. “Sial, ada yang membicarakannya saja baru telinganya peka” ia menghampiri sang kakak dengan menyeret kopernya.

“Dimana kamarku?” tanya Kyungsoo setelah ia berada di ruang tengah.

Joohyun menunjuk salah satu pintu tanpa bicara. Air lebih penting untuknya saat ini. Bahkan ia berhasil menegak habis isi air dari dalam satu botol besar tanpa sisa satu tetespun.

Kyungsoo melihat arah yang Joohyun maksud, ia segera mendekati pintu itu tanpa ada kecurigaan sama sekali.

Kyungsoo menggenggam pegangan pintu itu, tanpa melihat di belakangnya Joohyun memperhatikan dan berhitung tanpa suara, dan . .

Kriett

Bugh bagh bugh

“Aw aw” Bugh bugh “Aw aw ya aww” rintih sang pemuda dengan kedua tangan melindungi kepalanya, membuatnya terduduk di lantai. Beberapa kardus menimbun tubuhnya.

Joohyun tertawa di belakang sana tanpa ada niatan menolong sang adik.

“YAK!” Deep voice dangan nada tinggi terdengar di seluruh penjuru ruangan, Joohyun melebarkan matanya, ia segera berlari menuju kamarnya tepat di sebelah adiknya.

Blam.

Pintu itu tertutup dengan keras.

“Do Joohyun akan ku hajar kau!!!” Teriak Kyungsoo dengan tatapan membara.

“Maafkan aku Sooie, aku belum sempat membereskannya, jadi kau bereskan saja sendiri ya?” Ujar Joohyun dari dalam kamarnya.

“Yak!” Kyungsoo menggedor pintu kamarnya tanpa henti.

Oh sepertinya para tetangga tidak akan bisa hidup dengan tenang setelah ini.

****

Kyungsoo keluar kamarnya dengan tergesa, ia sedikit terlambat bangun di hari pertamanya. Salahkan Joohyun yang membuatnya bekerja ekstra memindahkan kardus-kardus itu semalaman.

“Kak, bus apa yang harus ku naiki untuk sampai ke sekolah?” tanyanya setelah menemukan Joohyun yang berada di counter dapur dengan sepotog roti ditangannya. Joohyun mengalihkan atensinya, ia mengerenyit “Sejak kapan kau memakai kacamata?”.

Tanpa berniat untuk menjawab ia lebih memilih merapihkan seragamnya “Jawab aku!”.

Joohyun memutar bola matanya “Bus No 8 , kau tak ingin aku antar?” tawar Joohyun.

“Terlalu lama menunggumu, aku berangkat!” setelah memakai sepatunya ia melesat keluar.

“Ya, kau tidak sarapan?!” namun sang adaik sudah jauh meninggalkannya. Joohyun mengedikan bahunya dan berjalan menuju laptopnya dan tumpukan buku di meja dengan segelas susu di tangannya dan sepotong roti di mulutnya.

****

Halte tujuan utamanya saat ini, entah seberapa cepat ia berlari sekarang. Ini hari pertama di sekolah barunya, ia tidak boleh terlambat. Jika di sekolahnya yang lama ia sudah tak peduli dengan waktu tapi untuk sekarang tak bisa. Ia sudah berjanji untuk berubah. Mungkin sekitar 100 meter dari tempatnya ini ia bisa melihat halte bus, “ itu dia!” pekiknya. Tanpa membuang waktu ia menambah kecepatan larinya, jalan yang menurun lebih mempermudahnya melesat. Namun naas, ketika sudah berada di kecepatan penuhnnya tak di sangka seorang kakek dan gerobaknnya keluar dari jalanan kecil di turunan itu.

“Ya ya kakek!” teriaknya, karena sudah sulit untuknnya berhenti di saat ini.

Sang kakek melebarkan matanya terkejut tanpa bisa bergerak, kurang dari 5 meter lagi seorang pemuda bisa menabraknya.

Berpikir dengan cepat, Kyungsoo memutuskan untuk menambah kecepatannya, ketika ia sudah dekat dengan gerobak sang kakek, ia melompat. Bagaikan adegan di film action, tubuhnya berputar di udara melewati gerobak. Sedangkan sang kakek dibuat terkejut dan mulutnya mengaga, ia seperti melihat film action secara langsung.

Disisi lain seorang pemuda tinggi berkacamata menyaksikan kejadian itu tanpa berkedip.

“Daebak!” ujarnya.

Sedangkan seorang gadis di belakang pemuda itu tak tau apa yang terjadi, ia melihat tali sepatunya terlepas, tidak ingin dirinya malu karena bisa saja ia terjatuh oleh tali sepatunya ia menunduk, meletakan Longboardnya dan mengikat tali sepatu, ketika ia akan mengikat sepatu satunya kakinya tak sengaja menendang Longboarnya. Membuat benda itu meluncur bebas,  “Astaga, Longboardku!”.

Sialnya Longboard itu mengarah pada Kyungsoo. Kyungsoo yang semula tersenyum karena apa yang dipikirkannya berhasil seketika terbelalak. Aspal yang harusnya ia pijak berganti menjadi sebuah Longboard.

Ia meluncur dengan Longboard itu, tanpa bisa mengendalikannya.

“Ya! Pencuri kembalikan Longboard milikku!” teriak gadis itu.

Kyungsoo belum bisa mengendalikan situasi, ia bahakan menyenggol seseorang yang baru saja keluar dari sebuah minimarket, membuat minuman yang dipegang pria itu tumpah mengenai bajunya. Tak sampai disitu, karena mencoba mencari keseimbangan tangan Kyungsoo bergerak bebas. Tanpa sengaja ia menarik sesuatu, ketika ia melihat apa yang ada di tangannya ia segera membuangnya. Itu seperti rambut.

Kyungsoo bedoa dalam hati agar ia bisa selamat, seketika ia terbayang adegan dimana ia sedang diajari skateboard oleh Jongdae.

Flashback

Kyungsoo sedang mencari keseimbangan di atas skateboard, namun ia selalu saja terjatuh. Jongdae yang melihatnya tertawa terbahak, Kyungsoo menyerah. Ia melemparkan pelindung tangannya dan helem yang dipakenya.

“Aku menyerah!” ujarnya.

“Haha, seharusnya kau yang mengendalikan benda itu bukan benda itu yang mengendalikanmu”.

End of flasback

Kyungsoo berusaha mencari keseimbangan tubuhnya, kaki tempat ia berpijak di papan itu ia geser sesuai dengan posisi nyamannya. Dan benar saja itu berhasil. Kyungsoo tersenyum senang. Ia menghentikan laju papan miliknya ketika sudah berada di halte.

“Sial!” umpatnya.

Bus yang seharusnya ia naiki sudah pergi meninggalkannya. Ia melihat Loangboard dibawahnya. Tanpa berpikir dua kali ia melajukan papan miliknya kejalanan. Tidak peduli dengan suara klakson dan makian, tujuan utamanya adalah bus di depan.

Ketika jarak semakin dekat ia melepaskan dasi di lehernya dan melemparkannya.

“Gotcha!” ujarnya ketika dasi miliknya tersangkut di slah satu besi belakang bus.

Ia menggenggam dasi itu dengan erat dan melaju dengan loangboardnya.

***

“Kim Jongin cepat bangun! Kau harus melihat seusuatu yang menarik di belakang sana” ujar pria berkulit putih pada teman di sampingnya.

“Aku mengantuk Sehun” pria dengan nama Jongin itu tak berniat membuka matanya, ia lebih memilih memejamkan mata dan membuat posisi duduknya senyaman mungkin.

Plak

“YAK!” teriak Jongin memegang kepalanya. Sehun memukulnya tadi.

“Lihat ke belakang dan kau tak akan menyesal” ujar sehun menunjuk jendela belakang. Posisi mereka saat ini sangat menguntungkan karena mereka duduk di bangku belakang.

Jongin melebarkan kedua matanya. “Apa dia gila?!” tanya Jongin ketika ia melihat seorang peria berkacamata menaiki longboard di belakang bus yang dinaikinya. Seoalah ia sedang berselancar di laut lepas.

“Sudahku bilang bukan ini menarik” senyum sehun.

***

Ketika bus di depannya berhenti di tempat tujuan ia segera menghentikan Longboardnya. Tanpa peduli dengan kegaduhan para penumpang bus yang turun dan naik, ia lebih memilih mengambil kembali dasinya menaruhnya di leher dan merapihkan seragamnya. Ia mengambil papandi bawahnya.

“Astaga, rodanya sampai aus. Baiklah akan ku ganti nanti sebagai ucapan maaf dan terima kasih” ia menenteng longboard di salah satu tangannya dan bertanya pada penjaga dimana ruang kepala sekolah.

Tak jauh di belakangnya sehun dan Jongin baru saja turun dari bus. “Kau lihat tadi bukan?” tanya Sehun. “Ya, aku melihat. Dan sepertinya ia siswa disini, jika aku tak salah melihat seragam miliknya” mereka masih berjalan dari gerbang menuju kelasnya.

“Benarkah? Jika benar ini akan menarik” ujar Sehun.

Dibelakang kedua pria berbeda warna kulit itu seorang wanita terus saja mengumpat “Awas saja jika aku bertemu denganmu pencuri! Yak! Tak taukah kau seberapa lama aku menabung untuk benda itu!!”.

Tak lama kemudian seorang pria dengan wajah imut memasuki pekarangan sekolah. “Hai Byun ada apa dengan seragammu?” tanya pria lain pada pria berwajah imut dengan nama Byun itu.

“Sial, menjauhlah dariku jika kau tak ingin terkena imbas, aku sedang kesal sekarang” umpat pria Byun itu, astaga wajah tak sesuai dengan umpatan yang keluar dari bibir tipisnya.

Penjaga akan menutup gerbang, hanya tinggal sedikit lagi dan “Pak tunggu!” seorang pria tinggi berkacamata berlari dengan terengah.

“Park Chanyeol, kau lagi kau lagi” ujar sang penjaga. Sedangkan pria tinggi bermarga Park itu hanya menampilkan senyum 5 jarinya.

“Kau terlambat bangun lagi?” tanya sang penjaga.

“Tidak, tadi aku melihat . .” ujarannya antusias namun harus di potong dengan panggilan . .

“PARK CHANYEOL CEPAT MASUK ATAU KU HUKUM KAU!” Guru Choi.

Chanyeol segera berlari “Nde!”.

****

“Nah Kyungsoo, semoga kau betah di sekolah ini, guru Kim akan mengantarkan dirimu” ujar kepala sekolah.

“Baiklah, terima kasih atas bantuannya” Kyungsoo menunduk hormat dan berpamitan, kemudian ia mengambil kembali Longboardnya dan mengikuti guru Kim.

11-C

Itulah yang tertulis di papan diatas pintu.

Guru kim melihat ke arah Kyungsoo. “Ini kelasmu, kau tunggu disini sebentar” Kyungsoo mengangguk, sedangkan guru Kim mengetuk pintu dan masuk kedalam.

Kyungsoo memainkan kakinya, tak lama suara guru Kim memanggil dirinya. Tanpa ragu ia membenarkan letak kacamatanya dan masuk kedalam.

“Halo semua, aku Do Kyungsooo slam kenal” ia kembali menegakkkan tubuhnya setelah membungkuk memberi salam.

Jongin terkejut di tempatnya, sehun di sampingnya tampak antusias sama halnnya dengan pria tinggi dibelakang sana.

“Daebak!” ujar keduanya.

“Yak! Pencuri!” itu suara slah satu siswi penguni kelas ini yang menunjuk Longboard ditangan Kyungsoo.

Pria bermarga Byun yang semula tertidur dibangkunnya membuka mata dan meneggakkan tubuhnya karena tidurnya terganggu.

“Kenapa ribut sekali sih, YAK KAU!” teriak Bakehyun menunjuk Kyungsoo begitu pula guru Min.

 

TBC

 

 

Posted in au, fanfiction

New Life #2

 
New Life
Evina93 @2018

Chapter / PG 16

Au, drama, friendship, action.

Do Kyungsoo (Exo), Oc.

Chapter 2

Rasa bersalah selalu menghantuinya, sikapnya berubah 180 derajat. Semenjak keluar dari rumah sakit ia jarang sekali bicara. Seolah membuat dinding pembatas untuk memisahkan dirinya. Ia tidak datang pada acara pemakam Jongdae karena kondisinya, namun setelah keluar ia pun belum berkunjung ke makamnya.

Kedua orang tua Kyungsoo tidak bisa berbuat banyak, ketiga sahabatnya bahkan selalu membujuknya keluar. Namun Kyungsoo tak menghiraukannya. Orang tua Jongdae tidak menyalahkannya, mereka berfikir ini sudah takdir dari tuhan. Mungkin saja Jongdae lebih bahagia disana, walau untuk beberapa saat terkadang mereka kehilangan sosoknya. Bahkan mereka sama khawatirnya dengan orang tua Kyungsoo pada anak itu.

Tok tok

Tak ada tanggapan, akhirnya ibu Kyungsoo masuk kedalam dengan membawa nampan berisi makanan.

“Soo- ya kau harus makan nak” ia meletakan nampan di meja belajar Kyungsoo. Numun sang anak tak bergeming sedikitpun dari tempatnya. Ia masih betah melihat langit dari balkon kamarnya.

Ibunya mendesah pasrah, terkadang ia menyesal dengan sikapnya dulu. Ia dan suaminya lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dibanding memperhatikan sang anak. Sehingga ia tidak terlalu mengetahui perkembangan sang anak, sampai suatu hari telponnya berbunyi dan mengabarkan bahwa sang anak masuk rumah sakit dalam keadaan kritis. Nyawanya seakan terangkat beberapa saat ketika mendengar kabar itu.

Dengan perlahan ia menghampiri sang anak dan memegang pundaknya, “Soo-ya”.

Kyungsoo menoleh, mata itu seolah redup tak ada sinar seperti sebelumnya.

“Ibu” ujaranya lemah.

Sang ibu mengelus surai hitam anaknya dengan penuh kasih. “Soo-ya, ayo makan heum?”.

“Aku tak lapar bu” Ibunya menghela nafas, jika begini terus sang buah hati bisa kembali masuk ke ruang rawat inap. “Tapi kau belum mengisi perutmu sedari pagi”.

“Aku tak berselera” ia kembali menatap langit.

“Kyungsoo, jangan menghukum dirimu seperti ini. Semua ini bukan salahmu. Ini semua sudah takdir tuhan, tak ada yang menyalahkanmu. Kau harus bangkit nak, mungkin saja Jongdae di atas sana sedang menggerutu karena tingkahmu ini. Semua bukan salahmu” sang ibu memeluk sayang anaknya dan kembali mengelus surai hitam legamnya. 

“Ibu . .” gumamnya dan memeluk ibunya, ia membenamkan wajahnya. Tidak selang lama ibunya merasakan tubuh anaknya bergetar, Kyungsoo menangis tanpa suara.

*** 

“Apa ia tertidur?” tuan Do bertanya ketika istrinya baru saja keluar kamar anaknya.

“Eum, aku semakin khawatir padanya, tubuhnya semakin kurus, belum lagi ia selalu bermimpi buruk” wajah nyonya Do menjadi murung. “Ini semua salahku jika saja ..”, “Sttt, jangan menyalahkan dirimu. Kita berdua kurang memperhatikan mereka. Tuan Do, memeluk istrinya yang sudah terisak.

“Ibu, Ayah aku datang!, dimana anak itu?” teriak seseorang dari bawah. 

Nyonya Do mengerenyit, “Bukankah itu suara Joohyun?”.

Tuan Do mengagguk, mereka turun kebawah. “Ternyata benar kau” ujar sang ayah.

“Ah, hallo ayah, ibu aku pulang. Dimana bocah itu?” setelah memberi salam pada kedua orang tuanya ia menggulung lengan kemejanya berjalan menaiki tangga meninggalkan koper miliknya.

“Adikmu baru saja tidur, sudahlah nanti lagi saja” cegah sang ibu.

“Huh, dia beruntung kali ini. Awas saja nanti” ia bergumam dengan mengepalkan kedua tangannya.

“Kenapa kau tidak mengabari jika akan pulang, ayah bisa menyuruh seseorang menjemputmu” mereka menuruni anak tangga menuju lantai bawah tak ingin membuat keributan dan membangunkan anak bungsunya.

“Ck, merepotkan. Yang penting akau sudah sampai dengan selamat” Joohyun menuju salah satu sofa dan mendudukinya.

“Ya! Anak ini” yang dibentak hanya menunjukan cengirannya. Nyonya Do hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak sulungnya.

“Kau sudah makan?” tanya nyonya Do.

“Wah ibu tau saja jika aku lapar” Ia tersenyum dan menghampiri ibunya di dapur, giliran ayahnya yang menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya. 

*** 

Srak srak srak

Seseorang membuka tirai kamar bernuansa hitam itu, membuat cahaya sang surya menembus setiap kaca jendela.

Tubuh yang sedang terbaring merasa terusik.

“Do Kyungsoo bangun atau aku hajar kau!” seorang wanita berdiri di dekat tempat tidur  dengan melipat kedua tangannya didada.

Kyungsoo yang semula terusik dalam tidurnya mendadak tubuhnya tegang, ia mengenali suara ini, tapi tak mungkin halaunya. Karena yang ia tau orang tersebut sedang tidak berada disini. Dari pada dilanda penasaran ia mencoba membuka matanya, menyesuaikan penglihatannya karena ia baru saja terbangun.

“Sial” gumamnya, setelah ia melihat dengan jelas penampakan seorang wanita yang sedang menyeringai ke arahnya.

“Apa kabar adik manisku?” itu Joohyun, kakaknya.

“Untuk apa kau kemari? Keluar!”usir Kyungsoo dengan tatapan tajamnya.

“Ck” Joohyun berjalan kesamping tempat tidur sang adik, dan menarik lengannya tanpa ampun “Yang harusnya keluar itu kau! Sampai kapan kau seperti ini huh!” ia masih menarik adiknya.

“Ya ya! Ibu!” rengek Kyungsoo.

Bugh

Kyungsoo terjatuh dari tempat tidurnya, “Cepat mandi! Temani aku jalan-jalan sudah lama aku tidak pulang”. Kyungsoo baru saja akan membuka mulut, “Tak ada bantahan, cepat atau aku siram kau di tempat ini juga”.

Blam

Tanpa berperasaan Joohyun membantik pintu itu menyisakan adiknya yang sedang menyumpah serpah dirinya.

Setelah keluar dari kamar sang adik ia tersenyum sekilas, “Jika tidak seperti ini kau tak akan mau keluar dari sangkarmu” gumamnya.

“Ada apa? Kenapa Kyungsoo berteriak?” tanya sang ibu yang baru saja menghampirinya.

“Tidak ada apa-apa, ibu tak perlu khawatir. Sebentar lagi anak itu akan keluar”.

“Benarkah?” Ibunya sedikit terkejut.

“Eum, lebih baik ibu memask untukku” Joohyun menggandeng ibunya menjauh.

*** 

Tuan dan nyonya Do tersenyum cerah ketika melihat anak bungsu mereka keluar dari kamarnya. Kyungsoo menarik salah satu kursi dan duduk di sana.

“Makanlah” sang ibu memberinya sepiring hidangan.

“Aku tak lapar” tolak Kyungsoo.

“Do Kyungsoo makan!” titah Joohyun.

“Ck kau ini bawel sekali” tapi Kyungsoo mengambil sendok dan memasukan sesuap nasi ke mulutnya. Tuan dan nyonya Do semakin tersenyum senang. Anak sulungnya memang bisa diandalkan untuk saat seperti ini.

*** 

“Wah sudah lama sekali rasanya” Joohyun merentangkan kedua tangannya sambil berjalan.

“Hanya dua tahun bodoh” ujar Kyungsoo.

“Yak!” Joohyun berancang akan memukul adiknya tapi ia urungkan.  “Maksudku, sudah lama bukan kalu tak keluar rumah sebulan? Ah tidak dua bulan bukan?”. Tak ada bantahan.

“Kenapa kita ke pemakaman?” Kyungsoo mengerenyitkan dahi. 

“Hanya ingin memberi salam pada salah satu ‘adik’ kesayanganku” jawab Joohyun.

Deg

Kyungsoo tau makam siapa itu dari fotonya. Tubuhnya seolah kaku, rasa ketakutan dan bersalah seakan menembus hatinya kembali.

“Annyeong Dae-ah, maafkan aku tidak datang melihatmu untuk terakhir kali. Dan ah,aku juga membawa Kyungsoo, Soo-ya kemari” panggil Joohyun, namun sang adik tak beranjak sedikitpun dari tempatnya. Joohyun menarik lengan sang adik dan berakhir di depan makam Jongdae.

“Tidak ingin memberi salam?” tanya Joohyun. Tapi mulut Kyungsoo seakan terkena lem yang susah untuk dibuka. Joohyun menghela nafasnya. Ia menggenggam erat lengan sang adik.

“Dae-ya, terima kasih sudah menjaga Kyungsoo. Kau sudah seperti kakaknya sendiri, terkadang aku iri, kali ini serahkan saja padaku, kau tak perlu khawatir lagi disana. Aku tau dia memang menjengkelkan, aku akan lebih bersabar tenang saja” Joohyun seperti sedang mencurahkan perasaannya.

“Kakak!” akhirnya ia bersuara. Joohyun tertawa. “Tak ingin mengucapkan sesuatu pada Jongdae?”.

Kyungsoo menelan liurnya “Jongdae-ya, maafkan aku, maafkan aku” tanpa diduga liquid bening sudah meluncur dari mata bulatnya.

Joohyun mengelus punggung sang adik.

“Kyungsoo-ya apa itu kau?” mereka menoleh karena ada yang memanggil.

“Ternyata benar kau, akhirnya aku bisa bertemu denganmu juga nak” seorang wanita seumuran ibunya menghampiri mereka.

“Bibi” gumam Kyungsoo. Tanpa diduga wanita itu memeluknya. “Bibi maafkan aku, karena aku Jongdae, Jongdae . .”

“Sttt, itu bukan salahmu nak, mungkin ini sudah takdir yang di atas, bibi dan paman tidak menyalahkanmu, mungkin Jongdae juga akan merasa sedih dan mengomelimu jika seperti ini” wanita itu yang ternyata Ibu Jongdae menghapus air mata Kyungsoo.

“Maafkan aku bi” ujar Kyungsoo. Joohyun tersenyum lembut di samping keduanya.

*** 

Mereka sedang makan malam bersama. Joohyun menatap mereka bergantian.

“Ayah, ibu, besok aku akan kembali. Aku tak bisa ijin lama-lama” ujar Joohyun.

“Secepat itukah?” tanya sang ayah.

“Eumh, lalu ada yang ingin  ku bicarakan pada kalian” Joohyun berubah serius.

“Apa itu?” kali ini ibunya yang bertanya.

“Aku akan membawa Kyungsoo, ibu dan ayah bisa mengurus perpindahan sekolahnya bukan?” pinta Joohyun.

“Tentu saja, itu hal yang mudah, akan kami urus” ujar sang ayah.

“Yak!, harusnya kau bicara dulu padaku?” ujar Kyungsoo.

“Kau sulit untuk diajak bicara, jadi terima saja tuan Do kecil” Joohyun menyeringai puas.

‘welcome to my sweet life uri dongsaeng’ pikir Joohyun dengan seringainya.

‘I come to hell’ pikir Kyungsoo berteriak dalam hatinya. ‘siapapun tolong aku?’ itulah arti sorotan matanya saat ini.

To be continue

Posted in action, drama, fanfiction

New Life #1

      

                                 New Life

                            Evina93 ©2018

                            Chapter /PG 16

                 Au, drama, friendship, action.

                       Do Kyungsoo (Exo), Oc.

‘Menjalani sesuatu hal yang baru tanpa bayang-bayang masa lalu memang sulit, namun bagaimana jika masa lalu adalah suatu takdir yang harus dijalanin agar mendapat hal baru yang lebih berharga untuk kau jalani dan miliki’.

                              Chapter 1

Udara yang semakin terasa pengap pada ruangan 4 x 5 meter ini tak dihiraukan oleh mereka, yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah bagaimana cara membebaskan salah satu teman mereka dari kumpulan para mafia itu.

“Aku akan pegi sendiri” setelah terdiam cukup lama pria dengan mata bulat itu akhirnya membuka suara.

“Jangan gegabah Soo, mereka itu bukan tandingan kita!” Bentak seorang lainnya yang lebih tua diantara mereka.

“Lalu aku harus bagaimana?! Kita harus membebaskan Jongdae! Ini semua salahku!” Sesal pria bermarga Do tersebut.

“Kyungsoo dengar! Ini semua bukan salahmu, jangan menyalahkan dirimu lagi. Jongdae seperti itu karena dia ingin melindungumu. Kau tau bukan sifatnya? Jangan bertindak sendiri. Aku akan ikut denganmu” pria berwajah malaikat itu menepuk bahu Kyungsoo, sedikit menyalurkan energi agar juniornya ini tidak terlalu terpuruk.

“Benar apa yang dikatakannya, aku juga akan ikut denganmu. Begini-begini aku juga bisa berkelahi” pria lain dengan diemple di pipinya memperlihatkan otot tangannya. Dia salah satu yang bisa mencairkan suasana, walau terkadang berakhir dengan membuat kesal temannya.

Plak

Seseorang memukul kepalannya. “Sakit! Kim Minseok kau kejam!” Yixing, pria berdiemple itu memberengut sambil mengusap kepalannya.

“Do Kyungsoo, kami akan ikut tak ada penolakan!” Putus Minseok.

Kyungsoo mengangkat wajahnya menatap mereka. Ia menghela nafas,”Baikalah”.

*** 

Mereka dibagi menjadi dua kelompok, Yixing dengan Joonmyeon dan Kyungsoo dengan Minseok. Kyungsoo mengendap memasuki salah satu gudang besar di pinggir pelabuhan. Salah satu markas mafia yang menyekap Jongdae.

Minseok mengintip sedikit. Di tengah ruangan sana ia melihat seseorang duduk terikat dengan wajah babak belur. Ia mengepalkan tangannya. “Aku menemukannya” gumam Minseok. Kyungsoo menghampiri Minseok. Tatapan matanya semakin tajam. Ditengah sana Jongdae sudah babak belur. “Hyung, kami menemukannya” Kyungsoo berbicara setelah menekan beda kecil yg menempel di telinganya.

“Hyung, kau siap?” tanyanya pada Minseok.

“Kapanpun” Minseok menyeringai. 

“Ayo”.

*** 

Dengan perlahan mereka menumbangkan satu persatu penjaga. Hingga sampailah posisi mereka dekat Jongdae. Minseok segera melepaskan Jongdae “Jongdae sadarlah! Kau bisa mendengarku?” Minseok masih berusaha membuka ikatan Jongdae. Jongdae membuka matanya yang sudah bengkak “Hyung” gumamnya.

Kyungsoo menghalau siapa saja yang mendekat. Ia layangkan tinjunya, tendangan dan menghalau lagi. Disisi lain Yixing dan juga Joonmyeon sedang berurusan dengan beberapa orang.

Buk

“Hyung!” mata Kyungsoo melebar, ia segera menerjang seseorang yang menendang Minseok hingga terpental beberapa meter. 

Bak buk bak buk prang buk buk

“Ugh” rintih Kyungsoo memegang perutnya yang terkena tendangan. Tidak ia hiraukan ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.

Minseok kembali bangkit membantu Kyungsoo. Merka kembali beradu 2 lawan 10 memang tidak adil apalagi mereka masih anak sekolah. Namun bukan anak sekolah sembarangan.

Dor

Suara tembakan itu mengalihkan atensi mereka. Sesorang dengan setelan serba hitam berdiri di dekat pintu dengan mengacungkan senjata ke udara.

“Wah wah, tidak aku sangka. Para bocah ini berani sekali. Tangkap mereka!” titahnya.

“Lepas!” Kyungsoo tidak tinggal diam.

“DIAM! ATAU TEMANMU MATI!” pria serba hitam itu mengacungkan pistol ke kepala Jongdae.

Kyungsoo melotot. Ia tidak bisa melawan, Minseok, Joonmyeon serta Yixing pun digeret ke tengah ruangan.

“Kau ingin temanmu bebas huh?” Pria itu mendekati Kyungsoo.

Tak ada jawaban, pria yang berada di dekat Jongdae memukul kepala Jongdae dengan pistol.

“YAK!” teriak mereka. 

“Apa maumu?” tantang Kyungsoo.

“Chip. Kembalikan chip itu maka kalian bebas”. Ujar pria tinggi yang sudah berada di depan Kyungsoo.

“Yixing hyung berikan” titah Kyungsoo.

Yixing mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan melemparnya. Seseorang menangkapnnya.

“Anak pintar. Bebaskan meraka” Pria tersebut berbalik dari Kyungsoo.

Pegangan pada Minseok, Yixing, Joonmyeon serta Kyungsoo mengendur. Jongdae dibebaskan dari ikatannya.

Perlahan Jongdae berjalan ke arah teman-temannya. Dengan senyum yang menghiasi bibirnya tanpa perduli wajah yang babak belur, darah serta sudut bibir yang sakit ketika tersenyum.

“Bereskan” Ujar pria tinggi tadi pada anak buahnya dan dijawab oleh anggukan.

Tanpa ke 5 anak itu sadari selongsong senapan sudah mengarah pada Jongdae.

DOR

Headshoot, peluru itu berhasil mengenai kepala Jongdae.

Jongdae terbelalak dan jatuh dihadapan ke empat temannya.

“Jongdae!!!” 

“Dasar bajingan!” Kyungsoo sudah diluar kendali. Ia menghajar semua orang yang menghalanginya.

Minseok mendekati Jongdae memastikan keadaannya, “Jongdae bangunlah,Arggggghhhh sial!” Minseok bangkit ikut menghajar semua orang setelah mengetahui keadaan Jongdae. Ia telah meninggalkan mereka. 

Dengan berlinang air mata dan keadaan kacau mereka berusaha melawan. Yixing terkena hantaman pada kepalannya membuatnya tak sadarkan diri. Joonmyeon tertusuk pisau. Minseok tertembak kakinya. 

“Arghhhhh!” Kyungsoo semakin brutal menghajar semua.

Door

Peluru lainnya berhasil menembus dadanya. Kyungsoo ambruk di dekat Jongdae.

“Kyungsoo!!!!” teriak Minseok. Ia tidak bisa bergerak karena kakinya tertembak.

Kesadarannya perlahan semakin menghilang, dengan sisa terakhir ia melihat wajah Jongdae.

‘Maafkan aku’ dan kesadarannya pun menghilang.

Tidak lama suara sirine polisi berbunyi, sebagian para penjahat itu berhasil kabur dan sebagian tertangkap.

“Bawa tandu kemari”

“Dia butuh pertolongan pertama”

“Nyawanya sudah tidak tertolong”

“Tahan ini, aku akan membawamu”

“Detak jantungnya masih ada, cepat bawa dia”

Semua sibuk, mobil polisi mengepung. Ambulan berjejer.

“Apa ini ulahnya lagi?” tanya seorang komandan polisi.

“Benar pak”.

“Sial dia kabur lagi”.

***

Disalah satu ruang oprasi para dokter bekerja sangat keras.

“Pisau” seorang dokter mulai membedah.

“Pompa keluar darahnya, , pingset” dengan hati-hati dokter tersebut mengeluarkan peluru di dada Kyungsoo. Terlambat sedikit saja dan salah maka akan berakibat fatal pada Kyungsoo.

“Jahit” dengan fokus yang tinggi dokter serta asistennya menjahit dada Kyungsoo.

“gunting” dokter bernafas lega.

“Lakukan transfusi darah, cek terus perkembangannya. Ia kekurangan banyak darah”.

*** 

Kyungsoo berada di rungan yang semuanya terlihat putih, tak ada siapapun.

“Kyungsoo-ya” ia berbalik karena seseorang memanggilnya.

“Jongdae”.

“Hai Kyung, maafkan aku karena sudah menyusahkanmu”. Ujar Jingdae dengan senyumnya.

“Tidak ini semua salahku, harusnya aku yang meminta maaf, tak seharusnya kau melindungiku” Kyungsoo tak sanggup menahan air matanya.

“Hey, kau sudah seperti adikku. Sudah menjadi kewajiban seorang kakak melindungi adiknya”. Jongdae mengelus surai Kyungsoo.

“Dengar Kyung, jangan pernah merasa berasalah karena aku akan sedih. Ah, sudah waktunya aku pergi”. Jongdae berjalan mundur menjauh dari Kyungsoo.

“Tidak, jangan pergi. Jongdae kumohon tidak” Kyungsoo berlari mengejar Jongdae, namun Jongdae terasa sangat Jauh.

“Kyungsoo-ya belum saatnya kau ikut denganku. Bertemanlah dengan yang lain. Mungkin kau akan mempunyai teman yang lebih baik dariku atau mungkin mendapatkan kekasih. Ah, membayangkannya saja membuatku senang. Ah, dan berbaikanlah dengan orang tuamu. Bye Kyung” Jongdae tersenyum untuk terakhir kalinya. Sebelum cahaya terang menghilangkan Jongdae.

“Tidak!!!”

Kyungsoo membuka kedua matanya. Nafasnya memburu.

“Dokter dia sadar!”.

Tbc

Posted in fanfiction, sad, slice of life

I’m (Not) Fine


I’m (Not) Fine

Evina93 @2018

Oneshoot/ PG 15

Slice of life, sad.

You (Readers) & Do Kyungsoo.

“Sakit tapi tidak berdarah”.

Bangku pojok belakang kelas yang dekat dengan jendela. Itulah tempat favoritku di sekolah ini. Kenapa? Karena dari sini aku bisa dengan bebas melihatnya tanpa ketahuan. Siapa? Jika aku berani, maka dengan gamblang aku akan mengangkat tangan dan mengarahkan telunjukku pada sosok pemuda dengan mata bulat, pipi sedikit berisi dan bibir berbentuk hati yang sekarang ini sedang tertawa bersama teman-temannya di bangku depan sana. Namanya Do Kyungsoo dan dia salah satu teman sekelasku.

Ujung bibirku refleks tertarik ketika melihat ia tertawa. Namun detik berikutnya aku menghela nafas, andai saja tawa dan senyum itu ia tunjukan padaku juga. 

Kalian heran? Aku pun begitu. Entah apa kesalahan yang aku perbuat terhadapnya. Ia selalu berkata kasar terhadapku, mengejek bahkan menatapku dengan mata tajamnya seolah aku makhluk asing di dunia ini. Apa dia membenciku? Pertanyaan itu selalu keluar di pikiranku dan selalu ingin aku utarakan padanya, tapi tak bisa karena aku terlalu takut. Kenapa ? apa ada yang salah pada diriku. Apa karena penampilanku? Karena aku tidak se feminim permpuan lain, tapi ini nyaman untukku. Atau karena pergaulanku? Karena lebih banyak berteman dengan anak lelaki?, hey salahkan kakakku!.

“Kau kenapa?” tanya Sohyun. Ia teman sebangkuku. Teman dekat? Tidak juga. Aku berteman dengan siapa saja namun tidak begitu dekat hanya beberapa orang yang ku anggap sangat dekat. Seolah ada benteng tak kasat mata yang ku buat sehingga hanya beberapa orang yang ku ijinkan saja yang bisa melewati benteng tersebut.

“Tidak ada apa-apa” balasku.

“Ya! Kau harus ikut kali ini. Tak ada penolakan lagi” Jongdae menghampiriku. Aku memutar mata jengah. Ia salah satu sahabat kakaku. “Bukankah sudah ada Baekhyun disana” balasku. 

Plak 

Satu pukulan mendarat di kepalaku. “Ya!” aku menatap tajam siapa orang yang memukulku. “Panggil aku Oppa, tak sopan sekali kau pada kakakmu” ya orang yang memukulku ini adalah kakakku sendiri. “Ck kalian merepotkan” aku keluar dari zona nyamanku. Sohyun terkekeh melihatku. Jongdae tersenyum senang dan lupakan si bodoh Byun itu. Dasar pemaksa. Menuju pintu keluar aku mencoba melirik sedikit pada sosok pria itu namun detik berikutnya perasaan menyesal yang aku rasakan. Ia berdecak dan membuang muka. Lagi-lagi seperti ini. 

*** 

“Kau masih mengharapkannya?” pandanganku mengarah pada kakakku. “Apa terlihat jelas?” tanyaku dengan menunduk. “Mengapa tak coba mengungkapkannya saja?” tanya Jongdae.

Aku meringis “Tak perlu mengungkapkanpun aku sudah tau dia membenciku” ujarku dengan pandangan lurus ke depan. Aku merasakan tepukan pelan di punggungku dan belaian halus di kepakaku. Ya, kakakku dan Jongdae yang melakukannya.

*** 

Aku sedikit menggerutu dalam perjalanan. Buku sebanyak ini kenapa aku harus membawanya sendiri. Sial sekali nasibku. Andai saja tadi aku tidak melewati ruang guru dan bertemu dengan guru Choi hah~. Sudahlah hitung-hitung beramal saja.

Karena buku yang terlalu tinggi dan menghalangi pemandanganku membuat diriku menabrak seseorang sehingga semua buku berjatuhan. 

Aku membereskan buku-buku itu dan meminta maaf setelahnya. Tak ada jawaban maka aku memberanikan diri mengangkat wajahku. 

Deg

Kenapa harus dia.

“Disuruh begitu saja tak becus ck” ujarnya sarkastik. Tatapan tajam itu. Ya tatapan itu yang selalu ia berikan ketika berhadapan denganku.

“Aku sudah meminta maaf” ujarku.

Ia melaluiku begitu saja. Jari-jariku memegang buku dengan sangat erat. “Sebegitunya kah kau membenciku? Apa salahku?” tanyaku dengan berteriak. Aku sudah tak peduli lagi.

Ia berhenti melangkah tapi tidak berbalik. “Kau . . kau menyebalkan dan aku benci itu” ujarnya dan berlalu pergi.

Sakit tentu saja tapi aku masih bisa menahannya.

*** 

Hari ini entah angin apa kakakku yang cerewet itu meminta untuk pulang bersama. Membuat diriku berakhir menunggunya di samping pintu kelasnya.

Dahiku mengerenyit, kenapa semua orang berlarian den berkumpul di suatu titik. Setauku tak ada uji coba kebakaran bahkan aku tak merasakan gempa atau apapun. Karena rasa penasaran yang cukup tinggi aku menahan salah satu temanku “Hey, Jong ada apa?” tanyaku.

“Kau tak tahu? Kyungsoo sedang menyatakan perasaannya pada Sohyun”.

Ugh rasanya sakit.

“Kau ingin melihatnya juga, ayo” Entahlah aku tidak bisa menolak tarikan Jongin, aku tidak ingin melihat tapi aku juga penasaran, aku harus membuktikannya dengan mataku sendiri.

Disinilah aku sekarang dengan seluruh kebodohanku. Di depan sana ya disana aku melihat Kyungsoo dan Sohyun saling berhadapan. Aku seperti tidak mendengar apapun hanya bisa melihat. Dan hal terakhir yang aku lihat adalah Sohyun yang mengangguk malu dan senyum Do Kyungsoo.

Semua berteriak heboh dan tepuk tangan terkecuali diriku. Aku menunduk dan merasakan seseorang menarikku.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya, aku sangat mengenal suara ini. Tapi aku tak bisa mengangkat wajahku. Aku hanya menunduk dan menepuk dadaku berkali kali. Membuat Baekhyun menarikku ke pelukannya. Ia mengelus kepalaku.

“Rasanya sakit sekali Baek, sakit sekali tapi tak berdarah” ujarku masih dengan tatapan kosong. Dan detik berikutnya aku merasakan kristal bening itu meluncur bebas.
End.
Heol, berasa de javu buat nih cerita. Mungkin ini masih kurang feelnya. Saya akan coba lebih baik lagi. Tidak susah bukan menuliskan jejak komentar kalian (^^)

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #10

​Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joonmyeon (Suho Exo), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok (Xiumin Exo), Zhang Yixing (Lay Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Johyun (Irene Red velvet)
Chapter 10
Suara riuh para suporter bergema di seluruh penjuru aula. Namun hal tersebut tidak menghilangkan kegugupan bagi sebagian orang di tengah ruangan sana.

“Kau gugup?” tanya seorang pria yang sudah lengkap menggunakan seragam tempurnya.

“Tentu saja! Kau pikir kau tidak huh? Bahkan dari tadi aku melihatmu bolak balik ke toilet” hardik sang gadis.

“Ey, Chorong-a. Kau tau sendiri bukan jika aku gugup maka perutku menjadi bermasalah. Itu sudah menjadi ritwalku dalam bertanding” pria tersebut yang ternyata Eunkwang berujar seoalah itu adalah kebanggaan untuknya.

“Heol, terserah apa katamu” Chorong meninggalkan Eunkwang lebih dulu berjalan menuju arena.

“Ya! Kau ini. Tunggu aku” Eunkwang mengejar Chorong mensejajarkan langkahnya.

“Apa kekasihmu datang?” tanya Eunkwang menyelidik.

“Aku tak peduli” ujarnya.

“Ck, sebenarnya kalian pacaran atau tidak sih, atau jangan-jangan kau masih belum bisa move on dari dia” tebak Eunkwang.

Deg

“Kau ini cerewet sekali, satu lagi. Jangan pernah menyebutkannya lagi” mood Chorong tirun drastis akibat perkataan Eunkwang. Benarkah ia masih belum bisa melupakannya?

“Kau yang bernama Chorong?” tanya seorang wanita. Sepertinya salah satu lawan mereka nanti, melihat dari seragam yang dikenakannya itu merupakan salah satu lawan terberat mereka.

“Ya, dan ada perlu apa denganku?” 

“Hanya sekedar menyapa dan melihat seseorang yang akan ku kalahkan nanti. Ah dan semoga wajahmu nanti akan baik-baik saja” ia menepuk bahu Chorong dan melewatinya. Chorong mengerenyit. ‘Apa yang dikatakannya tadi? Kalah. Heol, tak semudah itu’.

“Hey, jaga ucapanmu! Lihat saja nanti huh!” teriak Chorong penuh emosi. Sedangkan sang objek teriakannya hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.

“Chorong-a, entah mengapa aku mempunyai firasat buruk” ujar Eunkwang.

“Ck, kau berlebihan. Ayo! Pelatih sudah menunggu. Tak akan ku maafkan dia karena meremehkanku” Chorong mengepalkan tangannya kuat.

“Semoga saja firasatku salah” Eunkwang menghela nafasanya dan berjalan mengikuti Chorong. 

Seseorang yang bersembunyi di balik salah satu lorong tersenyum menyeramkan. “Kita lihat saja Park Chorong. Ini akan menjadi tontonan yang menarik”.

***

“Apa pertandingannya masih lama Nonna?” tanya Chanyeol pada gadis di sampingnya. Ia sudah menggunakan ikat kepala dan membawa balon panjang di kedua tangannya. 

“Sepertinya sebentar lagi” Irene melihat jam tangannya. “Yeol, apa penampilanmu tak berlebihan. Ini pertandingan Taekwondo bukan bola”  ujar Irene.

“Ey, ini masih tak ada apa-apanya dibandingkan ayah dan ibuku nanti” ujar Chanyeol.

Irene mengerenyit, apa keluarga temannya ini ada yang normal. Tapi apa pedulinya itulah keunikan mereka dan Irene suka. “Lalu dimana ayah dan ibumu?” tanya Irene. 

“Mereka akan menyusul” Irene hanya mengangguk. Chanyeol mengedarkan pandanganya. “Hyung sebelah sini!” ia melambaikan tangannya. Irene melihat arah pandang Chanyeol.

“Apa belum dimulai?” tanyanya setelah berada di hadapan Irene dan Chanyeol.

“Sepertinya sebentar lagi, ah halo sunbae” sapa Chanyeol ketika melihat Xiumin. Irene pun ikut menyapa. 

“Panggil hyung saja agar akrab. Dan kai boleh memanggilku Xiumin jika mau” ujar Xiumin pada Chanyeol dan Irene. Mereka mengangguk.

“Tapi apa kalian melihat Yixing?” tanya Xiumin. 

“kami belum melihatnya” Chanyeol dan Irene menggeleng.

“Aneh sekali, bukankah dia yang lebh dulu masuk” ujar Suho. 

*** 

“Permisi permisi” seorang pria dengan bawaan yang cukup banyak berjalan melewati para penonton.

Setelah menemukan tempat yang pas ia duduk di tempat itu. “Apa pertandingannya sudah mulai?” ia bertanya pada orang di sampingnya.

Yang ditanya hanya menggeleng. 

“Baguslah. Tapi kemana Umin hyung dan Joonmyeon?” Yixing melihat sekeliling kemudian mengedikan bahu. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Bisa kalian pegang ini?” pinta Yixing. Beberapa orang yang heran dengan kelakuan Yixing hanya menurut tanpa berkata apapun. Yixing kembali mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengikatnya dikepala dengan tulisan ‘Zhang selalu mendukungmu’. Dan kembali mengeluarkan sesuatu. Ia mencoba alat itu “tes tes” dia mengangguk yakin. 

“Bentangkan!” ujar Yixing. Semua mengerenyit. “Ayo bentangkan apa yg kalian pegang” titahnya. Mereka yang dimaksud Yixing menurutinya dan terpangpanglah tulisan “Park Chorong Fighting!!!” dengan gambar Yixing membawa pom pom.

“Park Chorong Fighting!” teriaknya menggunakan toa. 

“Permisi” ujar seseorang disebelahnya.

“Apa? Kau tak lihat aku sedang sibuk. Jika ingin berkenalan nanti saja” ujar Yixing dan kembali meneriaki Chorong.

“Bukan itu” orang tersebut menahan kesal.

“Lantas apa? Menyatakan cinta? Maaf tapi aku tak suka padamu kita baru bertemu” tutur Yixing.

“Ya!” habis sudah kesabaran orang itu. “Aku hanya ingin mengatakan KAU SALAH TEMPAT, SUPORTER SEKOLAHMU DISEBRANG SANA! INI SEKOLAH LAWANMU! AISH JINJJA”. Yixing mengerejapkan matanya.

“Aish, harusnya aku sudah menduga ini. Yixing ayo, kau salah tempat. Maaf semua. Permisi permisi” Xiumin dan Suho segera membawa Yixing dari sana sebelum semua orang menyerangnya.

*** 

“Memalukan” gumam Chorong dari arah arena ketika melihat kejadian tadi.

“Hahaha Park aku kira tadi orang tuamu, ternyata kau membawa suporter baru haha” Eunkwang tertawa terpingkal.

“Berhentilah tertawa atau kau akan terkena usus buntu” hardik Chorong.

“Kalian siap? Kita akan memulainya” ujar pelatih.

“Nde~” koor semua anak.

*** 

“Haha Lay hyung kau benar-benar haha” Chanyeol menghapus air matanya, bahkan perutnya sakit menertawakan Lay.

“Dasar  bodoh” ujar Irene. Sedangkan Lay hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Giliran Chorong kapan?” tanya Suho pada Chanyeol.

“Setelah ini, aku harap dia tak akan terluka terlalu parah” Chanyeol menatap kedepan. Fokusnya hanya pada sang kakak yang sedang menunggu gilirannya di tengah sana.

“Ku harap juga begitu” namun entah mengapa Suho memiliki firasat lain dan ini terasa sangat buruk.

“Apa ayah dan ibu terlambat?” tanya nyonya Park.

“Tidak bu, nonna baru akan mulai setelah ini” ujar Chanyeol.

“Syukurlah, mari kita mulai” tuan Park mengeluarkan sesuatu. 

“Woah, ahjushi kau membawa itu juga” teriak Lay. Tuan Park melihat orang yang bicara tadi. “Kau pendukung anakku. Baiklah mari lakukan bersama” tuan park sudah membentangkan spanduk bersama Lay dan nyonya Park. Bahkan mereka mulai berteriak heboh.

Xiumin dan Suho yang melihat hanya bisa melebarkan mulutnya, “Biasakanlah, ini akan sering terjadi” Ujar Irene. “Benar bukan apa yang ku katakan tadi Nonna” Ujar Chanyeol pada irene.

*** 

Chorong mengikat kuat sabuk seragamnya. Ia berjalan menuju tengah arena. 

“Kalian Siap?” tanya sang wait.

“Kapanpun” ujar lawannya dengan angkuh.

Mereka membungkuk memberi salam dan membuat kuda-kuda. “Mulai!” ujar sang wasit.

Pukulan dan tendangan dilancarkan. Beberpa ada yang bisa di tepis ada pula yang tidak sehingga menghasilkan poin bagi keduanya.

Entah sengaja atau tidak tapi lawan dari Chorong mengenai bagian yang dilarang sehingga membuat Chorong sedikit meringis. Entah sang wasit tak melihat atau apa tapi itu tidak menjadi pelanggaran.

Serangan kembali dilayangkan pada Chorong, kali ini tendangan dan itu mengenai samping wajahnya membuat tubuhnya tersungkur dan lawan mendapatkan point.

“Ugh” Chorong kembali bangkit, ia melayangkan pukulan dan kali ini mengenai lawannya. Ia tersenyum puas point ia dapat.

Suho menyatukan kedua tangannya dan berdoa di dalam hati. Entah mengapa ia sangat gusar.

“Hyung, percayalah nonna itu kuat” Chanyeol menenangkan.

“Aku tau, hanya saja . .” 

“Argh!!!” teriak seseorang dari tengah arena. Suho membulatkan matanya. “Nonna!” teriak Chanyeol.

Chorong merintih sambil memegang kakinya. Entah apa yang terjadi tp wasit menganggap itu bukan pelanggaran. Suho semakim cemas. Lain halnya dengan seseorang di belakang sana yang sedang tersenyum puas. 

“Rasakan itu Park, Sudah ku katakan jauhi milikku atau kau tau sendiri haha”.

Suho ingin berlari kesana tapi ditahan Chanyeol. Ia menatap tajam Chanyeol seolah berkata ‘Kenapa kau menahanku?!’ namun Chanyeol menunjuk pada arena pertandingan. Suho melihat itu, Chorong kembali bangkit.

“Akan ku balas kau” gumam Chorong ketika bangkit dengan menahan rasa sakitnya.

“Wah wah, kenapa tak menyerah saja? Agar kau tak terluka huh” ejek lawannya.

“Tutup mulutmu!” Chorong mengepalkan tangannya. 

“ups maaf haha “

“Kau tak apa?” Chorong mengangguk. “Mulai”.

Kali ini Chorong tak bisa menahannya. Ia kerahkan seluruh tenaganya. Serangan pukulan dan gerkan lainnya yang ia pelajari ia lakukan. Membuat sang lawan sedikit kepayahan. Dengan sekuat tenaga ia melakukan tendangan terakhir dan . .

Buagh

Lawan tumbang dihadapannya. Tak sampai pingsan hanya tal bisa bangkit.

Wasit memberi tanda dan Chorong dinyatakn sebagai pemenangnya. “Ups maaf” ujar Chorong pada lawannya.

“Dasar tak berguna! Ayo pergi!” gadis dengan wajah oriental melempar umpatan dan pergi meninggalkan gedung diikuti beberpa bodyguardnya. Tanpa menyadaro sepasang mata malailat yang berubah menjadi iblis “Rion” ia mengepalkan tangannya.

*** 

Dengan kemenangan Chorong maka team putri dimenangkan oleh sekolahnya. Sedangkan untuk pria mereka harus puas berada di posisi ke dua.

Setelah serah terima mendali semua orang mengerubunginya.

“Nonna!!”

“Chorongie”

“Chorong-ah”

“wah wah kalian benar-benar datang?” sapa Chorong. 

“Anak ayah kau hebat sekali” Tuan park memeluk anaknya. “Akh” “Astaga maafkan ayah jika sakit. Mana yang sakit?” sang ayah memeriksa anaknya. “Haha aku tak apa appa” ujarnya bohong. 

Semua tertawa terkecuali Joonmeyon. Wajahnya sangat datar. 

“Myeonie, setidaknya katakan sesuatu” Xiumin mendorong adiknya mendekati Chorong. 

“Kau datang?” ujar Chorong. Tak ada jawaban. “Bahkan aku sudah bilang tak perlu” lanjutnya. 

“Tumben sekali kau menjadi pendiam. Baguslah” Chorong masih bersikap biasa saja.

“Apa sakit?” Suho akhirnya membuka suara.

“Apa maksudmu? Aku baik-baik .. “ tubuh Chorong sedikit oleng. Bahkan keringat sudah bercucuram di pelipisnya. Jika Suho tak menahannya maka Chorong akan jatuh bebas ke lantai.

“Kau bohong” Suho merengkuh Chorong.

“Aku hanya tak kuat lagi” 

Brugh

“Chorong!”

“Nonna!!!”

Chorong dan Suho terjatuh. Suho masih menahan tubuh Chorong sedangkan sang gadis sudah tak sadarkan diri.
To be continue . .
Huahhhh . . alur apa ini . . !!! 

Aku belum punya ide lagi. Mohon bersabar.
Tidak susah bukan meninggalkan jejak komentar dibanding membuat cerita (^^).

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #9

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Poster by erinaael.

Story is my mine. Don’t be plagiat.
Chapter 9
Kalian tau apa yang paling mengerikan untuk seorang pelajar bahkan mahasiswa sekalipun? Ya, tugas akhir, ujian dan teman-temannya. Selain menyita waktu dan tenaga ini juga sangat menyita seluruh pikiran kita.

Jika para siswa pada jam istirahat berada di kantin atau lapangan maka jika waktu ujian tiba mendadak penghuni perpustakaan bertambah. Jika siswa rajin dan kutu buku biasanya menjadi seorang yang terasingkan maka mereka mendadak menjadi populer. Bukan karena apa, hanya saja catatannya lah yang menjadi incaran.

Untuk para siswi yang biasanya berdandan maka mereka terlihat seperti zombi dengan kantung hitam pada matanya dan berjalan seperti mayat hidup karena kekurangan waktu tidur.

Untuk siswa tingkat akhir seperti Xiumin maka bebannya terasa dua kali lipat. Bukan hal yang mudah mempertaruhkan waktu tiga tahun hanya pada beberapa soal.

Chorong berjalan dengan gontai menuju bangkunya, sang sahabat memandanginya bingung.

“Ada apa denganmu?” tanyanya pada Chorong ketika gadis itu sudah berada di bangkunya.

“Aku butuh tidur, kenapa harus ada matematika sih?!” gerutunya.

“Ck, dia mulai lagi” gumam Irene.

Ya hari ini anak tingkat 2 sedang melangsungkan ujian dan sialnya itu adalah pelajaran matematika. Menghitung bukan keahlian Chorong. 

Disisi lain, Suho dan Lay sedang berjalan menuju kelas mereka. Untung saja perban di tangan Suho sudah bisa dibuka sebelum ujian dimulai.

“Xing, ku pikir kau yang paling tenang untuk ujian kali ini” Suho membuka suara, pasalnya teman disampingnya ini tidak menunjukan wajah gelisah atau frustasi seperti yang lain.

“Tidak juga, aku sudah belajar. Jika aku tak bisa maka prinsipku memilih pilihan ke 4” tutur pria berdimple itu.

“Jika 3 pilihan?” tanya Suho memasuki kelasnya disusul Lay.

“Ya pilihlah yang terakhir” Lay menggeser bangkunya dan duduk setelah meletakan tasnya.

“Jika itu semua esay?” tanya Suho yang kali ini sedang mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.

Mata Yixing terbelalak “Heol, aku tidak memikirkan hal itu” ia mengacak rambutnya frustasi. Suho yang melihat menggelengkan kepalanya. 

Yixing melihat Suho dengan puppy eyesnya. “Myeonie” panggilnya. Suho bergidik, ia merasa akan ada hal buruk. Ia berbalik pada Yixing.

“Bantu aku ya ya ya” pintanya.

“Shireo, kerjakan sendiri!” tolak Suho.

“Yak! Dasar Kim Joon Myeon si manusia pelit. Ku sumpahi kau tidak bisa bersama Chorongie!” koar Yixing dan kembali duduk di bangkunya.

“Yak!” 

Ya, seperti itulah persahabatan mereka.
*** 

sekolah terasa sangat tenang ketika para siswa mengerjakan ujian. Ada yang sangat serius mengerjakan, stes tidak bisa menjawab, mencontek bahkan yang paling pasrah dari itu semua adalah tertidur.

Guru yang mengawas terlihat sangat menyeramkan. Pandangan matanya terasa seprti elang yang mencari buruan. Jika dia sudahendapatkannya maka tamatlah riwayat kalian. Keluar kelas bukan lagi sebuah pilihan.

“Waktu kalian 5 menit lagi” ujar guru Min setelah melihat arlojinya.

Anak-anak terperangah, sebisa mungkin mereka mengisi, yang semula tertidur melihat sekeliling. Chorong salah seorang di dalam kelas itu menggaruk kepalanya frustasi. Ia baru mengisi setengahnya. Karena masalah waktu maka sisanya ia memilih jawaban terakhir.

“Kumpulkan” ujar sang guru. 

Para murid berbondong bondong menuju meja guru dan menyerahkan lembar jawaban mereka. 

“Sudah semua? Baiklah saya permisi” guru Min meninggalkan kelas setelah para murid memberi salam dan ucapan terima kasih.

Chorong langsung terkulai di mejanya. Tenaganya habis. Irene mendekatinya “Kau mau ke kantin?” tanya Irene. 

“Tidak, aku menitip saja padamu, aku ingin tidur kepalaku rasanya siap mengeluarkan asap” timpal Chorong.

“Haha kau berlebihan, baiklah tidur yang nyenyak. Tunggu aku kembali” Irene menepuk kepala Chorong. Dan dibalas Chorong dengan gumaman.
*** 

Suho, Lay serta Xiumin sedang berjalan menuju kantin. “Bagaimana ujianmu Xing?” tanya Xiumin. 

“Biasa saja hyung, yang tidak bisa aku kerjakan maka aku menghitung kancing saja” ujar Lay. Xiumin dan Suho tergelak.

“Tidak ada yang lucu kawan, kalian sangat menyebalkan” Lay berjalan lebih dulu ketika mereka sudah berada di kantin. Xiumin dan Suho masih terkikik dibelakang.

“Bibi, aku ingin jjangmyeon” pesan Lay pada bibi kantin.

“Baiklah, akan bibi tambahkan ekstra untukmu” ujar bibi kantin. “Uh, bibi jjang” Lay membuat gestur hebat dengan ibu jarinya.

“Bibi, kenapa kau memberikannya ekstra tapi aku tidak?” tanya seorang wanita di samping Lay. 

“Karena dia anak yang baik” bibi kantin membawa semangkuk jjangmyeon pada Lay. “Ini” Lay menerimanya dengan senang hati. “Terima kasih” balas Lay setelah mengambil pesanannya.

“Memangnya aku tidak baik?” tanya gadis itu memberengut.

“Kau baik Irene, tapi Lay lebih baik lagi” senyum terukir di wajah sang bibi. Lay menjulurkan lidah. Irene memberengut.

“Irene, kau sendiri?” tanya Xiumin setelah ia sampai di dekat Lay. “Bibi, aku ingin ttopoki” pesan Xiumin, bibi kantin membuat gestur ‘ok’.

“Ah, hallo sunbae” Irene memberi hormat, bagaimana pun Xiumin adalah seniornya. “Iya, aku sendiri” lanjut Irene.

“Dimana Chorong?” tanya Suho sambil melihat sekitar. Itu kata yang akan dilontarkan oleh Xiumin namun keduluan oleh sang adik. Irene terkikik.

“Sebegitu rindunyakah tuan Kim ini pada sang kekasih, padahal belum sehari” goda Irene. Lay dan Xiumin menahan tawanya.. 

“Bukan begitu” sangkal Suho.

“Lalu?” Irene masih menggodanya.

“Hanya saja tidak biasanya ia tidak berada di kantin pada jam istirahat, ya kau tau sendiri bukan. Ia mudah lapar” Irene tersenyum dengan penjelasan Suho. 

“Wah, kau sudah begitu mengenalnya ya. Chorong, ia berada di kelas, ia bilang butuh tidur, otaknya akan mengeluarkan asap jika ia tak istirahat itu yang ia bilang padaku. Ya kau tau sendiri bukan ia seperti apa soal pelajaran” jelas Irene.

“Aku setuju dengan pendapat Chorong” ujar Lay dari salah satu meja, ia sudah mendapatkan tempat. Malah dia sudah memasukan jjangmyeon ke mulutnya. Xiumin yang sudah menerima pesanannya duduk bersama Lay.

“Ck, kau sama saja. Aku akan ke kelasnya” ujar Suho. Beranjak dari kantin.

“Tunggu, bolehkah aku menitip ini pada Chorong. Dia belum makan” Irene menyerahkan sandwich dan susu pisang pada Suho.

“Tentu, terima kasih” setelah ituia benar-benar meninggalkan kantin.

“Irene, bergabunglah dengan kami” Xiumin melambaikan tangannya pada Irene. “Apa boleh sunbae?” tanya Irene. “Kenapa tidak, kemarilah” Irene segera mendekati meja mereka dan duduk di sana bersama Xiumin dan Lay.

“Apa kalian tidak keberatan jika bertambah satu orang lagi?” tanya seseorang dengan nampan di tangannya. Mereka menoleh bersama. “Eoh, Chanyeol. Tentu saja. Kenapa tidak. Ayo duduk” Chanyeol menampilkan cengirannya dan duduk di samping Irene. “Nonna, kemana Chorong nonna?” tanya Chanyeol.

“Kau tau sendiri seperti apa kakakmu jika menghadapi ujian. Ia tertidur di kelas” jawab Irene. 

“Haha pasti kapasitas otaknya overload, apa dia sudah makan? Ia belum sarapan tadi” Chanyeol sedikit khawatir.

“Tenang saja, Suho akan menemuinya dan dia sudah membawa makanan” Balas Xiumin kemudian kembali menyuapkan makanan.

“Baguslah, tak salah aku menyetujuinya” ujar Chanyeol. Ia mengambil sumpit dan menyuapkan makanan ke mulutnya. “Wah ini enak” ujar Chanyeol.

“Tentu saja. Masakan bibi kantin yang terbaik” bangga Lay.
*** 
Suho memasuki kelas Chorong, sebagian siswi terpana sebagian siswa menghindar dan sisanya setelah kaget kembali melanjutkan aktifitasnya. Ia menghampiri bangku dimana gadisnya sedang tertidur dengan sebelah tangannya sebagai bantalan. Suho tersenyum dan duduk di depan bangku Chorong. Namun posisinya mengadap pada Chorong. Ia memegang salah satu jemari Chorong.

“Aku masih ingin tidur Irene” balasnya tanpa berkeinginan mengangkat kepalanya.

“Sebegitu mengantuknya kah kau?” suara itu bukan Irene. Chorong mengenalinya. Itu suara pria menyebalkan yang mengganggu waktu istirahatnya. Ia menegakan tubuhnya.

“Pergilah Kim, aku ingin istirahat” usir Chorong. 

“Jika ingin tidur di rumah bukan di sekolah. Apa matematika sangat menyita otakmu” ejek Suho.

“Ck, berhetilah mengejekku. Kau pikir siapa yang mengganggu waktu istirahatku setiap malam hanya untuk menyuruhku belajar huh?” wajahnya penuh emosi.

“Itu juga untuk kebaikanmu” balas Suho dengan tenang.

“Kebaikan kepalamu, kebahagian untukmu siksaan untukku” serapah Chorong.

“Haha kau berlebihan” inilah hobi Suho yang lain, menggoda Chorong.

“Pergilah Kim, aku ingin tidur. Masih ada waktu sebelum ujian berikutnya” Chorong bersiap meletakan kepalanya di meja lagi namun Suho menahannya.

“Makanlah dulu, ini titipan Irene. Kau belum makan bukan?” Suho menyerahkan sandwich dan susu pisang tadi. Seketika mata Chorong berbinar.

“Terima kasih” Chorong mengambil sandwich dan segera memakannya. Cacing di perutnya sudah berorcestra. Suho mengangguk.

“Makanlah perlahan, kau seperti tidak makan sebulan” ejek Suho.

“akhu suhduah luapar (aku sudah lapar)” ujarnya dengan mulut penuh.

“Telan dulu, kau ini. Dasar jorok” Chorong tak peduli. Sandwich lebih penting dari pada Suho.

“Kau mau?” tawar Chorong. 

“Tidak usah, ku pikir itu pun tak cukup untukmu” ujar Suho. Chorong hanya menyengir.

“Kapan pertandinganmu?” tanya Suho setelah Chorong selesai menghabiskan sandwichnya. 

“Dua hari setelah ujaian selesai. Memangnya kenapa?” Chorong meminum susunya.

“Tidak apa, aku akan melihat” ujar Suho.

Uhuk

Chorong tersedak susu bahkan sebagian ada yang keluar. Ia menepuk nepuk dadanya. Suho membantu menepuk punggungnya. “Kau tak apa?” tanya Suho khawatir.

Chorong sudah sedikit lebih baik “Aku baik, dan untuk pertandingan. Kau tak perlu datang”.

“Aku tak perduli pendapatmu, aku tetap akan melihat” 

“Yak!” 

“Lalala aku tak dengar” Suho menutup telinganya.

“Dasar Kim menyebalkan!” 

“Berhenti menggerutu Park!”

Tanpa mereka sadari. Mereka sudah menjadi perhatian bagi orang-orang di lelas Chorong. Dan tanpa mereka duga. Ada seseorang yang sedang tersulut emosi.
To be continue . .
Bukan hal susah kan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #8

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok / Xiumin, Zhang Yixing / Lay, Park Chanyeol – (EXO)

Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Chapter 8
Yixing termenung di pinggir trotoar ketika Xiumin dan Suho menghampirinya.

“Yixing” panggil pemuda yang lebih tua.

Reflex tubuh Yixing berbalik, liquid bening hampir saja keluar dari kedua matanya. “Hyung . . “ Yixing segera berlari menghampiri kedua kakak beradik Kim dengan merentangkan kedua tangannya. Rasa gembira bisa bertemu dengan mereka tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Sampai di hadapan Xiumin ia segera memeluk pria dengan pipi bakpau tersebut. “Hyung, aku merindukanmu. Terima kasih telah menemukanku” girangnya memeluk Xiumin dengan melompat-lompat bak bocah yang bertemu lagi dengan teman lamanya.

“Uhuk, Ching lepas, aku tak bisa bernafas” Gumam Xiumin.

“AH, maaf” Yixing melepaskan pelukannya dan tersenyum sambil menggaruk tengkuknya.

“Rindu kepalamu, kau hanya berpisah dari kami sekitar 4 jam Xing” Gerutu seseorang di samping Xiumin.

“Omo, Myeon! Aku juga merindukanmu” Yixing bersiap memeluk Suho, namuan niatnya tertahan oleh perintah Suho.

“Kau tak lihat lenganku!” bentak Suho.

“Astaga apa yang terjadi?” kaget Yixing. 

Suho memutar bola matanya “Kau lupa kenapa aku menyuruhmu untuk mengambil motorku?”.

Yixing berpikir sejenak “Ah Ya! (Ia menepuk lengannya seperti teringat akan sesuatu). Maaf aku lupa. Lalu bagaimana dengan Chorong?” tanya Yixing.

“Ia baik” balas Suho.

“Cha . . ceritanya dirumah saja, hari semakin larut” Xiumin memberi saran dan menyuruh salah satu pegawainnya untuk membawakan motor Suho.

“Benar, ceritannya di rumah saja. Perutku sudah minta diisi. Go go go kita pulang!” Yixing dengan penuh semangat berjalan mendahului kedua kakak beradik itu. Di pertigaan ia dengan semangat berbelok ke kiri sambil berseru “Ayo pulang, ayo pulang!”.

“Yixing, kanan!” teriak Xiumin.

Dengan secepat kilat ia berbelok lagi ke arah kanan masih dengan berseru “Ayo pulang!”.

Xiumin menggelengkan kepalanya. Suho menghela nafas. ‘ Kapan temannya ini normal’ pinta mereka dalam hati.

***

Koridor sekolah sudah dipadati beberapa siswa. Termasuk Chorong dan Irene yang Sedang menuju kelas mereka. Namun seseorang menghalangi langkah keduanya.

Irene memandangnya jengah, Chorong bahkan sudah berwajah datar. “Ada apa lagi?” Tanya Chorong pada orang tersebut.

“Urusan kita belum selesai!” Ujarnya lantang. Membuat mereka menjadi pusat perhatiaan. Chorong benci ini. ia menghela nafas. Baru saja Irene akan membalas anak itu namuan Chorong sudah lebih dulu maju menghampiri gadis keturunan Jepang tersebut. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya.

“Aku tau, kemarin juga perbuatanmu. Jika kau melakukankan hal yang lebih jauh dari kemarin. Maka tamatlah riwayatmu” bisik Chorong di telinga Rion. Sang gadis keturunan Jepang itu sedikit membola. Chorong menepuk pundaknya dan melewatinya. Irene berlalu melewatinya untuk menyusul Chorong.

Rion masih membeku. Semua orang kembali pada aktifitasnya. Tanpa Rion sadari seseorang mendekatinya. Ia mengangkat wajahnya “Oppa” ujarnya.

“Berhenti melakukan hal yang aneh-aneh atau kau akan tau akibatnya” Ujar Suho kemudian meninggalkannya. Ya, Suho melihat kejadian tadi.

“Chorongie~” panggil Suho. 

Bulu kuduk Chorong meremang. Panggilan macam apa itu. Batinnya. Ia melihat kebelakang. 

Disana. Beberapa meter dari tempatnya ia melihat pria yang sangat menyebalkan menurutnya sedang tersenyum bodoh dan menghampirinya. Bola matanya berputar jengah. 

“Maaf Bae, sepertinya aku harus pergi lebih dulu. Sampai bertemu dikelas bye” dan Chorong pun berlari.

“Yak!” teriak Irene.

“YAK! PARK CHORONG TUNGGU!” teriak Suho dengan mengejar Chorong.

“Tidak mau!” teriak Chorong masih dengan berlari.

Irene sedikit bingung dengan keadaan Suho yang menopang sebelah tangannya. Namun ia tidak terlalu peduli. Dan kembali berjalan menuju kelasnya.

Disisi lain, Rion masih di tempatnya melihat kejadian itu. “Awas saja kau Chorong” tangannya mengepal erat.

*** 

“Akan ku hajar pria Kim itu!” gerutu Chorong setelah mendudukan dirinya di bangku kantin. Chanyeol dan Irene dibuat melongo.

“ Ku kira kakakmu tersambet sesuatu” Ujar Irene pada Chanyeol. 

“Kurasa juga begitu nonna” Chanyeol mengangguk setuju dengan pendapat Irene.

“Yak! Kalian ini aish” sungut Chorong.

“Habisnya baru datang sudah menggerutu, ada apa?” pandangan Chanyeol menatap Chorong namun lengannya mengambil sesuatu di atas meja. Dengan gerakan kilat Chorong lebih dulu meraih benda yang diinginkan Chanyeol dan menghabiskannya secara rakus.

“ITU MILIKU!” geram Chanyeol, namun itu sia sia karena yang diletakan Chorong di atas meja tinggalah gelas kosong. Setelah itu Chorong melirik Chanyeol tajam.

Glek

“Jika kau masih haus akan ku belikan lagi” tawar Chanyeol ciut setelah melihat pandangan sang kakak.

Baru saja akan beranjak Chorong sudah mencegahnya “Tak perlu” dan Chanyeol mendudukan kembali dirinya.

“Ada apa ? cepat katakan” titah Irene.

Chorong mengambil nafas sejenak, “Kau tau? Dengan tidak biadabnya Kim Suho mengesalkan itu memeberiku tumpukan soal yang perlu dikerjakan, belum lagi tadi ia sengaja datang menemuiku untuk menyerahkan semua buku ini” tunjuk Chorong pada beberapa tumpukan buku diatas meja.

“Hanya karena itu? Heol ku kira ada apa” sesal Irene.

“Ish, aku rugi membiarkan minumanku diminum olehmu” kali ini Chanyeol yang mengeluh.

“Yak ! hari ini aku juga ada latihan untuk kejuaraan, belum lagi ada hal penting yang harus ku kerjakan lainnya” tutur Chorong yang tak terima dengan pendapat kedua mahluk dihadapannya ini.

“Memangnya apa?” tanya Chanyeol sedikit penasaran.

“Tentu saja bermain game!” ujar Chorong percaya diri.

“Heol, rugi aku bertanya padamu nonna” Chanyeol memutar bola matanya jengah.

“Aku bersukur Suho memberimu banyak tugas, setidaknya otakmu itu perlu diisi sedikit nutrisi bukan hanya game dan berkelahi” nasehat Irene.

“Kau itu temanku bukan sih, kenapa tak pernah membelaku?” Tanya Chorong.

“Sayangnya, aku harus mengaku benar” balas Irene datar.

“Yak!”

*** 

Bulir peluh mengalir di pinggiran wajah Chorong. Dengan mengenakan seragam putih itu ia melihat targetnya dengan pasti dan “Yak!” buk. Tendangannya mengenai target.

“Bagus Chorong, sebentar lagi turnamen, jagalah kesehatanmu” ujar sang pelatih. Chorong membungkuk hormat “Baiklah Seosangnim”.

“Cha, semua! Cukup untuk hari ini. berisitirahatlah” ujar sang pelatih.

“Nde, kamsahamida” ujar para murid serempak. Setelah sang pelatih undur diri semua berpencar.

“Rong-ah, pacarmu sudah menunggu tuh” ujar Eungkwang.

“Apa maksu . .” namun ucapannya terhenti ketika matanya melihat gambaran mahluk yang membuatnya kesal tadi siang.

Chorong merajut langkahnya sedikit cepat menuju sang pria. “Aigo, sebegitu rindunya kah ia, padahal belum sehari, andai saja ku punya kekasih hahh” ujar Eunkwang.

“Ada apa kau kemari?” Tanya Chorong ketika langkahnya terhenti setelah berhadapan dengan sang pria.

“Tentu saja menunggumu, kau lupa jika hari ini aku harus mengajarimu” ujar Suho.

“Tapi aku sangat lelah” melas Chorong.

“Tak ada bantahan, kau tak ingin nilamu naik” ujar Suho.

“Ish, kau ini menyebalkan” Chorong berbalik meninggalkan Suho dengan menghentakan langkahnya. “Ku harap lengannya akan seperti itu terus” gerutu Chorong.

“AKU MENDENGARMU PARK CHORONG!!” teriak Suho. Chorong yang mendengar itu mempercepat langkahnya menjadi berlari. “Dasar” ujar Suho tersenyum.

*** 

“Kenapa dirumahku sih?” Tanya Chorong ketika mereka sudah memasuki bis. “Kenapa tidak boleh? Apa kau menyembunyikan sesuatu?” selidik Suho. 

“Ta tak ada yang aku sembunyikan, lagi pula orang tuaku tidak mungkin . .” “ mereka sudah mengijinkan” perkataan Chorong terpotong oleh Suho. 

“Apa? Mana mungikn” 

“Tak percaya? Coba saja hubungi Chanyeol atau orang tuamu” ujar Suho.

“Baiklah” Chorong mengambil sesuatu dari saku seragamnya. Tak butuh waktu lama ia sudah terhubung dengan seseorang.

“Ibu” ujarnya

“Ah, Rong-ah. Kau tau apa makanan kesukaan Suho? Ku dengar dia akan berkunjung. Aku akan menyiapkan cemilan untuk kalian. Ku dengar dia akan mengajarimu, wah tak kusangka ia murah hati ingin mengajarimu yang bebal ini”

‘murah hati apanya’  pikir Chorong.

“Ibu!”

“Cepatlah sampai, dan hati-hati di jalan, bye” dan sambunganpun terputus.

“Apa katanya?” Tanya Suho.

“Tak ada” ujar Chorong, Suho yang melihat ekspresi Chorong saat ini terkekeh. “Jangan tertawa” ancam Chorong. 

“Aku tidak” sangkal Suho.

“Kau iya” ujar Chorong. “Lagi pula kenapa kau mau naik bis?” Tanya Chorong.

“Hai gadis barbar, apa kau lupa dengan kondis tanganku” ujar Suho menunjukan lengannya yang masih terbalut perban.

“Ups, maaf aku lupa. Kenapa tak menyuruh sopirmu atau pegawaimu yang lain untuk mengantar kita?” Tanya Chorong.

“Kenapa? Kau tak mau naik bis?” Tanya Suho menyelidik.

“Tidak, aku sudah terbiasa dengan ini, hanya saja . .” ujar Chorong menggantung.

“Hanya saja apa?” Tanya Suho.

“Ku kira kau bangkrut haha” ujar Chorong.

“Heol, tak mungkin seorang Kim Suho bangkrut!” ujar Suho.

“Nde nde, tuan muda Suho saya paham” balas Chorong.

“Bagusalah jika kau paham” 

“Dasar Sombong” gumam Chorong.

“Aku mendengarmu Park” ujar Suho dan Chorong hanya menampilkan senyuman bodohnya.

*** 

“Ini masih salah, kerjakan lagi” titah Suho.

“AISH” Chorong merebut kembali catatannya.

Tok tok 

“Ya” Ujar keduanya.

“Maaf jika ibu mengganggu, ini cemilan untuk kalian. Selamat belajar” Nyonya Park meletakan nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa makanan ringan.’

“Terima kasih Bi” ujar Suho membungkuk.

“Tak perlu sungkan, silahkan kalian lanjutkan belajarnya. Ibu tak kan mengganggu kalian” nyonya Park kembali menutup pintu kamar Chorong. Suho kembali duduk.

“Myeonnie . . aku lelah” ujar Chorong. Oh Suho tau rengekan ini, jika Chorong sudah memanggilnya seperti ini pasti ada maunya.

“Kerjakan sebisamu, ujian sebentar lagi. Jika ada yang tidak kau mengerti baru kau bertanya. Cha kerjakan” Suho menggerakan kepala Chorong menuju lembaran Soal di meja.

“Dasar kejam” gerutu Chorong. Namun Suho tak peduli ia lebih memilih membaca buku yang berada di sebelah tangan kirinya.

Suho meletakkan bukunya “Kau sudah . .” perkataannya terhenti ketika melihat Chorong sudah terlelap menuju alam mimpinya. Suho menghela nafas “Ia benar-benar kelelahan” Suho membenarkan rambut Chorong dan tersenyum. ia beranjak dari tempatnya menuju ranjang Chorong. Dan kembali membawa sebuah selimut di tangannya. Dengan usaha semampunya ia menyelimuti Chorong.

“Kau sudah berusaha” Ia mengelus pelan kepala Chorong membuat sang gadis bergerak sedikit dalam tidurnya. Suho melihat interior kamar Chorong. Ia tak menyadarinya ketika masuk pertama kali. Kamar Chorong tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Dalam kamarnya tergantung sebuah samsak dan berjejer beberapa koleksi manga serta kaset video game. Suho menjelajahi isi kamar Chorong. Ia menjelajahi salah satu rak yang menyimpan kaset game milik Chorong. Ia mengambil salah satunya. Namun selembar kertas terjatuh dari situ.

Suho mengambilnya, ternyata sebuah Foto. Ia melihatnya secara seksama. Di foto itu terdapat Chorong dan seorang pria sedang tersenyum. Dia tidak mengenali pria ini, ini bukan Chanyeol. Lalu siapa pria ini?

Tbc

Whai para reader jujurlah kalian, apa kalian lebih menunggu part Yixing dibanding Chorong dan Suho sang pemeran utama? Haha . .

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, semoga saya bisa cepat update lagi.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo chapter 14

I Live With Satan Soo

Evina93 @2015-2017

Chapter / PG 16

Romance, Comedy.

Shin Mingi (Oc), Do Kyungsoo (EXO), Kim Seokjin (BTS), Bang Minah (GDay)

Alur cerita mungkin pasaran, don’t be plagiat, typo masih bertebaran, biasakanlah meninggalkan komentar setelah membaca.

Chapter 14
Tubuhnya memang berada di tempat ini namun pikirannya sedang melanglang buana. Itulah keadaan Mingi saat ini. Suara gaduh para pengunjung cafe, alunan musik dan perdebatan kedua pria di hadapannya ini seolah tak terdengar oleh sepasang telinganya.

Dalam pikirannya masih berkelebat bayangan Kyungsoo dan Minah sedang berciuman. Mingi tak mungkin seperti ini jika ia tidak menyukai Kyungsoo, walau hatinya selalu menyangkal hal itu tapi entah mengapa kali ini hatinya bagai di rujam oleh ribuan belati.

“Hey hitam! Ide itu sudah pasaran, coba yang lain” ujar pria tinggi dengan kulit putihnya.

“YA! Albino. Kau hanya berkomentar terus tanpa mengeluarkan pendapat, namun setiap aku mengeluarkan pendapat kau selalu menyangkalnya, aish” Jongin sang pria yang di panggil dengan sebutan hitam itu mendengus frutasi. Sudah satu jam mereka berada disini namun masih belum mendapatkan kesepakatan tentang tema yang akan mereka angkat untuk tugas kelompok kali ini.

“Bagaimana jika kita tanya saja pendapat Mingi, jadi bagaimana pendapatmu?” atensi keduanya beralih pada sosok wanita di hadapan mereka yang sedang memandang kosong.

“Mingi, Shin Mingi, Do Mingi” panggil Sehun berulang, namun tak ada sahutan dari Mingi.

“YA MINGI!” teriak Jongin frustasi. 

“Ah, apa?” akhirnya sang wanita menanggapinya. Namun Sehun berulang kali membungkuk minta maaf karena semua pengunjung sedang melihat mereka.

“Ck, bagaimana pendapatmu?” tanya Jongin kemudian.

“Soal apa?” tanya Mingi dengan pandangan bingungnya. Dan keduanya hanya bisa menghela nafas. 

*** 

Kyungsoo mencari keberadaan Sehun ketika ia sudah memasuki kedai. Kakinya bergerak mendekati tempat dimana orang yang dicarinya berada.

“Maaf, membuatmu menunggu, ada apa kau ingin bertemu denganku?” Kyungsoo mendudukan tubuhnya pada salah satu kursi dihadapan Sehun.

“Aku juga baru tiba tenang saja hyung” ujar Sehun. Seorang pelayan mendatangi mereka dengan memberikan air minum. Setelah selesai dengan pesanan mereka dan sang pelayan kembali ke tempatnya untuk membuat pesanan, maka focus Kyungsoo kembali pada Sehun.

“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?” Kyungsoo menuangkan air ke dalam gelasnya.

“Tadi siang aku, Jongin dan Mingi mendatangi tempatmu dan Mingi bekerja” tutur Sehun. Pergerakan Kyungsoo terhenti beberapa detik, “Benarkah?” dan dijawab oleh pria bermarga Oh itu dengan anggukan.

“Hyung, jujur saja. Aku sudah menganggap Mingi sebagai saudaraku sendiri. Walau ia tak berkata apa-apa sedari tadi namun aku tau ia merahasiakan sesuatu” ujar Sehun serius.

“Apa maksudmu?” Kening Kyungsoo berkereut.

Sehun menghela nafas “Mingi melihatmu sedang berciuman dengan Minah” tutur Sehun final.

Kyungsoo membola, terkejut ? tentu saja. 

“Mingi seharian ini tidak focus hyung, bahkan ketika kami mengerjakan tugas ia terus saja melamun. Tadi saja ia bersikeras ingin pulang sendiri. Namun aku dan Jongin melarangnya. Apa jadinya jika ia pulang sendiri dan terus melamun” cerita Sehun.

“Lalu?” ada gurat khawatir di wajah Kyungsoo.

“Tenang saja, aku sudah menyuruh si hitam mengantarnya karena aku harus menemuimu. Jangan cemburu pada Jongin!” kalimat terakhir dikeluarkan dengan penuh penekanan oleh Sehun setelah melihat raut cemburu Kyungsoo keluar tadi. Heol, bisa panjang urusannya jika Satan Soo mengamuk.

“Aku tidak cemburu!” dengus Kyungsoo.

“Cih, dengar hyung. Aku memang lebih muda diantara kalian. Namun ku mohon renungkanlah perkataanku ini baik-baik. Jika kau benar-benar menyukai bahkan mencintai Mingi maka pertahankah dan perjuangkanlah. Jangan pernah menyakitinya. Kau tau sendiri bukan bagaimana menyakitkannya itu”.

“Eum, aku tau itu” ujar Kyungsoo dan menegak minumannya.

*** 

Daun pintu itu terbuka dan masuklah Kyungsoo ke dalamnya. Jam sudah menenjukan pukul 11.30 malam ketika ia memasuki apartemnnya.

Hening.

Itulah yang ia rasakan, dahinya mengerenyit. Biasanya pada waktu ini Mingi masih duduk manis di depan televisi menyaksikan drama favoritnya. Lalu kemana anak itu?.

Ia merajut langkahnya menuju salah satu pintu yang sedikit terbuka. Kepalanya ia sembulkan kedalam. Sosok yang ia cari sedang tertidur di atas meja belajarnya. Tumpukan buku masih berserakan di sekitarnya. Sepertinya ia kelelahan ketika mengerjakan tugas.

Kyungsoo mendekatinya. Merapikan rambut Mingi dan menyelipkan di belakang telinga sang wanita. Wajah lelapnya seolah menghipnotis seorang Do Kyungsoo. 

Kyungsoo menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum. Ia meletakan ranselnya di atas meja belajar Mingi. Lalu membawa tubuh Mingi ke tempat tidurnya.

Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Mingi. Namun kedua retinanya terpaku ketika melihat Kristal bening itu keluar dari sudut mata Mingi.

Sebelah tanganannya ia gerkan menuju wajah Mingi, ibu jarinya menghapus Kristal bening itu kemudian ia berbisik “Maafkan aku” dan mencium kening Mingi.

*** 

Mentari sudah berada di peraduannya, bahkan sang cahaya sudah menerobos masuk diantara gorden yang tertutup itu. Burung-burung sudah melantunkan nyanyian merdunya.

Sang wanita menggeliat dalam tidurnya. Ia ingin membuka kedua kelopak matanya namun kenyamanan ini membuatnya tak ingin terbangun. Ia lebih mengeratkan lagi pelukannya dan wajahnya kembali mengusak pada sebuah dada bidang.

Sebuah kekehan terdengar di panca indra Mingi.

Tunggu, dada, pelukan? Dan sepertinya ia merasa seseorang juga memeluknya. Mau tak mau kedua kelopak matanya terbuka dengan cepat. Hal pertama yang ia lihat adalah dada seorang Pria. Dahinya mengerenyit. Seingatnya semalam ia sedang mengerjakan tugas 

Dengan keyakinan yang ia bangun secara mendadak, ia mencoba melihat ke atas. 

Glek

Kedua matanya memantulkan sosok seorang pria tampan, tidak. Pria manis, tidak. Lebih tepatnya iblis yang sedang menyeringai.

“Sudah bangun hum?” tanya sang pria.

“Kyaaa!!” Buk. Reflex Mingi mengambil bantal dan memukulkannya ke wajah Kyungsoo. Bukan hanya itu, bahkan ia menendang Kyungsoo hingga terjatuh.

“YAK!” teriak Kyungsoo dari bawah tempat tidur.

Yang diteriaki malah memeluk tubuhnya sendiri. “Kau! apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kenapa kau tidur disini?” tanya Mingi menyelidik.

Kyungsoo menarik sebelah sudut bibirnya menampilkan sebuah Smirk, sebuah ide terlintas dipikirannya.

“Astaga, kau tak ingat tentang semalam? Aku kecewa” ujar Kyungsoo membuat Mingi membulatkan tatapnnya.

Dalam hati Kyungsoo bersorak bahagia, Mingi termakan umpannya. Uh lihat betapa menggemaskannya wajah wanita di hadapnnya ini. inilah salah satu hal yang membuat Kyungsoo sangat senang menjahili Mingi.

“Tunggu, memangnya apa yang kita lakukan kenapa aku tak ingat” Mingi memegang kepalanya dan meremas rambutnya.

“Hahahaha” gelak tawa itu keluar dari Kyungsoo.

Mingi menyipitkan kedua matanya memandang Kyungsoo. “YAK! DO KYUNGSOO KAU MENGERJAIKU YA?!!”.

“HAHAHA . . Habisnya wajahmu sangat lucu tadi” Kyungsoo memegang perutnya.

“Ish, kemari kau!” Mingi membawa sebuah bantal di tangannya bersiap untuk menghajar Kyungsoo. Namun Kyungsoo sudah lebih dulu berlari. 

“Kejar saja jika kau bisa wek” Kyungsoo menjulurkan lidahnya dan menghindari Mingi. Maka pagi hari ini di apartemen mereka diisi oleh aksi saling kejar – kejaran antar sepasang suami istri ini. Apa kalian tidak ingat umur dan status kailan?

Tbc

Holla, akhirnya saya meneruskan cerita ini. baru nyadar nih cerita udah 2 th dan belum selesai haha . .

Yang menunggu cerita ini terima kasih atas kesabaran kalian (Bungkuk), semoga saya bisa cepat update lagi . .

Posted in Uncategorized

Minor Feeling

Minor Feeling

Evina93/Oneshoot/PG-15

Romance, comedy.

Kim Jongdae & Son Seungwan
Langkah Seungwan semakin cepat ketika menemukan targetnya, jangan lupakan gerutuan sepanjang jalannya.

“Kim Jongdae!” panggilnya pada segerombolan pria yang sedang berkumpul.

Merasa ada yang memanggil Jongdae segera mengalihkan atensinya. Matanya berbinar senang ketika mengetahui sang pemanggil.

“Seungwan? Ada apa? Oh jgn bilang kau rindu padaku. Aku juga merindukanmu” ia berkata dengan penuh percaya diri.

“Dalam mimpimu!” ketus Seungwan.

“Aku memang selalu memimpikanmu” Senyum Jongdae.

“Jangan membuatku ingin muntah, kau! Kenapa kau yang menjadi pasangan duetku!” kesal Seungwan.

“Aku hanya dipinta oleh guru Shim, memang kenapa? Kau tak mau?” tanya Jongdae.

“Berdiri di dekatmu saja aku jengah apalagi satu stage denganmu” Jongdae hanya bisa tertunduk. “Baiklah, aku akan berkata pada guru Shim agar seseorang menggantikanku” ujarnya dengan mimik sendu.

“Baguslah jika kau tau” Seungwan berkata sombong.

“Hanya dalam mimpimu Son Seungwan haha” lanjut Jongdae.

“Yak!” 

“Aigo, kau marah. Sangat lucu sekali” Jongdae mencubit kedua pipi Seungwan.

“Leupeuskeaun Jounhdue!” gumam Seungwan aneh.

###

Hari ini Seungwan sangat senang, pasalnya ia baru saja diberi tahu jika ia lolos lomba menyanyi ke tahap selanjutnya.

Pluk

Sebuah lengan melingkar di pundaknya. “Wah, kau kelihatan sangay senang. Apa karena kau melihatku?” tanya pria di samping Seungwan. Mata Seungwan berkilat tajam. “Singkirkan tanganmu Kim Jongdae!” ujarnya rendah dengan penuh penekanan.

Jongdae menggeleng. “Yak!” Jongdae malah semakin erat memeluk lehernya membuat Seungwan menjadi lebih dekat dengannya.

“Aku membencimu!” ujar Seungwan.

“Sama-sama, aku juga menyukaimu” Ujar Jongdae.

“Telingamu bermasalah!” bentak Seungwan namun entah mengapa wajahnya sedikit memerah.

##

Jongdae belakangan ini selalu saja uring-uringan. Biasnya ia selalu mengerjai Seungwan dimanapun dan kapanmu, namun beberpa hari terakhir ini ia tak pernah melihat Seungwan, jika bertanya pada Seulgi maka jawaban yang ia dapat “Seungwan sedang sibuk berlatih”. Jongdae rasanya ingin berlari menuju ruang musik untuk menemui Seungwan. Tapi di sisi lain ia tak ingin mengganggu.

“Argggh, aku tak tahan lagi!!!!” ujarnya frustasi.

“Jika rindu padanya maka temuilah, bukannya berteriak di dekatku” ujar teman mata belonya. Jongdae hanya mencibir.

“Dae-ya tadi aku melihat Seungwan sedang bicara akrab sekali dengan pria tinggi di depan ruang musik” lapor salah satu temannya yang baru saja masuk dengan sekotak susu stowbery di gengamannya.

“Apa?!” Tanpa pikir panjang Jongdae segera berlari menuju ruang musik.

“Apa benar begitu Baek?” tanya Kyungsoo setelah Jongdae tak terlihat lagi. Bekhyun mendekati Kyungsoo sambil menyeruput minumannya.

“Sebenarnya ia hanya sedang berdiskusi dengan Chanyeol haha” Kyungsoo hanya menggeleng melihat kelakuan Baekhyun.

Jongdae memperlambat langkahnya ketika melihat Seungwan. “Baekhyun bilang Seungwan dengan pria tinggi, tapi itu kan Chanyeol. Apa Baek menipuku” gumamnya dengan dahi mengerenyit.

“Seungwan” panggilnya. Gadis dan pria tinggi yang ternyata Chanyeol itu menoleh.

“Ada apa kau kemari?” ujar Seungwan mengerenyit.

“Yo!” Sapa Chanyeol.

“Kalian sedang apa?” tanya Jongdae.

“Berdiskusi untuk tugas musikalisasi kami. Aku dan Chanyeol satu kelompok ah Baekhyun juga. Tunggu kenapa aku harus menjelaskan padamu” Seungwan berpikir sejenak.

“Tapi Baekhyun bilang . .” Jongdae meminta penjelasan pada Chanyeol.

“Ah, Sepertinya kau dikerjai. Lagi pula aku tak akan merebutnya” bisik Chanyeol di akhir kalimat pada Jongdae.

“Yak! BYUN!!!!” Lengkingan nada tinggi terdengar di sepanjang koridor. 

##

Setelah bermain basket dengan teman-temannya Jongdae merasa sangat kehausan. Ia berjalan menuju mesin penjual minuman otomatis. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang sangat dikenalnya sedang tersenyum pada seorang pria. senyum yang jarang malah tidak pernah ditunjukan untuknya. Tubuhnya seolah kaku, dadanya tetasa sesak, apalagi ketika pria itu mengelus surai kecoklatan sang gadis.

Ia berbalik, melangkah menjauh dengan hati yang penuh goresan.

“Kawan-kawan aku pulang duluan” pamitnya. 

“Loh sudah mau pulang?” tanya Chanyeol. Jongdae hanya memberi isarat lambaian tangan.

“Ada apa dengannya?” teman-temannya terheran.

Ketika akan melewati gerbang ia berpapasan dengan Seungwan. Tak seperti biasanya Jongdae hanya berjalan lurus dan mengabaikan Seungwan. Merasa ada yang aneh Seungwan berbalik melihat punggung Jongdae. Alisnya menyatu. “Kim Jongdae!” panggilnya. Tidak bebalik dan tak ada tanggapan. Jongdae terus saja berjalan tak peduli apapun.

Seungwan bergerak cepat ia menahan lengan Jongdae, membuatnya berpaling melihat Seungwan. Bukan tatapan seperti biasanya dan Seungwan sadar itu. “Kau kenapa?” tanyanya.

“Bukan urusanmu” kata-katanya singkat namun terdengar sangat dingin dan tatapan itu Seungwan tak paham. Jongdae melepaskan genggaman Seungwan pada lengannya dan kembali melangkah.

##

Sudah beberapa hari ini Jongdae menghindari Seungwan, dan Seungwan sadar itu. Dan puncaknya tadi, Jongdae tak ingin satu stage dengannya. Harusnya Seungwan senang, tapi ini sangat mengejutkan seperti bukan Jongdae. Akhirnya Seungwan memutuskan untuk menemui Jongdae yang belakangan ini ia ketahui sering mengunjungi atap sekolah.

“Kim Jongdae!” panggilnya. Namun Jongdae hanya melirik malas. Seungwan kaget melihat reaksi Jongdae. “Yak! Kau ini kenapa huh?” tanya Seungwan. 

“Apa pedulimu” Ujar Jongdae dingin.

“Ya! Kau ini aneh sekali” amarah dalam diri Seungwan tersulut.

“Kau yang aneh, sudah memiliki kekasih untuk apa peduli padaku!” Ujarnya tanpa melihat Seungwan.

Seungwan mengerenyit “Aku tak mengerti maksudmu?”.

“Ya kau memang tak pernah mengerti, bahkan setelah sekian lama aku menunjukannya padamu kau tak pernah peduli!” ujarnya emosi.

“K kau menyukaiku? Sejak kapan?” tanya Seungwan, bahkan jantungnya bekerja lebih cepat.

“Setiap kali aku selalu mengatakannya padamu” Jongdae kali ini mentap Seungwan.

“Ku pikir itu hanya bercanda” gumam Seungwan.

“Jadi selama ini kau anggap aku bergurau?” ujar Jongdae.

“Kau tak pernah serius!” bela Seungwan.

“Ck, sudahlah. Lagi pula ini tak penting lagi” Jongdae berbalik meninggalkan Seungwan.

“Lalu bagaimana jika aku juga menyukaimu” suara Seungwan mengalun di telingnya. Tak percaya ia berbalik. “Jangan bercanda!” ujar Jongdae, ia tak percaya apa yang ia dengar tadi.

“Apa wajahku terlihat bercanda?” Jongdae menggeleng. Seungwan tersenyum. “Jadi apa kau masih menyukaiku?” tanya Seungwan. Jongdae mengangguk “Tapi kekasihmu”.

“Jika yang kau maksud pria dengan wajah campuran itu maka jawabanku adalah ia sepupuku. Lagi pula aku tak memiliki kekasih” Seungwan tersipu di akhir kalimatnya. Senyum Jongdae merekah.

“Son Seungwan aku menyukaimu!!” ujarnya dan memeluk Seungwan. Seungwan tersenyum dan membalas pelukannya.

##

“Jadi kau sudah lama menyukaiku?” Seungwan kembali bertanya. Mereka sedang duduk berdua di taman belakang.

“Ya” Jongdae memaikan rambutnya. Entahlah tapi sekilas smirk terlihat di wajah Seungwan.

“Kalau begitu pilih, aku atau bebek karetmu?” Seungwan menatapnya.

“Apa harus itu?” Seungwan mengangguk.

“Tentu saja kau” Senyum Jongdae.

“Kalau begitu buang semua bebek karetmu” Smirk Seungwan.

“APA???!!!” rasanya Jongdae baru tersambar petir di hari yang cerah.
Fin
#happychentongday