Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #6

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter /  PG 15

School life, comedy, romance, drama.

Kim Joon Myeon /  Suho (EXO), Park Chorong (Apink), Rion.

Kim Minseok /  Xiumin , Zhang Yixing / Lay , Park Chanyeol  (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red velvet)

Chapter 6
Bel  tanda usainya pelajaran selalu terdengar paling nyaring bagi para siswa, tak terkecuali bagi para siswa di kelas Chorong.

“Baiklah, sampai sini saja pelajaran kita hari ini, jangan lupa kerjakan tugas kalian” Guru Choi masih membereskan buku-buku bawaannya.

“Nde~ terima kasih pak” koor anak-anak sekelas.

Guru Choi mengangguk sebagai jawaban dan menuju pintu, lalu meninggalkan kelas. Sebagian anak menghela nafas lega, sebagian membaringkan kepalanya pada meja. Disisi lain ujung kelas, Chorong sudah merapikan buku dan alat tulisnya. Selesai memastikan tak ada lagi barang yang tertinggal ia mensleting ranselnya

Ia menepuk bahu Irene yang duduk dihadapannya. “Bae, aku duluan” ujarnya dengan menyelempangkan sebelah tali ranselnya pada bahu.

“Kau sungguh-sungguh akan les private dengan tuan Kim itu?” Irene kali ini sudah berbalik penuh pada Chorong.

Chorong mengedikan kedua bahunya “Entahlah, aku pun tak yakin, tapi jika guru Nam yang memberi saran, itu bisa aku pertimbangkan. Lagi pula tak ada salahnya mencoba, apalagi ini geratis” senyuman lima jari tercipta di wajahnya. Jika sudah senyum seperti ini ia benar-benar mirip dengan Chanyeol.

Irene hanya mengangguk-anggukkan kepalanya “Semoga kau berhasil”.

“Baiklah aku pergi dulu, bye” Chorong berlari menuju pintu kelas, oh bahkan tadi ia hampir terpeleset.

“Jangan membuat ulah macam-macam” teriak Irene dari dalam kelas. Samar-samar ia mendengar gerutuan Chorong. Irene terkikik akan kelakuan sahabatnya satu ini, ‘kasihan sekali Suho harus mengajari Chorong ‘ pikirnya. 

“Semoga kau mendapat kesabaran yang ekstra Kim Joon Myeon” doa Irene, setelah selesai membereskan barangnya Irene segera beranjak pulang.

*** 

“Suho-sii, pacarmu sudah menunggu diluar” ujar slah satu teman sekelas Suho yang duduk dekat pintu keluar.

“Pacar?” 

“Iya, Park Chorong. Itu dia” tunjuk temannya keluar kelas dari jendela. Suho melihat arah yang di tunjuk oleh temannya. “Astaga, dia sungguh-sungguh akan permintaannya!” gumam Suho.

“Baiklah aku duluan” pamit temannya. Suho hanya melambaikan salah satu tangannya sebagai jawaban. Otaknya berpikir keras. Bagaimana cara dia menghindar. 

“Uh, sial. Harusnya pelajaran tadi aku bolos saja” sesalnya.

Suho melihat keadaan sekita, jika diperhatikan tingkahnya seperti maling yang akan mencuri sesuatu. Berjalan dengan mengendap-endap.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya seseorang, ia berbalik dan menemukan Chorong disana dengan raut kebingungan.

‘Sial’ umpatnya dalam hati.

“Oh, hai Chorong. Aku duluan ya!” pamitnya dan berbalik.

“YAK!” belum melangkah, kerah belakang seragamnya sudah ditarik oleh Chorong. “Jangan mencoba untuk kabur, kau sudah berjanji, jadi tepatilah janjimu. Kau ini kan laki-laki” Chorong membawa Suho dengan menarik kerah belakang seragamnya.

“Uhuk lepaskan YAK!, UHUK. Kau ingin membunuhku ya?! Lagi pula kapan aku menyetujuinya! YAK LEPAS!” Suho berusaha melonggarkan bagian atas seragamnya, lehernya serasa tercekik.

“Kau bilang akan mengabulkan permintaanku, dan permintaanku adalah ajari aku. Kau sudah berjanji jadi kabulkan!” protes Chorong yang masih menarik seragam Suho. Jika ini dalam film pembunuhan, Chorong terlihat seperti seorang pembunuh yang sedang menyeret paksa korbannya. Bahkan hal ini menjadi tontonan menarik bagi para siswa yang melihatnya.

“Baiklah-baiklah, akan ku turuti. Jadi lepaskan ini ok?” Suho berusaha bernegosiasi.

“Tak akan, aku tau akal busukmu. Nanti kau malah kabur!” Chorong semakin gencar menyeret Suho.

“YAK!”

Xiumin yang baru saja keluar dari kelas dibuat melongo akan pemandangan menakjubkan pada penglihatannya.

“Daebak, akhirnya kau mempunyai lawan yang sepadan Myeonnie” gumam Xiumin.

“Bukankah itu adikmu?” tanya salah satu teman Xiumin.

“Iya” jawabnya santai.

“Apa tak apa ia seperti itu?”

“Tak apa, sekali-kali ia harus terkena akibatnya, ayo” Xiumin tertawa senang, temannya hanya menggelengkan kepalanya tak mengerti.

*** 

Chorong dan Suho sedang berada di perpustakaan. Buku pelajaran menumpuk di sebelah kiri Chorong. Melihat wajahnya, sepertinya ia sangat frustasi. Apalagi Suho selalu mengejeknya bodoh.

“Ah, aku tak mengeri” ia mengacak rambutnya.

“Astaga Park Chorong, harus aku jelaskan berpa kali lagi agar kau mengerti!” geram Suho. “Bahkan anak tingkat awal pun tau mengerjakan ini”.

“Jelaskanlah secara ringkas agar aku paham” Chorong memainkan pensil di tangannya dengan cemberut.

“Aku bahkan sudah menjelaskannya dengan teramat sangat ringkas!” Suho menghela nafasnya. Tak ia sangka mengajari Chorong akan membuatnya sefrustasi ini.

“Pssst, jangan terlalu ribut” ujar penjaga perpustakaan.

Mereka menggangguk “Maafkan kami” ujar keduanya.

Suho mengatur emosinya dengan menghela nafas “Baiklah, kita mulai lagi. Jadi bagian mana yang kau tidak mengerti dari penjelasanku?” tanya Suho.

“Semuanya” jawab Chorong polos.

“YAK! PARK!”

“KELUAR KALIAN SEKARANG JUGA!” usir sang penjaga.

*** 

“Ah jadi begitu, aku paham. Ternyata mudah” Chorong mencatat pada bukunya, ia tersenyum senang.

“Ini memang mudah, kau saja yang bodoh” Suho meminum jusnya.

Mereka sedang berada di salah satu café, lagi pula Chorong mengeluh ia lapar.

“Berhentilah mengataiku bodoh, aku tak bodoh. Aku ini special, jadi kau harus bersabar” Chorong menepuk-nepuk bahu Suho.

“Spesial apanya, bodoh tetaplah bodoh” ejek Suho.

“YAK!”

“Besok datang ke rumahku, kita belajar disana. Akan ku rangkum secara lebih rinci lagi” ujar Suho.

“Kenapa di rumahmu?” Chorong mengerenyit.

“Tidak mau, ya suadah” 

“Baiklah-baiklah, ngomong-ngomong makanan disini enak, apa boleh aku tambah lagi?” Chorong memberikan puppy eyesnya.

“Silahkan saja” 

“Asa” Chorong memakan sandwichya.

“Lagi pula kau yang traktir” lanjut Suho.

“Uhuk” Chorong tersedak makannya, Suho tertawa melihatnya. Ia segera menyerahkan minuman pada Chorong.

“Uangku tak cukup” melasanya.

“Hahaha aku hanya bercanda, makanlah yang banyak” Suho menepuk kepala Chorong. Chorong tersenyum senang dan kembali memakan sandwichnya. “Anak babi” lanjut Suho.

“Habislah kau Kim!” Chorong sudah dengan tatapan tajamnya.

*** 

Lay berjalan dengan riang menuju kelasnya. Sepertinya suasana hatinya sangat gembira hari ini.

Brak

Ia mebuka pintu kelasnya “Myeonnie, kawan-kawan apa kalian merindukanku???” teriaknya.

Wush

Hanya terdengar bunyi angin yang menggoyangkan ranting pohon di luar jendela.

Matanya mencari keberadaan teman-temannya “Kemana semua orang? Apa mereka sedang bermain petak umpet? Curang sekali tidak mengajakku” .

“Loh, nak. Ada perlu apa datang ke sekolah?” tanya penjaga yang sedang berkeliling.

“Tentu saja untuk sekolah, oh, apa bapak tau dimana yang lain? kenapa aku tidak melihat seorang pun” tanyanya melihat sekeliling.

“Mereka di rumah masing-masing” balas sang penjaga.

“Astaga malas sekali mereka, bukannya sekolah ckck” omel Lay.

“Mereka bukan malas, ini kan hari minggu, kegiatan belajar mengajar tentu saja diliburkan. Malah bapak yang heran kenapa kau berada disini. Apa kau ada kegiatan lain?” tanya penjaga.

“Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahuku jika hari minggu itu libur!” Lay segera merogoh handphonenya dan menekan kontak seseorang.

Sang penjaga hanya dibuat geleng-geleng kepala akan tingkahnya. Ia kembali berkeliling.

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sambungan terhubung.

“Hallo” terdengar suara khas seseorang baru bangun tidur.

“Myeon, kenapa tak beri tahu aku jika minggu itu libur!” bentak Lay.

“Memang dari dulu juga seperti itu!”

“Benarkah?”

“Yak! Kau membangunkanku hanya untuk menanyakan kenapa minggu libur? Terkutuklah kau Zhang Yixing dengan sikap pikunmu itu!” sumpah serapah Suho terdengar dari sebrang sana. Bahkan Lay sedikit menjauhkan telinganya.

*** 

Pukul 10 pagi Chorong sudah berdiri di depan pagar megah rumah seseorang. Mulutnya masih menggumamkan kata-kata takjub. 

“Dia benar-benar kaya ck” Chorong menghampiri Intercome dekat gerbang dan menekannya. Selang beberapa detik terdengar suara seorang bibi. Mungkin itu salah satu pegawainya.

“Apa Suho ada? Ah maksud saya Kim Joon Myeon” ujar Chorong melalui intercome.

“Mohon tunggu sebentar” 

Chorong kembali melihat sekitar, tak sampai lima menit ia menunggu, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka sendiri.

“Daebak!” ia berjalan dan semakin dibuat kagum. Tapi beberapa detik kemudian ia menyumpah serapahi sang pemilik. Pasalnya dari gerbang utama menuju rumah jaraknya sama dengan rumahnya menuju halte terdekat. 

Pintu utama terbuka setelah Chorong sampai di depannya.  Ia segera masuk dan dipersilahkan duduk, tak berselang lama seseorang muncul dan menyapanya. 

“ Waw, angin apa yang membawamu kesini?” Chorong mengalihkan tatapannya pada sang penanya.

“Ah, Sunbae. Lain kali sediakanlah kendaraan dari gerbang utamamu, tak taukah kau betapa melelahkannya menuju rumahmu!” ceroscos Chorong.

“Ahaha, baiklah usul yang bagus. Akan ku pertimbangkan, ngomong-ngomong ada apa kau kemari?”

“Ah, itu . .”

“Kau sudah datang?” sapa Suho yang baru saja menuruni tangga, lihatlah pakaiannya. Masih terlihat seperti orang yang bangun tidur.

“Dia yang menyuruhku datang” tunjuk Chorong pada Suho.

Xiumin hanya terkekeh, jangan lupakan seseorang dibelakang Suho yang sedang melambaikan tangannya.

“Lay? Sedang apa kau disini?” Chorong mengerenyitkan dahi. 

“Hai, Chorong. Aku? Aku sedang . . . hyung kenapa aku kemari ya?” Tanya Lay pada Xiumin.

“Mana aku tahu, kau sendiri yang datang kemari menggunakan seragam” jelas Xiumin.

“Ah benar aku baru ingat, aku bosan dan salah masuk sekolah akhirnya ku putuskan untuk kemari” terang Lay.

“Dan mengganggu tidur nyenyakku” lanjut Suho. Lay hanya menyengir.

“Ayo ke lantai atas, tunggu aku disana. Aku mandi dulu”

“Pantas saja ada bau tak sedap” Chorong pura-pura menutup hidungnya.

“Yak! Aish. Sudahlah”  Suho berjalan terlebih dahulu, yang kemudian diikuti oleh Chorong dan yang lainnya dengan tertawa.

Beberapa menit kemudian Suho keluar dari kamarnya dengan keadaan yang lebih rapih. Tatapan matanya langsung tertuju pada Lay dan Chorong yang sedang berbincang, mereka terlihat sangat dekat. Sebenarnya disana ada Xiumin. Tapi entah mengapa focus mata Suho hanya pada mereka berdua. Ada perasaan panas di hatinya.

Ia berjalan dengan tergesa dan duduk diantara keduanya. “Apa yang kau lakukan?” Chorong yang tergeser mengajukan protes.

“Tentu saja duduk”

“Masih ada tempat lain” jawab Chorong.

“Aku ingin disini!” balas Suho. Xiumin hanya terkekeh.

“Ayo mulai belajarnya” Suho membuka buku dan Chorong mengeluarkan alat tulisnya dari tas. “Kau akan mengajari Chorong?! Kenapa kau tidak pernah mengajariku?” Tanya Lay.

“Kau ingin belajar juga? “ Tanya Suho.

“Tidak sih, aku akan bermain game dengan hyung saja. Ayo hyung!” Lay dan Xiumin masuk kedalam kamar. Meninggalkan Suho yang geram. “Lalu untuk apa kau bertanya!” teriak Suho.

*** 

Hari sudah mulai petang ketika Chorong selesai dengan les privatenya. “Akhirnya!!!” ia merenggangkan tubuhnya.

“Kau itu hanya perlu praktek tak bisa dijelaskan ckck, ternyata sudah jam 4” Suho melihat arlojinya.

“Nah, aku pulang dulu. Terima kasih atas bimbingannya hari ini” Chorong berdiri dan membungkuk.

“Ku antar” mata Chorong melebar.

“Tak perlu aku bisa sendiri” tolak Chorong. “Sudahlah, aku tau rumahmu lumayan jauh dari sini” Suho beranjak dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dan mengambil jaketnya.

“Ayo, Hyung, Lay aku pergi dulu!”

“Sudah mau pulang?” Tanya Xiumin. Chorong hanya mengangguk. “Hati-hati” lanjut Xiumin.

“Kapan-kapan datang lagi kemari ya, bye Chorong”.

“Ini bukan rumahmu Zhang!” ujar Suho. Tapi Lay seperti tak peduli dan kembali bermain game.

Chorong yang melihat terkikik geli. ‘Jadi masih ada orang lain yang bisa mengabaikan Suho’ pikirnya.

*** 

Suho mengantar Chorong menggunakan motornya. Entah sengaja atau apa Suho menambahkan kecepatannya membuat Chorong memeluknya karena tidak ingin terjatuh. Dibalik helemnya ia tersenyum sedikit. Memanfaatkan keadaan huh?.

Di tengah perjalanan tiba-tiba motor mereka di apit oleh tiga motor dengan pengendara berhelem fullface. Salah satu dari ketiga motor itu menyenggol Suho dan membuatnya terjatuh.  Chorong hanya sedikit tergores namun salah satu pergelangan tangan Suho terkilir.

Tanpa menunggu lebih lama. Chorong membenarkan motor Suho yang terjatuh dan menaikinya “Cepat naik, mereka masih mengejar kita!” Ujar Chorong.

“Apa kau bisa mengendarainya?” Tanya Suho tak yakin.

“Jangan banyak omong, cepatlah naik!” Chorong sudah menstater motornya, bahkan jika ia melepaskan rem tanganya sudah pasti motor ini melaju dengan kecepatan tinggi.

Tak ada pilihan lain, akhirnya Suho dibonceng oleh Chorong. Ia berdoa dalam hati agar ia selamat. Setelah Suho menaiki motor, Chorong melihat pada salah satu spion yang retak, ketiga motor itu masih mengejar. Dengan kecepatan tinggi ia membawa motor Suho. Kini giliran Suho yang memeluknya sangat erat. Bahkan kecepatannya melebihi Suho tadi.

“PARK CHORONG AKU INGIN SELAMAT~~~~” teraik Suho dibalik helemnya.

To be continue

Posted in Uncategorized

[EXOFFI FREELANCE] Tell Me What Is Love (Chapter 4)

EXO FanFiction Indonesia

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^

CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

View original post 1,435 more words

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #5

PicsArt_07-12-12.54.32

TELL ME WHAT IS LOVE
EVINA93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance, drama
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).
Cerita milik saya, cast hanya ,ilik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Tinggalkanlah jejak setelah membaca. Hargailah usaha para penulis.
Selamat membaca . .
Chapter 5
Perasaan bosan sedang menghampiri seorang Kim Joon Myeon, pasalnya jika waktu istirahat ia selalu berbuat kejahilan atau bermain-main bersama Yixing. Kali ini teman yang terkadang tidak ingin ia akui itu sedang ijin . Yixing sedang ada acara keluarga, itu yang ia tau.
Langkah kakinya membawa menuju kelas sang kakak, tanpa permisi ia masuk begitu saja. Berjalan menuju kakaknya berada tanpa memperdulikan tatapan semua penghuni kelas padanya.
“Hyung” panggilnya ketika berada di hadapan meja kakaknya.
Xiumin melihat sang pemanggil dan berdecak cukup keras. “Ada apa? “ ujarnya ketus.
“Aku bosan” Suho duduk di depan meja Xiumin dengan menghadap sang kakak.
“Lalu apa hubungannya denganku?” Xiumin mengerenyit. Tak cukupkah sang adik tercinta mengganggunya di rumah ketika sedang mengerjakan tugas. Heol, tugasnya masih menumpuk dan ia harus menyerahkannya siang nanti pada guru Choi. Seseorang tolong ingatkan Suho jika sang kakak sedang dalam masa pra ujian sehingga tugas dan kegiatannya sedang menumpuk.
“Temani aku melakukan sesuatu, Yixing sedang tak masuk hari ini, aku bosan~” ia menaruh kepalnya di meja.
“Ck, tugasku masih banyak Myeonnie” Minseok memberikan penekanan pada akhir katanya dan kembali menyelesaikan tugasnya.
“Kau benar-benar tak asik” Brak. Suho bangkit dan sedikit menggebrak meja, membuat Xiumin kaget dan tugas yang ia tulis tercoret dengan sempurna.
Mata Xiumin menatap tugasnya dengan nanar, sedangkan Suho terbelalak. ‘Mati aku’ gumamnya dalam hati.
“Kim Joon Myeon” panggil Xiumin dengan aura yang sangat mencekam.
“Hyeong itu itu . .” Suho sedikit tergagap.
“Keluar dari kelasku sekarang juga!” Xiumin menendang pantat Suho cukup keras hingga sang adik keluar. Pelajaran untuk kalian, jangan pernah membuat Xiumin marah jika kau tidak ingin merasakan tendangan mematikan dari sang captain team sepak bola sekolah.
Setelah sang adik keluar, Xiumin menutup pintu kelas hingga menimbulkan bunyi debuman keras, tanpa peduli pada sang adik yang sedang merintih kesakitan denagn mengelus bagian belakangnya.
“Aish, hyung. Kau sedang menstruasi ya? Galak sekai” teriaknya dari luar. Yang berda di dalam kelas dan sekitar menahan tawa mereka.
“YA! KIM JOON MYEON!!!!”
Setelah mendengar nada peringatan, Suho segera mengambil langkah seribu.
***
Langkah Suho kali ini membawanya menuju lapangan sekolah. Ia melihat Chanyeol dan anak lainnya sedang bermain basket. Ia menghentikan langkahnya dan menonton jalannya permainnan dari pinggir lapangan.
Chanyeol yang mengetahui kehadiran Suho segera menghampirinya. “Ah, Suho sunbae” sapanya. Suho hanya tersenyum sebagai balasan. “Terima kasih atas action figurenya” cengir Chanyeol.
“Tak masalah, apa kau menyukainya?” Tanya Suho.
“Tentu saja, itu incaranku dari dulu”
“Baguslah kalau begitu, apa kau diapa-apakan oleh Chorong?” selidik Suho.
“Itu sudah biasa Sunbae haha” jawabnya dengan sedikit garukan pada lehernya.
“Hyung” ujar Suho.
“Apa?” Tanya Chanyeol memastikan.
“Panggil aku hyung, mendegarmu memanggilku sunbae terasa sangat kaku” titah Suho.
“Ah, baiklah hy .. hyung” Chanyeol mencoba namun sedikit gugup.
“Ah, apakah kau ingin bermain dengan kami?” ajak Chanyeol.
“Tidak, terima kasih. Aku tidak suka panas panasan” tolak Suho.
“O oh baiklah” rasa canggung sedang dirasakan Chanyeol kali ini.
“Apa kau tau dimana Chorong?” setelah hening beberapa saat akhirnya Suho membuka suara.
“Ah, nonna. Jika tidak berada di ruang club. Pasti ia sedang bersama Irene nonna di kelas atau di kantin. Aku belum menemuinya di sekolah hari ini” ujar Chanyeol.
“Baiklah aku akan mencarinya, aku pergi dulu” baru berbalik Chanyeol dengan keberanian yang ada menahan lengan Suho.
“Ada apa?” tanya Suho. Kali ini fokusnya pada Chanyeol yang sedang memandangnya dengan penuh keseriusan.
“Sun . . Hyung, tolong jangan sakiti nonna, aku harap ia bahagia kali ini” pinta Chanyeol dengan menatap langsung pada kedua mata Suho dengan serius.
Walau Suho sedikit tak mengerti dengan apa yang dikatakan Chanyeol, ia akhirnya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Senyuman merekah pada wajah Chanyeol “Walau pun nonna itu galak, kasar dan menyebalkan tapi ia wanita yang baik, jaga dia ya hyung” Chanyeol berujar dengan sedikit keras dan berjalan mundur kembali ke lapangan.
Suho hanya tersenyum melihat kelakuan Chanyeol. Satu kesimpulan yang ia dapat dari perilaku Chanyeol. Walau terlihat dari luar Chanyeol itu selalu berkelahi dengan kakaknya tapi sifat protrctive pada sang kakak tetaplah ada.
Dan untuk Chanyeol. Tamat riwayatmu jika Chorong mendengarkan teriakanmu tadi. Berteriak di tengah lapangan, sedikit menjelekkan kakakmu, pada kekasih sang kakak. Benar-benar luar biasa Yeol.
***
Chorong dan Irene baru saja kembali dari kantin ketika sang wali kelas memanggil Chorong dan menyuruhnya ke ruang guru.
“Chorong-ah” panggil sang guru. Chorong entah kenapa susah untuk bernafas sekarang ini. apa ia melakukan kesalahan lagi?
“Ibu tau kau ini atlit kebanggan sekolah kita, tapi kau juga harus ingan jika nilai akademikmu itu juga penting. Melihat dari nilai rata-ratamu sehari-hari ini bisa membuatmu tinggal kelas. Ibu harap kau memikirkan ini. Kau tak ingin tinggal kelas kan?” nasehat sang guru.
Chorong menggeleng kaku sebagai jawaban.
“Belajarlah dengan giat, sebentar lagi ulangan kenaikan tingkat akan dilaksanakan. Jika nilaimu masih saja begini ibu tidak bisa menjaminnya” ujar sang guru.
“Ba baik bu, akan saya usahakan, terima kasih. Saya permisi” pamit Chorong.
“Oh ya Chorong” Chorong kembali berbalik pada wali kelasnya.
“Cobalah kau minta diajari oleh Joon Myeon, bukankah kalian sedang dekat” usul wali kelas.
“Nde? Maskud ibu, Joon Myeon, Kim Joon Myeon?” Tanya Chorong memastikan.
“Memangnya ada Kim Joon Myeon lain yang sedang dekat denganmu?” Tanya sang guru.
Chorong menggeleng, “Tapi mana, mungkin dia bisa” lanjutnya tak yakin.
“Kenapa tak bisa? Dia kan juara umum seangkatanmu” ujar sang guru meyakinkan.
“APA?!” mata Chorong terbelalak dan rahangnya sedikit terbuka. ‘ini mustahil’ pikirnya,
***
Suho sudah mencari Chorong di ruang club waktu itu, tapi nihil. Di kantin tak terlihat batang hidungnya sekalipun. Akhirnya Suho memutuskan menuju kelas Chorong. Bel masuk istirahat sebentar lagi akan berbunyi. Masa iya Suho menghabiskan waktu istirahatnya tapi tidak menemukan Chorong.
Sampai dikelas Chorong ia segera melihat-lihat, tak ada Chorong hanya ada Irene yang sedang berbincang dengan seseorang.
“Kau temannya Chorong kan?” Tanya Suho. Irene mengangguk.
“Apa kau melihat Chorong?” Tanya Suho.
“Ah, dia sedang, ah itu dia” Irene menunjuk seseorang di belakang Suho. Suho berbalik dan melihat Chorong yang sedang mendekati mereka dengan gumamannya.
Ketika Sudah berada di hadpan Irene dan Suho Chorong menghentikan langkahnya. “Belum masuk kan?” Tanya Chorong.
“Belum” Jawab Irene.
Lalu Chorong melihat ke sisi lainnya. “Tuh kan, mana mungkin” ujarnya melihat Suho dari atas sampai bawah.
“Apanya yang tak mungkin?” Tanya Suho yang kebingungan dengan sikap Chorong.
“Irene, jawab dengan Jujur. Apa benar dia juara umum angkatan kita?” Tanya Chorong menunjuk Suho.
“Yak!” teriak Suho yang di tunjuk-tunjuk.
“Benar, memangnya kenapa? Astaga, jangan bilang kau tak tau” ujar Irene. Chorong mengangguk.
“Tapi dia kan . .”
“Memangnya kenapa? Apa salahnya aku juara umum, kau pikir aku hanya orang yang seenaknya dan bodoh huh?” Tanya Suho.
“Tepat, itu kau tau” Chorong menepuk tanganya sekali, seperti memberi selamat pada Suho yang bisa menebaknya.
“YA!!”
“Oppa!” panggil seseorang.
Suho melebarkan tatapannya, tanpa pikir panjang ia menarik Chorong ke pelukannya. Dan Action!
“Chagia, aku merindukanmu” Suho menggoyang-goyang tubuh Chorong di pelukannya.
Rion, selaku pemanggil dan yang melihat terbakar api cemburu.
“Lepaskan” gumam Chorong dan berusaha melepaskan pelukan Suho.
“Diamlah, dan berperilakulah seperti kita ini adalah pasangan kasmaran. Dan aku akan mengabulkan satu permintaanmu” bisik suho.
“Benarkah?” bisik Chorong.
“Iya, cerewet”
“Ah, Chagia aku juga merindukanmu” Binggo. Rion semakin dibakar api cemburu. Sedangkan Irene dibuat terheran dengan kelakuan kedua insan yang sedang berpelukan ini. Bukankah beberapa menit lalu mereka sedang beradu mulut?
“Oppa kau tega sekali!” Rion menghentakkan kakinya dan pergi dari sana.
Setelah keadaan aman. Mereka segera melepaskan pelukannya dan berjauhan dengan jarak 1 meter. Menepuk-nepuk tubuh mereka seakan tertempel kotoran.
Irene hanya menggeleng melihat kelakuan keduanya.
“Kau harus mengabulkan permintaanku” ujar Chorong.
“Baiklah-baiklah, asal bukan mengakhiri kesepakatan kita itu tak apa. Jadi apa permintaanmu?” Tanya Suho.
“Ajari aku pelajaran” pinta Chorong.
“Ooh, APA????”
“Selamat Joon Myeon – sii, mengajari Chorong itu lebih sulit dari pada mengajari penguin bermain bola” Irene menepuk sedikit bahu Suho dan masuk kedalam kelas.
“YA”
“Kenapa aku?” Tanya Suho.
“Tak ada penolakan, sampai jumpa sepulang sekolah” Chorong menarik kedua pipi Suho. “Aigo, keyowo” pak pak. Chorong mencubit pipi Suho dan menepuknya dengan sedikit berlebihan.
“KENDALIKAN KEKUATANMU PARK!, AH, appo”
TO BE CONTINUE . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #4

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (EXO), Park Chorong (APink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / Xiumin (EXO), Zhang Yixing /Lay (EXO), Park Chanyeol (EXO), Bae Joohyun / Irene (Red Velvet).

Alur cerita milik saya, cast hanya milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Don’t be plagiat. Typo masih bertebaran. Alur cerita garing. Biasakanlah untuk meninggalkan jejak setelah membaca, hargailah para author yang sudah berkerja keras.

Selamat membaca . . ^^
CHAPTER 4

“Aku pulang” teriak Suho dari arah pintu depan. “Ah, kau sudah pulang? Bagaimana kencanmu?” Xiumin yang semula sedang berbaring santai di sofa segera mengikuti langkah adiknya.

“Apanya yang kencan!. Aku tak melakukan apapun” Suho mengganti sepatunya dengan sandal rumah.

“Ey, kau pikir aku tak tau” Xiumin menyipitkan matanya dan tersenyum mengejek.

“Memangnya kau tau apa?” Suho membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral kemudian meneguknya. Xiumin masih setia mengikutinya namun kali ini ia duduk di dekat pentry menopangkan sebelah tangannya dan menatap adiknya masih dengan senyuman.

“Mendekati Chanyeol, pura-pura tertinggal olehku, dompetmu ku ambil, bermain game hingga batrai habis, mengabari semua orang rumah jangan mengangkat telpon darimu. Terakhir yang terpenting. Pulang bersama Chorong, picik sekali Myeonnie” Xiumin memberi hipotensa.

Uhuk

Suho tersedak air mineralnya, bukannya membantu Xiumin hanya tersenyum bangga. 

“Gotcha, berarti itu benar” teriak Xiumin.

“Kenapa hyung bisa tahu?” Suho berhasil bicara setelah selamat dari acara tersedaknya.

“Kau kan adikku, setidaknya jalan pikiranmu mudah tertebak olehku. Satu lagi, mata-mataku banyak loh” Xiumin mengedipkan matanya dan beranjak ke lantai dua.

Suho hanya menggerutu. “Ah, Myeon, ayah dan ibu tidak pulang lagi hari ini” ujar Xiumin dari arah atas.

Suho hanya menghela nafas. “Selalu saja”.

Memang benar apa yang dikataka kakaknya. Ia tadi siang bertemu dengan Chanyeol. Berbicara sebentar. Ia kira Chanyeol anak yang susah diajak bekerja sama nyatanya tidak. Walu sifat overprotectifnya sangat besar, namun pada akhirnya ia jatuh juga ke tangan Suho. Dengan embel-embel 1 action figure One peace limeted edision incarannya.

kakak dan adik sama saja, sama-sama menyusahkan.

*** 

“Aku pulang” Chorong mengganti sepatunya dengan sandal rumah, ia berjalan menuju kamarnya.

“Kau sudah pulang? Mau makan? Biar ibu hangatkan” tawar nyonya Park.

“Tidak bu, aku ingin beristirahat. Ngomong-ngomong kenapa ibu sudah pulang?” Tanya Chorong.

“Kau menyuruhku tidak pulang” ujar nyonya Park. “Bukan begitu, Chanyeol bilang restoran sedang ramai. Jadi dia tidak bisa menjemputku”.

“Restoran sudah tutup semenjak sore hari. Lagi pula Chanyeol tidak kesana. Ia bermain game dengan temannya” jelas sang ibu.

“Apa?!! Lalu dimana dia sekarang?” tanyanya dengan emosi.

“Didalam kamarmu” tunjuk sang ibu pada salah satu pintu kamar.

“Apa yang dia lakukan di dalam kamarku?” Chorong mengerenyit. Nyonya Park membuat gestur ‘aku tak tau’.

Chorong segera menghampiri kamarnya.

Brak

Ia membukanya dengan brutal. 

“Astaga” Chanyeol terperanjat.

“PARK CHORONG, JANGAN MERUSAK LAGI PINTU KAMARMU!!!” teriak sang ibu.

“Kau berbohong padaku? Dan apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!” Chorong menatapnya tajam.

“Kau mengagetkanku, bagaimana kencanmu dengan Suho Sunbae?” Chanyeol mengalihkan pembicaraan, ia tersenyum tanpa tau apa akibat dari perbuatannya.

“Kencan? Apa maksudmu? Jangan bilang kalian merencanakan ini semua” Chanyeol tersenyum. “Demi action figure incaranku” jawabnya.

“Apa?!” Yak kemari kau telinga lebar!” Chorong melipat tangan seragamnya. Chanyeol sudah dengan ancang-ancangnya untuk kabur. 

“YA!”

“Ibu tolong aku!!!!” teriak Chanyeol dengan suara bassnya.

***

Sepotong roti masih tersampir di mulutnya, rambut basah yang tak tersisir. Dengan keadaan seperti itu Chorong berlari menuju halte. Sampai halte ia melirik jam tangannya. 10 menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Sialnya jika kali ini ia terlambat lagi maka guru Choi akan menghukumnya habis-habisan.

Tanpa memperdulikan tatapan semua orang padanya ia mencari keberadaan bis. Sayangnya ketika sampai di halte ia sudah tertinggal.

Dengan susah payah ia menelan rotinya. “Tunggu, tunggu aku!” teriaknya. Untungnya sang sopir mendengarnya. Chorong segera masuk kedalam bus. Membungkuk terima kasih. Semua orang yang melihat penampilannya tertawa. Ia hanya bisa menunduk hingga bangku belakang dan duduk disana.

“Awas saja kau Park Chanyeol” gumamnya.

Chorong terlambat bangun, entah kenapa jam dikamarnya bermasalah. Ada yang merubah waktunya. Ia bisa terbangun setelah sang ibu tercinta menyiramnya dengan sangat berprikemanusian menggunakan seember air dingin. Disisi lain ia sangat berterima kasih, karena dengan begitu ia tidak menyianyiakan waktu untuk mandi. Setelah berpikir siapa dalang dibalik semua ini maka pelaku utama yang ada dipikirannya adalah sang adik tiangnya yang kemarin berada di dalam kamarnya.

Disisi lain Chanyeol sedang tertawa puas dikelasnya. Membayangkan keadaan sang kakak sedang menggerutu dan menyumpah serapahi dirinya.

“Park Chanyeol, kau tidak gila kan?” tanya Jongdae teman sebangkunya.

*** 

lain Chorong lain pula Suho. Ia terbangun 15 menit sebelum gerbang ditutup. Ada note disamping meja belajarnya. 

‘Jangan salahkan aku jika kau terlambat, membangunkanmu lebih susah dibanding membangunkan Byul. Tertanda kakakmu yang tampan :p ‘

“Sial” umpatnya. Ia segera menuju kamar mandi. 

5 menit kemudian ia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih kunci motor dan ranselnya.

Sialnya di tengah jalan ada rajia kendaraan bermotor. Lebih parahnya dompet dan surat-surat untuk motornya tertinggal. Alhasil motornya disita dan ia berlari menuju sekolah. Poor Suho yang kaya raya.

*** 

“Tunggu tunggu jangan kunci gerbangnya!!!” teriak Chorong dari kejauhan.

“Maaf nona, tapi kau sudah telat 10 menit” ujar sang penjaga.

“Ayolah pak, ku mohon. Pelajaran pertamaku guru Choi” rengeknya.

“Maafkan aku, peraturan tetaplah peraturan” ujar sang penjaga tegas. 

“Aish”

“Haha kau telat ya, kasihan sekali” ejek seseorang dari arah belakangnya. Ia berbalik dan menemukan Suho yang terengah dengan seragam sedikit basah oleh keringat.

“Kau sendiri juga telat bodoh!” umpat Chorong ketika Suho sudah berada di sampingnya.

“Ck, tak masalah untukku, lihat ini” ujarnya bangga dengan berjalan menuju penjaga.

“Buka gerbangnya” titah Suho pada sang penjaga. 

“Ah, tuan. Maaf gerbang sudah tertutup. Anda harus menunggu guru penyidak datang agar bisa masuk” jawab sang penjaga.

“Apa? Kau tak tau siapa aku?!” Suho menunjuk dirinya.

“Maaf tuan, tapi peraturan tetaplah peraturan” ujarnya.

“Sial” umpat Suho.

“Hahaha” Chorong tertawa puas. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Suho.

“Lihat ini” Chorong memperagakan gaya Suho tadi. “Kau tak berpengaruh tuan. Terima saja haha ” ejek Chorong. 

Suho merutuki ayahnya yang memperketat peraturan untuknya. Mungkin ayahnya sudah geram akan tingkahnya.

“Tunggu, bukankah itu temanmu” Chorong menunjuk seseorang. Suho segera berbalik.

“Pst psttt Yixing” panggilnya.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Yixing yang saat itu membawa buku.

“Pst. Yixing, Zhang Yixing” kali ini Suho memanggil lebih keras. 

Yixing berbalik “Ah, hallo Myeon. Aku duluan ya” ujarnya dan berlalu pergi.

Suho dan Chorong dibuat melongo.

“Apa benar dia temanmu?” tanya Chorong.

“Terkadang pada saat tertentu aku tidak ingin mengakuinya” ujarnya geram dengan memijat pelipisnya.

“Tak ada pilihan lain, kau ingin masuk kan? Ikut dengaku!” ajak Chorong. Suho tanpa berpikir panjang mengikutinya.

*** 

“Apa kau gila?!” bentak Suho.

“Diamlah, aku masih waras. Jika kau tidak mau ya sudah” Chorong segera memanjat dinding pagar belakang. Untunglah celana olahraga yang selalu dipakainya bisa memudahkannya dalam melakukan hal seperti ini.

Buk

Chorong mendarat dengan sempurna. Ia menepuk kedua tangannya yang kotor. 

“Chorong-a” panggil seseorang. Ia mendongak dan mendapati Suho yang sedang berpegangan pada dinding atas pagar. “Bagaimana caranya turun?” tanya Suho

“Kau hanya perlu melompat” jawab Chorong.

“Apa?! Kau gila. Ini tinggi sekali” ujar Suho.

“Pelankan Suaramu! Tinggi apanya. Aku saja bisa, kenapa kau yang lelaki tidak. Jangan bilang kau takut” Chorong tersenyum meremehkan.

“Tidak” ujar Suho cepat.

“Kalau begitu turunlah” 

Glek

suho menutup matanya dan melompat.

‘Kenapa tidak sakit’ pikirnya.

“Sampai kapan kau akan begini? Menyingkirlah!” Suho membuka kedua kelopak matanya.

Deg

Dihadapannya saat ini atau tepat dibawahnya saat ini Chorong sedang menatapnya tajam.

“Ya! Menyingkirlah!” Chorong mendorong-dorong tubuh Suho. Tapi tak ada pergerakan sedikit pun. Suho masih betah pada posisinya.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suho memalingkan wajahnya pada asal penanya.

‘Ah Chorong, tunggu! Chorong. Bukankah diaberada di . . ‘ Suho kembali melihat kebawahanya. ‘Sejak kapan Chorong memiliki jakun?’ ia mengerenyitkan dahi, kemudian melihat wajah seseorang itu lebih jelas.

“YIXING!!” teriaknya dan beranjak berdiri.

“Ah, hallo Myeon” sapanya kemudian ikut berdiri dan membersihkan seragamnya.

“kau, kenpa bisa?, kau? Chorong. Tadi” Suho berujar tidak jelas. Chorong dan Lay mengerenyit ‘Apa Suho mulai gila’ pikir mereka.

“Kau ini kenapa sih? Bicara yang jelas!” bentak Chorong saking geramnya dengan kelakuan Suho.

Suho menghela nafas sesaat agar lebih tenang “Kenapa bisa Yixing berada pada posisi tadi. Bukannya tadi hanya ada kau!” Suho menunjuk nunjuk Chorong.

“Dia datang ketika melihat kau akan terjatuh dan menolongmu” Chorong menjelaskan kejadain tadi.

“Tapi tadi kau yang, ah lupakan” putus Suho. Ia mengambil ranselnya yang tergeletak ditanah lalu berlalu pergi. 

‘khayalan bodoh’ umpatnya.

Chorong mengejarnya “Hey, kau pasti berkhayal yang tidak-tidak ya” goda Chorong dengan menunjukan seringai dan sipitan matanya pada punggung Suho.

“Aku tidak berpikir yang aneh-aneh! Hanya kau yang ah lupakan!” Suho kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya. Jika kau melihat lebih jelas telinganya sedikit memerah.

“Apa? Hey apa yang kau khayalkan tentangku? Yak! KIM JOON MYEON!” Chorong berusaha menyamai langkahnya dengan Suho.

Lay di belakang mereka masih terdiam bingung. Ia memiringkan sedikit kepalanya ke kanan berpikir “Apa salah Iching?” ia bermaksud membantu Suho dan Chorong setelah ingat jika Suho tadi membuntuhkan bantuannya untuk masuk gerbang. Salahkan sikap pelupa, polos dan sedikit pikunnya. Ia benar-benar tak tau apa yang harus ia lakukan tadi. Ia melihat mereka dan menyapanya tapi setelah sampai dikelas ia baru paham kenapa Suho memanggilnya. Tapi ketika meliahat Suho marah-marah setelah ia membantunya agar tak jatuh ke tanah Suho malah marah-marah. Apa salahnya pada Suho? Itu yang ia pikirkan sekarang. Terlalu lama berpikir membuatnya tertinggal dari kedua couple yang sedang bertengkar semakin menjauh.

“Yak! Tunggu aku!” teriaknya setelah sadar dari lamunan.
To be continue . .

Posted in Apink, chorong, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #3

Tell Me What Is Love

Evina93 @2017
Chapter / PG 15
School life, comedy, romance.
Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion
Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Red velvet)
Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^
Chapter 3

“Sebenarnya apa hubungan kalian?”

Karena sudah tidak memungkinkan masuk pada jam pelajaran pertama Chorong memasuki kelasnya pada jam pelajaran berikutnya. Ia yang semula berniat kabur mengurungkan niatnya karena kejadian tadi yang hingga saat ini membuatnya kesal seperti ingin mendorong pria bernama Kim Suho itu dari gedung pencakar langit. Masih ingat dengan jelas di pikirannya bibir pria itu menempel pada pipinya, uh Chorong sepertinya harus membasuh mukanya dengan sabun dan wewangian lainnya agar ia tidak terkena infeksi.

“Kau tak jadi membolos?” Irene memandang Chorong penuh tanya. “Niatnya sih begitu, sayangnya niatku terhalang oleh seseorang paling menyebalkan” jika Irene melihat dengan jelas pada mata Chorong disana terdapat tatapan tajam yang ditujukan pada siapapun yang mengganggunya.

“Baguslah kau tak membolos, jam pelajaran berikutnya kan ulangan bahasa uh kau akan kena hukuman oleh guru Choi jika tak hadir dengan alasan selain sakit” Irene membuat tanda seolah-olah hidup Chorong akan tamat.

“Apa?!! Kenapa kau tak memberitahuku! Aish aku belum belajar!” Chorong segera mengambil buku dalam tasnya dan membuka halaman demi halaman.

“Bab berapa yang akan diujikan?” tanyanya.

“Percuma kau belajar, kau akan tetap mendapat nilai buruk” pendapat Irene.

“Ya!”

***

“Astaga rasanya kepalaku ingin pecah!” Gerutu seseorang dengan menenggelamkan kepalanya pada tangan.

“Suruh siapa di dalam kelas kerjamu hanya tidur” ujar Irene.

“Setidaknya kau memberi tahuku lebih dulu” cicit Chorong. “Hey nona Park, aku sudah memberi tahumu kemarin malam, kau saja yang tak membaca chat ku. Untuk apa punya handphone, apa untuk menimpuk orang?” tanya Irene.

“Mulut mu itu Bae, aish, aku bingung kenapa mempunyai teman sepertimu yang bermulut tajam” Chorong menyipitkan matanya memandang irene dan menggerutu.

“Sudahlah simpan omong kosongmu itu. Ayo ke kantin. Aku lapar” ajak Irene. “Kau yang traktir” seringai Chorong.

“Baiklah-baiklah untuk menebus kesalahanku” mereka tertawa bersama dan keluar kelas.

***

“Kau ingin pesan apa?” tanya Irene setelah mereka tiba dikantin. “Aku ingin Kimbbap, cacing-cacing pada perutku sudah mulai berorcestra” Chorong memegangi perutnya dengan tatapan memelas.

“Hahaha baikalah, carilah bangku kosong” Chorong mengangguk dan berjalan pada salah satu bangku kosong di deretan paling belakang kantin.

“Kau menunggu lama? Maaf penuh sekali” Irene datang dengan 2 makanan di tangannya.

“Tak apa” Chorong mengambil kimbbapnya dengan tersenyum-senyum. “Mari makan” ujarnya riang. Baru saja ia akan mengambil sepotong kimbbapnya ‘Byur’seseorang menumpahkan jus pada kimbbapnya.

“Ya!” teriaknya kemudian melihat sang pelaku.

“Uh maaf sunbae, tanganku tergelincir. Akan ku ganti makananmu. Itu tak seberapa bagiku” ujar sang pelaku. Chorong hafal ia siapa, oh rasanya Chorong sudah naik pitam. Jika orang tersebut dengan tulus meminta maaf tak masalah untuknya. Tapi ia melihat seringai dan ejekan pada kalimat yang orang tersebut ucapkan. Irene memandangi mereka dengan was-was.

jika Chorong lepas kendali ini akan bahaya pikirnya. Semua yang ada di kantin melihat ke arah mereka. Seperti tontonan geratis.

Suho, Xiumin dan Lay yang baru tiba di kantin heran dengan apa yang terjadi hingga akhirnya Suho maju membelah kerumunan dan tertawa setelah melihat apa yang terjadi didepannya. Nah Park Chorong apa yang akan kau lakukan? Pikirnya.

“Myeon, apa tak apa membiarkan mereka?” tanya Xiumin. “Tenanglah hyung dan lihat apa yang akan terjadi” ujar Suho dengan memasukan kedua tangannya pada saku. “Aku bertaruh ini akan menjadi tontonan menarik” Lay menempelkan tangannya pada pundak Suho.

“Tak perlu” ujar Chorong menahan emosi jika kau melihat kebawah, tangannya sudah terkepal sempura.

“Kenapa, tak perlu sungkan sunbae. Bukankah kau mendekati Suho oppa juga karena hartanya” jika ini di komik, 4 siku sudah berada di sudut dahi Chorong kali ini.

‘Akh, aku tak bisa menahannya lagi!’ pikir Chorong.

‘Ini bahaya’ pikir Irene. Dia bersiap menahan Chorong namun terlambat. Tangan Chorong sudah lebih dulu mengambil Kimbbap dengan kuah jus tadi dan melemparkannya tepat pada wajah Rion.

“Ups, maaf tanganku tergelincir” ujar Chorong dengan memijit pergelangan tangannya. Seisi kantin dibuat melongo oleh tindakan Chorong. ‘Ku pikir akan lebih buruk’ irene.

Rion masih terkejut di tempatnya. Semua menertawakannya. “Bae, ayo pergi, nafsu makanku hilang” Chorong sudah beranjak dari tempatnya.

“Ya tunggu!” Irene mengejarnya setelah mengambil cup ramennya. Baru beberapa langkah Irene kembali lagi dan menyerahkan beberapa lembar tisu pada Rion.

“Make up mu luntur” Ujar Irene dengan wajah datar, tanpa menghiraukan tatapan Rion ia kembali mengejar Chorong.

“Dia luar biasa” heboh Lay.

“Ku pikir dia akan tunduk pada Rion ternyata sebaliknya haha” Xiumin menepuk nepuk pundak Lay.

“Eum, aku pergi dulu” Suho beranjak beberapa langkah dari tempatnya.

“Kau mau kemana?” tanya Xiumin.

“Paling menemui kekasih hebatnya itu” goda Lay.

“Diam kau Zhang Yixing”

Xiumin dan Lay tertawa terpingkal oleh kelakuan Suho.

***

Chorong dan Irene kembali kekelas. Aura suram menghampiri Chorong. Ia lapar tapi malas jika berlama-lama dikantin.

“Kenapa kau pergi?” tanya Irene yang sekarang sudah duduk dihadapannya dengan 1 cup ramen yang mengepul.

“Heol, kau sempat membawa itu?!” Chorong menunjuk ramen Irene.

“Memangnya kenapa? Aku lapar dan aku harus membawanya dari pada aku kelaparan” Irene sudah menyumpit ramennya dan meniup-niupnya.

Glek

Chorong menelan ludahnya.

“Berikan padaku” Chorong berniat mengambil makanan Irene namun sayang Irene lebih cepat. “Ets, beli sendiri sana!. Jatah traktiranmu hanya 1 kali” kemudian Irene melahap ramennya.

“Ya!”

“Park Chorong” panggil seseorang.

“Apa lagi!” bentaknya.

“Ah maaf, ada seseorang yang mencarimu diluar” ujar orang tersebut.

“Baikalah, terima kasih. Maaf membentakmu tadi. Aku sedang kesal” ungkapnya.

“Tak apa, aku tahu” jawab orang tersebut.

Chorong beranjak dari kursinya dan keluar kelas, sampai di pintu ia berdecak.

“Ada perlu apalagi?” tanya Chorong.

Suho, orang yang dimaksud memberikan sekantung pelastik pada Chorong.

“Apa ini?” Chorong mengerenyit.

“Bayaran untuk kau tidak membolos dan membuat sesuatu yang tak membosankan dikantin tadi” ujarnya.

“Ck, tak perlu. Dan semua ini karena kau!. Menjauhlah dariku, aku selalu sial jika bersamamu” Chorong berniat mengusir Suho.

“Ambil saja” Suho menyerahkannya ke tangan Chorong.

“Aku tak la (kriuk) par” Chorong menunduk dan merutuki perutnya yang berbunyi pada saat yang tak tepat.

“Haha perutmu tak bisa berbohong, sudahlah terima saja. Makan yang banyak ya anak baik” Suho mengelus puncak kepala Chorong dan pergi sebelum Chorong akan memukulnya.

“Ya!”

“Pastikan tak tersisa ok” Suho mengedipkan matanya. Chorong merasa ingin muntah.

“Aigo, romantisnya” gumam seseorang. Chorong membalikkan badannya. Sang adik tiangnya sudah ada disana dengan sekantung makanan juga.

“Diam kau!, apa yang kau bawa?” tanyanya melihat pada pelastik bawaan Chanyeol.

“Ini” Chanyeol mengangkat pelastiknya ke atas. “Tadinya akan kuberikan padamu agar kau tak kelaparan, tapi aku lupa jika sudah ada yang memperhatikanmu sekarang” sambungnya.

“Berikan padaku” Chorong memintanya.

Chanyeol menggeleng. Chorong mengerenyit. “Bukannya itu untukku” tanya Chorong. “Tadinya” “Lalu” Chorong semakin bingung. “Kau kan sudah punya” Chanyeol menunjuk pada tangan Chorong yang menggenggam pelastik.

“Tapi kau memberikan itu untukku jadi berikan” pinta Chorong. “Serakah sekali” ujar Chanyeol. “kalau begitu, kita bertukar” putus Chorong. “Tidak, aku makan ini dan kau itu, itu kan diberikan dengan penuh ‘cinta’ ” Chanyeol menyeringai.

“Ya!”

“Bye, nonna jangan lupa habiskan. Ingat pesan Suho Sunbae ok” Chanyeol tertawa dan berlari.

“Awas saja kau” Chorong menunjuk adiknya yang sudah jauh itu dengan kepalan tangan.

Ia berjalan masuk kelas dengan melihat isi kantung yang diberikan Suho. Ada ttopoki dan kimbbap didalamnya. “Tidak buruk” Chorong segera menghampiri Irene yang sudah menandaskan ramennya.

“Siapa?” tanya Irene.

“Praia menyebalkan dan pria tiang” jawab Chorong dengan mengeluarkan ttopoki juga kimbbap dari dalam kantung.

“Waw, sepertinya enak” Irene akan mengambil ttoppoki namun tangannya di pukul oleh Chorong.

“Ini jatahku” ujarnya.

“Pelit sekali” gerutu Irene. Ia melihat ada secarik kertas dalam kantung dan mengambilnya.

“Makanlah yang banyak, tertanda pacarmu yang tampan Suho” Irene membacakan isi dalam kertas itu.

“Uhuk” Chorong tersedak ttoppokinya.

***

semakin hari Suho semakin menempel pada Chorong, kenapa? Karena jika ia bersama Chorong maka Rion tak berani mendekat. Rion masih shock soal kejadian dikantin tempo hari.

“Eum, Myeon. Kau bilang tak ada perasaan pada Chorong. Tapi ku lihat semakin hari kau semakin menempel padanya” Lay bertanya pada Suho setelah pria tersebut duduk dihadapannya dan Xiumin setelah ia mengerjai Chorong terlebih dahulu. Lihat saja di sisi kantin lainnya ada Chorong yang terus menyumpah serapah Suho.

“Dia itu sedang jatuh cinta tapi tak ingin mengaku” jawab Xiumin kemudian menyupkan nasi ke mulutnya.

“Ck, aku bilang tak jatuh cinta. Dia kan alatku agar jauh dari para gadis genit” Suho mengambil minuman Lay.

“ya!, mulut bisa saja berbohong tapi hati tidak” balas Lay mengambil kembali minumannya.

“Dengar ya adikku sayang, tak akan ada yang tau perasaan cinta itu datang kapan dan pada siapa, mungkin kini kau tak menyadarinya tapi nanti siapa yang tau” nasihat sang anak paling tua.

“Ya ya terserah kalian” Suho acuh tak acuh. Namun ia kembali memandang sudut kantin lainnya dimana Chorong berada. Ketika tatapan mata mereka bertemu Suho tersenyum dan melambaikan tangannya sedangkan Chorong menatapnya tajam sambil mengepalkan tangannya ke udara.

“Haha” kelekar dua orang disamping Suho yang melihat kejadian itu.

***

Hari sudah larut ketika Chorong selesai latihan untuk mengikuti kejuaraan. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Ia mengambil handphone dalam lokernya. Satu pesan dari Chanyeol.

‘Nonna, aku tak bisa menjemputmu. Restoran sangat penuh kasihan ibu. Kau bisa pulang sendiri kan, atau minta tolong dengan Suho sunbae?’

Chorong berdecak, “Kenapa bawa-bawa nama pria itu” Chorong segera mengetik balasan pada Chanyeol.

‘Tak apa, aku bisa pulang sendiri’

 setelah menekan send. Ia meletakan kembali handphonenya, mengambil seragam dan menutup lokernya kembali.

“Hai” Sapa seseorang sambil tersenyum lalu menguap.

“Astaga, Kau membuatku terkejut” Chorong memegang dadanya “Untung saja aku tidak mempunyai riwayat penyakit jantung” omelnya.

“Ck, cerewet sekali. Kau baru selesai?” tanya orang tersebut. Chorong hanya menjawab dengan anggukan. “Kenapa kau masih disini?” tanya Chorong.

“Minseok hyung meninggalkanku ketika tertidur” jawabnya sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Oh” hanya itu balasan Chorong, ia segera meninggalkan Suho untuk mengganti pakainnya.

***

“Kau masih disini?” tanya Chorong setelah ia selesai berganti pakaian. Suho masih berdiri dekat lokernya dengan wajah mengantuk.

“ah, um ya. Tadi temanmu eunwang atau siapalah itu bilang kau tidak dijemput adikmu. Dan dia bilang ada urusan mendadak jd tidak bisa pulang bersama” Suho menjelaskan dengan setengah mengantuk.

“Ck, Eunkwang sialan!” gumamnya. “Minggir, aku mau ambil tas” Chorong menyingkirkan Suho dari depan lokernya.

“Ck, dasar bar bar” Suho segera menyingkir. Chorong segera mengambil tasnya dan berlalu meninggalkan Suho.

“Kenapa kau masih mengikutiku?!” tanya Chorong pada Suho yang berjalan dibelakangnya.

“Eum itu, Minseok hyung mengambil dompetku. Aku tak bisa pulang” melasnya.

“Telpon dia atau siapapun untuk menjemputmu!” titah Chorong. “Batrai handphoneku habis” Suho menunjukan handphonenya. “Ini pakai milikku” Chorong menyerahkan handphonenya, Suho segera menerimanya namun detik berikutnya ia terdiam. “Aku lupa nomor Minseok hyung” ujarnya. “No rumahmu” balas Chorong. Suho segera menekan no telpon rumahnya. “Tak ada yang mengangkat. Mereka semua kemana sih? Ck akan ku pecat mereka semua” Suho marah-marah pada handphone Chorong.

“Ck, berhentilah marah-marah dan jangan berbuat berlebihan!” nasehat Chorong, ia mengambil handphonenya.

“Naik bis saja denganku” tawar Chorong. Ia merapikan kembali tasnya dan berjalan.

“Hah? Tidak tidak. Aku. Naik bis. Tak ada sejarahnya” tolak Suho. “Kalau begitu jalan kaki saja sana!” Chorong meninggalkan Suho.

Mata Suho membola, jarak dari sekolah ke rumahnya lumayan jauh. Lebih parah jalan kaki dari pada naik bis. Ia segera mengejar Chorong yang semakin menjauh. “Ya! Tunggu aku!” panggilnya.

To be continue . . .

Posted in Uncategorized

Tell Me What Is Love #2


Evina93 @2017

Chapter / PG 15

School life, comedy, romance.

Cast : Kim Joon Myeon / Suho (Exo), Park Chorong (Apink), Rion

Other Cast : Kim Minseok / xiumin (Exo), Zhang Yixing / Lay (Exo), Park Chanyeol (Exo), Bae Joohyun /  Irene (Rv)

Alur cerita milik saya, cast milik sang pencipta, orang tua serta agensi masing-masing. Dimohon untuk tidak mengcopy. Diwajibkan meninggalkan jejak setelah membaca ^^

Chapter 2 

“Let’s play!”



‘Suho memiliki kekasih’ itulah topik utama sekolah hari ini, masih ingatkah kalian bagaimana dengan entengnya Suho mengatakan bahwa Chorong kekasihnya? Bahkan detik itu juga Rion pingsan ditempat. Tanpa peduli pada Rion dan kehebohan lainnya Suho segera menarik Chorong menuju atap sekolah.

Dan disinilah mereka sekarang, “Apa kau gila?!” bentak Chorong. Sudah cukup masalah yang ia dapatkan dengan pria yang ada dihadapannya ini kemarin, kenapa hari ini masalahnya semakin bertambah?.

“Aku masih waras nona, dan jangan pernah mengataiku gila!” hardik Suho. “Jika kau tidak gila kenapa kau mengatakan hal yang tak masuk akal tadi huh?” tanya Chorong. “Aku tak ada pilihan lain” Suho mengedikan bahunya. “Mwo?” Chorong membulatkan matanya.

“Dengar ya Park Chorong, karena sudah terlanjur basah, ku perintahkan kau untuk menjadi kekasihku. Harusnya kau bahagia, banyak sekali yang menginginkanku” ujarnya penuh bangga.

“Heol, geratispun aku tak sudi” Chorong mencibir, Suho yang mendengarnya seakan kesombongannya terinjak-injak. “Yak! Kau tidak bisa menolak atau kau aku keluarkan!” ancamnya. “Silahkan saja, aku tak peduli. Lagi pula melihatmu nanti setiap hari membuatku stres. Kalau begitu aku pamit. Annyeong Suho-sii” Chorong membungkukan badannya dan berjalan menuju pintu meninggalkan Suho yang sedang berkoar di sana.

*** 

“Dari mana saja kau?” tanya seseorang ketika Chorong baru saja mendudukan dirinya pada bangku. “Sedikit urusan” ujarnya. “Urusan apa?” tanya gadis itu lagi. “Kau ini cerewet sekali sih Bae” gerutu Chorong.

“Nonna!!!” teriak seseorang. Chorong dan Irene melihat ke arah asal suara. Chanyeol berlari menuju ke arahnya dengan nafas memburu.Chorong yang melihatnya mengerutkan dahi. “Kau kenapa?” tanya Chorong setelah Chanyeol sudah berada di samping mejanya dengan nafas tersengal sengal.

“Hah hah kau hah berhutang hah penjelasan hah padaku” ujarnya dengan nafas terputus-putus. “Apa maksudmu?” Chorong kebingungan. “Iya, apa yang kau bicarakan sih?” tanya Irene. “Tentang Kau dan Suho Sunbae” Chanyeol menunjuk Chorong. “Memangnya ada apa antara mereka?” Tanya Irene. “Kau tak tahu nonna?”Chanyeol berujar heboh, Irene hanya menggeleng. “Dia berpacaran dengan Suho Sunbae!” teriaknya heboh. ‘Tak’ satu jitakan sukses mendarat dikepalanya walau Chorong harus bersusah payah menaiki bangku dulu untuk menjitak adik tiangnya satu ini “Kecilkan suaramu bodoh!” Chanyeol yang meringis kesakitan melihat sekitar dan benar saja semua orang telah melihat kearahnya, ia hanya bisa tersenyum kikuk dan meminta maaf. 

“Ya! Park Chorong kau berhutang penjelasan pada kami!” Irene menuntutnya, Chanyeol mengagguk setuju dan Chorong hanya bisa menghela nafas. Sepertinya hal ini tidak akan cepat selesai pikirnya.

*** 

Diluar kelas ternyata Suho melihat kejadian tersebut, ia yang semula akan menuju kelasnya yang berjarak tiga ruangan dari sini menghentikan langkahnya. Seluruh siswa yang melewatinya berbisik – bisik tapi apa pedulinya. Hal yang ia pedulikan adalah seorang gadis di dalam sana yang sedang memarahi pria berpostur tinggi bak tiang.

“Siapa dia?” gumamnya.

Ia melihat seseorang yang baru saja keluar dari kelas tersebut, tanpa babibu ia segera menariknya. “Ya apa yang  . . ah Suho-sii, maafkan aku ku mohon jangan keluarkan aku, aku tak bermaksud membentakmu” mohon seseorang yang baru saja ditarik paksa oleh Suho. “Kecilkan suaramu!” titah Suho dan pria itu hanya mengangguk.

“Siapa pria itu?” tunjuk Suho pada seorang pria tinggi bersama Chorong dan wanita lainnya didalam kelas.

“Ah itu Chanyeol” jawabnya. “Dia kekasih Chorong?” tanya Suho. “Hahaha masa kau tidak tahu, memang sih jika orang yang baru pertama kali melihatnya akan berpikir begitu” ocehnya namun ketika melihat tatapan yang diberikan Suho ia langsung bungkam “Maafkan aku, Chanyeol atau Park Chanyeol dia adik dari Park Chorong” Suho melihatnya lagi dan senyum iblis baru saja terukir di wajahnya.

“Kau boleh pergi” Suho melepaskan cengkramannya, pria tadi membungkuk terima kasih dan berlalu meninggalkannya.

“Kena kau Park Chorong” gumamnya.

*** 

Sampai dikelasnya dan duduk disamping Lay ia masih tertawa. Lay yang melihatnya terkekeh “Memang ya orang yang jatuh cinta itu terlihat gila” suho memalingkan wajahnya pada Lay “Siapa yang jatuh cinta?” tanya Suho.”Kau” tunjuk Lay. “Aku, tidak mungkin” Suho menunjuk dirinya kemudian menggeleng. “Jika tidak, apa maksudnya tadi ‘Dia kekasihku’” Lay memperagakan adegan pagi tadi dimana Suho mengakui Chorong sebagai kekasihnya. “Heol” umpat Suho. “Mengakulah?” Lay menggodanya dengan menaikan sebelah alisnya.

“Dia bukan kekasihku” terang Suho.

“Jika bukan berarti akan” lanjut Lay.

“Gadis barbar seperti dia mana ada yang mau” ujarnya.

“Kau mau dengannya” 

“Aish, dia hanya alat bagiku untuk menjauhi Rion” bisiknya pelan. “Kawan dengar, tak perlu malu jika kau menyukainya dan membuat alasan yang mengada-ada, aku mendukungmu. Siapa tau dia bisa merubah sikapmu” nasihat Lay dengan menepuk-nepuk pundak Suho.

“Ya! Zhang Yixing ku bilang bukan ya bukan, kau ingin ku deportasi huh!”

*** 

Chorong sedang berada di kantin, ia menunggu pesanannya yang sedang diambil temannya.

“Hai, Chagi” sapa seseorang. Chorong mendongkan kepalanya yang semula berbaring di atas meja. Matanya membulat. 

“Menjauhlah dariku” usirnya.

“Astaga, kenapa kau mengusirku? Kau tidak merindukanku?” tanyanya percaya diri.

“Dalam mimpimu!” sang pria hanya mengangguk-angguk. “Baiklah, dengan kata lain kau menyuruhku memimpikanmu. Benar kan?” Suho sang pria pengganggu ketenangan menaik turunkan halisnya menggoda.

“Terserah kau, selera makanku hilang!” Chorong beranjak dari kantin dengan muka cemberut. Meninggalkan Suho yang tersenyum-senyum bodoh. Tanpa disadarinya Rion menatap kejadian itu dari kejauhan.

“Tak ada yang bisa memiliki Suho oppa selain diriku” gumamnya.

*** 

Xiumin sedang berjalan dikoridor ketika Chorong melewatinya dengan gerutuannya. “Permisi” sapanya. Chorong berbalik dan melihat sekeliling lalu menunjuk dirinya Xiumin hanya mengangguk. “Ada apa ya sunbae?” tanyanya. “Kau melihat adikku?” Chorong mengerenyit “Siapa?” tanyanya bingung. “Suho, kau kan pacarnya. Setidaknya kau tau dimana dia” Xiumin berkata dengan senyum ramah. 

“Maaf ya sunbae, aku bukan pacarnya! Dan jika kau mencari bocah menyebalkan itu, dia dikantin!” ujarnya emosi. 

“Tapi Joonmyeon bilang kau” “Yak! Bukan ya bukan! Aish!” tanpa peduli reaksi Xiumin ia pergi terserah jika sunbae satu ini menilainya apa.

“Waw, myeonie kau punya lawan sepadan” Xiumin malah tersenyum senang.

***

Hari ini Chorong berniat membolos. Ia sedang bosan dikejar-kejar terus oleh anak iblis itu. Sudah memantapkan diri untuk membolos niatnya terhalang ketika menemukan pria menyebalkan itu di dekat pagar belakang sekolah.

“Kau membolos ya?” tanyanya santai.

“Apa pedulimu” Chorong berniat menaiki pagar, “Ya apa yang kau lakukan?” kau memakai rok dasar gadis tak tau malu” Suho membulatkan matanya. “Diamlah, aku memakai Celana tambahan, kecuali jika kau berniat untuk mengintip” Chorong mengedipkan matanya.

“Aish, hey, bukannya itu guru kedisiplinan” ujar Suho. Chorong yang semula akan naik melihat sekeliling dan kembali turun. “Sial” gumamnya. 

“Pak huemmmp” Suho yang berniat memanggil guru segera dibekap oleh Chorong dan dibawa pergi menjauhi pagar belakang.

Suho terus meronta, walau Chorong wanita bekapnnya bukan main-main. “Hmphmp”.

Merasa keadaan sudah aman Chorong melepaskan Suho. “Hah, kau gila! Bagaimana jika aku mati, akan ku tuntut kau dan akan ku gentayangi!” omelnya sarkasme.

“Bisa diam tidak!, atau kau ku hajar disini” glek Suho mengatupkan bibirnya. 

“Sepertinya sudah aman, aku akan pergi. Jika kau masih ingin disini silahkan” Chorong menarik tas ranselnya dan bersiap membuka pintu gudang. 

“Tunggu, kita perlu bicara” tahan Suho dengan memegang lengan Chorong. “Ku rasa tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Permisi” Chorong melepaskan genggaman Suho.

Suho berdecak “Turuti perintahku atau Park Chanyeol aku keluarkan!” ancamnya. Chorong terdiam kaku dan seketika memandang suho tajam. Ia segera mendekati Suho dan mencengkaram kerah seragamnya. “Berani macam-macam dengan adikku tak akan ku biarkan kau tenang!” gertak Chorong, namun Suho hanya tersenyum mengejek. “Kalu begitu, turuti perintahku atau ia akan ku keluarkan”.

Chorong memandang Suho dengan penuh benci, tak mungkin ia mengorbankan sang adik, pasalnya sang adik sangat bermimpi bisa sekolah disini bahkan dia sangat senang ketika tahu ia diterima di sekolah tempat kakaknya berada. Ia tak akan melupakan itu. 

“Diam berarti setuju” ujar Suho final.

“Sejak kapan aku menyetujuinya huh” Chorong kembali mengeratkan cengkramannya. “Sejak saat ini, nah Chagi mulai besok kau harus turuti kata-kataku, ah satu lagi” 

Cup

Suho mencium pipi Chorong membuat sang gadis melebarkan matanya dan cengkramnnya mengendur. “Jangan membolos, kembalilah ke kelasmu, annyeong” Suho mengacak surai Chorong dan meninggalkannya.

Chorong yang baru sadar setelah terdengar suara debuman pintu tertutup segera melihat sekitar “YAK! KIM JOONMYEON AKAN KU BUNUH KAU!!”

Tbc

Posted in Apink, exo, fanfiction, suho

Tell Me What Is Love #1


Evina93/Chapter/PG 15

Romance, Comedy.

Kim Joon Myeon/Suho (Exo), Park Chorong (A Pink), Rion
” Perasaan tulus lah yang tidak bisa dibeli dengan uang”

Kim Joon Myeon atau lebih dikenal dengan panggilan Suho ini siapa yang tak mengenal dirinya di sekolah ini. Anak dari donatur terbesar sekolah, berotak lumayan namun sayang jarang digunakan, berparas tampan bak malaikat namun berkelakuan iblis. Semua orang tahu dia. Satu hal yang perlu kalian camkan baik-baik ‘JANGAN PERNAH BERURUSAN DENGAN SUHO’ atau kau akan tau akibatnya.

Seperti halnya kali ini, hanya karena seseorang menumpahkan sekotak susu pada seragamnya secara tak sengaja ia menghina habis-habisan orang tersebut. Siapa yang berani menolong? Tak ada. Kalaupun ada esok hari kau akan memberi salam perpisahan pada sekolahmu.

“Sudahlah Suho, kau tidak liat sebentar lagi bel masuk. Selesaikan ini dan segera kembali” perintah Xiumin. Sekasar apapun ia seburuk apapun ia, ia tidak bisa membantah Xiumin. Suho membantah maka ia yang kena hukumannya. Kenapa? Karena Xiumin itu kakaknya. 

Ah, mari ku perkenalkan, Xiumin atau Kim Minseok anak sulung keluarga Kim. Berlaku tenang tidak seperti suho. Memiliki wajah yang baby face. Bahkan banyak yang mengira dia itu junior. Ia sudah lelah memarahi Suho hingga ia mengambil keputusan. Asal tidak keterlaluan aku akan diam.

“Kali ini kau bebas, untung saja Xiumin Hyung berada disini jika tidak” Suho memvuat gerakan memenggal leher. Orang yang menjadi sasaran Suho hanya bisa menelan ludah “Te terima kasih” Suho pun berlalu untuk mengejar kakaknya.

“Kau tidak lelah berlaku seperti itu terus?” Tanya Xiumin ketika mereka berjalan di koridor menuju kelas masing-masing.

“Aku perlu hiburan” Suho menjawab dengan entengnya.

“Hh . . Siapa yang bisa menjinakkanmu sih, kau hanya menuruti perkataanku namun kembali melakukannya” ceroscos Xiumin.

“Kau pikir aku hewan” Suho menggerutu dibelakangnya, namun ia berhenti ketika melihat sosok perempuan berjalan dari arah berlawanan menuju dirinya. “Hyung, sepertinya aku akan membolos. Bye hyung” dan Suho berlari tanpa menunggu reaksi Xiumin selanjutnya.

“Ya! Mau kemana kau?!” teriak Xiumin.

“Suho oppa tunggu” seorang wanita berlari dari arah belakang Xiumin dan berhenti dengan nafas terputus-putus disampingnya.

“Xiumin oppa, Suho oppa akan pergi kemana?” Tanya sang wanita. “Mana aku tau” Xiumin hanya mengedikan bahu dan berlalu meninggalkannya.

“Haha kena kau Suho” Xiumin tertawa puas.

Perempuan tadi hanya cemberut di tempat dan menghentak-hentakan kakinya.

Mari ku perkenalkan seseorang yang bisa membuat Suho kabur terbirit-birit. Namanya Rion. Asing? dia berasal dari Jepang dan baru beberapa tahun tinggal di Korea. Keluarganya lumayan berpengaruh dalam bidang usaha. Ia adik kelas dari Suho dan Xiumin. Mempunyai obsesi besar terhadap Suho. Sehingga Suho membencinya dan memilih menjauhinya. Bukanlah rahasia jika Rion sangat ingin menjadi kekasih Suho.

“Chorong-a pst chorong, Park Chorong bangun” Seorang wanita berusaha membangunkan temannya yang sedang menjelajah ke alam mimpi. Namun yg didapat tak ada tanggapan sama sekali masih saja membaringkan wajahnya pada meja.

“Astaga, aku tak ikut campur lagi” gumam wanita tadi. Jika ini dirumah tak masalah baginya tapi ini sekolah, di dalam kelas, pelajaran guru Jung yang terkenal sangat killer. Matilah kau Park Chorong.

Derap langkah kaki menghampiri meja Chorong, murid lain sudah menunduk dan mengasihani nasib seseorang di meja belakang sana.

setelah sampai pada tempat yang dituju sang guru langsung saja mengetuk meja tersebut dengan penggaris kayu. 

“Kenapa berisik sekali sih!” Chorong membuka matanya awalnya ia akan membentaknya lagi tapi setelah melihat sang pelaku “Pak kau tampan sekali hari ini” ujarnya sambil tersenyum bodoh.

Semua yang didalam kelas tergelak, “Hentikan!” dan kelas pun sunyi seketika. “Nona Park sudah berpa kali kau tidur di jam pelajaranku, apa pelajaranku sangat membosankan hingga membuatmu terlelap?”.

“Apa aku harus jujur pak?” tanyanya.

“Tentu saja”

“Sejujurnya aku tidak mengerti dengan apa yang kau jelaskan, mencerna semua penjelasanmu membuat kepalaku berputar. Jadi ku putuskan untuk menaruh kepalaku diatas meja siapa sangka aku terlelap” tuturnya. Yang lain hanya bisa menahan tawanya. Ada yang mengatakan jika ia ini terlampau jujur ada pula yang mengatakan ia bodoh.

Reaksi sang guru hanya memijat pelipisnya “Nona Park, kau tak bisa hanya mengandalkan keahlianmu saja dalam seni bela diri. Kau juga perlu nilai akademik untuk naik kelas dan lulus. Dan apa ini, kenapa kau memakai celana olahraga dibalik rokmu!”.

“Ini membuatku lebih nyaman pak, kau tahu kan lelaki sekarang banyak yang mesum” ujarnya berbisik pada sang guru. 

“Ya! Bersihkan halaman sekarang juga!” perintah sang guru.

Park Chorong, murid tingkat 2 SHS. Atlit beladiri cabang taekwondo, jadi wahai para pria jangan macam-macam padanya. Berparas manis, namun ganas. Dia malas dalam hal belajar, bukannya tak bisa.

“Kenapa mendadak halaman ini banyak sampahnya sih” Chorong mengambil beberapa bekas minuman botol dan menaruhnya didalam kantung sampah. 

Selesai dengan tugasnya Chorong membawa sampah-sampah itu ke samping gedung sekolah. “Ini melelahkan, kenapa tempat sampah jauh sekali sih” gerutunya. Seperti mendpatkan sebuah pencerahan ia sedikit tersenyum. Memutar-mutar badannya pegangannya semakin erat pada kantung pelastik itu. Dikira sudah cukup kencang ia melonggarkan pegangannya dan mengarahkan ke bak sampah. “Masuklah!” teriaknya.

Namun naas, sebelum menuju bak sampah tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dari lorong dekat bak sampah “Ya! Awas!” teriak Chorong. Orang yang diteriaki berbalik melihat yang memanggilnya, matanya membulat, sialnya ia tak bisa menghindar alhasil kantung itu mendarat di wajahnya.

Buk

Dan ia pun terjatuh. Chorong segera berlari menghampiri. “Apa kau baik-baik saja? Maafkan aku” ujarnya dengan mengulurkan tangan membantu orang tersebut berdiri.

“Ya! Kau cari gara-gara denganku huh? Kau tak tau siapa aku?!” marah orang tersebut.

“Aku kan sudah minta maaf. Kenapa kau marah-marah” Chorong menatapnya tajam.

“Kau benar-benar cari masalah. Tak tahu kah kau siapa aku?” pria yang tadi terkena lemparan Chorong berdiri dari keadaan naasnya itu membersihkan seragamnya dan memandang remeh wanita dihadapannya.

“Memangnya kau siapa?” tanya Chorong santai sambil mengusap hidungnya yang sedikit gatal. “Kau tak tau siapa aku,astaga” pria tersebut menghembuskan nafasnya kasar “Baiklah, mungkin kau tak tau Wajahku, mungkin kau tau namaku. Aku Kim Suho” pria itu tersenyum sinis.

Chorong terhenti seketika dari kegiatannya. Dahinya mengerenyit.

‘Gotcha, kena kau’ Suho tertawa sinis dalam hati.

Namun reaksi selanjutnya dari Chorong membuatnya ternganga “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Ah molla molla. Yang jelas aku sudah minta maaf ok” Chorong mengambil kantung keresek sampahnya tadi dan berjalan menuju bak pembuangan dengan santainya, mengabaikan Suho yang menatapnya tak percaya. 

Selesai membereskan tugasnya ia menepuk-nepuk tangangnya membersihkan debu “Kau masih ingin disini? Kalau begitu aku duluan. Annyeong” pamitnya meninggalkan Suho yang masih memandangnya tak percaya.

Ini tak bisa dibiarkan, Suho mengejar Chorong dengan refleks mencengkram tangannya “Hei!” Chorong yang selalu waspa itupun dengan lihai membalik keadaan dengan memelintir tangan Suho dan menjatuhkannya ke tanah. “Ya ya appo! Appo” rintih Suho. “Kau mau apa huh?” nada ancaman keluar dari bibir gadis itu di dekat telinga Suho, ia masih menahan tangan Suho dibelakang tubuhnya, aura ancaman sudah keluar dari dirinya tak peduli Suho sedang merintih kesakitan.

“Nona!” Panggil seseorang, Chorong mengalihkan atensinya. Aura membunuh yang sebelumnya terpancar terganti menjadi aura musim semi. “Eoh, Chanyeol”.

Chorong buru-buru melepaskan Suho. “Apa yang kau lakukan disana?” tanya Chanyeol dengan memincingkan matanya.

“Eum, tak ada. Sedang apa kau disini? Bukankah ini masih jam pelajaran?” Chorong berusaha mengalihkan topik.

“Harusnya aku yang bertanya padamu, aku disuruh guru Choi mengembalikan ini” ia mengangkat beberapa buku ditangannya. “Oh, akan ku bantu” Chorong berjalan mendekati Chanyeol. Namun sebelum beranjak dari tempatnya ia membisikan sesuatu pada Suho “Kali ini kau bebas” gumamnya dan melanjutkan langkahnya.

“Sini aku bantu, kemana?” tanyanya pada Chanyeol. “Perpus” dan merekapun berjalan beriringan.

Uh, Suho rasa harga dirinya sudah diinjak-injak. Ia memijat tangannya dan punggungnya sendiri “Awas saja kau”.

Chorong dan Chanyeol berjalan beriringan menuju perpus. Chanyeol itu adik Chorong. Mereka hanya berbeda 1 thn. 

“Kau dihukum lagi ya?” tanya Chanyeol, respon dari sang kakak hanya cengirian. “Jangan adukan ini pada ibu” Chanyeol bersmirk ria ” 1 paket makan Siang” ujarnya kemudian. Chorong mendengus, sial adiknya ini. “Arra arra”.

“Ngomong-ngomong nonna, siapa yang bersamamu tadi?” mereka sudah berbelok masuk ke perpustakaan. 

“Annyeong haseo, aku menyerahkan ini saja” ujar Chanyeol dan menaruh bukunya diikuti Chorong pada meja sang petugas.

“Ah baiklah terima kasih” ujar sang petugas.

“Kalau begitu kami pamit, annyeong haseo” mereka menunduk hormat kemudian kembali keluar.

“Pria yang mengesalkan jadi aku sedikit memberi pelajaran padanya” jawab Chorong dari pertanyaan adiknya tadi.

“Kau tak menghajarnya kan?” mereka mengobrol tanpa memandang satu sama lain,fomus mereka hanya jalan di depan.

“Sedikit” jujur Chorong. “Ck, apa temanmu?” “Kau mengintrogasiku?” Chorong sedikit kesal. “Hanya bertanya, siapa dia?” “Jika aku tak salah dengar namanya Kim Suyong,eh Sulong, ah aku lupa” Chorong mengacak rambutnya. “Ah benar Suho, Kim Suho” ujarnya kemudian.

“Oh Kim Suho” tanggap sang adik.

1 detik 

2 detik.

“Mwo, Kim Suho! Nona untuk sementara jauh-jauhlah dari ku. Aku tak ingin terkena maslah” Sang adik berangsur menjauh.

“Memangnya kenapa?” Chorong mengerenyitkan keningnya. Apa hebatnya Suho itu.

“Astaga, kau tak tau siapa Suho Sunbae? Bukankah dulu sudah ku katakan, tak apa kau membuat masalah asal tidak dengan keluarga Kim, kau bisa di tendang dari sekolah ini nonna, dan baru saja kau bilang kau menghajarnya. Astga astga. Tamatlah riwayatmu” Chanyeol memijat pelipisnya sambil mondar mandir.

“Maksudmu Kim yang itu? Aish kenapa kau tak bilang. Pantas saja aku pernah mendengar namanya, ah bagaimana ini?” Chorong mengacak rambutnya.

“Pokonya sementara ini, jangan dekati aku disekolah, annyoung nonna” Chanyeol meninggalkan Chorong yang frustasi disana.

“Ya! Adik macam apa kau ini!” 

setelah jam pelanjaran berakhir, Suho baru memasuki kelasnya. “Yo, kawan dari mana saja?” tanya Yixing kawan sebangkunya.

” Menghindari singa betina dan malah bertemu singa liar” tuturnya yang kali ini sudah menjatuhkan tubuh di bangkunya. “Maksudmu?” Yixing sedikit bingung akan istilah yang digunakan temannya ini.

” Aku menghindari Rion dan sialnya aku bertemu gadis barbar yang melemparkan kantung sampah pada wajahku juga menghajarku” kesalnya. Tapi ia mendengar suara tawa puas dari sebelahnya. “Berhentilah tertawa!” bentaknya.

“Ini luar biasa, siapa gadis itu?” Yixing sangat antusias pasalny baru kali ini ada yang berani melawan teman disebelahnya ini.

“Entahlah, yang pasti tak akan ku biarkan ia hidup tenang” oow, sepertinya ini akan menarik pikir Yixing.

Pagi ini Chorong entah kenapa malas sekali untuk bersekolah. Karena percakapnnya dengan sang adik semalam ia jadi ragu untuk sekolah. Bagaimana jika Suho itu membawa masalah ini lebih lanjut. Ia hanya bila menghela nafas dan berdoa pada sang kuasa agar ia tak bertemu lagi dengan makhluk bernama Kim Suho itu.

“Park Chorong” Panggil seseorang.

“Nde” Chorong membalikkan tubuhnya. Oh tuhan kenapa kau tak mengabulkan permintaanku. Pikir Chorong.

Ya dihadapannya sekarang Suho telah tersenyum iblis menatapnya. Chorong hanya bisa menelan ludah.

“Ah, kau. Selamat pagi. Oh, sepertinya sebentar lagi bel masuk. kalau begitu aku duluan. Annyeong” Chorong melambaikan tangannya dan sudah bersial akan berlari. 

“Eit, mau kemana kau? Urusan kita belum selesai” sayangnya Suho sudah menahan hodie yang dipakai Chorong. Sebenarnya dalam keadaan seperti ini Chorong bisa saja melawan hanya saja ia tak ingin menambah masalah.

“Hehe, memangnya kita ada urusan apa ya?” Chorong menggaruk kepalanya, pura-pura lupa. Itulah idenya.

“Ya kau!”

“Oppa” belum selesai berbicara ada yang memanggilnya. Mereka berdua mengalihkan penglihatan pada sang pemanggil.

‘sial kenapa sekarang’ pikir Suho. Sedangkan Chorong hanya mengerejepkan matanya bingung.

“Oppa siapa dia?” tanya Rion. Ya yang memanggilnya tadi adalah Rion. 

Chorong menunjuk dirinya sendiri “Aku? Oh aku hanya”

“Dia pacarku!” Suho yang semula memegang hodie Chorong beralih dengan merangkulnya.

“Mwo?!” Chorong membulatkan matanya. Rion seperti mendapat hantaman 1000 ton. 

“Daebak!” ujar Xiumin dan Yixing.

Chanyeol menjatuhkan rotinya dan mulut mengang lebar. Yang lain mulai berbisik-bisik. Sedangkan sang pelaku pembuat kehebohan hanya tersenyum bodoh.

Tbc
Hallo, aku balik lagi bawa cerita lain. Entah kenapa saya ingin membuat cerita dari cast ini, semoga kalian suka. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ^^.

Kamsahamida . . 

Posted in fanfiction

MOTHER #2 (END)

PicsArt_05-21-05.31.53

 

Evina93 I Two shoot I PG 15

Family,

Byun Baekhyun, Kim Taehyung

“Ikatan darah itu lebih kuat dibanding apapun”

 

Semenjak pertemuannya dengan Taehyung kala itu, enatah kenapa anak itu selalu menempel padanya. Taehyung itu lebih muda 4 tahun darinya. Taehyung duduk di bangku kelas satu dan ia kelas 3. Melihat perbedaan usianya harusnya Taehyung berada di kelas akhir Junior School. Namun kabar yang beredar mengatakan jika Taehyung itu anak yang pintar sehingga membuatnya berada di kelas akselerasi.

Otak tidak sesuai kelakuannya. Itulah pendapat Baekhyun. Terkadang Taehyung itu bisa berkelakuan seperti alien dari planet Mars.

Awal mula Taehyung masuk sekolah ini banyak yang mengatakan bahwa ia adalah adik Baekhyun. Taehyung tentu saja senang tapi lain halnya dengan Baekhyun, ia merasa sangat jengah. Seperti hal nya kali ini.

“HYUNG!” Panggil Taehyung dengan enerjik dari arah pintu kantin. “Tidak lagi” gumam Baekhyun dengan mengusap kasar wajahnya.

“Baek, adikmu sudah datang” Ujar Chanyeol menggoda Baekhyun. “Sudah kukatakan dia bukan adikku” sanggah Baekhyun. “Tapi kalian mirip” sambung Kyungsoo. “Apa semua orang yang mirip itu adalah saudara huh?” Tanya Baekhyun. “Itu kemungkinan yang sangat besar” Jawab Jongdae. “Aish”

“Hyung aku mencarimu kemana-mana ternyata kau disini” keluh Taehyung yang kali ini sudah berada di samping Baekhyun. “Tak bisakah kau tak mengikutiku sehari saja?” Pinta Baekhyun. “Eum” Taehyung pura-pura berpikir “Tak bisa” jawabnya disertai cengirannya.

“Ya Kim Taehyung, kau meninggalkanku lagi !” Amuk seseorang . Taehyung mengalihkan atensinya. “Oh, maafkan aku cimcim” sesalnya. “Kau ini selalu saja, oh, hallo sunbae” sapa Jimin ketika mengetahui para sunbaenya itu berada didekatnya.

“Cimcim” dahi Baekhyun mengkerut. “Ah, itu nama panggilanku untuk Jimin” jelas Taehyung. “Yak, sudah ku katakana jangan panggil aku dengan nama itu lagi!” Jimin sedikit kesal. “Itu salah satu bentuk rasa sayangku padamu” Taehyung menyandarkan kepalanya pada bahu Jimin. “Iuh, menjauhlah dariku, aku ini normal” Jimin berangsur menjauh. “Aku juga masih menyukai wanita asal kau tau” Taehyung mengerucutkan wajahnya. Semua yang berada didekatnya tertawa tak terkecuali Baekhyun.

***

“Hyung apa hari ini pun kau bekerja?” Tanya Taehyung ketika mereka sedang berjalan menuju gerbang. Ini sudah jam pulang sekolah.

“Tentu saja, mana bisa aku dapat uang jika tidak bekerja” Baekhyun berkata namun tidak menatap Taehyung.

Taehyung hanya mengangguk angguk. “Aku juga ingin bekerja” gumamnya. “Tidak perlu bekerja pun uangmu sudah banyak” ujar Baekhyun. “Aku ingin mandiri” terang Taehyung. Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik mengarah pada Taehyung. Taehyung terdiam, ‘apa aku salah bicara’ pikirnya.

“Dengar ya anak kecil” Baekhyun menghela nafas. “Aku bukan anak kecil” sanggah Taehyung. “Ya ya terserah kau, tapi kau masih kecil dari pada diriku. Badanmu saja yang besar” Taehyung mengerucutkan bibirnya.

Pluk

Tangan Baekhyun berada diatas kepala Taehyung. Mata Taehyung membola. “Belajarlah yang rajin, jika kau sudah seusiaku baru kau boleh bekerja, arra?” entah angin dari mana Baekhyun hanya ingin menasihati anak ini.

Taehyung tidak pernah sesenang ini. Ia mengaguk paham dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya “Arra”.

***

Taehyung pulang kerumah dengan bersenandung. Sang ibu yang baru saja keluar dari dapur mengerutkan kening melihat kelakuan sang anak. Anaknya memang periang tapi hari ini anaknya terlihat sangat senang melebihi hari-hari sebelumnya.

“Kau terlihat sangat senang, apa ada hal yang menyenangkan?” Taehyung yang melihat ibunya segera berlari menghampirinya dan memeluknya “Eomma”.

“Aigo aigo ada apa hum?” Tanya sang ibu dengan mengelus surai sang anak. “Aku senang, sangat senang. Hari ini dia mengelus kepalaku” terangnya.

“Siapa? Apa wanita yang kau sukai?” tanya sang ibu.

“Ani, hyung yang melakukannya” Taehyung masih saja tersenyum, namun kali ini ia sudah melepaskan pelukan pada ibunya. Dan berjalan ke arah sofa. Sang ibu menuangkan air minum untuknya.

“Hyung, hyung siapa? “ Tanya sang ibu yang kali ini sudah berjalan kearah Taehyung dengan membawa segelas air.

“Tentu saja, Baekhyun hyung” Taehyung berujar dengan tenang.

Prang

“Dimana kau bertemu dengan Baekhyun?” Taehyung terdiam kaku. ‘Aku salah bicara’ gumamnya.

***

Setelah mendengar penjelasan sang anak dengan berurai air mata akhirnya ia berada disini. Di dalam mobil depan tempat Baekhyun bekerja sambilan, atau bisa dibilang restoran ibu Chanyeol. Awalnya nyonya Kim merasa aneh karena anaknya tiba-tiba ingin pindah sekolah, ia kira anaknya itu terkena bullyng atau lainnya dan akhirnya ia setuju namun kenyataan sebenarnya karena Taehyung sudah menemukan kakaknya dan ingin lebih tau tentangnya. Ia awalnya marah karena Taehyung tidak berterus terang padanya, namun setelah mendengar cerita Taehyung sebenci apa Baekhyun padanya menurut info yang didapatkan Taehyung. Ia ingin melihatnya namun tidak berani mendekatinya.

Seorang pria dengan dua kantung besar bawaannya baru saja keluar dari dalam restoran. Nyonya Kim memperhatikan dengan seksama.

“Hyung itu kau bisa melihat wajahnya padaku, tentu saja ia tampan sepertiku namun masih tampan aku, ia sedikit cantik, bermata sipit berbibir tipis, tingginya . . dia sedikit dibawahku”

Menurut ciri-ciri yang diceritakan Taehyung ,pria dengan dua kantung besar ditangannya itu sangatlah mirip hanya saja ia ingin lebih memastikannya.

Pria itu meletakan dua kantung besar di samping restoran yang ternyata itu adalah sampah. Ia mengelap keringat yang keluar dari pelipisnya.

“Baekhyun”

Nyonya Kim tersentak ketika ia mendengar suara seseorang memanggil nama itu.

“Nde” Pria dengan dua kantung besar tadi yang ternyata Baekhyun menjawab sang pemanggil yang ternyata Ibu Chanyeol.

“Jika kau sudah selesai dengan itu, kau boleh pulang. Ah dan jangan lupa bawa makanan yang berada diatas meja. Kau hanya perlu menghangatkannya. Terima kasih untuk hari ini, kau bekerja dengan rajin” Ibu Chanyeol tersenyum hangat.

“Nde, kamsahamida eommonim” Baekhyun membungkuk dan tersenyum.

Lain Baekhyun lain nyonya Kim, ia sedang bercucuran air mata didalam mobil “Mian, mianne adul ah” guamamnya terus menerus.

***

Hari ini Taehyung bermaksud untuk mengunjungi Baekhyun di restoran milik keluarga Chanyeol Sunbae. Namun ditengah perjalannnya ia melihat sang kakak sedang beradu mulut dengan seseorang.

“Aku bilang, aku tidak punya kenapa kau masih saja ngotot sih!” bentak Baekhyun.

“Kau pasti berbohong kan” ujar orang yang lainnya. Dan ia mendekati Baekhyun lalu memeriksa seluruh tubuh Baekhyun.

“Ya! Apa yang kau lakukan?! Aku bilang tidak ada ya tidak!” teriak Baekhyun.

“Tidak ada. Lalu ini apa huh?!” orang tersebut memperlihatkan beberapa lembar ribu won dihadapan Baekhyun.

“Hanya itu yang aku miliki untuk bulan ini jika kau mengambilnya aku tidak punya lagi!” matanya memerah jarinya mengepal menahan amarah.

“Dasar anak pembohong”

Plak

Orang tersebut menampar wajah Baekhyun cukupm keras hingga menimbulkan bekas kemerahan paada pipinya.

Taehyung sudah tidak bisa mentorelilir ini, ini keterlaluan.

“Ya! Ahjushi apa yang kau lakukan pada hyung huh?!” Taehyung berjalan menghampiri mereka dengan penuh amarah.

“Bukan urusanmu bocah!” bentak sang pria dan mendorong taehyung hingga terjatuh.

“Hentikan!” orang tersebut memandang Baekhyun.

“Bawa uang itu dan pergilah!” putus Baekhyun.

“Tidak usah kau suruhpun aku akan pergi” dan pria itu pun meninggalkan Baekhyun dan Taehyung yang masih terduduk di jalanan.

“Hyung kenapa kau membiarkan dia pergi membawa uangmu! Dia juga sudah memukulimu harusnya “

“Dia ayahku”

“ Kau tidak membiarkan ia pergi begi . . MWO? APPA?!” Taehyung semakin emosi.

“Ya! Ayah macam apa yang memukuli anaknya seperi itu aish”

“Sudahlah, apa kau baik-baik saja?”

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa itu menyakitkan? Apa dia selalu seperti itu?”

“Begitulah”

***

Taehyung baru saja pulang ke rumahnya, ia segera menceritakan kejadian tadi pada ibunya.

“Byun Jae won, dia tidak pernah berubah. Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin mengambil Baekhyun tapi apa dia mau denganku?” air mata terus saja mengalir pada pipi ibunya.

“Tenanglah Yeobo. Kita pikirkan jalan keluarnya” tenang sang suami.

Taehyung mengepalkan tangannya, ia semakin bertekad menemukan keduanya.

***

Hari ini tak seperti biasanya, Taehyung tidak mengikutinya kemanapun. “Baek kemana adikmu?” Tanya Kyungsoo. “Dia bukan adikku” sanggahnya.

Jimin baru saja memasuki kantin, “Oy, Park Jimin. Kau tidak bersama Taehyung?” Tanya Jongdae.

“Ah sunbae. Aku kira dia sudah berada disini. Hari ini dia sangat aneh. Aku tidak mendengar ia mengeluarkan suara sejak tadi pagi, ya kalian tau sendiri kan bagaimana Taehyung itu?” terang Jimin.

Baekhyun beranjak dari duduknya. “Kau mau kemana?” tanya Kyungsoo.

“Jalan-jalan” Jawab Baekhyun dan ia pergi meninggalkan kantin.

“Ia menyangkal tapi ia mengkhawatirkan Taehyung seperti kakaknya” Ujar Chanyeol dan yang lain mengangguk setuju.

***

Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya yang sedang berbaring dipinggir lapangan. Seseorang menempelkan minuman soda di wajahnya. “YA!” Ia bangkit dari posisi berbaringnya.

“Hyung”

“Hm” Baekhyun menyerahkan minuman itu pada Taehyung.

“Dari mana kau tau aku suka ini?” Taehyung bertanya sambil membuka penutup kaleng minuman.

“Benarkah? Aku hanya mengambilnya saja” Baekhyun duduk disamping Taehyung, meneguk minumannya dan memandang sekeliling lapangan.

“Akh, segarnya” Taehyung yang baru saja meneguk minumannya mengeluarkan opininya.

“Apa kau ada masalah?” Baekhyun to the point.

“Sedikit” Jawab Taehyung.

“Jika terlalu berat berbagilah” usul Baekhyun.

“Hm” Taehyung mengangguk.

“Hyung, apa ia selalu memukulmu?” Tanya Taehyung.

“Astaga kau memikirkan masalhku?” Baekhyun bertanya balik dengan sedikit menggodanya.

“Tidak, aku hanya bertany saja” Baekhyun memincingkan tatapannya.

“Kim Taehyung, suadah lama aku memikirkan ini” Taehyung mengalihkan atensi penuhnya pada Baekhyun. “Soal apa?”

“Kau naksir padaku ya?”

Byur

Taehyung menyemburkan minumannya dan terbatuk batuk “Heol, kau gila hyung. Aku ini masih normal” gerutu Taehyung.

“HAHAHA .. aku bercanda” namun Taehyung masih saja menggerutu.

“Kau tidak perlu memikirkan maslahku, aku baik-baik saja” Baekhyun tersenyum pada Taehyung, dan seorang Kim Taehyung hanya bisa terdiam seribu bahasa.

***

Baekhyun baru saja mengembalikan pinjaman bukunya dari perpustakaan kota, ingat ia ditingkat akhir. Sebentar lagi ia akan mengadapi ujian. Namun ditengah perjalannnya ia melihat seseorang tengah dipukuli habis habisan. Awalnya ia tak peduli tapi setelah melihat lagi siapa yang telah dipukuli iasegera berlari menghampiri kerumunan itu.

“YA!”

Semua melihat ke arahnya, tanpa ba bibu ia menghajar gerombolan itu hingga mereka lari terbirit-birit.

“Taehyung-a, Kim Taehyung kau tidak apa-apa?”

“Hyung” dan Taehyung pun pingsan.

Baekhyun segera membawa Taehyung ke rumah sakit terdekat, ia mengabari kediaman Taehyung namun yang mengangkat hanyalah pembantunya. Setidaknya ia sudah mengabari bukan.

“Eung” Taehyung tersadar.

“Kau sudah sadar? Aku akan memanggil dokter dulu” Baekhyun beranjak keluar.

Tak lama setelah Baekhyun keluar orang tua Taehyung datang.

“Taehyung kau baik-baik saja?” Tanya sang ibu

“Aku baik-baik saja eomma” jawabnya

“Aigo, anak ini, apa yang kau lakukan hingga babak belur huh?” Tanya sang ayah.

“Itu”

“Ah, maaf aku mengganggu”

“Hyung” panggil Taehyung. Nyonya Kim segera berbalik. Betapa terkejutnya Baekhyun. Tubuhnya melemas, ia memegang sisi pintu.

“Baekhyun-a” Ujar nyonya Kim.

Baekhyun segera berlari keluar, “Baekhyun tunggu, baek “ Nyonya Kim mengejar sang anak sulung. Bukan berhenti Baekhyun malah menambah kecepatannya hingga ia menabrak seseorang dan terjatuh.

“Baekhyun”

“Jangan mendekat!” teriak Baekhyun, ia tidak ingin membalikan tubuhnya ia berusaha dengan keras menahan air matanya agar tidak keluar, namun itu percuma karena likuid bening itu sudah mengalir bebas.

“Baekhyun, maafkan eomma, eomma memang salah” sesal nyonya Kim atau Baek A Yeon. Tidak kalah dengan Baekhyun sang ibu pun sudah beruraian air mata.

“Untuk apa kau kembali setelah meninggalkanku huh?! UNTUK APA?!” Raung Baekhyun.

“Maafkan eomma,”

“TAK TAU KAH KAU, AKU SELALU DISIKSA OLEH PRIA BERENGSEK ITU! TAK TAUKAH KAU HIDUPKU SANGAT MENDERITA! KENAPA KAU MENINGGALKANKU ? KEPA KENAPA???” Baekhyun terus saja meraung mengeluarkan semua isi hatinya yang sudah lama ia pendam sedari lama.

“Maafkan eomma”

“Jangan temui aku lagi” itulah kata terkahir Baekhyun sebelum ia meninggalkan sang ibu yang menangis tersedu.

“Baekhyun maafkan eomma” Baek A yeon hanya bisa menangis tersedu memanggil sang anak sulung hingga terjatuh dan tak mampu mengejarnya.

***

Baekhyun sedang berada di atap sekolah melihat pemandangan penjuru sekolah ketika Taehyung menghampirinya dengan wajah penuh lebam dan plester.

“Hyung”

“Sejak kapan kau merencanakan ini?” Tanya Baekhyun tanpa mengalihkan atensinya.

“Sudah lama” Taehyung menunduk.

“Jangan pernah mendekatiku lagi” dan Baekhyun pun berbalik menuju tangga bawah tanpa melihat Taehyung yang kali ini dipenuhi wajah penuh penyesalan dan kecewa “Hyung”

Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu dan benar saja Baekhyun menjaga jarak dengan Taehyung.

Hingga mala mini ia mendengar percakapan mencurigakan yang dilakukan ayahnya dengan seseorang dibalik pintu kamarnya.

“itu gampang, kita hanya perlu menculik anak dari keluarga Kim itu bukan? Siapa tadi namanya? Kim Taehyung. Ya benar itu dia. Lalu meminta tebusan haha”

Baekhyun tegang, apa yang akan ayahnya lakukan pada Taehyung? Ia harus menggagalkan rencana sang ayah.

Baekhyun berpikir mondar-mandir dengan cemas didlam kamarnya. Ia mengambil handphonenya dan segera menghubungi nomor seseorang.

“Yeobaseo?”

“Kyungsoo, bantu aku, perhatikan Taehyung secara berkala, jika ada yang mencurigakan segera telpon aku”

“ada apa Baek?”

“Nanti akan aku jelaskan”

Dan baekhyun mengakhiri sambungannya. “Sial” gumamnya.

***

Baekhyun sedang bekerja paruh waktu ketika Kyungsoo menelponnya dan mengatakan ada beberapa orang yang membawa Taehyung pergi. Setelah mendapat ijin dari sang pemilik Baekhyun segera menuju lokasi dimana Kyungsoo sampaikan tadi.

Taehyung membuka matanya dan melihat sekitar juga keadaannya, ruangan dengan minim ventilasi, duduk terikat, heol ia diculik lagi. Pikirmya.

Beberapa orang pria paruh baya datang menghampirinya dan ia dibuat terkejut oleh salah satu diantara mereka. “Byun Ahjushi, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya.

“Ku mengenalku?” Tanya Byun Jae Won, “Ah, aku baru ingat kau anak yang waktu itu bersama Baekhyun bukan, aish. Anak itu dekat dengan orang kaya kenapa tidak bilang”

“Apa mau kalian?” Tanya Taehyung santai. Namun ia sedang berusaha meloloskan ikatannya. Sudah ku katakana bukan Taehyung terlalu sering berada disituasi ini karena pekerjaan sang ayah.

“Tentu saja uang” Jawab mereka.

“Oh, berpa yang kalian inginkan?” Taehyung masih bertanya dengan santai.

“Cih, kau meremehkan kami bocah” Jae won akan melayangkan pukulannya namun taehyung yang sedari tadi mengulur waktu berhasil bebas dari ikatannya dan menahn pukulan berbalik jadi menyerang.

“Taehyung” Baekhyun datang dari arah samping dan membantu Taehyung menghajar mereka.

“Hyung, apa yang kau lakukan disini?” Tanya Taehyung.

“Tentu saja menolongmu bodoh” Baekhyun menjawab dengan mengkis dan menyerang balik lawannya. Begitu pula Taehyung “Ah, kau mengkhawatirkanku”

“Berhenti bicara dan selesaikan ini”

“Baiklah”

Merka berdua menangkis melawan menghindar begitu terus menerus. Hingga tinggal beberapa orang lagi.

“Appa ku mohon menyerahlah” bujuk Baekhyun.

“Tak akan pernah, minggir kau anak bodoh!”

Mereka terus saja melawan hingga suara sirine polisi terdengar dan mereka kalang kabut. Taehyung yang kelelahan sedikit lengah hingga tak menyadari ada seseorang yang membawa pisau berjalan ke arahnya.

“Taehyung awas!” Taehyung berbalik.

Bles

Mata taehyung membulat, ‘HYUNG!!!” ya Baekhyun menyelamatkannya.

Oaring yang menusuknya gemetar dan menjatuhkan pisau berjalan mundur ketakutan dan berteriak tidak mungkin. Baru saja seorang Byun Jae Won menusuk anaknya sendiri. Ya. Ia menusuk anaknya sendiri.

“Angkat tangan kalian” polisi sudah mengepung mereka, kali ini dipimpin langsung oleh Kim Haechul, ayah Taehyung.

“Ka kau tidak apa-apa?” Baekhyun di tengah kritisnya masih saja bertanya. “Hyung bertahanlah, bertahanlah”Taehyung terus saja meracu. Ia benar-banar kalutterutama melihat darah yang terus saja keluar dari tubuh Baekhyun.

“Syukurlah” cicit Baekhyun.

“Taehyung, Baekhyun” Pnggil A Yeon, ia segera menghampiri kedua anaknya dibelakangnya ada kyungsoo membuntuti.

“Eomma” Baekhyun tersenyum sekilas. “Ya ini eomma, Baekhyun Eomma mohon bertahanlah” Nyonya Kim berusaha menahan aliran darah sang anak dengan terisak.

“Eomma” “Ya tenanglah, eomma disini. Bertahanlah ne?” tenang sang ibu berbanding terbalik dengan perasaannya yang saat ini kalut menyaksikan sang anak sulung bersimbah darah.

Baekhyun memegang tangan sang ibu, A Yeon melihatnya dengan berdurai air mata “Eomma ma ma maafkan aku” tangan Baekhyun terlepas dan hialng kesadaran.

“HYUNG!!”

“BAEKHYUN!!”

***

Taehyung berjalan membawa setangkai bunga, tempat ini, ruangan ini sudah ia sambangi berkali-kali. Aroma obat yang menyebar dimana-mana sudah biasa akhir-akhir ini ia hirup.

Ia membuka salah satu pintu ruangan. “Kau sudah datang” sapa sang ibu.

Taehyung meletakan bunga yang ia bawa di vas samping tempat tidur.

“Eomma beristirahatlah, biar aku yang menjaganya” Sang ibu beranjak dari tempatnya namun sebelumnya ia mengelus surai seseorang yang berbaring di atas ranjang ini. “Eomma perlu menemui dokter, baru beristirahat” Taehyung hanya mengangguk. Ia melihat sang ibu keluar dari ruangan dan duduk disamping tempat tidur pasien.

“Hai Hyung, ini sudah hari ke dua lima kau tidak membuka mata. Apakah senyaman itu disana? Hyung, apa kau tidak merindukanku, eomma, temanmu hm? Hyung ku mohon bangunlah” dan tangis Taehyung pun pecah.

Baekhyun selamat setelah melakukan oprasi, harusnya setelah 2 hari oprasi ia sadar namun ini sudah hari ke dua lima ia tidak sadar.

“Hyung, ku mohon bangunlah hiks hyung” Taehyung menggenggam tangan sang kakak. Ia selalu berdoa setiap hari agar kakaknya cepat sadar dan kembali.

“Berhentilah menangis” gumam seseorang.

“Tidak bisa hiks, se sebelum kau sadar” balas Taehyung. Second berikutnya Taehyung terdiam dan melihat Baekhyun. Disana sang kakak sedang memandangnya dengan tersenyum tipis.

“HYUNG” teriaknya.

“Taehyung ada apa?” Sang ibu yang baru masuk sama dibuat terkejetnya.

“BAEKHYUN”

“Hai eomma” gumamnya.

“Anak anda sudah lebih baik, 2 hari lagi ia bisa pulang. Tapi jangan terlalu melakukan aktivitas berlebihan dulu. Lukanya belum menutup sempurna” terang sang dokter.

“Terima kasih dok” Balas sang ibu.

“Kalau begitu saya permisi” Dokter dan beberapa suster pamit dan meninggalkan ruangan.

“Berhentilah tersenyum bodoh” ujar Baekhyun.

“Tidak bisa aku sangat senang” balas sang adik. Sang ibu yang memperhatikan kedua anaknya tersenyum bahagia. Ia menghampiri Baekhyun dan mengelus surai sang putra sulung.

“Baekhyun, maafkan eomma. Syukurlah kau sudah sadar” Baekhyun tersenyum hangat sudah lama ia tidak tersenyum seperti ini. “Aku juga minta maaf, dan berjanjilah satu hal padaku” pinta Baekhyun. “Jangan pernah meninggalkanku lagi” lanjutnya dan sang ibu mengangguk lalu memeluk putranya.

“tidak akan, tidak akan pernah”

“Ah sepertinya aku mengganggu moment kerinduan kalian”

“Appa” panggil Taehyung.

“Hyung perkenalkan ini appaku” Haechul berjalan mendekati Baekhyun. “Annyeong ahjushi, aku Baekhyun” sapa Baekhyun. Sang ibu hanya tersenyum. “Aku sudah mengenalmu Baek” Baekhyun menggaruk tengkuknya kikuk. “Ahjushi terima kasih telah menjaga ibuku” Ucap Baekhyun tulus. “Itu sudah kewajibanku nak, dan satu hal lagi. Panggil aku appa” terang Haechul.

“Nde ahj . . appa” dan semuanya tersenyum.

***

“Hyung lihatlah siapa yang datang” ujar Taehyung ketika sampai diruangan Baekhyun.

“Hai Baek” sapa Chanyeol, Jongdae dan Kyungsoo.

“Hai sunbae” tak lupa juga Park Jimin.

“Baek kau cepatlah pulang dan kita bermain” Chanyeol

“Kau hutang penjelasan padaku” Kyungsoo.

“Sunbae cepatlah kelaur dari sini, aku sudah lelah dengan sifat Taehyung yang selalu ingin kabur dari sekolah dan menjagamu” Jimin.

“Heol, sudah ku katakana bukan kalian benar-benar adik kakak” Jongdae.

Baekhyun tersenyum. inilah yang ia rindukan tema-temannya.

“Ah kalian berkumpul” Ujar nyonya AYeon. “Ah Annyeong haseo eommonim” sapa mereka.

“Annyeong, aigo. Kalian tidak perlu repot-repot membawa ini” balsanya.

“Kim Taehyung kami datang” ujar beberpa orang. “Oh Eommoninm, hyung appa kabar?” Tanya merka. “Baik, masuklah” titah sang ibu. Baekhyun memincingkan tatapannya. Ia mengenali mereka, Taehyung berjalan mundur menghampiri pintu.

“Bukankah kalian yang waktu itu menghajar Taehyung?” Tanya Baekhyun. “Ah itu, kami kira Taehyung sudah menjelaskan” Alis Baekhyun bertaut “Apa maksud kalian?”.

“Kami ini teman SMP Taehyung, dia menyuruh kami menghajarnya hingga pingsan lalu kau menolongnya, ia masuk rumah sakit dan bertemu ibu kalian” terang seseorang diantara mereka.

“apa dia yang merencanakan semua ini?” Tanya Baekhyun. Mereka semua mengangguk.

“Badan kami pegal semua setelah dihajar olehmu. Ia bilang kau hanya akan memukul biasa saja, siapa kira kau ini atlit hapkido. Dan dia hanya mentraktir kami tttopoki” terang yang lainnya diantara mereka.

Mungkin jika ini di dlam komik gambar 4 siku di dahi Baekhyun sudah muncul.

“YA! KIM TAEHYUNG!!!”

“MIANNE HYUNG” Taehyung keluar dari kamar rawat Baekhyun dengan berlari.

END

 

Yey, selesai (Jingkrak-jingkrak bareng Baek sama mpi)

Maaf klo masih ada typo, terima kasih telah membaca, ditunggu like, dan Reviewnya.

Next project with Suho oppa.

Berjejer bareng anak exo + tae dan jimin “Kami mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ^^”

See ya with next story . . ^^

Posted in Uncategorized

MOTHER #1


Evina93 I Two shoot I PG 15

Family,

Byun Baekhyun, Kim Taehyung

“ karena kasih ibu tak terhingga sepanjang masa”

Keluarga harmonis. Ya itulah impian semua orang. Mempunyai istri atau suami yang menyayangi dan mencintaimu. Anak  yang bisa kau banggakan dan cintai. Orang tua yang menjadi panutan dan tempat kau berbagi keluh kesahmu. Kurang lebih seperti itulah gambaran keluarga harmonis.

Namun jika kau menanyakan hal itu pada seorang Byun Baekhyun maka jangan harap kau akan melihat kegembiraan yang terpancar dari wajahnya. Yang ada tatapan tajam dan aura gelap yang kau rasakan.

Mari kita mengenal seorang Byun Baekhyun, pria dengan mata sipit dan bibir tipis ini sebenarnya pria yang hangat dan penuh aura keceriaan, namun itu dulu sebelum kejadian yang menurut Baekhyun sangat menorehkan bekas luka yang mendalam di ingatan dan juga hatinya. Tapi tenang saja ia masih bisa tersenyum dan ceria, terutama dengan seseorang yang benar-benar tulus padanya.

Kehidupan dan takdir yang membuatnya seperti ini, menurut Baekhyun jika ia terpuruk terus maka ia tak akan bisa menjalani hidup.

*** 

“Sampai disini saja pertemuan kita kali ini, kalian jangan lupa mengerjakan tugas, mengerti?!” seorang pria tua baru saja memperingati para muridnya sebelum meninggalkan ruangan.

“Mengerti pak!!” jawab seluruh penghuni ruangan itu.

“Baiklah aku pergi” sang guru pun kelauar dari ruangan tersebut. Seketika semua penghuni kelas bernafas lega. Pelajaran guru Choi membuat otak mereka seakan bisa mengeluarkan asap.

“Astaga, jika kepalaku disiram sepertinya akan mengeluarkan asap” Koar Chanyeol. Teman sebangku Baekhyun.

“Kau saja yang bodoh” Komentar seseorang yang duduk di depan meja Baekhyun dan Chanyeol.

“Diam kau mata besar!” hardik Chanyeol. Tak lama menunggu pria dengan mata belo dan bibir hati itu pun berbalik. “Mataku tidak besar, dasar Tiang!” balasnya.

“Hey, aku bukan tiang kau saja yang terlalu pendek!” Balas Chanyeol.

“Baekhyun laukaknlah sesuatu” Pinta seorang pria yang duduk di samping pria dengan mata belo tersebut.

“Hh” Baekhyun menghela nafas. Ini sudah biasa terjadi. Bahkan dia sudah kebal dengan situasi ini.

“Park Chanyeol, Do kyungsoo. Jika kalian tidak berhenti sekarang juga kalian tau bukan akibatnya hm?” tanya Baekhyun dengan memandang Chanyeol dan Kyungsoo secara bergantian.

“Glek” Chanyeol dan Kyungsoo menelan ludah seketika. Mereka mengangguk dengan kompak dan tanpa banyak bicara segera duduk pada bangku masing-masing. Heol, siapa yang tidak akan takut jika diancam oleh Baekhyun. Pemegang sabuk hitam hapkido. Sebenarnya Baekhyun benci mengancam dan menggunakan kekuatan, tapi jika tidak begitu maka kedua anak ini tidak akan berhenti untuk saling mencela. 

Dulu kedua orang tersebut sangat sulit untuk dihentikan hingga membuat Baekhyun yang kala itu sedang pusing mengeluarkan kekuatan material artsnya yang tidak sampai 10% itu dengan menendang kedua bokong dua manusia dengan tinggi berbeda itu. Hasilnya mereka mengaduh kesakitan bahkan Chanyeol bercerita jika sakitnya hilang setelah 2 hari. Semenjak kejadian itu mereka berdua tidak berani lagi membuat Baekhyun kesal.

Mari kita perkenalkan para teman-teman Baekhyun ini, Chanyeol atau Park Chanyeol pria yang tingginya melebihi batas ini adalah teman Baekhyun semanjak SMP. Karena mereka mempunyai kegilaan yang sama dalam membuat onar entah kapan mereka menjadi dekat. Do Kyungsoo pria dengan tinggi dibawah Chanyeol dan yang lain ini pria dengan watak serius dan minim ekspresi. teman Baekhyun semenjak orok. Jika kalian bertanya apa Kyungsoo tau masa kepedihan Baekhyun maka jawabnnya adalah YA. Tapi karena permintaan Baekhyun ia menutup rapat-rapat dan tidak ingin mengungkit hal itu kembali. Ah dan couple tom and jery dari Park Chanyeol. Satu lagi, pria dengan suara yang menurut semua orang indah ketika bernyanyi namun sebenranya berkelakuan aneh ialah Kim Jongdae. Teman suka duka Baekhyun ketika mengikuti ospek Senior High School.

Jongdae memberi jempol kepada Baekhyun. “Ah, aku lapar. Ayo ke kantin”ajak Jongdae. “Aku tak bisa” Jawab Baekhyun. “Ah Wae?!” inilah kebiasaan Jongdae. “Uangku sudah habis, ah, gajiku di mini market tidak cukup untuk semua” keluh Baekhyun dengan memendamkan wajahnya. “Aku butuh pekrjaan lain” gumamnya.

“Apa kau sudah gila?! Berapa banyak pekerjaan lagi yang kau akan ambil huh? Kau itu bukan robot bodoh” inilah Kyungsoo yang lain. jika sudah menyangkut masalah Baekhyun maka sifat keibuannya akan segera mengambil alih. Chanyeol dan Jongdae pun kali ini setuju dengan pendapat Kyungsoo. 

Mereka bertiga tahu kehidupan Baekhyun. Baekhyun itu bekerja mati-matian untuk memenuhi hidupnya. “Jangan Bilang jika ayahmu mengambil uangmu lagi?” Tanya Jongdae. Dan Baekhyun hanya menggerkan sedikit kepalanya pertanda benar.

Merke bertiga menghela nafas kasar. Chanyeol, Jongdae serta Kyungsoo tau benar sifat ayah Baekhyun. Ya merkea tau hanya saja Chanyeol dan Jongdae tidak berani menanyakan soal ibu Baekhyun karena Kyungsoo sangat melarangnya dan mereka paham itu.

“Ah” Raut wajah Chanyeol seakan mendapat sebuah pencerahan. “Baek apa kau mau bekerja di restoran milik ibuku? Spertinya ibuku sedang membutuhkan pegawai” 

Dalam hitungan detik Baekhyun langsung mengangkat kepalnya. “Aku mau” Ujarnya riang. Kyungsoo hanya bisa menghela nafas.

“Kruyuk”

“Ah, maaf” Baekhyun menggaruk tengkuknya. “Ck, Kali ini aku traktir” Kyungsoo berdiri dari bangkunya. “Kami juga?” Tanya Chanyeol dan Jongdae dengan wajah berbinar. “Kalian Bayar sendiri” 

“EY!”

*** 

“Taehyung, turun dan cepat makan” perintah sang ibu. “Baiklah-baiklah aku turun” sahut sang anak.

“Apa dia masih saja bermain PS?” Tanya sang suami. “Kau seperti tidak tau dia saja”. “Kapan dia akan dewasa” harap sang ayah.

“Yeobo, sepertinya aku ada panggilan dadakan, terjadi kasus lagi. Jangan tunggu aku pulang” izin sang suami.

“Baiklah cepat pergi. Itu sudah tugasmu Detective Kim” balas sang wanita. “Baiklah aku pergi” pamitnya dan mencium kening sang istri.

“Astaga kenapa aku turun saat ada adegan romance” keluh Taehyung. Tuan dan nyonya kim menengok kepada anak mereka. Ada semburtat merah pada pipi nyonya Kim. “Kau iri, mangkannya cari pacar” ejek sang ayah. “Appa!”

“Hahaha Baiklah aku pergi”

“Cepatlah pergi” ujar Taehyung.

“Astaga anak ini, kau mengusirku huh?!”

*** 

 Nyonya Kim sedang terduduk di balkon kamarnya, tatapannya terlihat sangat sendu dengan memandangi sebuah foto usang yang memperlihatkan seorang balita berusia sekitar 3 tahun itu. dengan penuh sayang ia mengelus dan terus bergumam maaf.

“Eomma kau didalam?” tanya Taehyung.

Nyonya Kim segera menghapus air matanya. Dan menyimpan kembali foto itu. “Nde, masuklah” Taehyung pun masuk dengan tersenyum sepeti biasanya. Nyonya Kim pun tidak bisa tidak tersenyum melihat putranya itu. Ah, apa senyumnya sama seperti Taehyung sekarang? Pikir nyonya Kim.

Taehyung yang sadar ada sedikit air mata pada sudut mata ibunya itu terlihat sedikit khawatir. Ia bergegas menghampiri ibunya itu. “Eomma, apa kau baik-baik saja?” Tanya Taehyung. “Apa maksudmu?” Tanya nyonya Kim. “Kau terlihat baru saja menangis” terang Taehyung. “Ah ini, aku kelilipan” dusta nyonya Kim. “Jangan berbohong padaku, karena aku tau itu” Anaknya ini terkadang peka disaat tidak tepat.

“Ah, apa itu?” Tanya Taehyung menunjuk sebuah kertas yang terjatuh. Nyonya kim terbelalak ketika Taehyung mengambilnya. Kenapa bisa jatuh disaat sepeti ini pikir nyonya Kim. “Ah ini sangat menggemaskan, tapi sudah terlihat lama. Apa ini aku? Bukan-bukan ini sedikit berbeda” Taehyung semakin mengamati. Keringat dingin sudah mengalir pada tubuh nyonya Kim. Apa ini saatnya pikir nyonya Kim. 

“Eomma ini siapa?” Tanya Taehyung. 

Sepertinya ini sudah waktunya, aku tidak bisa menyembunyikannya lagi, lagipula Taehyung sudah besar. “Dia Hyungmu” ujar nyonya Kim.

“Sudah kuduga” Jawaban yang sangat tak terduga keluar dari bibir anaknya ini membuat nyonya Kim mengalihkan atensinya yang semula melihat pemandangan luar menjadi focus kepada anaknya ini.

“Apa ayah tau?” lanjutnya. 

“Ya” gumam nyonya Kim.

“Ceritakan soal hyung padaku, siapa nama dan seperti apa dia” pinta Taehyung dengan senyum lebarnya. Nyonya Kim terkadang bersyukur dengan sifat anaknya ini. ia pikir Taehyung akan marah besar karena ia menyembunyikan suatu hal besar namun nyatanya ia melihat pandangan penuh antusias dari anaknya ini. “Baiklah” Senyum nyonya Kim.

*** 

Baekhyun baru saja selesai dari tugas part timenya. Hari sudah sangat larut ketika ia kembali ke rumahnya.

Keadaan didalam sangat gelap ketika ia membuka pintu rumah kecilnya itu. Ia sedikit menghela nafas lega ketika tidak mendapati seseorang di dalamnya. Tidur itulah yang Baekhyun inginkan saat ini.

*** 

Baru saja Baekhyun selesai dari acara membersihkan badannya untuk bergegas pergi ke sekolah ketika ia akan kembali masuk kedalam kamarnya ia mendapati sang ayah sedang mengobrak abrik kamarnya. 

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Baekhyun.

“Kau punya uang bukan? Dimana kau menyimpannya? Serahkan padaku!” tuan Byun masih saja mengobrak abrik kamar Baekhyun. “HENTIKAN! AKU TIDAK PUNYA” ya beginilah keseharian Baekhyun.

Tuan Byun mengambil tas Baekhyun dan ia mendapatkan ampop coklat didalamnya. “Kembalikan itu milikku!” Baekhyun akan mengambil barang miliknya itu namun naas tuan Byun sudah lebih dulu mengambilnya.

“Kau berbohong padaku huh?!” Tuan Byun mengambil seluruh uang di dalamnya dan memukul Baekhyun dengan keras. “Itu milikku dan kau tak berhak mengambilnya!” Baekhyun meringis karena perih disudut bibirnya bekas pukulan sang ayah. “Kembalikan! Itu milikku! Kau hanya akan menggunakannya untuk berjudi. Itu uangku bukan uangmu!”

“Diam kau bocah!” plak. Tamparan kembali mendarat di wajah Baekhyun. 

“Cih, semakin ku lihat kau semakin mirip dengan ibumu”

“Jangan sebut wanita itu dihadpanku” suara Baekhyun  terdengar berat meredam emosi. 

“Kenapa aku tidak boleh, ah apa karena dia mencampakanmu” ujar sang ayah.

“KUBILANG BERHENTI BICARA!” Baekhyun sudah meledak. Tuan Byun melotot marah. “Kau berani membentakku huh!” PLAK. Tamparan keras kembali bersarang diwajah Baekhyun. Kali ini lebih keras membuat Baekhyun terjatuh. Ia tidak melawan, hanya bisa menunduk dan mengepalkan tangannya. “Cih membuat waktuku terbuang saja, pergilah sekolah dan bekerjalah dengan keras hasilkan lebih banyak uang” Tuan Byun keluar dari rumahnya menyisakan Baekhyun yang terduduk dilantai dengan setetes air mata yang mengalir dari mata indahnya “ARGGGG”

*** 

Setelah mendengar cerita dari sang ibu Taehyung secara sembunyi-sembunyi mulai meneliti tentang kakanya itu. sebenarnya kemampuan penyelidikan Taehyung itu bisa dibilang diatas rata-rata. Hanya saja terkadang tertutupi oleh sifat konyolnya. Ia pernah memecahkan kasus yang sedang ayahnya selidiki bertahun tahun dalam waktu 1 minggu. Mungkin darah seorang penyidik sudah ada dalam dirinya. Tapi seperti yang ku bilang tadi, hal itu tertutupi oleh sifat konyolnya. 

Seperti kali ini setelah mendapatkan data penuh tentang kakaknya ia segera menyelidikinya dengan topi hitam, hodie hitam dan masker hitam ia membuntuti Baekhyun.

Ya ia tau kakaknya itu Baekhyun. Setelah sang ibu bercerita penuh kerinduan pada sang kakak, ia mulai mencari data diri sang kakak. Ia bertekad mempertemukan mereka. Tak butuh waktu lama untuk mengetahui seperti apa kakaknya dan kehidupannya itu. jaringan Taehyung itu dimana-mana.

Baekhyun bukan tidak peka hanya saja ia sedang malas membuat masalah, sudah cukup tadi pagi ia berkelahi dengan sang ayah ia tidak ingin menambah bebannya. Tapi karena ia sudah jengah akhirnya ia memijat keningnya dan berbalik.

“Keluarlah aku tau kau mengikutiku” ujar Baekhyun. 

“Ah, ketahuan ya” ujar sang pria berhodie hitam itu.

“Apa maumu? Siapa kau?” hardik Baekhyun. 

“Tenanglah kawan, aku baru disini dan aku tersesat, aku mengikutimu karena tidak tahu jalan disini. Melihat seragam yang kau pakai sama denganku itu artinya kau satu sekolah denganku bukan. Jadi aku mengikutimu” terangnya.

“Hh . . kau bisa bertanya baik-baik dan apa-apaan penampilanmu itu? Kau pikir kau idol huh?” Tanya Baekhyun.

“Ah ini, untuk menutupi wajah tampanku dari para gadis-gadis yang mengejarku” terangnya.

“Kau membuatku mual, sebenarnya Kau ini siapa?” Baekhyun membuat gerakan ingin muntah, dan kembali menatap sinis pria dihadapannya ini.

“Aku” sang pria berhodie hitam itu melepas topi dan maskernya “Kim Taehyung” ia tersenyum lebar pada Baekhyun.

TBC
Yang kangen aku angkat kakinya mana???!!!! (Gak ada tuh) L

Arrgg, ini ff sebenernya buat ultah Baek, cuman karena kemalesan ku ini untuk menulis ya beginilah, Happy Brithday uri annoying idol Byun Baekhyun (Tiup terompet bareng V). telat babo (Digeplak Baekhyun).

Review juseo.

Posted in Uncategorized

I Live With Satan Soo #13

picsart_01-31-06-08-51

Evina93 l Chapter l PG 15

Romance, Comedy, Family

Shin Mingi (Oc), Do Kyung Soo (EXO), Bang Minah (G.DAY), Kim SeokJin (BTS)

Chapter 13

 

Mingi masih betah berbaring diatas tempat tidurnya, namun jam sudah menunjukan pukul 08.00 sekitar 30 menit lagi Mingi ada kelas. Alarm bahkan suara gaduh diluar sana masih belum bisa membangunkan gadis ini.

Sampai akhirnya seorang Do Kyungsoo memasuki kamar Mingi. Ia menghela nafas sejenak. Ini kali ke tiga ia membangunkan mingi dalam kurun waktu 2 jam.

Kyungsoo berjalan menuju tempat Mingi. Ia sedikit membungkuk ‘dia Cantik terutama saat diam’ pikir kyungsoo. Tangan kanannya ia gerakan menuju kepala Mingi. Sedikit mengusap surai kecoklatan milik wanitanya. Ia menyelipkan sedikit anak rambut ke belakang telinga sang wanita, wajahnya sedikit mendekat sampai bibir berbentuk hatinya 1 cm lagi mengenai daun telinga Mingi. Ia sedikit menyeringai. Tidak ada cara lain , pikirnya.

Ia menarik nafas kemudian “DO MINGI BANGUN ATAU AKU CIUM KAU!!” Teriak kyungsoo di depan telinga Mingi.

BRUG BRUG

Mingi yang kaget terjungkal dari atas tempat tidurnya. Ia mengusap kepalanya yang tadi membentur lantai kemudian melihat sang pelaku utama yang membuat mimpi indahnya terganggu.

“YA! DO KYUNGSOO. TIDAK BISAKAH KAU MEMBANGUNKANKU SECARA HALUS!!” bentak Mingi.

“Apa? Secara halus? Kau pikir sudah berpa kali aku membangunkanmu huh? Astaga kau itu wanita tapi tidurmu itu seperti kerbau. Susah sekali untuk dibangunkan” gerutu Kyungsoo.

“Aish, sudahlah. Ada perlu apa kau membangunkanku?” Tanya Mingi sebal.

“Kau tidak ingat 30 menit lagi kau ada jam kuliah? Ah tidak lebih tepatnya 20 Menit lagi” ujar Kyungsoo mengingatkan, ia melihat jam tangannya.

Mata Mingi melebar sempurna “Omo, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi, asih” Mingi beranjak dari acara ‘duduk dilantainya’ kemudian berlari menuju kamar mandi.

“Kau tidak ingat tadi aku bilang apa? Aku sudah membangunkanmu dari tadi. Kau sendiri yang susah dibangunkan” omel kyungsoo.

“Terserah apa katamu, aku mau mandi. Keluar sana!” usir Mingi, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar mandi.

“Bagaimana jika aku memandikanmu?” tawar kyungsoo dengan smirk di wajahnya.

“YA! BYUNTAE! KELAUR KAU!” bentak Mingi.

“Hahaha”

 

****

 

Kyungsoo sedang mengoleskan selai kacang pada roti. Sampai suara gerasak gerusuk mengalihkannya.

“Kau mencari apa?” Tanya Kyungsoo. “Hukumanku, astaga bahkan aku belum selesai mengerjakannya. Matilah aku” Mingi masih mencari laptopnya.

“Oh, Maksudmu tugas ini” Kyungsoo memperlihatkan sebundal makalah ditangannya.

Mata Mingi melebar. “Itu yang aku cari!” Ujarnya. Ia segera menghampiri Kyungsoo dan mengambil makalahnya.

“Tunggu, aku belum menyelesaikannya. Tapi kenapa sudah di print?” gumamnya bingung.

“Aku yang menyelesaikannya, lagi pula aku tidak tega melihatmu tertidur sambil mengerjakan tugas” terang Kyungsoo.

Mingi terperangah, baru kali ini ia melihat sifat baik Do Kyungsoo selain sifat menyebalkan pria itu.

“Tidak biasnya kau seperti ini ada ap . .”belum selesai Mingi menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah disumpal oleh sepotong roti.

“Sudahlah jangan banyak bicara, 10 menit lagi kau harusnya sudah masuk kelas. Aku akan mengantarmu” ujar Kyungsoo.

Glup

“Tapi . .” setelah berhasil menelan rotinya akhirnya ia bisa membuka suara namun sedetik kemudian “Tidak ada penolakan” perintah Kyungsoo.

Jika sudah begini apa boleh buat. Pikir Mingi lagi pula ia juga akan telat jika tidak diantar Kyungsoo.

 

****

 

Kyungsoo memarkirkan motornya. Mingi segera turun dan membuka helemnya. “Terima kasih sudah mengantarku” ujarnya. Ia menyerahkan helemnya pada kyungsoo kemudian berlari menuju kelasnya. Namun ditengah – tengah ia berhenti dan berbalik pada Kyungsoo.

Kyungsoo yang memperhatikannya sedikit bingung. ‘apa ada yang tertinggal?’ pikirnya. Namun detik berikutnya ia dibuat kaget sekaligus berbunga-bunga oleh ucapan Mingi.

“Oppa , hati-hati dijalan” setelah berucap demikian Mingi segera berlari kencang menuju kelasnya dengan wajah memerah.

Sedangkan Kyungsoo tidak bisa menghilangkan senyuman indah dari wajahnya.

Dilain tempat dua anak adam sedang terkikik geli melihat pemandangan didepannya, bahkan mereka sampai lupa jika beberpa second lagi kelas mereka dimulai.

.

.

Mingi sudah duduk dikelas sedang mempersiapkan diri untuk memulai kelasnya sambil menunggu dosen masuk ruangan. Namun matanya menangkap gerak gerik aneh dua anak lelaki berbeda warna kulit itu sedang cekikikan melihat ke arahnya. Mingi mengerutkan keningnya bingung.

Dua anak itu yaitu Sehun dan Jongin yang sudah berada didekat Mingi segera memulai aksinya. Sehun sedikit berdehem “Oppa hati-hati dijalan” uajar Sehun dengan menirukan suara wanita. Migi yang sadar apa yang dikatakan sehun tadi sedikit memrah namun “Oh Sehun, kau ingin mati huh?” bentak Mingi sedangkan Jongin sedang tertawa terpingkal-pingkal dibangku samping Mingi sampai pukulan tangan Mingi menghentikan suara tawanya dan digantikan oleh suara tawa Sehun “ hahaha”.

 

****

Luhan yang memperhatikan sedari tadi dibuat tertarik dengan ekspresi Kyungsoo saat ini. Pasalnya Kyungsoo sedang bekerja dengan penuh semangat serta senyum bahagia tidak lepas dari wajahnya. Seolah keadaan disekitarnya sedang musim semi.

“Kyung apa terjadi sesuatu?” Tanya Luhan stelah Kyungsoo berada didekatnya.

“Eum, tidak ada aku hanya sedang senang saja” Kyungsoo tersenyum cerah.

“Apa yang membuatmu senang?” selidik Luhan.

“Kau tau hyung? Mingi memanggilku Oppa” Kyungsoo sangat antusias menceritakannya. Berbanding terbalik dengan luhan yang dibuat biasa saja. “hanya karena itu?” Tanya Luhan. Dan Kyungsoo hanya mengangguk. “Apa istimewanya dipanggil ‘oppa’?” ujar Luhan. “Sangat berbeda Hyung jika Mingi yang mengucapkannya” terang Kyungsoo. “Terserah kau saja” Luhan memutar bola matanya. Namun Kyungsoo masih saja tersenyum.

Sura dentingan bel dipintu mengalihkan perhatian keduanya. “Selamat da . . . tang” dan seketika suasana musim semi Kyungsoo tergantikan oleh badai.

 

****

 

“Ish, kenapa aku harus satu kelompok dengan kalian?” geram Mingi dengan menatap tajam kedua orang anak adam yang sedang tersenyum bodoh di hadapannya.

“Ey, harusnya kau bersyukur satu kelompok dengan kami. Banyak yang ingin satu kelompok loh dengan kami. Anggap saja ini keberuntunganmu” Narsis Jongin, dan Sehun hanya mengangguk mengiakan.

“Yang ada aku tertimpa sial” Gerutu Mingi. “Apa?” Tanya mereka berdua.

“Sudahlah lupakan, kita akan mengerjakan dimana?” Tanya Mingi. “Bagaimana jika di apartemenmu?” tanya sehun. “Kau ingin dihajar Kyungsoo huh?, Baekhyun oppa saja dekat denganku dia tidak berhenti mengomel apalagi kalian berdua yang datang” tutur Mingi.

“Ey, kita kan sudah saudara sista” Jongin merangkul Mingi. “Jong lepaskan tanganmu atau kupatahkan” ancam Mingi. “O..Ok” Jongin dengan berat hati melepaskan rangkulannya. ‘Astaga ancamnnya membawa aura mutlak seperti Kyungsoo hyung’ pikir Jongin. Sehun hanya tertawa.

“Kita mengerjakan di Café Lu –Ge saja” Saran Mingi.

“Siapa itu Lu-Ge?” selidik Jongin.

“Kau selingkuh?!” ujar Sehun dan berakhir mendapat hadiah pukulan dikepala oleh Mingi.

“Jaga ucapanmu albino”

****

 

Luhan memperhatikan dengan seksama gerak gerik kyungsoo. Ia tau Kyungsoo sangat tidak ingin berhadapan dengan wanita yang sedang bersamanya sekarang ini. namun ini urusan Kyungsoo ia tidak bisa ikut campur. Walau dalam dirinya ia sangat ingin tahu siapa wanita itu.

.

.

“Ada perlu apa kau kemari?” Kyungsoo langsung to the point. “Seperti biasa, kau selalu pada intinya” senyum Minah. Ya wanita yang berhadapan dengan Kyungsoo sekarang ini adalah Minah.

‘menjijikan’ pikir Kyungsoo.

“Baiklah langsung saja, Kyungsoo kembalilah padaku” ujar Minah. “Cih, apa maksudmu. Setelah mencampakanku sekarang kau memintaku kembali? Apa kau lupa kalau aku ini sudah menikah” Kyungsoo memperlihatkan cincin pernikahannya.

“Aku tidak perduli, kau itu milikku. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku” Ujar Minah.

“Dasar wanita gila” Kyungsoo yang akan beranjak dari bangkunya segera ditahan Minah. Minah menarik tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo berbalik padanya dan dalam gerakan cepat ia mencium bibir Kyungsoo. Kyungsoo terbelalak kaget. Sedangkan Minah tersenyum dibalik ciumannya dengan menatap jendela kaca yang menampakan seorang wanita yang melihat Syok kearahnya dari luar dan dua orang pria yang sedang mengobrol dibelakangnya.

 

***

 

Mingi berbalik, ia berjalan menghampiri Jongin dan Sehun.

“Kita ketempat lain saja” ujarnya.

“Loh kenapa?” Tanya Sehun.

“Sudahlah, Biar aku yang traktir” Ujar Mingi meninggalkan Jongin dan Sehun yang kebingungan.

‘Apa dia bilang traktir tadi?’ pikir Jongin. Tak lama “Tunggu aku sista” Jongin mengejar Mingi.

Sehun yang merasa ada yang janggal melihat kedalam café melalui jendela. Matanya terbelalak. Ia berbalik kemudian mengetikkan sesuatu pada layar handphonenya.

Hyung jika kau sudah selesai, segera temui aku.

 

Tbc

Evina93